Cerpen Sihar Ramses Simatupang (Media Indonesia, 16 Juli 2017)

Surat dari Trowulan ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Surat dari Trowulan ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

KALAU kamu ternyata sudah pulang, Dik Ningsih, aku akan tetap menemanimu. Percayalah. Anak-anak kini sudah besar. Sinta, anak kita—yang engkau harapkan kesetiaannya bila dewasa kelak—telah tumbuh jadi remaja yang cantik. Akan kau dapati keelokannya mewarisi dirimu. Sungguh!

Lalu, kau tahu tentang anak kita yang kedua? Kunamai dia Janaka, walaupun tanpa berunding dulu karena kau keburu ke Ibu Kota sebelum kita sepakat memberi nama. Tapi aku berharap engkau suka nama Janaka. Maaf, bila ternyata engkau tetap berkeras menamai putra kita itu dengan nama lain, Arjuna.

Janaka pun tak apalah, ya. Nama Arjuna bagiku terlalu mentereng dan rupawan. Sungguh, aku tak mengharapkan kerupawanan di wajah anak kita. Justru yang kuharapkan dia dapat menjadi penjaga keluarga, seperti bakti Janaka kepada Pandawa. Kau tentu ingat kesaktian panah pasopati kesatria yang dikagumi itu.

Aku pun tak pernah tahu persis berapa usia anak kita itu, Ningsih. Sama seperti tak tahunya aku berapa tepatnya usia Sinta. Yang kutahu, Sinta kelahiran Selasa Legi, tahunnya sekitar 1990-an, sedangkan Janaka dua atau tiga tahun setelahnya. Lahir dengan weton Kamis Pahing.

Ningsih, kau ingat pohon waru yang kita tanam di depan rumah? Yang ketika kau pergi sudah sekitar setengah meter tingginya? Kini, pohon itu sudah tinggi, lebat, dan rindang. Sangat gagah melindungi rumah kita ini.

Aku pernah mendapati Janaka memanjat pohon itu hingga ke cabang teratas. Anakmu, anakku itu, bahkan dengan berani bergelayut ke salah satu rantingnya yang kuat. Nekat! Ningsih, tak sadarkah kamu, kalau Janaka yang memanjat pohon itu telah dewasa dan kekar. Ditaklukkannya pohon itu. Aku seperti ikut merayakan kemenangannya atas pohon itu. Sekalipun aku agak waswas, kalau-kalau kakinya terpeleset dan jatuh.

Tapi jangan sangka aku tak menghormati pohon itu, Ningsih. Antara Janaka dan pohon waru kuharapkan dapat menjadi sahabat yang melindungi rumah ini, melindung Sinta.

Oh ya, di rumah kita yang dulu berdinding gedek, aku telah mengganti dengan dinding semen. Aku membeli batu bata, pasir, semata-mata agar anakku bangga pada rumahnya. Tempat tinggal kita, bahkan sekarang sudah tak berlantaikan tanah lagi, Ningsih. Aku cor dengan semen. Hmmm, aku jadi tersenyum sendiri waktu kau marah-marah, karena aku memungut ketela goreng, yang terjatuh ke lantai tanah rumah kita. Lucu ya, Ningsih?

“Kamu jorok,” katamu ketika itu. Kau tak mau menegur aku dua hari, sampai tak memperbolehkan aku tidur di dipan bersamamu selama tiga malam. Aku jadi muring-muring enggak keruan—maklum ketika itu kita masih muda, kan? Maka, pada malam keempat, kutubruk saja kamu. He he he, akhirnya mau juga!

Lalu malam pun jadi hening ketika itu. Sinta masih berumur sekitar tiga tahun, tidur pulas di kamar. Kita malah di ruang tamu, tidur berdua di kursi panjang. Tak ada peristiwa cinta paling nikmat dan bahagia, kecuali tidur berdua dengan istri, pilihan Gusti Allah. Di antara angin malam, desir pohon jambu, cahaya bulan separuh yang menembus kisi jendela kayu, aku memuja kecantikanmu.

“Saya mau ke Jakarta, Kang Parwo. Cari kerja,” itulah ucapan pertamamu yang kuingat, sebelum beberapa minggu kemudian engkau menghilang di rimba metropolitan. Malam sunyi. Angin tak mendesir, bulan penuh di langit. Berdasarkan almanak Jawa, itu pertengahan bulan, sekitar tanggal lima belas.

Padahal, kau tahu, anak kita yang kedua pun baru saja lahir, dia masih bayi ketika kau diam-diam meninggalkan kami, entah di wilayah Jakarta yang mana, sebab aku buta Kota Jakarta.

Kau ingat ketika aku menolak niatmu ke Jakarta, Ningsih? Bukan, bukan aku tak ingin kita makmur dan mapan. Tapi aku yang lanang pun, tak berani ke Surabaya, apalagi Jakarta. Kota itu menyeramkan, Ningsih. Terutama buat perempuan. Kau tahu tetangga kita? Yang berpakaian dan berdandan mewah setiap pulang kampung? Ya, aku cuma menebak. Aku yakin, ada yang tak beres pada dirinya.

Juga ketiga temanmu itu: Arum, Puji, dan Laksmi. Ah, tak kau perhatikankah bedak tebal, parfum norak baunya, melihat lelaki dengan pandangan mata kenes dan memancing.

Ningsih, baru sekarang kuungkapkan sebuah rahasia. Dulu, ingin kuutarakan, tapi kau lebih dulu menghilang. Jangan marah, ya. Aku sempat dicium Puji. Aku mau dipeluk, cepat-cepat aku pergi dan menghindar.

Dasar perempuan gila dia! Masak tahu-tahu muncul di tempat mandi laki-laki, dekat pancuran kampung kita itu? “Aku ngesir awakmu, Mas,” ujarnya, saat mau menyentuh aku. Eladalah, Gusti, nyuwun pangapunten. Kontan saja, aku ngibrit pakai handuk. Pergi dari tempat mandi yang sudah jadi kayak tempat mesum itu!

Aku malah enggak sempet nyiram busa sabun di tubuhku dengan air. Nah, itulah, Ningsih. Itulah sebabnya, aku melarang kamu ke Jakarta. Apalagi yang ngajak mereka bertiga. Ngeri, membayangin mereka gimana di Jakarta saja, aku ngeri. Menyesal aku tak cerita soal di tempat mandi itu! Tapi kalau kupikir-pikir, waktu aku utarakan kecurigaanku tentang mereka kepadamu saja, kamu tak percaya. Eh, tau-tau malah minggat. Pergi sama mereka dan menghilang tanpa pernah kembali.

Pasti kau pun tak akan percaya ceritaku tentang hari yang mesum itu. Pasti malah nuduh aku bajul. Itu yang aku khawatirkan! Tahu enggak kamu, Ningsih. Aku pernah marahi mereka habis-habisan, waktu mereka pulang kampung saat hari libur panjang itu. Masak mereka bilang kamu kerja jadi cewek genit di Jakarta. Oalah, Gusti. Enggak mungkin, kan, Ningsih? Enggak mungkin, kan? Masak perempuan punya dua anak, berusia dua puluh lima tahun lebih, mau melakukan hal seperti itu? Masak kamu yang punya rumah tangga dan punya cinta suci sama aku, mau kerja terhina seperti itu? Mereka saja yang perempuan genit! Bukan kamu!

Muncul peristiwa nahas. Pada suatu malam. Arum datang memberi tahu berita itu. “Kang Parwo, aku sing ngerti. Ningsih udah jadi perempuan rusak di Jakarta. Lha wong aku lihat sendiri. Sampeyan jangan protes dan marah dong. Aku lihat sendiri. Dia juga sudah hebat, Kang. Makan tidur di hotel. Malah sudah jadi simpanan Mister Rony, bule Australia. Beneran! Sumpah!”

Wuihhh, aku tetap enggak percaya. Aku malah jadi marah. Kepalaku pusing. Semua jadi hitam. Aku ngamuk! Perutnya aku tendang. Ningsih, jangan kecewa ya sama aku, karena aku tiba-tiba jadi keras dan ngamukan begitu. Lha wong sudah mata gelap. Begitu kutendang perutnya, kupukul kepalanya. Pakai tangan, Ningsih. Enggak pakai senjata apa-apa. Aku pukul tubuhnya yang agak gendut itu bertubi-tubi. Aku juga heran, kok aku bisa begitu sama perempuan. Baru setelah dia tak bergerak, aku sadar dan jadi ketakutan.

Dia mati, Ningsih sayang. Dia mati! Sejak itu, akangmu ini dituding sebagai pembunuh!

Sejak kita menikah dulu, aku seorang petani, Ningsih. Bapakku petani. Bapakmu juga, kan? Aku cukup bangga pada darah yang mengalir di tubuhku ini. Nyatanya, aku bisa bahagia dengan sawah seluas 1.500 meter itu, Ningsih. Dari luas 500 meter, aku perlahan memperlebarnya. Karena itu, kamu tak perlu khawatir tentang anak-anak kita, Sinta dan Janaka. Sinta sudah menikah dengan Marwoto, Ningsih. Oh ya, Marwoto itu anaknya Poniman yang buka warung! Iya, anak pertama Poniman, bahkan sering kau marahi karena buang ingus di depan gedek rumah kita itu! Ingat? He he he. Siapa nyangka dia jadi suami Sinta akhirnya!

Penduduk di desa kita, walaupun mulanya benci sama yang aku lakukan, mereka akhirnya bisa menerima anak-anakku. Namanya orang mata gelap. Lagi pula, mungkin karena tingkah laku Arum sudah sejak dulu mereka benci. Sombong, godain suami orang. Makanya mereka jadi tak peduli pada perbuatanku yang nekat, bodoh, dan laknat itu.

Tapi, Janaka, hebat, Ningsih. Tapi juga berhasil menutup aib ayahnya. Dia menikah dengan anak Kepala Desa Martimo. Salatnya Janaka rajin. Iyalah, masak anak penjahat pasti jadi penjahat juga. Enggak, kan?

Oh ya, kerjanya Janaka juga petani. Sama seperti aku. Tapi, sawahnya sudah lebih luas lagi. Aku sendiri enggak tahu persis berapa hektare luas tanah dan kebun yang dia miliki. Mana boleh, aku keluar penjara cuma untuk ngukur tanahnya?

Jadi, karena semua itulah, aku tenang, Ningsih. Aku sudah minta maaf pada Gusti Allah. Sudah sering salat. Walau aku kini sakit di penjara. Penyakit tua. Katanya sesak napas di tenggorokan, sama satu lagi, penyakit paru-paru basah. Tapi kok efeknya sampai enggak bisa bangun lagi ya?

Ningsih, aku dulu tak pernah bikin surat, kan? Kamu tahu itu. Apalagi di penjara. Andai pun ada kertas, buat apa aku menulis? Buat siapa? Janaka dan Sinta saja sudah sering menengok aku. Apa lagi yang kurang? Menulis itu, bagiku, cuma buat orang yang terlalu menderita. Atau juga buat orang yang hidupnya selalu mapan dan bahagia.

Jadi, kalau aku sekarang sempat menulis setelah aku ditempatkan di rumah sakit, ya karena itu keinginan Janaka. Katanya itu harus dilakukan, agar aku bisa bahagia, setelah menulis surat buat dirimu.

Dia itu pintar lho, Ningsih. Cerdas, sekalipun sekolahnya cuma tamat SMP. Itu lebih baik daripada kita yang sama-sama tak pernah makan bangku sekolah.

Maka, aku tulislah surat ini. Walau aku tak berharap engkau akan membacanya kelak. Kau pasti sudah tua juga sekarang. Entah sudah wafat, ataukah masih hidup. Dalam keadaan bahagia, atau pun tersiksa. Entahlah. Anggap saja ini cuma kegiatan membatin. Membatin pada dirimu, yang kini tak tahu ada di mana.

Begitu dulu ya, Ningsih. Semoga Gusti Allah memaafkan kita. Di dunia, ataupun di akhirat kelak. Semoga.

Dari suamimu yang merindukanmu:

Parwo….

 

Sihar Ramses Simatupang sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan puisi, cerpen, dan novel, di antaranya Metafora para Pendosa, Narasi Seorang Pembunuh (2004), dan Lorca (2017).

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com

Advertisements