Cerpen Sandi Firly (Kompas, 18 Juni 2017)

Hikayat Rumah Lanting ilustrasi Reza Akil - Kompas
Hikayat Rumah Lanting ilustrasi Reza Akil/Kompas

“Kelak, apa yang aku kisahkan ini tinggal menjadi hikayat. Hikayat rumah lanting. Maka catatlah baik-baik setiap perkataan dan kisahku sebelum akhirnya nanti aku menutup mata, dan tak pernah lagi kulihat cahaya matahari pagi atau senja mengapung di sungai dari jendela ini.”

Kai Badar, yang usianya telah melampaui abad, mulai bercerita sembari berbaring di kasur lepek usang di samping jendela. Di luar, senja kuning mulai luruh. Aku menyiapkan buku catatan, dan meletakkan sebuah tape recorder di samping bahunya yang telanjang, kering, dan kurus. Meski sesekali diselingi batuk-batuk yang seolah keluar dari rongga dadanya yang tipis—sesungguhnya lebih mirip derit pintu yang engselnya tak pernah diberi minyak pelumas, ia bercerita cukup lancar, terkadang seolah memojokkanku walau kutahu ia tak bermaksud begitu. Entah karena batuk yang terasa menyayat, atau karena ia terharu, bulir bening mengembun di ujung matanya yang telah rabun.

Tak ada yang bisa aku lakukan untuk lelaki tua ini, selain hanya mendengarkan tutur dari mulutnya yang kosong tanpa gigi hingga menyerupai sebuah liang hitam—aku membayangkan suara-suara itu bukan berasal dari mulutnya, tapi lubuk jiwanya. Ia berkisah dengan seluruh semangat hidupnya yang masih tersisa, walau mungkin hanya tersisa sekecil nyala lilin yang bergeletar diembus angin. Ada nada marah, juga kecewa.

***

Sehari sebelumnya, Walikota Kota Air meninjau pembangunan siring beton yang telah berlangsung hampir tiga bulan. Ia mengenakan kemeja putih lengan panjang, bertopi koboi, berkacamata hitam, dan didampingi beberapa anak buahnya.

Dari sini, tempat kami berdiri yang juga sebagian tepi sungainya telah disiring, ia memandang ke seberang, persisnya ke sebuah rumah lanting yang tampak menyolok karena satu-satunya bangunan kayu yang masih tersisa. Sementara deretan kiri kanannya yang dulu berdiri beberapa rumah lanting dan bangunan tua peninggalan zaman Belanda berbahan kayu, semuanya telah digantikan beton berpagar etnik Kalimantan; ukiran buah nanas lambang kesuburan.

Jelas sekali mata Walikota terganggu dengan rumah lanting satu-satunya itu. Sambil berkacak pinggang dan mengembuskan asap rokok ia berucap, “Mengapa rumah lanting itu masih berdiri di sana?”

Kepala Satpol PP, anak buahnya yang ditanya, lelaki berbadan besar dan berkumis tebal itu seketika terlihat menciut—sejak itu aku tahu lelaki yang tampak perkasa ketika ciut ia seperti balon yang mendadak kempis kehabisan angin. “Maaf, Pak Wali, pemiliknya tetap ngotot mempertahankan rumah lantingnya, walau sudah kita bujuk berkali-kali,” jawabnya gugup sembari membungkuk dan merapatkan kedua tangan di antara kedua pahanya yang juga dirapatkan.

“Ah…,” desah Walikota. “Begitu saja kalian tidak bisa mengatasi. Kan sudah aku bilang tawarkan ganti rugi tinggi, kalau perlu dua kali lipat dari nilai rumah reyot itu.” Walikota mengembuskan asap rokoknya keras-keras, yang kemudian dibawa terbang angin tepi sungai yang berembus semilir. Jelas sekali Walikota tidak senang mendengar laporan anak buahnya tadi.

Masih terbata-bata Kepala Satpol PP yang kumis tebalnya mendadak seperti layu itu menjawab, “Sudah Pak Wali. Malah kai tua pemilik rumah lanting itu tidak mau dibayar berapa pun.”

“Halahhh…. Mana ada orang yang menolak kalau dikasih uang banyak-banyak. Berapa sih dia mau? Setengah miliar, satu miliar? Kasihkan saja!”

“Benar Pak Wali. Kai itu bilang, berapa miliar pun ia tidak mau terima.”

Walikota tercenung sejenak. Asap rokok berebutan keluar dari mulutnya. “Yang begini inilah seringkali menghambat pembangunan,” ucapnya pelan. “Tapi saya tidak mau tahu, rumah lanting itu tetap harus dibongkar. Bagaimana pun caranya,” tandasnya agak keras.

Walikota berbalik melengos, dan saat itulah ia seperti baru sadar kalau sejumlah wartawan sejak tadi mendengarkan pembicaraannya dari belakang.

“Oya, kalian wartawan, pembicaraan tadi tidak untuk diekspos, off the record ya…,” katanya tersenyum ramah. Juga kepadaku.

“Terus bagaimana Pak kalau kai itu tetap tidak mau pindah?” tanya seorang wartawan televisi, kamera yang dibawa temannya menyorot wajah Walikota.

Dengan memasang wajah manis dan seakan-akan bijak, Walikota berkata penuh wibawa. “Kita akan tetap melakukan pendekatan persuasif. Akan kita jelaskan bahwa pembangunan siring ini demi kemajuan dan keindahan kota kita juga, seperti kota-kota luar negeri yang pernah saya kunjungi, Venesia, Belanda, atau Shanghai,” jelasnya dengan nada bangga. “Namun yang jelas, rumah itu tetap harus dibongkar,” tandas Walikota, lantas memasuki mobil dinas hitamnya.

Sore hari itu juga, sebuah alat berat penghancur bangunan perlahan mendekati rumah lanting di tepi sungai. Orang-orang berdiri menyaksikan dari atas jembatan. Tak ada yang bersuara. Tegang. Sementara alat berat seperti kepiting raksasa berlengan satu itu perlahan berjalan siap meluluh-lantakkan.

Orang-orang mendadak menjerit tertahan ketika sekonyong-konyong keluar dari balik pintu rumah lanting itu seorang kai bertelanjang dada—hingga jelas terlihat tulang-tulang rusuknya berbalut kulit tipis, kering dan keriput. Ia berdiri persis di depan kepiting besi itu, hanya berjarak satu meter. “Kalau kalian tetap menghancurkan rumah ini tanpa berperikemanusiaan, maka kalian juga harus menguburkanku bersamanya!” teriak kai itu lantang, namun samar ditelan deru mesin alat berat dengan tangan panjang yang terulur siap mencengkeram atap rumah lanting yang terbuat dari daun rumbia.

“Teruskan…! Teruskan…!” Kepala Satpol PP berteriak kepada petugas di atas alat berat. Tampak sekali keraguan di wajah lelaki gemuk di belakang stir alat berat. Tangan kepiting raksasa itu tertahan di udara, hanya berjarak sejengkal dari atap rumah lanting itu. Suasana kian tegang.

“Waduh…, Pak. Ini tidak bisa diteruskan. Bisa-bisa saya malah membunuh kai itu!” sahutnya setengah berteriak. Keringat bercucuran membanjiri kepala dan wajahnya.

“Haaahhh…!” Kepala Satpol PP menggaruk-garuk kepalanya yang botak setelah melepaskan topi.

Akhirnya mesin alat berat dimatikan, dan lelaki gemuk itu turun, pergi menjauh sembari geleng-geleng kepala dan menghapus peluh di kepalanya yang plontos. Orang-orang bertepuk tangan serta bersorak seolah memberikan selamat kepada kai yang perlahan kemudian memasuki kembali rumah lantingnya. Sementara tangan alat berat masih menggantung di atasnya, begitu dekat.

Kerumunan di atas jembatan perlahan membubarkan diri, dengan senyum dan napas lega. Arus lalu lintas yang sempat macet di atas jembatan kembali lancar. Esok harinya, gambar seorang kai berdiri merentangkan kedua tangannya yang kurus di depan rumah lanting, berhadap-hadapan dengan alat berat yang terkesan seperti raksasa kelaparan, menghiasi halaman-halaman depan koran di Kota Air. Tak terkecuali juga koran tempatku bekerja.

Sebab itulah aku diminta mewawancarai kai itu untuk menanyakan lebih jauh mengapa ia begitu gigih mempertahankan rumah lantingnya di tengah pengerjaan proyek siring di tepi sungai yang membelah kota.

***

“Orang-orang muda sekarang tidak pandai menghargai sejarah. Seolah sejarah adalah masa lalu yang harus dilupakan karena kuno, usang, dan tidak menarik. Seperti rumah lanting ini, yang tersisa satu-satunya di sungai ini pun ingin dihancurkan, ditenggelamkan, dimusnahkan.

“Kalian tidak pernah membaca. Tidak pernah mempelajari orang-orang tua dahulu.”

“Kalian menganggap sebuah kota yang indah adalah bangunan-bangunan beton yang tinggi, baliho-baliho yang menutupi langit, tiang-tiang antena yang menembus awan, dan rumah-rumah seperti istana raja. Lalu makanan-makanan mewah yang disajikan di piring-piring kaca berukir, minuman-minuman sari buah di cangkir-cangkir bening, serta barang-barang luar negeri. Semuanya kalian nikmati sembari menyaksikan tayangan-tayangan televisi yang menyajikan wajah-wajah cantik yang melenakan. Kalian juga menghibur diri di ruang-ruang yang bergemuruh dan penuh lampu warna-warni, bernyanyi keras-keras di kamar sempit dengan diapit wanita-wanita yang juga berpakaian sempit. Kalian dengarkan ceramah motivator-motivator untuk memperkaya diri.”

“Sementara itu, kalian mulai menyingkirkan peninggalan-peninggalan orang tua dahulu. Kalian hanya memahami arti kekayaan dan keindahan materi saja. Tapi tidak pernah memahami keindahan jiwa, kehalusan budi pekerti. Semuanya hanya kalian nilai dengan uang, uang, dan uang.”

“Tahukah kalian, mengapa orang-orang zaman dulu membangun rumah-rumah lanting ini? Membangun rumah di sungai, di tepian? Karena sungai inilah nadi hidup, ia bisa mengarus lambat, namun juga suatu waktu menderas, deras, bergejolak, melimpah menggenangi jalan-jalan hingga banjir di mana-mana. Tapi kami orang-orang dulu tidak pernah mengalami banjir itu meski air meluap setinggi apa pun. Rumah lanting kami bersahabat dengan sungai, sungai meninggi rumah kami tetap di atas tak pernah tertelan air, kami berjalan di atas air dengan jukung-jukung dan kelotok, kami bertukar bahan makanan di atas sungai. Kami hidup bersama sungai.”

“Kini kalian mencoba membendung sungai dengan beton-beton. Lalu rumah lanting kalian lenyapkan atas nama pembangunan, berdalih demi keindahan kota. Sementara itu kalian korbankan sejarah, kalian lenyapkan kearifan orang-orang tua dulu.”

“Tidak bisakah kalian membangun tanpa harus mengusir kami dari tepian sungai tempat hidup kami? Sebegitu sulitkah yang kalian sebut modernisasi berdampingan dengan tradisi-tradisi lama, seperti rumah lanting ini?”

Dengan perasaan malu aku meninggalkan rumah lanting Kai Badar senja itu. Dan entah mengapa aku merasa telah gagal mewawancarainya, kecuali hanya mendengarkan keluh kesah bahkan mungkin serapah dari seorang tua yang kecewa dan putus asa.

***

Senja ini seperti senja terakhir yang dilihat Kai Badar ketika aku ke rumah lantingnya kemarin. Dari atas jembatan samping Pasar Lama Kota Air, aku menatap rumah lanting Kai Badar yang hening, sesekali terayun-ayun dihela ombak kelotok yang membelah sungai.

Kai Badar telah dikuburkan sebelum ashar tadi. Dari para pelayat dan pengantar jenazah yang mendengar cerita dari Galuh, cucunya, semalam batuk Kai Badar nyaris tak henti, tubuhnya yang terguncang tak saja menggetarkan ranjang kayunya, tapi juga seolah melenggangkan rumah lantingnya. Usai salat subuh, ia kembali berbaring. Setelah itu tak terdengar lagi suara batuk. Dan pagi ketika Galuh telah menyiapkan nasi kuning untuk sarapan, Kai Badar telah wafat—mulutnya yang kosong setengah terbuka, dan mata terpejam rapat.

Setelah kepergian Kai Badar, aku tahu tak ada lagi yang bisa menghalangi penghancuran rumah lanting itu. Sebuah alat berat, entah sejak kapan, terlihat telah parkir tak jauh dari sana—mungkin malam nanti akan digerakkan, dan serupa hantu akan melumat satu-satunya rumah lanting yang tersisa itu. Seketika terlintas ucapan Kai Badar, “Kelak, apa yang aku kisahkan ini tinggal menjadi hikayat. Hikayat rumah lanting….”

Aku berjalan gontai sambil menggulung koran yang memuat kisah Kai Badar dan rumah lantingnya. Aku merasa telah gagal membantunya mempertahankan rumah lanting itu, kecuali hanya sebuah hikayat.

***

“Itukah rumah lanting yang dulu pernah kamu ceritakan kepadaku?”

Aku tersenyum nanar. “Bukan. Itu Restoran Terapung milik pemerintah,” jawabku kepada Jeanny, teman dari Jakarta yang kukenal lewat jejaring sosial internet sejak setahun lalu. “Rumah lanting kini hanya menjadi hikayat,” ucapku lagi, pelan.

Jeanny sekilas menatap ke arahku, agak bingung, lalu kembali mengarahkan perhatiannya ke bangunan yang mirip rumah, agak panjang, berdiri di atas sebuah kapal besi tongkang karatan—bukan batang-batang kayu bulat tempat dulu rumah lanting Kai Badar mengapung persis di situ.

 

Catatan:

Kai = Kakek

Jukung = Sampan

Kelotok = Kapal kecil bermesin

 

Sandi Firly, lahir 16 Oktober 1975 di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Seusai studi di FISIP-Komunikasi Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, Kalimatan Selatan, pada 1999, bekerja sebagai wartawan.

Advertisements