Cerpen Beni Setia (Kedaulatan Rakyat, 16 Juli 2017)

Catatan Seorang Teroris ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Catatan Seorang Teroris ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SEBAGAI serang jurnalis, yang juga menulis fiksi, saya dipanggil Dinas Intelijen Negara (DIN), bersama beberapa penulis lain. Mereka menyerahkan sejumlah catatan pribadi dari tersangka teroris, dan berharap bisa mengubah itu jadi skenario dokudrama—dokumen yang didra-matisasi—, buat menggambarkan upaya radikalisasi, dan sekaligus penangkal deradikalisasinya, dengan mengacu pada rekonstruksi kesadaran dari orang yang terus kalah dan dipinggirkan secara sosial-budaya. Dengan kata lain, dengan pendekatan psikologik.

Dan inilah kasus yang aku pelajari—lebih tepatnya sebuah konklusi pracipta, per fragmen, sebelum skenario ditulis, dan yang harus dirahasiakan sebelum tayangan TV-nya terpublikasi.

1

MALIN KUNDANG pergi mengembara dengan restu Ibu, serta berbekal harta rahasia keluarga. Ia jadi terkutuk karena mengabaikan tunjungan harta keluarga, sebongkah emas, dan tak mau mengakui Ibunya sebagai sumber asal-usul dan modal kapital berbisnisnya. Tapi apakah semua Malin Kundang memiliki keberuntungan punya harta keluarga?

2

AKU sendirian—tulis Malin Suargi—hanya yang bertemankan Allah SWT, dan Ia juga jauh transenden menghuni ufuk langit nun di sana.

3

DAN itu bermakna: Malin Suargi tidak seberuntung si Malin Kundang. Terutama karena ia hidup tak punya Ibu dan (sekaligus) harta keluarga, dan ia memang sejak awal dipaksa untuk hidup tersisih, terlunta. Dan karenanya ini merupakan ihwal ketakberdayaan manusia yang selalu ditakdirkan perih-pedih tersisih dan disisihkan.

4

‘Apa tak ingin kuliah?,’ tanya Ayah Angkatnya, kepadanya—yang sebenarnya lebih harus dibaca sebagai tak ada biaya untuk ia kuliah dan karenanya jangan ngotot ingin kuliah. Ya! Karena itu ia harus mulai mau bersyukur ada yang membesarkan dan membiayai sekolah sampai selesai SMA. Ya! Dan ia tahu itu pertanyaan wajar, terutama kalau dikaitkan dengan fakta kalau sejak kecil ia hidup sebagai si diadopsi—karena itu tak boleh meminta terlalu banyak dan mengharapkan dukungan terlalu serius. Seharus tahu diri, ia telah dibiayai untuk hidup, padahal biaya itu merupakan ekstra yang sebenarnya lebih berhak dinikmati saudara-saudara angkatnya. Ya!

Menyakitkan sekali, tapi itu harus mulai disadarinya.

5

ANAK piatu itu harus selalu peka, harus segera tahu diri dan membiasakan diri untuk menahan diri—catat Maling Suargi, dalam diary.

6

NAMA adalah siapa yang memberi nama itu dan bagaimana pemberian nama itu dipertanggungjawabkan oleh yang memberi nama—yakni orangtua dan bukan sekadar kakak angkat. Karena nama itu semacam doa, harapan agar hidup lebih baik dan bahagia, dan bukan asal-asalan mengikuti trend nama yang saat itu popular cq penyanyi, bintang film, atau apa.

7

AKU sepi, aku sendirian dan selalu sendiri—tulis Malin Suargi—, dan hanya merasa berteman dengan Allah SWT, yang transenden nun jauh di langit sana.

8

SURAT Akte Kelahiran adalah pengakuan Negara atas sebuah kelahiran—dan identitas nama dan keluarga—,pengakuan eksistensi. Dan Malin Suargi tak pernah tahu siapa yang melahirkannya—ia ditemukan dalam kardus di depan Pasar Sayur—, selain ia yang mengurusnya. Ya! Ayahnya entah siapa, Ibunya entah siapa dan di mana—tak mungkin memiliki harta keluarga—, sehingga ia besar di Panti sebelum kemudian diadopsi. Sehingga hari kelahirannya merupakan pengulangan trauma kehilangan yang terus menghantui—dan terkadang jadi si ketersisihan pembuangan, bahkan itu sampai saat ini, saat sedetik sebelum tubuh meletus jadi semacam serpihan.

Tapi haruskah itu dipikirkan?

9

MALIN Suargi bukan keparat, ia itu si penghayat melodrama, yang berjalan setengah bermimpi dalam tragika meniti jalan sunyi ketakberdayaan dan ketersisihan, yang selalu dipaksa untuk selalu menahan diri dan tahu diri, dan karenanya tidak bisa mengharapkan bantuan dari siapa pun—dalam hal apa pun. Ia terkucil. Yatim piatu—tersisih atau disisihkan.

10

SELALU sendiri—tulis Malin Suargi—, serta hanya berteman Allah yang selalu menahan diri—tak memihak dan melulu objektif ingin berlaku adil di dalam alam transenden nun di ufuk langit. Nun. Nun. Nun.

11

RUMIT sekali karena itu berkenaan dengan orang yang disisihkan, dan tak pernah punya teman—bahkan buat sekadar curhat. Karena itu, pada dasarnya, radikalisme agamawi yang mencari mati itu berkaitan dengan situasi psikologis yang asosial. Panggillah itu ekses dari masyarakat yang egoistik, hedonistik, dan mengamalkan individualisme–yang menghasilkan masyarakat dengan manusia-manusia yang tercecer dan disisihkan. Terasing.

12

‘IKUTI dan telusuri jalan lurus yang langsung menuju Allah SWT,’ kata Abu Jihad, berulang-ulang, dan kemudian, ‘Ajarkan pada semua manusia bahwa mereka terlalu egois, terlalu individualistik sehingga mengabaikan kesepian dan kesunyian orang lain yang tersisih.’ q – g

 

*) Beni Setia, pengarang. Tinggal di Caruban.

Advertisements