Cerpen Amir Syam (Suara Merdeka, 09 Juli 2017)

Senyum Lastri di Cangkir Kopi ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Senyum Lastri di Cangkir Kopi ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Suhari termangu. Kini, di teras rumah ia suka menghabiskan waktu. Sepanjang pagi hingga malam ia bersarung, duduk tafakur dibungkus sepi. Menanti seseorang dari pohon mangga dekat pagar rumah. Sesekali tetangganya yang lewat menyapa. Ada yang berniat basa-basi atau mengajak Suhari ke warung kopi. Namun ia tak terbit selera.

Sudah hampir sebulan senyum di wajah Suhari redup. Pudar dikunyah Lastri, sang istri. Semenjak kepergian Lastri entah ke mana, Suhari seolah-olah tak bergairah lagi hidup. Ia tak lagi ke sawah merawat padi yang siap diketam atau ke ladang untuk mengurus pisang dan ubi kayu.

Dia cerup lamat-lamat rokok kreteknya. Pikirannya terus bertanya, di manakah gerangan Lastri berada. Tatap matanya kosong, melanglang lepas melewati pagar, pucuk daun, membubung di genting tetangga, lalu jauh ke ufuk senja tak bertepi. Sungguh, kasihan Suhari. Raut mukanya menampakkan tulang pipi. Kulitnya menghitam. Kumis dan jenggotnya memutih tak terawat.

“Mengapa ia tega sekali meninggalkanku?” batinnya membuncah.

Dulu, Suhari pekerja keras. Pagi-pagi sekali ia sudah pergi ke sawah. Pulang selalu dengan perasaan senang disapa Lastri.

“Lihat apa yang Abang bawa, Lastri.”

“Banyak sekali pisang dan singkongnya, Bang. Bisa untuk makan sebulan.”

Ia teringat istrinya. Sontak dia campakkan puntung rokok, lalu berjalan gontai meninggalkan teras. Bayang-bayang Lastri acap menyergapnya. Tak kenal lelah.

Semua bermula saat ia pulang dari sawah siang itu. Entah angin apa yang berembus. Lastri mendadak ingin pulang menemui orang tuanya. Ibunya sakit. Suhari pun mengizinkan. Gugus waktu luruh. Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, Lastri tak kunjung pulang. Ia lalu berangkat ke kampung Lastri. Betapa terkejut ia setiba di sana.

“Kalau begitu ke mana Lastri pergi? Sudah sebulan lalu ia pamit padaku, katanya ingin menengok Ibu yang sakit.”

Suhari tergeragap. Panik. Bingung. Dia tak mendapati Sulastri. Keluarga Lastri kalang-kabut.

“Apakah kau ada masalah dengan Lastri?” tanya ibu mertuanya.

“Tak ada sedikit pun masalah antara aku dan Lastri, Bu.”

“Lalu ke mana Lastri?”

Seketika air mata ibu mertuanya pecah. Merintih. Tersengut-sengut. Suhari tak bisa menjawab. Ia kalut. Mengapa semua ini menimpanya? Sejak menikah lima tahun lalu, tak pernah ada cekcok luar biasa antara ia dan istrinya. Rukun sentosa. Beribu tanda tanya bergelayut dalam benaknya. Tak mungkin Lastri setega itu? Tak mungkin ia lari dengan selingkuhannya? Apakah ia diculik? Apakah ia pergi bekerja ke luar negeri? Beragam pertanyaan yang tak tentu arah menohok hati dan pikirannya.

Orang-orang kampung penasaran atas kepergian istri Suhari. Sesekali jika ada yang bertanya, ia hanya menjawab istrinya sedang pulang kampung. Namun lama-kelamaan mereka pun tahu Suhari berdusta.

Saban hari ia termenung di teras. Sesekali paras Lastri hadir kala ia menyeruput secangkir kopi. Cangkir itu dibelikan istrinya dulu saat baru menikah. Ah, pikirannya tergiring. Sosok Lastri seolah-olah menghampiri, menyodorkan secangkir kopi terbalut senyum, lalu duduk di sampingnya. Dia mencium kening Lastri. Lalu beranjak meraih cangkul, keranjang serta air minum yang selalu disiapkan Lastri sebelum ia berangkat ke sawah. Suhari rindu masa-masa itu.

“Hati-hati, Bang. Jangan lupa makan siang di rumah. Nanti Lastri buatkan tempe dan sayur asam kesukaan Abang.”

Jika mengenang-ngenang, betapa manis Lastri. Namun ia tak habis pikir, kenapa bisa istrinya yang tak pernah sekalipun dia caci dan pukuli itu pergi meninggalkannya. Ia kembali menangis. Meratap sesenggukan. Tersedu-sedu. Tak mampu lagi ia membendung air mata. Semua tumpah. Susah hati. Kopinya dingin.

***

Genap dua bulan Lastri meninggalkan Suhari. Hening dan kosong. Suhari tampak kurus kering, rambutnya makin lebat. Ia seolah- olah hilang harapan.

“Mengapa kau pergi meninggalkanku? Tak bahagiakah kau denganku? Adakah kata atau sikapku yang salah? Oh, Lastri, tega nian kau pada suamimu ini? Masih ingatkah kau saat-saat kita pergi ke pasar malam dulu? Lupakah kau masa-masa indah kita itu? Tak tahukah kau, rida Tuhan ada pada keridaan suamimu? Oh, Lastri, tak takutkah kau akan dosa atas kedurhakaan pada suami?”

Isi kepalanya berkecamuk.

Suhari memberanikan diri keluar rumah. Ia akan ke kota. Mencari Lastri. Andaikata ia mati di sana, dia ikhlas. Harga dirinya runtuh. Kini, dia tak tahu keberadaan istri yang menjadi tanggung jawabnya.

Dengan tekad kuat, Suhari berangkat ke kota. Pagi-pagi benar ia sudah naik bus selama delapan jam. Setiba di kota, ia bingung hendak memulai dari mana pencarian belahan jiwanya.

Langkahnya terseok-seok mencari Lastri. Sudah beberapa hari ia di kota. Putus asa menghinggapi diri. Lastri tak kunjung ada. Dia pegang foto Lastri kuat-kuat. Dia tunjukkan kepada siapa pun yang dia temui. Tak ada yang tahu. Malah sebagian orang memberikan uang.

Sudah hampir seminggu ia di kota. Tak ada hasil yang merekahkan kalbu. Suhari pasrah. Hidupnya sudah tak berarti lagi.

Oh, Tuhan, maafkan aku tak bisa menjaga amanahmu? Cabut saja nyawaku, Tuhan! Tak ada lagi artinya aku hidup tanpa Lastri.

Suhari mengutuki diri sendiri. Ia takluk di pusaran badai hidup. Kakinya tak mampu lagi melanglang mencari Lastri. Mungkin Lastri sudah mati. “Tak ada gunanya aku mencari di dunia ini. Lebih baik kususul ia ke dunia sana.”

Ia kembali lagi ke desa dengan tangan hampa. Nihil.

Kini dia sudah keukeuh memilih jalan. Bulat utuh. Sempurna. Tak bisa tidak. Mati jadi pilihan terakhir. Kepergian Lastri tak hanya merenggut senyumnya, bahkan akan menjemput nyawanya.

Malam itu, dengan memejamkan mata, sebilah pisau dia arahkan perlahan ke tubuhnya. Mulutnya terkatup. Ia menggerakkan pisau itu tepat ke pusar. Namun suara ketukan di pintu menggagalkan rencananya. Tergopoh-gopoh ia membuka pintu, berharap Lastri datang bak peri penyelamat.

“Ada apa, Sarmin, malam-malam begini kau ke rumahku hah?”

“Maaf, Bang Hari, aku ingin pinjam pacul.”

“Di sana. Kalau sudah kaupakai, taruh saja di tempat semula.” Suhari menunjuk ke samping rumah, menutup pintu, lalu beringsut masuk seperti keong. Lunglai. Pacul itulah yang ia gunakan untuk mengais rezeki. Menafkahi Lastri. Sejurus matanya berkaca-kaca. Malam itu ia terisak hingga pagi.

Mulai malam itu berulang kali ia hendak bunuh diri, tapi tak jadi. Dulu ia ingin bunuh diri di pohon. Gagal karena ada sarang lebah. Kontan ia lari terbirit-birit. Pernah juga ingin melompat dari kios kelontong lantai dua, tapi urung. Ia dipaksa turun oleh petugas keamanan. Pernah juga ia berniat melompat ke sungai. Batal. Baru hendak melompat, dia melihat seekor buaya di seberang. Ada juga rencana menenggak racun, tetapi kandas karena wajah Lastri menyemburat di botol racun. Suatu ketika ia menabrakkan diri di jalan raya. Waktu itu ia ditabrak motor dan hanya luka lebam di kaki dan tangan. Tak jadi mati. Ia mengutuki diri.

Akhirnya Suhari bertemu seorang kakek yang tak dikenal di warung kopi. Ia menyapa Suhari, lalu mereka berkisah. Suhari meluapkan kegundahan hati dan niat bunuh diri yang selalu patah pucuk di tengah jalan. Ia merasa betapa tak berharga. Ia tak layak hidup. Tuhan tak punya belas kasihan padanya.

“Aku paham bagaimana rasanya ditinggal istri, Suhari.” Kakek itu duduk memandangnya lekat-lekat. Sorot matanya berpaut pada Suhari. Suaranya parau. Suhari menyeringai datar, lalu tertegun. Diam. Membisu.

“Tapi hidup harus terus berjalan. Tak tahukah kau betapa murka Tuhan jika kau bunuh diri? Jahanam tempatmu, Suhari. Penderitaan tiada akhir di dunia hingga akhirat.”

Suhari menunduk.

“Tahukah kau betapa berharga dirimu itu?”

Suhari mendongakkan kepala. Hanya menatap sekilas. Lalu menyeruput kopi.

“Maukah kau menjual sepasang bola mata, jantung, hati, ginjal, dan kulitmu kepadaku?”

Suhari tergeragap.

“Akan kubeli semua lima miliar.”

Suhari terbelalak tak habis pikir. Kakek itu pun bercerita, saat ini sedang merebak kasus bunuh diri, penculikan anak, penjualan organ tubuh, hingga kasus korupsi. Tak lama lelaki tua itu pun pamit.

Suhari tertegun sembari memandangi punggung kakek itu yang bergerak menjauh. Lamat-lamat, makin jauh, lalu sirna bersama kesiur angin. Telunjuk Suhari mengitari bibir cangkir kopi. Ada senyum Lastri terukir di sana. Suhari pulang. (44)

 

Korea, 21 Maret 2017

Amir Syam adalah nama pena Amir Tjolleng. Pria kelahiran Manado, 12 Januari 1992, ini sedang menempuh studi S-3 di Jurusan Teknik Industri Universitas Ulsan, Korea Selatan.

 

Advertisements