Cerpen Syaiful Irba Tanpaka (Republika, 02 Juli 2017)

Sepasang Mata yang Menyala ilustrasi Da'an Yahya - Republika
Sepasang Mata yang Menyala ilustrasi Da’an Yahya/Republika

Untuk ketiga kalinya Bongkot melihat sepasang mata itu. Sepasang mata yang memancarkan cahaya dengan indahnya.Sepasang mata dengan tatapan yang memesona. Sepasang mata yang penuh misteri, dan karena itu, menurut Bongkot, memiliki daya tarik luar biasa.

Pertama kali Bongkot melihatnya di pelataran Masjid Nabawi. Di saat ia melaksanakan ibadah umrah. Sepasang mata itu melintas dan berpapasan dengannya. Sepasang mata itu sempat melirik dan memandang kepadanya. Ketika tatapan sepasang mata itu tepat membidik kedua matanya, tiba-tiba Bongkot seperti tersihir. Sungguh!

Bongkot merasa tidak sekadar melihat bola mata yang berbinar-binar mengilaukan cahaya, tapi di lingkaran hitam bola mata itu ada semacam lorong yang melingkar-lingkar jauh, dan di ujungnya terlihat sebuah taman yang indah. Begitu indah. Sebuah pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.Ya!

Maka kemudian Bongkot merindukan kembali untuk dapat menatap sepasang mata itu. Dan ternyata, doa dan harapannya dikabulkan Tuhan. Bongkot kembali melihat sepasang mata itu melintas di pelataran Masjid al-Haram. Saat itu usai shalat Maghrib. Di antara rembang malam, sepasang mata itu memancarkan cahaya lebih terang dan berkilau-kilau. Bongkot terpukau menatapnya.

Tersebab dari lingkaran bola mata itu kembali ia melihat semacam lorong yang melingkar-lingkar jauh, dan di ujungnya terlihat sebuah taman yang indah. Begitu indah. Bongkot mencoba mendekatinya. Sayang, sepasang mata itu lesap di antara kerumunan orang-orang. Hingga beberapa waktu Bongkot mencari-cari sepasang mata itu. Namun tak ia temukan.

Sampai Bongkot pulang umrah dan kembali ke kotanya. Hasrat kembali bertemu dengan sepasang mata itu semakin menggebu-gebu. Dalam setiap doa selalu ia bermohon kepada Tuhan agar dipertemukan lagi dengan sepasang mata itu. “Ya, Tuhan. Engkau Maha Mengetahui segalanya. Maka berilah hamba kesem patan dan pengetahuan untuk kembali bertemu dengan sepasang mata yang menyala penuh misteri itu, amin….”

Jauh di dalam relung hatinya Bongkot sesungguhnya merasa heran; mengapa kini ia begitu terpesona dan mengagumi sepasang mata itu. Padahal sebelum melaksanakan umrah sepasang mata itu adalah hal yang biasa saja buatnya. Bahkan ia sungkan memandangnya. Dan jika harus berkata jujur maka kalimat inilah yang akan keluar dari mulutnya: Aku tidak suka dengan sepasang mata itu!

Ya! Setiap kali ia melaksanakan shalat lima waktu berjamaah di masjid di kotanya, ia kerap menjumpai sepasang mata itu. Dan Bongkot selalu berpaling dari tatapannya. Menurutnya tidak ada yang istimewa dari sepasang mata yang terlihat dari seorang wanita yang wajahnya ditutupi cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah.

“Keindahan apa yang bisa kita nikmati, Bung!” protes Bongkot.

“Gila kali kau ini. Kau catat, ya! Ia hidup bukan untuk kita. Ia menjalani kehidupan untuk suaminya, kalau ia sudah bersuami, dan untuk Tuhannya. Kenapa pula kau yang repot!” ujar seorang kawan yang diajak Bongkot berbicara.

“Aii…, sudahlah! Cuma aku tak habis pikir, hari gini, dengan kehidupan yang serba modern ada wanita seperti itu. Apa yang ada di pikirannya?!”

“Kau tanya sendiri pada wanita itu. Setelah kau dengar jawabannya, habis perkara! Jangan pula kau panjang-panjang kan cerita, bisa botak kepalamu, hahaha….”

“Hahaha….” Bongkot tertawa lepas mengiringi tawa kawannya. Tak sedikit pun terlintas rasa kagum dalam dirinya terhadap sepasang mata itu. Bahkan walau sekadar untuk menghargai. Tapi mengapa sekarang berbeda?

Bongkot merasakan bahwa kini ia sungguh-sungguh merindukan sepasang mata itu. Sepasang mata yang terlihat dari seorang wanita yang wajahnya ditutupi cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah. Sepasang mata yang memancarkan cahaya dengan indahnya. Sepasang mata dengan tatapan yang memesona. Sepasang mata yang penuh misteri, dan karena itu memiliki daya tarik luar biasa.

Apa yang tengah terjadi dengan diriku?

Bongkot bertanya-tanya dalam hati. Berhari-hari. Berpekan-pekan. Berbulan- bulan. Waktu berlalu. Hingga lebih enam bulan setelah Bongkot berada di kotanya. Di suatu malam, ketika ia pulang dari masjid, ia diperkenankan Tuhan bertemu lagi dengan sepasang mata itu. Ya!

***

Pada kali yang ketiga ini, sepasang mata itu seakan sengaja menghadang langkah Bongkot. Sepasang mata itu bergeming di depannya. Kegelapan malam yang kental membuat sepasang mata itu seperti mengambang di udara. Antara rasa kaget, tidak percaya, dan terpesona, Bongkot memandang lekat-lekat sepasang mata itu. Bertambah lekat, dan semakin lekat.

Belum sempat Bongkot menyapa, sepasang mata itu tiba-tiba memancarkan sinar yang berkilau-kilauan. Sinar itu melingkar- lingkar bagai spiral memasuki mata Bongkot. Tubuh Bongkot bergetar. Tak lama kemudian Bongkot merasakan ada satu kekuatan yang begitu dahsyat membetot dirinya masuk ke dalam bola mata yang berkilau-kilauan itu.

Lalu saat sinar yang berkilau-kilauan dan melingkar-lingkar membetot dirinya berhenti, Bongkot mendapati dirinya tidak lagi berada di jalanan dekat rumahnya, melainkan di sebuah taman yang indah. Begitu indah. Ya!

Bongkot memperhatikan sekeliling taman itu. Pepohonan dan bunga-bunga yang ada tumbuh dengan harmonisasi warna yang begitu memesona.

Ada pohon yang berwarna hijau tua dengan daun-daun berwarna hijau muda. Ada yang berwarna merah berpadu kuning dan jingga. Ada yang berwarna biru bersanding nila dan ungu. Bunga-bunga bermekaran di sana-sini. Bergoyang mengangguk- angguk dibelai hembusan angin semilir. Dan desir angin yang lembut itu menebar wewangian tiada terperi. Seakan menguap dari putik sari bunga-bunga.

Pohon-pohon dan bunga-bunga itu berseri disepuh cahaya yang berkilau- kilauan. Cahaya yang datang entah dari mana. Karena setinggi mata memandang cakrawala, tak ada matahari di sana. Cahaya itu seakan muncul dari berbagai arah. Menyemburat dari langit. Menyeleret dari bukit. Keluar dari lapisan bumi. Cahaya yang berwarna pelangi. Cahaya yang teduh dan menyejukkan.

Di taman itu mengalir sebuah sungai kecil dengan air berwarna putih serupa air susu. Bukan! Bukan hanya serupa, tapi air yang mengalir di sungai kecil itu betul-betul air susu. Subhanallah! spontan Bongkot berucap, “Di manakah hamba kini berada?”

“Inilah Taman Karomah.”

Tiba-tiba suara yang begitu syahdu menjawabnya dari arah belakang. Bongkot sungguh-sungguh terkejut. Ia berbalik menghadap ke arah datangnya suara. Dan Bongkot semakin dibuat terkejut. Di hadapannya berdiri seorang gadis berparas jelita dan memesona.

Bagai bidadari dalam cerita-cerita negeri kayangan, begitu sempurna. Anatomi tubuhnya sangat proporsional. Rambutnya tergerai hingga ke rerumputan, hitam segar mengilaukan cahaya dengan mahkota kecil di kepala. Busananya mewah bertabur berlian yang berkerlap-kerlip bagai bin ang kejora serta indah menawan.

“Siapa kau??!” spontan Bongkot bertanya melepas keingintahuannya.

“Akulah sepasang mata itu,” jawab Sang Gadis dengan suara merdu.

“Kau…??!”

“Ya, aku!”

“Bagaimana mungkin?!”

“Jika kau percaya qada dan qadar segalanya menjadi mungkin,” tutur Sang Gadis.

“Jika Tuhan berfirman “Kun” (terjadi), maka “Fayakun” (terjadilah),” tambah Sang Gadis.

“Maaf, aku sungguh tidak mengerti!?”

“Tidak semua hal harus dimengerti. Itulah hukum kehidupan dunia yang fana. Sebab tidak semua peristiwa yang terjadi melibatkan kau di dalamnya. Banyak hal terjadi dengan atau tanpa dirimu. Jadi kau tidak perlu khawatir dengan ketidak-mengertianmu. Kau paham?”

“Tidak….”

“Baiklah. Aku bertanya padamu: kenapa kau terobsesi dengan sepasang mata yang kini menjelma sebagai diriku?”

Bongkot diam. Ia merasa tidak dapat segera menjawab. Hingga beberapa saat kemudian, kesedihan merona di wajahnya. Dan tak lama ia mulai terisak. Bongkot menangis. Ya!

“Duhai! Siapa pun kau adanya; dengarlah ratapan penyesalanku.”

“Kau menyesal?”

“Sungguh!”

“Mengapa?”

Karena aku punya pikir, tapi pikirku tak bermata. Karena aku punya hati, tapi hatiku tak bermata. Karena aku punya cinta, tapi cintaku tak bermata. Karena aku punya mata, tapi mataku tak ber-Ca haya.” [1]

“Kau termasuk orang yang tidak bersyukur.”

“Begitulah, Jelita. Dan kini, lihatlah butiran air mataku. Butiran air mata dari seorang lelaki pendosa. Lelaki yang telah menistakan dirinya sendiri dengan kegelapan matanya. Jelata hina dina yang menatap kefanaan penuh jumawa. Lelaki dhuafa yang sekarang mengemis-ngemis kemurahan Tuhannya. Bisakah aku datang pada-Nya dengan jiwa yang compang-camping ini?”

“Tuhan Maha Mengetahui.”

“O, Jelita! Lihatlah butiran air mataku. Ia terus mengalir, tak akan berhenti. Tak bakal berhenti. Sampai seluruh hasrat dan nafsuku tenggelam. Hingga jiwaku bening berkilau. Sebab hanya dalam air mata ini bebanku menjadi ringan. Dan aku merasa akan dapat bertemu Tuhan.”

Tuhan menerima taubat orang yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” [2]

“O, Jelita! Perkataanmu membuatku tenang. Aku merasa terlahir kembali. Mataku kini menjadi terang benderang. Aku dapat memandang semesta dengan penuh kasih sayang.Tuhan, di mana Engkau?!”

“Dia lebih dekat daripada urat lehermu!”

“O, Jelita! Tiada lagi yang kurindukan kini selain cinta-Nya. Cinta yang tumbuh dan berkembang di setiap jiwa makhluk dan benda-benda.  Cinta tak berperi. Cinta yang menjadikan aku kekasih-Nya.”

“Maka berbahagialah engkau.”

Belum sempat Bongkot kembali berkata, Sang Gadis tiba-tiba raib, lalu muncul pancaran sinar yang berkilau-kilauan. Sinar itu melingkar-lingkar bagai spiral memasuki mata Bongkot. Tubuh Bongkot bergetar. Tak lama kemudian Bongkot merasakan ada satu kekuatan yang begitu dahsyat membetot dirinya masuk ke dalam sinar yang berkilau-kilauan itu. Bongkot melayang. Melayang-layang. Berputar. Berputar-putar. Hanyut mengikuti lekukan lorong yang melingkar-lingkar bagai spiral. Terus melayang. Melayang-layang. Terus berputar. Berputar- putar. Melayang-layang dan berputar-putar.

Lalu saat sinar yang berkilau-kilauan dan melingkar-lingkar membetot dirinya berhenti, Bongkot mendapati dirinya kembali berada di jalanan dekat rumahnya. Dia mencoba mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi. Ia teringat akan sepasang mata itu.

Sepasang mata yang menyala dari seorang wanita yang wajahnya ditutupi cadar dan seluruh tubuhnya dibalut busana Muslimah. Sepasang mata yang memancarkan cahaya dengan indahnya. Sepasang mata dengan tatapan yang memesona. Sepa sang mata yang penuh misteri, dan karena itu memiliki daya tarik luar biasa. Bongkot membatin, “Betapa ingin aku menanamkan sepasang mata itu di wajah putriku tersayang.” Untuk Syana Salsabila Nanpermai.

 

Medinah-Bandarlampung,11/5-11/12. 2016

 

Catatan:

[1] petikan sajak Buku Harian Seorang Serdadu di Medan Perang (sit, 1991)

[2] Terjemah QS at-Taubah [9]: 27

 

SYAIFUL IRBA TANPAKA Lahir di Telukbetung, Bandar Lampung, 9 Desember 1961. Menggeluti dunia sastra sejak 1981.Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, cernak, esai, opini, dan artikel lainnya pernah diterbitkan di media nasional dan daerah.

Advertisements