Cerpen Bernando J. Sujibto (Jawa Pos, 09 Juli 2017)

Kelelawar Malam ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Kelelawar Malam ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

AKU terus memegang kedua telapak tangannya dengan erat, menatap lekat matanya yang berpijar, lalu memeluknya dengan hangat. Dua senjata api M4A1 dengan kantung peluru yang melingkar di tubuh kami, empat bom Molotov, dan dua pistol di selempang saku menjadi saksi bagi gelora yang berdebar di jiwa kami. Aku sangat mencintainya, dia pun tahu itu. Dari matanya, ketulusan itu kutangkap begitu dalam.

“Muaz, kamu harus kembali.”

Kalimat itu selalu terucapkan menjelang kita berpisah untuk tugas masing-masing. Di tengah tugas gerilya wajahnya selalu hadir setiap kali kutarik pelatuk senjata api dan lalu diikuti oleh rentetan tembakan balasan dari arah-arah yang sulit kutebak. Saat begitu, yang paling dekat dalam hidupku, selain senyum seorang ibu yang sudah berpulang dua tahun silam, adalah wajah perempuan bermata ela gözlü itu.

Setiap kali mendengar kalimat itu, aku membalasnya dengan senyum dan dua jari yang kuangkat ke atas, sembari meriakkan “her biji Kurdistan!”

Dia membalas dengan isyarat yang sama. Lalu diimbuhi senyum. Ya, senyum tulus yang selalu membuatku merasa ada di tengah-tengah perjuangan keras seperti ini.

Kali ini, di dalam bungker yang kami buat tepat di pintu keluar Kota _ırnak, untuk kali pertama kami berada dalam satu titik pertempuran. Serangkaian serangan sengit semalam telah membuat kami harus menyelamatkan diri ke tempat-tempat persembunyian di tengah kota. Kami tahu kapan harus bersembunyi dan kapan harus keluar bagai singa kelaparan dan menembak habis pasukan tentara Turki. Eyyup, Gizem, Murat, dan anggota lainnya dari pasukan kami juga telah menyelamatkan diri masing-masing. Dan aku—entah bagaimana takdir merencanakannya—bisa berdua dengan perempuan yang sudah lima tahun lebih kukenal ini. Selama itu, kebersamaan menyemaikan rasa cinta yang dalam. Cinta kami tumbuh subur di dalam gua di pegunungan tandus di kamp pelatihan perang.

Anda mungkin mengenali kami sebagai kelompok pemberontak Turki, atau apa pun istilahnya yang biasa diberitakan oleh media. Aku, lebih tepatnya kami, tidak pernah memedulikannya. Kami mempunyai cinta yang sama kepada tanah kelahiran yang harus dibela. Entah menurut Anda, tentu semuanya berbeda memaknai cinta kepadanya. Yang kami tahu makna cinta adalah cara bertaruh nyawa dan darah. Tanpa darah, cinta kepada tanah kelahiran adalah cerita fiksi. Cinta kami demi menyongsong keadilan, kebebasan, kemerdekaan, dan mengakhiri monopoli kelompok-kelompok persetan yang terus menginjak dan menggencet kami, rakyat jelata yang lahir di luar kelompok mereka. Di tanah ini cita-cita kemerdekaan tanpa penindasan akan segera terbit bersinar bersama matahari yang tak pernah ingkar seperti bendara kami.

Hari ini cinta itu bersatu di dada kami, hati dua pecinta yang berada dalam satu nasib dan pertaruhan. Aku menatap wajahnya yang tegas dan pemberani. Tak ada tanda menyerah atau keragu-raguan di sana. Dia sudah mengabdi menjadi martir lebih dari lima tahun untuk tanah Kurdistan.

Aku mengenal perempuan di depanku ini sebagai kelelawar pembunuh, karena kemampuannya melumpuhkan tentara Turki di malam hari. Sudah tak terhitung berapa tentara yang meregang nyawa di tangannya. Setiap kali pulang dari gerilya, dia tersenyum puas, “Lima biji zaitun sudah runtuh,” ujarnya. Kami paham, itu kode bahwa tangannya telah mengantarkan takdir kematian kepada lima tentara Turki.

Setiap kali mengingat titimangsa kebersamaan kami di kamp pelatihan, namanya tercatat sebagai pejuang perempuan paling mematikan. Kadangkala kami menyebutnya sebagai titisan Salahuddin Al-Ayyubi.

Keberanian tidak pernah memandang jenis kelamin. Kami sangat percaya itu. Pada suatu waktu, dia berada dalam kepungan di sebuah lubang gua di perbukitan. Berita pengepungan itu menyebar hingga ke telinga kami. Pada waktu yang sama aku menjalankan tugas di tempat berbeda. Tapi aku tidak pernah ragu atas kejeniusannya dalam bertahan.

Meski kabar dari komando kamp menyatakan bahwa gua itu tidak mempunyai jalur tunel untuk evakuasi, aku yakin dia akan menemukan cara untuk lolos dari penyergapan. Pengalaman kami bertahun-tahun hidup di gua, dari satu bukit ke bukit lain, telah mengajarkan menjadi singa liar, menjadi ular yang bisa bergerak meliuk licin di antara daun-daun dan batu-batu. Untuk itu, bagi perempuan yang ada di depanku ini, aku tidak pernah cemas.

Akhirnya, di suatu malam yang kacau, setelah satu minggu lebih kehilangan kontak, Berivan datang ke kamp kami. Saat itu kami kehilangan dua kamerad yang harus meregang nyawa. Berivan hanya berbisik kepada kami, “Aku diselamatkan oleh batu-batu.” Entah apa maksudnya. Mungkin itu sebuah keajaiban.

Tapi, apakah keajaiban itu akan hadir untuk kami yang tengah berada dalam kepungan mahasengit? Di luar sana bunyi peluru terus berdesing di antara gang-gang sempit dan batu-batu aspal di sekitar kami. Berivan menatapku dengan mata tajam. Kami paham ini adalah pertaruhan terakhir, antara hidup dan mati. Kami menghitung maut seperti merangkai kehangatan kebersamaan kami yang tak pernah terjadi sebelumnya.

Tapi apakah maut tega memporak-porandakan hati seorang pecinta seperti kami?

Saat ini kami berada dalam deburan cinta dan gelora yang tak biasa. Biarlah bungker kecil ini menjadi saksi keabadian cinta dua martir yang bertahan demi tanah kelahirannya. Biarpun rentetan peluru bagai hujan deras terus menghantam, kami ingin mengatakan dengan lantang bahwa cinta kami telah menyatu.

“Apakah kita harus berpisah, Cane mın? Kamu ke arah timur lewat tembok di belakang pohon kayısı dan aku menyisiri tepi pagar beton hingga tiba di titik serang yang sama, tepat di bawah Markas Kedua?”

“Sebentar, Cana mın. Kita pastikan dulu dari mana bunyi tembakan itu berasal. Dari situ kita bisa bergerak ke arah mereka. Di sana bisa menjadi titik serang kita, menghabisi para keparat itu. Jika tidak mungkin, ada Markas Pertama ke arah kiri atau kita langsung ke Markas Abadi lewat terowongan di pinggir sungai.”

“Mereka memakai strategi perang menyebar sehingga sulit diidentifikasi posisinya.”

“Tapi setidaknya sumber suara tembakan mereka kita dengar.”

“Setiap menembak mereka bersamaan dari banyak arah.”

“Sebentar, aku akan menembak.”

Dengan isyarat kedipan matanya sebagai tanda setuju, aku melepaskan dua tembakan ke dinding besi di arah timur, dengan peredam suara. Serentak terdengar suara tembakan memberondong peluru dari segala penjuru.

“Ini bukan waktu yang tepat untuk keluar, Cane mın. Mereka menyebar di mana-mana. Sepertinya mereka juga menyiapkan sniper.”

Aku terdiam menyimak arahan perempuan yang baru pertama kali mengucapkan kalimat cane mın untukku itu. Entah dari mana kalimat itu muncul. Sebenarnya, meski tak ada kosa kata cane mın dalam bahasa kami, rasa cinta kami sudah melebihi semua muatan yang dipikul bahasa. Ia tanda bagi kata benda dan sekaligus kata kerja yang mengalir dalam darah kami. Senyum, tatapan mata, dan sapaan lembutnya di setiap pagi menjelang latihan ringan untuk kebugaran yang rutin dilakukan di kamp pelatihan adalah cinta itu sendiri, yang susah diterka dalam bahasa verbal. Cane mın adalah setitik tanda bagi samudera kebahagian yang mengalir deras di jiwa kami.

Atas pertimbangan berdua, kami memutuskan untuk tidak keluar dari bungker. Di sekitar kami sudah dipenuhi oleh hantu-hantu tentara Turki. Aku memastikan kepada kekasihku bahwa nyawa kita tidak boleh dijual murah di tengah posisi terkepung seperti ini. Sebagai pasukan terlatih, cara terbaik kita adalah bertahan untuk menyerang dan menghabisi lebih banyak tentara yang tak punya nurani itu.

Aku mengenal Berivan ketika kami sama-sama mengikuti latihan khusus di Gunung Kato, sejak lebih lima tahun silam. Di tahun yang sama kami mendaftar menjadi barisan pembela kemerdekaan Kurdistan. Saat itu usiaku baru 17 dan Berivan 16 tahun. Kami mempunyai kisah serupa, sama-sama putus sekolah dan berlari meninggalkan orang tua di kampung. Aku dan Berivan, juga para martir seangkatan di kamp pelatihan, sudah lebih lima tahun tidak bertemu keluarga.

Pada awal Berivan tiba di kamp aku melihat rasa cemas terpancar di wajahnya. Di sela-sela berlatih dan mendapatkan suntikan spirit tentang arti perjuangan, dia bercerita bahwa ibunya tidak mengizinkan dirinya menjadi pejuang PKK.

“Ibu ingin aku menjadi guru atau advokat dan melanjutkan sekolah hingga ke universitas.” Berivan menghirup napas panjang lalu mengembuskannya perlahan.

“Pilihan hidup hadir dengan risiko masing-masing. Kamu sudah tiba di gunung, artinya jalan final menjadi martir kemerdekaan Kurdistan,” tuturku.

“Ya, aku paham. Kedatanganku ke sini bukan atas paksaan siapa-siapa. Aku mencari jalan untuk berjuang melawan penindasan yang puluhan tahun kita derita. Aku ingin menebus nyawa kakekku yang dibunuh tentara Turki dalam tragedi Dersim. Ayahku merasakan betul luka dan derita itu. Seandainya dia masih hidup, pilihan jalanku ini akan menjadi kebanggaan baginya, satu-satunya anak yang dilahirkan atas nama kebesarannya, Berivan Dersim.”

“Ayahmu juga dibunuh oleh tentara?”

Berivan mengangguk, lalu menunduk. Air matanya terantuk.

“Ayahmu akan bangga melihatmu berada di sini.” Setelah obrolan itu, Berivan berubah menjadi sosok yang tegar dengan langkah yang kokoh. Latihan fisik dan menembak dilakoni dengan penuh seluruh. Di luar jam latihan dia ke lapangan bawah untuk latihan menembak dan dilanjutkan dengan panjat tebing. Kelebihan lainnya dia ahli bermain pisau jarak jauh.

“Apakah malam ini kita akan keluar dari sini?” bisikan Berivan menyadarkan lamunanku. Aku langsung kembali memeluknya erat. Mengambil kedua tangannya yang sedari tadi memegang gagang senjata.

“Kita tenang di sini dulu, Cana mın. Sampai semuanya benar-benar aman.”

Aku mengambil bekal makanan dari tas dan menyiapkannya untuk makan malam. Ada roti, sucuk yang sudah matang, dan sebungkus buah zaitun. Dengan bekal makanan di tas, setidaknya kami bisa bertahan 2-3 hari ke depan. Kami menyantap makan malam tanpa cahaya yang cukup. Hanya ada celah-celah bungker yang bisa menerima kiriman cahaya dari lampu kota yang pucat. Sementara rakyat sipil di distrik ini harus berdiam dalam rumah karena sejak dua hari lalu diberlakukan soka_a çıkma yasak.

Setelah santap makan malam selesai, aku kembali memeluknya. “Berivan, aku akan menikahimu,” kalimat ini tiba-tiba keluar dari bibirku. Aku coba melihat sorot matanya di antara pendar cahaya yang masuk dari celah-celah bungker. Kedua tangannya lalu terbuka dan bergelayut ke leherku. Aku mencium aroma napasnya yang bergelora. Udara yang keluar dari hidungnya begitu hangat. Dia lalu mencium bibirku dengan pelan. Ini ciuman pertama dalam hidupku.

“Ya, kita menikah secepatnya. Merayakan pesta pernikahan di gunung, bersama saudara-saudara kita di kamp pelatihan.”

Suara Berivan terdengar seperti bergetar hebat, antara berbisik atau memantapkan kecupannya yang liar di pelipisku. Aku mendengar kalimat itu seperti wahyu yang turun di malam gelap.

Namun, seketika kami dihentikan oleh suara mobil patroli yang lewat di depan kami. Mata Berivan menebar pandang keluar dari sela-sela lubang intip. Setelah mobil itu melaju agak jauh ke barat, dia mengangkat M4A1. “Aku akan melumpuhkannya!” bisiknya sembari menempatkan posisi tembak.

Jedes! Jedes! Jedes!!!

Aku mendengar tiga tembakan. Berivan menarik pelatuk M4A1 dengan jitu. Tank itu meraung dan menghantam bangunan di luar sana. Seketika tembakan dan suara-suara berdesingan dari berbagai arah.

“Tiga buah zaitun lenyap,” bisiknya.

“Selamat,” ujarku.

Pagi dini hari setelah bunyi tembakan berhenti, kami sepakat untuk keluar. Tujuan kami terowongan tepi sungai menuju Markas Abadi. Kami harus berpisah karena ini bukan pasukan beregu yang bisa saling melindungi. Dengan cara berpisah, jalan hidup adalah pertaruhan; siapa yang selamat di antara kami adalah hadiah di tengah situasi mencekam seperti ini.

Di tengah misi menuju terowongan di tepi sungai itu, kami mulai mendengar tembakan silih berganti di sekitar. Satu per satu tentara yang menghalangi jalan kami lumpuhkan dengan tembakan peredam suara. Tapi jumlah mereka berlapis-lapis. Kami pun harus berjuang hingga tetes darah terakhir demi sampai ke terowongan di tepi sungai, demi kembali bertemu dan mewujudkan rencana pernikahan kami. Tapi, di tengah kepungan hebat itu, aku akhirnya terjungkal, jatuh tertembak di kepala.

Beruntung, aku mendengar Berivan selamat dan lolos dari penyergapan karena tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kelelawar malam yang berkelebat cepat dan lenyap. Dialah yang akhirnya berhasil membawa cerita ini ke hadapan pembaca semua. ***

 

Turki, 2016/2017

 

Catatan:

Cana mın                       : (Kurdi) panggilan kekasih untuk perempuan.

Cane mın                       : (Kurdi) panggilan kekasih untuk laki-laki.

Ela gözlü                        : (Turki) warna mata cokelat kehijau-hijauan.

Her biji Kurdistan          : (Kurdi) hidup Kurdistan.

PKK                               : Partai Pekerja Kurdistan, dinobatkan sebagai pasukan pemberontak di Turki.

Kayısı                             : (Turki) pohon berbuah, sejenis aberikos.

Sucuk                             : (Turki) serupa sosis dari campuran daging.

Sokağa çıkma yasak      : (Turki) “Dilarang keluar ke jalan.” Kebijakan seperti ini berlaku ketika pasukan keamanan Turki sedang melakukan operasi untuk menumpas separatis. Biasanya kebijakan ini hanya diberlakukan di daerah-daerah yang rawan gerakan separatis di Turki Timur.

 

BERNANDO J. SUJIBTO, penyair dan dosen. Dia menempuh pendidikan master sosiologi di Selcuk University, Turki (2014).

Advertisements