Cernak Sulistiyo Suparno (Suara Merdeka, 09 Juli 2017)

Perilaku Aneh Paman Go ilustrasi Suara Merdeka
Perilaku Aneh Paman Go ilustrasi Suara Merdeka

Paman Go dari Negeri Tiongkok bertubuh pendek dan gemuk. Rumahnya mungil di tengah kebun apel. Paman Go pandai bermain sandiwara.

Ia sering berperan sebagai seorang kakek. Konon, suatu hari ketika sedang menjual apel ke kota, Paman Go menonton pementasan sandiwara. Paman Go menemui ketua rombongan sandiwara itu dan menyatakan ingin ikut bermain sandiwara. Setelah itu Paman Go sering bermain sandiwara bersama grup tersebut. Tetapi, beberapa bulan ini Paman Go tidak mendapat panggilan untuk bermain sandiwara.

Paman Go sering berdiri di depan pintu rumah, menanti seseorang membawa undangan bermain sandiwara. Paman Go lelah menanti, wajahnya murung. Beberapa tetangga sering bertanya kapan Paman Go akan bermain sandiwara lagi. Mereka senang menonton Paman Go berperan sebagai kakek di panggung. Paman Go menggeleng menjawab pertanyaan mereka.

“Jangan kalian tanyakan itu lagi, atau kalian akan melihatku bertingkah aneh,” kata Paman Go kepada para tetangga yang bertanya padanya.

Suatu hari seorang tetangga melihat Paman Go bertingkah seperti anak kecil. Paman Go berbicara pada pohon apel dengan suara yang kecil seperti suara anak berusia 10 tahun.

“Aku melihat hal aneh pada Paman Go. Ia bertingkah seperti anak kecil, melonjak-lonjak seperti seorang anak mendapatkan permen dari ibunya,” kata Re, seorang pemuda tetangga Paman Go.

“Paman Go lama tidak bermain sandiwara. Itu sangat mengganggu pikirannya. Apakah Paman Go telah menjadi gila?” sahut pemuda Ma, tetangga lainnya.

“Kasihan Paman Go. Kita harus menghiburnya,” kata Re.

Re dan Ma segera berkunjung ke rumah Paman Go. Dua pemuda itu ingin menghibur Paman Go. Setidaknya mereka akan mengobrol dengan Paman Go. Siapa tahu dengan mengobrol, beban pikiran Paman Go bisa berkurang.

“Selamat sore, Paman Go,” sapa Re dan Ma bersamaan.

Paman Go yang sedang berdiri menghadap pohon apel, segera menoleh dan berkacak pinggang.

“Kalian rupanya. Mengapa kalian datang lagi? Pergilah, aku tak akan menjual kebun apelku pada kalian. Pergi!” kata Paman Go membentak.

Re dan Ma bergegas pergi. “Paman Go sudah gila,” kata Re.

“Kasihan Paman Go,” sahut Ma.

***

Suatu hari, kampung mereka kedatangan rombongan sandiwara. Mereka akan mementaskan sandiwara berjudul “Seorang Kakek dan Kebun Apel”. Orang-orang datang untuk menonton.

“Apa Paman Go datang menonton?” tanya Ma.

“Entahlah. Kukira, orang gila tak akan menonton sandiwara,” sahut Re lalu tertawa.

Pementasan pun dimulai. Sandiwara malam itu berkisah tentang seorang kakek yang gigih mempertahankan kebun apelnya yang akan dibeli oleh raja yang serakah. Di panggung tampak seorang pemain bertubuh pendek, gemuk, dan berhidung besar berperan sebagai si kakek. Si kakek sedang bermain dengan tiga orang cucunya. Si kakek melonjak- lonjak menghibur ketiga cucunya.

“Sepertinya aku pernah melihat gerakan kakek melonjak-lonjak itu. Tapi di mana, ya?” kata Re.

“Mungkin dalam mimpimu,” sahut Ma tersenyum.

Adegan demi adegan terus berlalu. Tibalah adegan dua prajurit kerajaan datang menemui si kakek. Si kakek tampak berkacak pinggang dan mata melotot, lalu berkata lantang, “Kalian rupanya. Mengapa kalian datang lagi? Pergilah, aku tak akan menjual kebun apelku pada kalian. Pergi!”

Di kursi penonton, Re dan Ma terkejut.

“Sepertinya aku pernah mendengar ucapan si kakek itu. Tapi di mana, ya?” kata Re.

“Kau benar. Aku pun seperti pernah mendengarnya,” sahut Ma.

Pementasan telah usai. Semua pemain berkumpul di panggung, lalu bersama-sama mereka membungkukkan badan pada penonton. Pemeran kakek melepas rambut palsu dan hidung palsunya.

“Aha!” seru Re dan Ma bersamaan.

Re dan Ma bergegas ke belakang panggung. Di sana mereka bertemu dengan Paman Go.

“Paman Go luar biasa,” kata Re.

“Paman Go pemain sandiwara yang hebat,” sahut Ma.

Paman Go tersenyum.

“Terima kasih,” kata Paman Go. “Aku minta maaf pada kalian karena telah membentak kalian tempo hari. Saat itu aku sedang latihan peran untuk pentas malam ini.”

“Kami juga minta maaf, Paman Go,” sahut Re. “Kami sempat mengira Paman Go telah gila.”

“Benar, Paman Go,” kata Ma menimpali.

“Maukah Paman Go memaafkan kami?”

“Tentu saja,” jawab Paman Go.

“Memaafkan merupakan hal yang bisa membuat hidup kita bahagia. Bukankah begitu, Kawan?”

Paman Go merangkul Re dan Ma. Mereka tertawa penuh keakraban. (58)

Advertisements