Cernak T Sandi Situmorang (Suara Merdeka, 16 Juli 2017)

Si Burung Berbulu Emas ilustrasi Suara Merdeka
Si Burung Berbulu Emas ilustrasi Suara Merdeka

Dua pemuda memasuki Hutan Perci. Mereka akan berburu berbagai jenis hewan, seperti ayam hutan, burung, kelinci, harimau, macan, dan lain-lainnya. Hasil buruan akan mereka jual di pasar kota terdekat. Karena burung dan ayam hutan yang mati tidak laku dijual, kedua pemuda itu harus memerangkapnya dengan tali atau keranjang. Sebab itu tidak mudah mendapatkannya. Sementara hewan seperti harimau, macan atau serigala akan mereka tembak lalu mengulitinya. Kulit-kulit itulah yang akan dibawa pulang.

Namun, beberapa hari ini kedua pemuda tersebut tidak berhasil mendapat hewan apa pun. Padahal, binatang itu tidak mungkin punah karena mereka tangkap. Selama ini kedua pemuda itu sangat memilih buruan. Burung atau ayam hutan yang masih kecil selalu mereka lepas. Demikian juga dengan binatang-binatang buas. Binatang yang mereka tangkap hanya jantan dengan ukuran besar.

Kedua pemuda tersebut bernama Joko dan Kusno. Joko dan Kusno sudah berteman sejak kecil. Joko tinggal bersama neneknya yang sudah tua, sedangkan Kusno tinggal bersama ibu dan kedua adiknya.

Kedua pemuda itu melangkah semakin jauh ke dalam hutan. Mereka melangkah pelan supaya tidak menimbulkan suara. Ada beberapa burung berbulu indah bermain di cabang pohon. Joko dan Kusno meninggalkan tali jeratan. Semoga saat pulang nanti, ada burung terperangkap jeratan. Atau paling tidak ayam hutan dan kelinci juga boleh.

Joko dan Kusno melangkah terus, melewati pohon-pohon yang semakin rapat dan gelap. Hanya sedikit sinar matahari yang berhasil menembus dahan-dahan pepohonan.

“Kusno, kita balik saja. Sudah terlalu jauh kita berjalan,” Joko mengingatkan.

“Kau takut?” Kusno tersenyum mengejek.

“Bukannya aku takut. Tapi …”

“Kalau tidak takut, ayo kita jalan lagi.”

Terpaksa Joko mengikuti Kusno. Ia meninggalkan tali jeratan dan segenggam jagung di sekitar situ. Selain untuk menjerat, tali itu sebagai penunjuk jalan saat pulang nanti.

Kedua pemuda itu terus melangkah. Tetapi mereka tidak melihat binatang apa pun. Akhirnya Kusno bersedia pulang saat Joko mendesaknya.

Sepanjang jalan, kedua pemuda itu mengambil tali jerat yang kosong.

“Uh, ke mana semua perginya binatang-binatang di hutan ini?” Kusno mengeluh.

Baru beberapa langkah tidak jauh di depan, terdengar suara burung menangis. Joko dan Kusno berlari menghampiri. Ternyata, kaki seekor burung terjerat tali milik Joko. Joko dan Kusno mengagumi keindahan bulu burung berwarna biru bercampur warna emas itu. Mereka belum pernah melihat burung seindah ini.

Burung itu ketakutan melihat keduanya. Tangisnya semakin kencang.

“Tolong lepaskan aku, Tuan!”

“Mana mungkin kami melepaskanmu, burung cantik! Bulumu sangat indah. Hargamu pasti sangat mahal,” Kusno tertawa panjang.

Mendengar itu, burung semakin menangis. Air mata bercucuran dari kedua matanya. Joko tidak tega melihatnya.

Kusno mengikat kedua sayap burung supaya tidak bisa terbang.

“Kasihani aku, Tuan. Biarkan aku pulang ke sarangku,” kata burung itu memohon lagi.

“Kau juga harus kasihan pada kami. Keluarga kami bisa kelaparan. Kami sudah tidak memiliki uang. Kalau kau kami lepaskan, tidak ada yang bisa kami jual besok,” jawab Kusno.

“Ketiga anakku masih kecil, Tuan. Bagaimana nasib mereka kalau aku dibawa pergi?”

“Itu bukan urusan kami.”

Burung terisak-isak. Ia teringat ketiga anaknya yang masih sangat kecil. Ia tidak mau meninggalkan anak-anaknya terlalu lama, itulah sebabnya tadi ia tidak berhati-hati. Seharusnya ia curiga saat melihat banyak biji jagung bertebaran di tempat tersebut.

Joko sangat kasihan melihat burung itu. Ia mengambil burung dari tangan Kusno. Burung itu akan ia lepaskan.

“Jangan dilepas, Joko!” kata Kusno melarang.

“Burung ini berada di tali jeratku. Jadi ia milikku.”

“Tapi kita selalu berbagi hasil buruan.”

“Tapi aku lebih berhak memutuskan.”

Joko melepaskan ikatan pada kedua sayap burung.

“Kau akan menyesal. Burung ini bisa kita jual dengan harga sangat mahal.”

Bukannya terbang, burung malah hinggap di tangan Joko. Burung menatap Joko.

“Terima kasih. Tuan sangat baik sekali. Sebagai gantinya, Tuan ambillah masing-masing sehelai buluku yang berwarna emas.”

“Tidak usah, burung. Pergilah!”

“Ambil saja, Tuan.”

Joko mencabut dua helai bulu berwarna emas dari bagian ekor burung. Setelah itu, burung terbang ke dahan pohon. Dari sana ia menatap Joko dan Kusno.

“Simpanlah buluku itu, Tuan! Suatu hari pasti berguna,” katanya sebelum ia terbang jauh.

Joko lalu menyimpan bulu itu di saku bajunya. “Kita kehilangan uang sangat banyak karena rasa sok kasihanmu,” kata Kusno ketus.

Dia membuang bulu burung itu.

Tanpa dilihat Kusno, Joko mengambil bulu tersebut. Sesampai di rumah, ia menyimpan bulu di lemari dapur. Lemari itu merupakan penyimpanan beras dan bahan-bahan makanan lainnya.

***

Hari berganti hari. Setiap berburu, Joko dan Kusno tidak mendapatkan apa pun. Sampai kemudian persediaan bahan makanan di rumah habis. Hingga pada suatu pagi, Joko mendapati dua batang emas berbentuk bulu burung ada di dalam lemari. Mereka tidak menyangka dan sangat kegirangan.

Joko dan Kusno lalu berangkat ke kota untuk menjual emas itu. Hasil penjualan mereka bagi dua. Joko dan Kusno membeli bahan makanan dan membawa pulang uang sisanya. Sejak saat itu, Joko dan Kusno memutuskan menjadi petani dan membiarkan binatang-binatang hidup bebas di dalam hutan. (58)

Advertisements