Cerpen Muliadi G.F. (Jawa Pos, 16 Juli 2017)

B ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos
B ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

PADA usia 25 tahun, Sam telah menulis sembilan novel, dua no velet, dan tiga kumpulan cerita pendek. Sangat produktif dalam usianya yang terbilang masih muda. Setidaknya, begitulah yang kubaca di profil singkat pada sampul belakang novelnya yang terbaru. Tidak semua karyanya itu telah diterbitkan; sebagian besar masih mendekam dalam folder di laptopnya. Bagiku soal itu bukanlah pertanyaan besar; ada sesuatu yang sepertinya memang tidak mudah diterima penerbit, redaktur, atau publik pembaca, dalam tulisan-tulisan Sam.

Aku pertama kali berjumpa langsung dengannya pada awal tahun ini, di sebuah festival sastra yang rutin diselenggarakan di Kota M. Ia hadir sebagai pembicara dalam sebuah diskusi bertajuk “Pengaruh Dadaisme dalam Sastra Kita”, sementara aku hanya pengunjung biasa. Penampilannya adalah coretan pertama di buku catatanku: baju kaos, celana jins, sepatu karet, hitam-hitam-hitam; tubuh tinggi tambun, tapi aneh, mungkin pengaruh jins ketat, tungkai tampak begitu kurus, sepintas ia mirip gambus/botol berdiri terbalik; kulit sawo matang bersih-halus; tahilalat sangat gelap di kelopak mata kanan, segelap celak mata yang membingkai mata lebar di balik kacamata bening; dan, rambut lurusnya digimbal setelinga (“Biar mirip vokalis er-a-te-em,” akunya belakangan).

Setelah sesi diskusi berakhir aku mendekatinya sambil membawa salah satu buku karyanya untuk ditandatangani. Terlepas dari kenyataan bahwa ia sebenarnya penulis yang tak terlalu dikenal, dan mungkin diuntungkan oleh hal itu—sehingga aku dapat mendekatinya dengan mudah, aku malah memilih meminta tanda tangannya, sementara pada saat yang sama orang-orang berjubel di depan seorang pembicara lain yang tidak lain seorang penulis ternama.

Pada waktu itu, setelah ia menandatangani buku yang kusodorkan, iseng-iseng aku mencoba peruntungan meminta nomor teleponnya. Dan tak kuduga, ia enteng saja memberikan. Sejak itulah, selain melalui Facebook, di mana kami lebih dulu menjalin pertemanan, aku semakin sering berkonsultasi dengannya perihal penulisan. Aku juga kian tertarik mencari dan membaca karya-karyanya, yang sebagaimana sudah kukatakan sebelumnya, tidaklah banyak yang telah diterbitkan.

Mungkin karena itu juga, lama-kelamaan gaya tulisanku tampak condong meniru gayanya. Bertaburkan kalimat-kalimat yang disela oleh satu atau lebih sisipan klausa, atau diekori rentetan rincian yang seakan berlomba susul-menyusul (meski dalam tulisannya yang akan kulampirkan setelah ini, ciri-ciri itu mungkin tidak terlalu kentara), sehingga pembaca sering merasa tersandung-sandung dan pembacaan jadi terkesan berputar-putar (setidaknya begitulah bagiku). Tapi, satu hal yang tak bisa kutiru, sayangnya, adalah produktivitasnya.

Berbanding terbalik darinya, sebulan ini aku mencurigai diriku sedang mengidap apa yang biasa diucapkan dengan nada menjengkelkan sekaligus sedikit bangga oleh sebagian penulis: writer’s block. Muak dan merasa buntu karena bakatku, dalam obrolan kami belakangan ini mulailah aku menjajaki kemungkinan ia membagi rahasia produktivitasnya kepadaku. Akhirnya, dan ini sebenarnya tidaklah aneh, mengingat selama ini ia memang tidak pelit menanggapi pesan-pesanku yang cenderung cerewet, setelah sehari sebelumnya aku terang-terangan menanyainya soal itu, pagi ini ia mengirimiku sebuah cerita sebagai jawabannya. Namun, setelah membacanya, misteri yang bercabang tiga menjumpaiku seketika: apa betul cuma begitu caranya? Atau, bagaimana cara melakukannya dengan tepat? Atau malah, apa dia sebenarnya tidak hanya sedang melempariku lelucon?

 

B

OLEH SAMSUDIN ZAPPA

 

Untuk Muliadi:

INI cerita tentang “aku”-ku yang lain. Tapi, sebelum bercerita lebih jauh tentangnya, dengan segala kerendahan hati aku memohon izin untuk melipir sedikit, atau banyak, atau seperti berikut ini.

Sedari kecil aku suka membaca. Kesukaanku itu disokong dengan majalah anak-anak hadiah ultah kiriman dari tanteku. Ia tinggal di Kota M, sementara aku di kampung. Waktu itu aku berpikir alangkah senangnya andai bisa ulang tahun setiap hari. Karena itu terang saja mustahil, kubelokkanlah harapanku: alangkah senangnya bila suatu saat nanti bisa tinggal di Kota M seperti tante. Di sana pastilah surga. Semua ada.

Lulus SMA, kesampaian juga aku tinggal di surga itu. Sebenarnya untuk kuliah sesuai kemauan bapakku, tapi yang-lebih-sebenarnya, bukan itu tujuanku. Aku ingin bertemu buku sepuasnya.

Dari sekian banyak tempat menemukan buku, aku paling sering mengunjungi perpustakaan wilayah. Biasanya, demi menghemat anggaran belanja anak kos sepertiku, aku berjalan kaki kurang-lebih dua kilo menuju perpustakaan itu.

Masuk ke perpuswil, meja-kursi akan langsung menyambut kita, berbaris rapi tempat orang membaca dan menggosip. Di sebelah kiri, tampak pula jejeran rak tempat buku-buku saling sandar satu sama lain. Dan di sebelah kanan, ada ruangan Referensi, tempat harta pustaka hanya boleh dibaca di sana, tak boleh dibawa pulang.

Meski begitu, pernah juga aku membawa pulang buku dari ruangan yang tersebut terakhir itu. Deschooling Society, karya Ivan Illich. Karena kupikir aku bisa membacanya sekalian belajar bahasa Inggris dengan bantuan kamus, kuselipkanlah buku itu di balik kemejaku dan kubawa sampai rumah kosku. Di kamar, baru kusadari, membaca sambil berulang-ulang melirik kamus ternyata sama seperti kau memindahkan sebutir demi sebutir pasir di tepi pantai dari sebelah kiri ke sebelah kananmu. Buku itu pun kupinjamkan kepada keranjang pakaianku.

Dari ruangan itu, aku juga pernah membawa pulang selembar foto lukisan S. Sudjojono, “Di Depan Kelambu Terbuka”, yang kemudian kutempel di dinding kamarku. Ia kusobek dari buku kumpulan foto lukisan koleksi Presiden Soekarno, karena terpengaruh seorang kritikus yang bilang kalau lukisan itu adalah karya yang sangat kuat dari sang pelukis. Yah, aku memang tak mengerti apa-apa soal kekuatan lukisan, tapi aku bisa mengerti kegembiraan yang kurasakan tiap kali bangun pagi dan melihatnya. Menciptakan lukisan seperti itu pastilah butuh perjuangan, dan membawa fotonya ke kamarku juga adalah sebuah perjuangan.

Aku bertekad, sebelum lulus kuliah nanti, ia akan kukembalikan ke habitatnya semula, bersama buku Illich dan beberapa buku lain yang kubawa lari dari ruangan Referensi. Sampai saat ini, aku hanya meminjam mereka. Aku tidak bermaksud mencuri, tidak. Tiap kali tergoda mencuri, aku selalu teringat bapak.

Pernah, waktu masih belia, aku memungut sebiji jambu mete dari kebun orang, dalam perjalananku bersama bapak menuju kebun kami di kaki bukit (waktu itu biji jambu mete masih punya harga di kampungku). Tahu-tahu bapak menegurku.

“Itu bukan punya kita!” katanya.

“Tapi ini sudah di luar kebun orang itu,” kataku.

“Tidak, itu bukan punya kita,” katanya lagi, “kembalikan!”

Biji kecil itu pun kubuang, tetapi bayangannya tetap tinggal. Kukira, itulah warisan terbesar yang diturunkan bapak kepadaku.

Di Kota M aku juga mulai rutin membeli buku. Paling banyak adalah fiksi, dunia tempat kau bisa kabur dari kenyataan hidup sehari-hari. Tapi, untuk ke dunia yang satu ini pun butuh biaya (apa saja memang butuh biaya, sepertinya). Karena itu, bila kiriman dari bapak datang, kusisihkanlah tiga perempatnya untuk membeli buku. Bahkan kadang lebih dari itu, sampai-sampai aku pernah hidup dengan uang hanya lima ribu selama satu bulan. Ini bisa tertanggungkan, asalkan ada buku-buku dan kesediaan melompat-lompat dari kamar kos teman yang satu ke kamar kos teman yang lain, menumpang makan.

Lalu, ternyata, di dalam surga itu pun ada belokan ke masalah. Aku tak tahu apa yang sesungguhnya terjadi, tapi bila kukira-kira sekarang, ini sepertinya punya kaitan dengan kekecewaanku terhadap buku-buku, terhadap kata-kata.

Aku telah membaca banyak buku, tapi di ruang kuliah aku tetap seperti orang tolol, sementara di dekatku orang yang tak punya otak pun berani bicara ngotot seakan tahu segala hal. Aku sendiri gemetaran bila diminta bicara. Puncaknya, suatu hari kukarduskan koleksi bukuku lalu kusumbangkan ke perpustakaan.

Itu rupanya bukan akhir dari ulahku mencoba mengacak-acak hidupku sendiri. Suatu hari, ada seorang dosen yang disukai sebagian besar mahasiswa masuk mengajar di kelas. Di pertemuan pertamanya itu si dosen langsung memancang batas. “Tak ada tempat bagi orang introvet di kelas saya,” katanya.

Aku tahu maksudnya. Baiklah, tak ada tempat untukku di kelas ini. Maka, aku pun keluar dan tak pernah masuk lagi selama sisa semester itu, begitu juga semester berikutnya.

Kukira aku tidak akan membaca lagi. Aku hanya kelayapan di jalan-jalan seperti orang miring, mengamati sekitar, mengamati orang-orang, dan membuat gambar-gambar sketsa di buku catatanku. Ya, aku juga suka menggambar.

Aku suka menggambar sedari kecil. Bersama teman-teman masa kecilku, aku suka membuat komik laga di hamparan pasir dan tanah kering di kolong rumah. Satu adegan selesai, kami hapus dengan kaki, lalu kami gambar adegan berikutnya, begitu terus sampai jagonya mampus.

Di kamar kosku sekarang, triplek dindingku juga sudah penuh dengan gambar-gambar. Yang paling kusukai adalah gambar susunan kepala makhluk-makhluk aneh dari tepi bawah hingga tepi atas dinding, sepintas mirip totem Indian. Bila suatu saat nanti penghuni kamar ini adalah seorang syaman, aku yakin ia pasti suka gambar itu.

Beranjak dari gambar, aku mulai belajar melukis dengan cat di atas karton, sambil membayangkan karya-karyaku akan kujajakan ke hotel-hotel di kota ini. Tapi, ternyata, cat begitu sulit kukendalikan. Ingin melukis matahari, yang tercipta malah bayangan buah salak. Ingin melukis salak yang muncul malah bayangan wajah setan. Susah, susah…

Aku pun terpikir untuk belajar kepada pelukis yang lebih berpengalaman. Tapi, siapa? Ada banyak pelukis hebat di Kota M, tapi mengingat parahnya sifat pekaku, aku khawatir meledak karena tak mampu mendengar teguran keras dari mereka. Aku pun mengambil belokan lagi—sepertinya satu-satunya keahlianku memang hanya menemukan atau membuat belokan.

Kali ini belokan putar-balik. Kembali ke perpuswil. Kembali ke ruangan Referensi. Buku-buku adalah jalan termudah untuk belajar melukis.

Di ruangan ini ada banyak buku biografi perupa terkenal seperti Pi casso, Matisse, Cezanne, de-el-el, de-el-el, yang dilengkapi reproduksi karya mereka. Selain itu, tersedia juga buku-buku seni yang bertaburkan foto-foto lukisan dari berbagai benua—andai di planet Mars ada pelukis, aku yakin karyanya juga ada di sini. Tidak ketinggalan, foto-foto lukisan karya para maestro negeri ini pun ada. Tapi, kau tahu, melihat lukisan dalam buku tentu berbeda dengan melihat lukisan di pameran. Sulit bagiku mengabaikan teks yang menyertainya. Tanpa kusadari, alih-alih lebih banyak berlatih melukis, aku jadi lebih banyak membaca. Lukisan-lukisan yang kupelototi seolah-olah menyuruhku kembali membaca, mencari tahu lebih banyak perihal melukis. Aku pun keluar dari ruangan itu, menuju deretan rak tempat buku-buku yang boleh dipinjam.

Lalu, pelan-pelan, aku mulai membaca buku lain. Yah, bisa ditebak, kebanyakan fiksi, sebagaimana kesukaanku sebelumnya dan sampai kapan pun, melarikan diri ke dunia lain, dunia yang bisa kucangkokkan di kepalaku. Dan, aku mulai meminjam buku. Dan, tiba kiriman dari bapak, aku kembali membeli buku. Dan aku kembali kelaparan. Dan aku kembali melompat-lompat.

Dengan perut lapar, nyaris tiap hari aku kembali ke tempat yang sama. Seolah-olah di perpuswil ada pembagian makanan untuk gelandangan dan orang miskin kota. Itu tentu berlebihan, sebab, dari sana, aku hanya membawa pulang buku pinjaman, dan sesekali buku “pinjaman”.

Aku tidak bilang sepenuhnya berhenti melukis. Aku masih mencobanya beberapa kali. Bahkan bisa dibilang, minatku menulis tumbuh dari percobaan itu.

Itu bermula saat beberapa buku seolah bersatu-padu menganjurkanku melukis sambil bermain-main dengan, katakanlah, alam tanpa-sadarku. Entah apakah aku telah melakukannya dengan tepat atau tidak, tapi hasilnya sungguh membuatku puas. Seperti ada beban yang terlepas dari dalam diriku. Di mana kemampuan itu selama ini bersembunyi? Dari mana objek-objek ajaib itu berasal?

Aku mulai curiga dalam diri setiap manusia ada sosok lain, yang bergolek santai saat diri sesungguhnya sedang bekerja keras dan serius setengah mampus. Saat si pemilik tubuh sudah lelah, putus asa dan masa bodoh, barulah ia keluar dengan tenangnya dan mengerjakan apa yang sebelumnya tidak becus dikerjakan oleh si empunya tubuh.

Tanpa menyimpulkan apa-apa, suatu malam, ditemani sebotol wiski murahan, aku kembali menggoreskan kuasku di atas karton. Di luar dugaan, kali ini yang keluar bukan gambar orang atau pohon atau setan, melainkan kata-kata acak. Percobaan berikutnya pun sama. Puisi-puisi kacau sebaris demi sebaris lahir di kartonku. Sungguh ajaib, bagiku ini ternyata lebih menarik ketimbang lukisan.

Diiringi rasa ingin tahu yang besar akan gerangan apa yang telah menuntunku menuliskan kata-kata itu, aku lalu berpindah ke buku catatan, memparafrasakan kata-kataku sebelumnya, menulis ulang lebih panjang, sembari menikmati sensasi petualangan dalam “keributan yang hening” itu. Dan, setelah semua berlalu, yang tertinggal di kertasku adalah sebuah cerita.

Sedikit-banyak kini aku tahu caranya. Cerita-cerita baru pun terus tumbuh. Dan aku membaca penuh rasa syukur.

Semua itu ternyata memberiku semangat baru. Setelah dua semester mangkir kuliah, aku kembali masuk kampus. Teman-teman seangkatanku sudah banyak yang lulus. Aku kuliah bersama adik-adik tingkat dan bahkan mahasiswa baru.

Di kelas, aku juga mulai berani bicara. Bila seseorang menunjukku sambil berkata, “Giliranmu, Samsudin, apa pendapatmu soal ini?” Dengan enteng aku tinggal membatin, “Giliranmu, B!” Maka B-lah yang mengambil-alih. Aku duduk santai saja. B tak pernah mengecewakanku.

Tunggu, ada yang terlewati? Betul, mengenai B.

Begini. B adalah sosok lain dalam diriku, “aku”-ku yang lain, yang telah mengerjakan lukisan-lukisan dan tulisan-tulisanku. Dia juga yang bicara saat di ruang kuliah. Bukan aku. Dan kenapa namanya B?

Itu karena ia iba padaku. Malam itu–saat aku terpikir untuk memberinya nama karena alangkah baik sekiranya aku bisa memanggilnya dengan nama—aku menanyainya. Tapi, ia diam saja. Aku pun menawarkan beberapa pilihan dengan menyebutkan beberapa nama sekenanya. Ia tetap diam. Barulah saat aku mulai menyebutkan huruf-huruf, ia menyadari kekonyolan tingkahku. Dia segera mengangguk saat aku menyebut huruf B, karena, menurut pengakuannya belakangan, bila tingkahku diteruskan ia yakin aku akan menghabiskan alfabet, lalu angka-angka dengan segenap kombinasinya, lalu berlanjut ke nama-nama hari, nama-nama bulan, nama-nama hewan, nama-nama tokoh film Seven Samurai, nama-nama daerah tempat perahu Sawerigading pernah berlabuh, hingga nama-nama bajingan yang kukenal dan nama-nama bajingan yang tak pernah kukenal. Itu pasti akan melelahkanku. Jadi, dia mengangguk saat aku menyebut huruf B. Sejak itulah aku memanggilnya B. ekarang, aku sudah menginjak semester 14. Sebentar lagi aku lulus, atau harus lulus. Sejak semester 11 aku mengirimkan novel-novel karyaku ke penerbit. Meski nama yang kugunakan tetaplah nama pemberian orang tuaku, Samsudin Zappa, secara kesatria aku mengakui kalau yang menulis semua itu adalah B. Kupikir ini adil. Dia telah begitu lama menumpang di diriku. Kalau tak ada aku, mungkin ia takkan pernah ada, takkan pernah dikenali oleh satu-satunya orang yang mungkin mengenalinya pertama kali.

Karena itu jugalah, setiap kali ada pembaca yang berkata, “Tulisanmu buruk, Sam” aku biasanya membalas dengan bilang, “O, itu bukan salahku. Itu ulah B.”

Karena sebagian pembaca juga sangat peduli nama, kadang ada juga yang bertanya, “Siapa itu B? Apa artinya?”

Siapa B sudah kujelaskan tadi. Adapun artinya, B juga sudah menyediakan dua cabang jalan di depan kita. Simak saja dan silakan pilih.

“B bisa berarti bodoh, buruk, busuk, butut, butek, bohong, bengal, batil, beleng, bebal, bejat, beloon, berengsek, berisik, brutal, berandal, biadab, bual, buas, budak, bulus, bajang, bajingan, babil, binal, babur, beruk, bedebah, bacar, bawel, bego, bengkeng, bengkok, benalu, bunglon, baduk, bakhil, banal, bandel, bandit, bangkang, bengis, beringas, bergajul, bramacorah, berantakan, belingsatan, bangsat, barbar, bangpak, bangsai, badung, bahaya, bahala, bencana, bom, bobrok, bunian, buntu, buron, bongak, bongkak, bopok, borok, boyak, benngo, basi, dan bosan.

“Atau, B juga bisa berarti baik, bagus, berkah, basirah, brilian, budiman, bujangga, bahadur, becus, begawan, bening, beres, bangsawan, berkat, benar, bahana, bajik, bijak, bernas, betul, baiduri, bahagia, dan begitulah.”

Begitulah.

Kota M, Mei 2017

 Ya, begitulah.

Enrekang, Mei 2017

 

MULIADI G.F., tinggal di Barru, Sulawesi Selatan. Karyanya tersebar di berbagai media, juga terhimpun dalam antologi Surat Cinta untuk Makassar (De La Macca, 2016) dan Benarkah Menantuku Parakang? (Sampan Institute, 2017).

Advertisements