Cerpen Agus Noor (Jawa Pos, 02 Juli 2017)

Sindikat Pemalsu Kenangan ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Sindikat Pemalsu Kenangan ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

ADA yang diam-diam mencuri kenanganku, dan memberikannya pada orang lain.

Semula kusangka hanya kesalahpahaman karena pelayan kafe lupa mencatat, hingga meja yang kupesan sudah ada yang menempati. Penjelasan pelayan itu tak banyak membantu, dan membuatku semakin sebal, sementara perempuan itu bersi keras bahwa ia juga sudah jauh hari reservasi.

“Aku hanya ingin sejenak menikmati kenangan di meja ini. Semoga kau tak keberatan.”

Wajahnya yang murung seolah mengharapkan agar semua orang memahami kesedihannya. Caranya menatap membuat aku menjadi tak ingin mendebatnya. Mengenakan gaun hitam seperti orang yang sedang berduka, sepasang alisnya yang tebal terlihat seperti sayap burung yang murung. Rambut ikal panjangnya dibiarkan luruh menyentuh bahunya yang seakan tak lagi kuat menahan kesedihan yang ingin dilupakan. Kesedihan memang membuat kita ingin selalu dipahami.

Aku menerka, usianya mungkin lebih muda beberapa tahun dariku, tetapi tubuhnya yang lebih kurus membuatnya terlihat lebih tua. Ah, kesedihan memang tak mengenal usia.

“Aku hanya ingin menikmati kenangan.” Ia menatapku. “Duduklah, bila kau mau. Mungkin kita bisa berbincang. Lagi pula, meja ini cukup untuk kita berdua.”

Kemudian dengan suara pelan perempuan itu menceritakan perasaan kehilangan dan kerinduannya. “Kau tahu, hanya dengan kenangan kita bisa menikmati kembali kebahagiaan yang telah hilang. Karena itulah kita perlu merayakan kenangan. Lima tahun lalu lelaki yang kucintai melamarku di meja ini.” Ia memperlihatkan cincin di jarinya.

Saat itulah aku merasa ada yang aneh dan membuatnya curiga. Mendengar perempuan itu menceritakan kenangannya, aku seperti melihat kenanganku sendiri. Kenangan itu muncul kembali dihantar lagu lembut—lagu yang kudengar lima tahun lalu ketika Bram memberikan cincin melamarku. Juga pemandangan di jendela itu, langit sore yang bersih dibasuh hujan, hamparan pohon pinus basah dengan sungai kecil membelah lembah, segalanya tak berubah. Kenangan membuat segalanya abadi.

Advertisements