Cerpen Dody Wardy Manalu (Republika, 18 Juni 2017)

Gerombolan Kupu-Kupu ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Gerombolan Kupu-Kupu ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Mardi duduk termangu di kursi makan, menatap lurus ke tudung saji di hadapannya. Ia menerka-nerka makanan apa yang dimasak istrinya pagi ini. Tangannya mengangkat tudung saji dan menemukan sepiring tempe tanpa sambal dan sayur daun ubi rebus. Mardi mengembuskan napas kuat. Raut wajahnya menunjukkan rasa tidak suka pada hidangan di atas meja.

Menu itu lagi. Hampir sepekan menu tidak pernah ganti. Lidahnya sudah bosan dengan rasa tempe bau tengik dan daun ubi yang terasa pahit. Namun, ia memaksa diri menyantap sarapan seadanya itu. Ia harus punya cukup tenaga untuk bekerja satu hari penuh di kebun Pak Liam. Bersyukur pemilik kebun sawit terluas di kampung meminta dirinya ikut bekerja mengambil buah dan pelepah.

“Aku tahu kamu bosan makan menu yang itu-itu saja.”

Kendari, istrinya, muncul di mulut pintu dapur tengah menyusui salah seorang bayi kembar mereka. Wajahnya tampak letih. Kantong mata dilingkari noda hitam. Urat-urat lehernya menonjol. Memberi asi untuk kedua bayi sekaligus membuat ia kurus kering seperti induk serigala kelaparan.

“Tempe makanan kesukaanku.”

Mardi menyuapkan nasi ke mulut beberapa kali, seakan ia makan dengan lahap. Tak seharusnya ia pilih-pilih makanan. Mardi bukan pemuda lajang lagi yang bisa bermanja-manja. Ia juga bukan sedang di rumah orang tuanya yang dipenuhi berbagai jenis makanan.
Ibu dan kakak perempuannya sangat pintar memasak.

“Kamu ingin sekali makan bubur kacang ijo, bukan?”

Mardi menghentikan makannya, menatap Kendari yang masih berdiri di mulut pintu. Dari mana istrinya tahu hal itu?

“Tadi malam kamu mengigau menyebutkan bubur kacang ijo. Ingin sekali memasaknya untukmu. Tapi uang kita sudah habis membayar utang di kedai Pak Matondang.”

Seketika pipi Kendari berbalur air mata. Buru-buru Mardi menghampiri dan menarik tubuh Kendari dalam dekapan.

“Jangan menangis, ini bukan salahmu. Memberiku dua buah hati sekaligus telah membuatku menjadi ayah paling bahagia sedunia.”

Mardi mengusap rambut istrinya. Tanpa sadar ia juga menangis. Andai menuruti perkataan orang tuanya, mungkin hidupnya tidak seburuk ini. Dulu, kedua orang tuanya mati-matian membujuk Mardi agar sekolah. Namun, kupingnya seakan tuli dan hati mengeras bagai batu. Satu pun perkataan orang tuanya tidak ia dengar. Judi dan minuman keras lebih memikat hatinya. Kini, sesal hadir saat merasa kesusahan mencukupi kebutuhan rumah tangganya.

***

Mardi mengajak Kendari duduk di kursi makan, berharap bisa melupakan beban hidup yang tengah mengimpit.

“Kamu belum sarapan, kan?”

Mardi menyendok nasi, sayur, dan dua potong tempe ke dalam piring, lalu menggesernya ke hadapan Kendari. Akhirnya, mereka sarapan bersama.

“Aku tidak ingat kalau tadi malam mengigau tentang bubur kacang ijo. Justru aku teringat pada mimpiku yang lain.”

“Mimpi apa?”

“Mungkin ini mimpi buruk. Aku bermimpi menjelma menjadi segerombol kupu-kupu.” Mardi meneruskan makannya.

“Menurutku itu bukan mimpi buruk. Aku sangat suka melihat kupu-kupu.”

Kendari sudah lupa kalau beberapa menit lalu baru saja menangis.

“Jika aku berubah menjadi kupu-kupu, itu artinya kita tidak bisa lagi hidup bersama. Mana ada perempuan bersuamikan kupu-kupu.” Mardi cemberut. Kendari tersenyum manja.

“Kata orang, bermimpi menjelma jadi kupu-kupu bertanda panjang umur,” hibur Kendari. Ia hanya bicara asal.

“Aku tidak mau menjadi kupu-kupu. Aku ingin selalu bersama si kembar dan kamu.” Mata Mardi mengisyaratkan ketakutan, seakan mimpi itu benar akan menjadi kenyataan.

“Jangan memandangku seperti itu. Mimpi hanya bunga tidur. Tidak akan terjadi. Percayalah!”

Kendari menyadari raut ketakutan di wajah suaminya. Ia bangkit mengambil topi kerja yang tergantung di dinding dapur. Topi itu dipakaikan ke kepala Mardi. Juga tas kerja yang berisi kotak nasi untuk bekal makan siang. Kendari telah menyiapkan semuanya. Setelah Mardi selesai sarapan, Kendari mengantarnya ke pintu depan.

“Cepatlah pulang, aku akan memasak bubur kacang ijo buatmu.”

Mardi urung memakai sepatu botnya.

“Kamu bilang uang kita sudah habis.”

Kendari gugup tak tahu harus berkata apa.

“Jangan meminta uang dari ibu lagi hanya karena semangkok bubur. Itu akan merendahkan harga diri suamimu ini. Walau aku anaknya, tapi kehidupan kita sudah berbeda,” lanjut Mardi.

“Aku lupa, ternyata kita masih punya uang yang kuselipkan di lipatan kain. Aku rasa cukup untuk membeli kacang ijo, beras pulut, gula, dan kelapa.”

“Aku pergi dulu.” Mardi mencium kening anaknya yang berada dalam gendongan. Begitu Mardi sudah jauh di ujung jalan, cepat-cepat Kendari masuk rumah. Dibuka lemari pakaian. Kain jarik yang masih baru ditarik dari antara lipatan. Kain jarik itu hadiah dari ibunya ketika ia dan Mardi menikah setahun lalu.

***

Kacang ijo, beras pulut, gula aren, daun pandan, dan kelapa tergeletak di atas meja. Kendari memandanginya dengan mata berkaca-kaca. Ia telah berbohong. Mereka tak punya uang sepeser pun. Untuk mewujudkan makanan kesukaan Mardi, terpaksa menjual kain jarik pemberian ibunya.

Kedua anaknya telah terlelap beberapa menit lalu. Ia mulai sibuk melakukan pekerjaan di dapur. Setelah kacang direbus, ia memarut kelapa dan mengiris gula aren. Terbayang bagaimana reaksi Mardi saat pulang nanti menemukan semangkok bubur kacang ijo di meja makan beraroma daun pandan.

Kendari sangat menyukai bola mata Mardi. Bola matanya akan mengerjap-ngerjap bila sedang gembira. Tatapan yang memancarkan ketulusan membuat Kendari ingin selalu memeluk tubuh suaminya. Kendari tersenyum mengingat tingkah lucu Mardi. Dua bulan lalu, Kendari masak kolak. Rasa letih hilang seketika saat Mardi disuguhi sepiring kolak sehabis kerja. Mulut Mardi menggelembung dipenuhi kolak, sesekali menyodorkan satu sendok buat Kendari. Mereka tertawa-tawa. Ruang dapur menjadi hangat oleh cinta.

Di waktu yang sama di tempat berbeda, Mardi bareng temannya sedang memanen sawit dan mengambil pelepah yang telah masak. Pohon sawit yang menjulang tinggi mengharuskan para pekerja menggunakan egrek bertangkai panjang untuk mengambil buah dan pelepah.

Walau Mardi bertubuh kecil, ia sangat lihai memainkan egrek. Dalam sekejap buah yang berukuran besar jatuh menghantam bumi. Mardi menggantungkan nasib pada setiap buah yang ia panen. Gaji hari ini akan ia gunakan membeli susu buat kedua bayinya. Kasihan Kendari, asi miliknya tidak cukup untuk kedua bayi mereka.

“Mari istirahat sebentar, nanti kita lanjutkan kembali,” teriak teman sekerjanya.

“Aku akan menyusul setelah mengambil buah sawit di pinggir jalan itu,”
sahut Mardi sembari memikul egrek yang tangkainya meliuk-liuk di atas bahu.

***

Bubur kacang ijo telah masak. Kendari menyendoknya ke dalam tiga mangkok. Mangkok pertama buat Mardi. Mangkok kedua untuk dirinya sendiri. Sedangkan mangkok ketiga buat mertuanya. Bubur itu akan ia antar ke rumah mertua yang jaraknya tidak terlalu jauh. Kendari berdiri menghadap meja makan. Ia tersenyum puas memandangi ketiga mangkok berisi bubur. Tugasnya telah selesai. Tinggal menunggu Mardi pulang dan bagaimana reaksinya ketika melihat bubur itu.

“Tolong buka pintunya…,” sebuah teriakan disusul ketukan keras membuat Kendari terhenyak. Ia beranjak menuju pintu depan, terkejut melihat wajah panik seseorang begitu pintu dibuka.

“Ada perlu apa?”

“Mardi suaminya ibu…,” ucapnya tersendat. Wajahnya panik.

“Ada apa dengan suamiku?”

“Ia tersengat arus listrik. Egrek miliknya jatuh mengenai kabel.”

“Jangan bercanda. Ini sungguh tidak lucu.”

Hal-hal buruk langsung berkelebat di kepala Kendari.

“Aku tidak bercanda. Ini serius.”

Dunia seketika menyempit dan Kendari merasa terimpit di tengah-tengah. Ia langsung menghambur ke halaman, berlari sekuat tenaga menuju kebun sawit di mana suaminya bekerja. Orang-orang memadati tempat kejadian. Kabar itu begitu cepat tersebar ke seluruh warga. Kendari menerobos keramaian. Tangisnya meledak begitu melihat suaminya terkulai tak berdaya. Mardi dimasukkan ke dalam lumpur untuk menghilangkan arus listrik dari tubuhnya. Kendari berteriak memanggil nama suaminya seperti orang kesurupan. Beberapa warga berusaha menenangkannya.

“Tenangkan hatimu. Suamimu hanya pingsan.”

Kendari tidak percaya. Semua itu hanya kata-kata penghiburan. Ia melihat sendiri bagaimana keadaan Mardi. Bibirnya telah pucat. Tubuhnya tak bergerak sedikit pun. Tiba-tiba seekor kupu-kupu terbang di atas kepalanya. Kendari teringat akan mimpi itu.

“Aku tidak ingin melihatmu menjadi kupu-kupu…”

Kendari terdiam bagai patung, tak sanggup membayangkan bila esok akan menjalani hari tanpa suami.

***

Tubuh Mardi telah dimandikan. Ia terbujur kaku di atas tempat tidur. Sanak famili berkeliling menangisi jasadnya. Kendari menghampiri, tangannya memegang sebuah mangkok.

“Aku telah memasak bubur kacang ijo kesukaanmu. Bangun, mari kita cicipi bersama.”

Kendari menangis di samping tubuh suaminya. Bubur dalam mangkok telah dingin.
Sedingin perasaannya. Kendari harus belajar ikhlas menerima kenyataan. Mulai besok, tak ada lagi sosok yang membuat meja makan menjadi ramai.

“Bangun. Mari kita makan buburnya,” ujar Kendari sekali lagi.

Seekor kupu-kupu masuk melalui jendela, terbang di atas kepala Kendari. Kupu-kupu lain menerobos masuk hingga berjumlah ratusan ekor. Kupu-kupu itu terbang bergerombol membentuk bulatan di udara. Tak disangka-sangka, kupu-kupu itu hinggap di pinggir mangkok berisi bubur yang ada di hadapan Kendari. Seorang kerabat hendak mengusir kupu-kupu itu. Kendari melarang.

“Jangan diusir. Kupu-kupu itu adalah Mardi. Ia sangat menyukai bubur kacang ijo.” Orang yang datang melayat mengira Kendari telah gila.

 

DODY WARDY MANALU Tinggal di Kecamatan Sosorgadong, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

Advertisements