Cerpen A.S. Laksana (Jawa Pos, 11 Juni 2017)

Ular dan Amarah ilustrasi Bagus Hariadi - Jawa Pos.jpg
Ular dan Amarah ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

KOLAM itu sudah hampir mengering, tak ada lagi delapan ikan emas warna merah pembawa keberuntungan dan seekor ikan hitam penelan malapetaka. Lumut di dinding-dindingnya mengerak menjadi lapisan warna hijau kehitaman yang muram. Dulu ada dua penjaga di pintu pagar, dua patung singa sebesar anjing, masing-masing di sisi kiri dan kanan, dan sekarang binatang-binatang batu itu sudah tidak ada lagi di tempatnya, entah diambil oleh siapa.

Yang masih ada di rumah itu hanya kucing piaraan si peramal, binatang tua yang manja dan tidak lucu sama sekali. Si tua itulah satu-satunya penghuni rumah yang bisa dijumpai oleh Seto setelah terjadinya kerusuhan. Ia sedang rebahan di teras sore itu ketika Seto melintas dan berhenti di depan pagar; matanya sayu dan mengantuk dan penampilannya seperti monster kecil yang sudah kehilangan gairah. Tak lama lagi ia pasti mati.

Sebulan setelah kerusuhan, Seto mendapatkan kamar kontrakan barunya tak jauh dari rumah si peramal. Ia sengaja mencari tempat tinggal di daerah itu agar setiap saat bisa melintasi rumah si peramal, tempat ia pertama kali menginap setelah diusir oleh ayahnya. Ia sengaja memilih tempat tinggal di sana agar bisa mengamati para berandal yang menguasai wilayah itu. Mereka pastilah orang-orang yang paling beringas ketika terjadi kerusuhan. Mungkin merekalah yang telah membakar dan menghancurkan rumah si peramal. Ia ingin mengenali mereka satu per satu. Jika saatnya memungkinkan, ia akan membuat perhitungan dengan mereka.

Seto menyalakan sebatang hio yang ia temukan di antara puing-puing rumah si peramal. Hio yang sudah terbakar separo dan ia bakar lagi. Ia ingin berdoa untuk si peramal dan anak perempuannya, dua orang yang hanya sebentar dikenalnya, tetapi tak pernah bisa ia lupakan. Jika mereka telah mati terbakar bersama rumah mereka, semoga wangi asap hio yang dibakarnya mengantarkan mereka ke tempat yang mereka sukai. Entah surga atau apa pun namanya.

“Kau mendoakan Cina?” tanya seorang anak kecil. Seto tidak menyadari kehadirannya. Anak itu berdiri di depan pagar bersama tiga orang temannya; mereka memandangi Seto dengan tatapan heran.

“Kau tahu siapa yang membakar rumah ini?” tanya Seto pada anak kecil itu.

“Aku juga ikut membakarnya,” kata anak itu.

“Dia punya salah padamu?”

“Dia Cina.”

“Ya, apa salahnya?”

“Orang-orang juga membakar rumah ini karena dia Cina.”

Seto bangkit dari puing-puing dan meninggalkan mereka. Tiba-tiba ia tidak ingin melanjutkan percakapan dengan anak-anak itu, para berandal kecil yang ikut menyalakan api membakar rumah orang yang pernah berjasa kepadanya. Sempat terpikir olehnya untuk meminta mereka menunjukkan rumah orang-orang yang ikut membakar rumah si peramal, tetapi segera diurungkannya niat itu. Ia akan membuat perhitungan dengan orang-orang itu, tetapi tidak ingin melibatkan anak-anak.

Malam harinya Seto menyusuri jalan-jalan yang muram, melintasi toko-toko dan rumah-rumah di tepi jalan yang sebagian besar tidak menyalakan lampu. Toko-toko dan rumah-rumah yang baru saja dijarah dan dibakar tampak seperti deretan bukit yang gelap dan murung.

Ia merasakan dadanya pedih. Sang peramal dan anak perempuannya yang bisu harus kehilangan rumah karena mereka Cina. Ia membayangkan muka perempuan bisu itu, gadis lembut yang terlihat tua dan tak bisa mengeluarkan sepatah kata pun. Mungkin gadis itu menangis di kamarnya ketika segerombolan orang beringas mendatanginya. Apa yang mereka lakukan terhadap gadis itu? Apakah mereka menyentuh kulitnya? Apakah mereka menyiksa ayah dan anak itu sebelum membakar rumah seisinya? Atau mereka bersembunyi di kolong, menghindari orang-orang yang mengamuk dan ikut terbakar bersama rumah mereka?

Gelisah oleh berbagai pertanyaan yang melingkar-lingkar di kepala, Seto merasakan ada sesuatu menggeliat di telapak tangannya. Ular di tapak tangannya seperti berontak dan tiba-tiba ia tak dapat mengendalikan diri. Kehendaknya makin kuat untuk mendatangi satu demi satu orang-orang yang telah membakar rumah si peramal. Ia ingin membuat perhitungan dengan mereka. Tapi siapa mereka? Siapa saja yang telah menyerbu rumah si peramal itu dan membakarnya?

Kini ia menyesal tidak menyeret anak-anak kecil yang dijumpainya di onggokan rumah si peramal untuk menunjukkan tempat tinggal para berandal penyerbu itu. Mestinya ia peralat saja anak-anak kecil itu. Mereka toh telah melibatkan diri dalam pembakaran, entah mereka menyadari atau tidak apa yang mereka lakukan.

Ditendangnya sekuat tenaga kaleng yang ada di hadapannya. Ditumpahkannya segala kemarahan pada kaleng tersebut. Kaleng itu terbang ke pekarangan rumah orang, tetapi hawa panas dan kemarahan di dadanya tidak hilang.

Seperti hantu yang menyusuri reruntuhan sebuah kota, Seto terhuyung-huyung dengan per tanyaan-pertanyaan yang memberati kepalanya. Sementara di dalam dadanya, kemarahan membeku dan akan bertahan di sana entah sampai kapan. Angin bertiup malas mengangkut bau alkohol. Di depannya ada tiga pemuda mabuk yang menenggak minuman di trotoar, di bawah sebatang waru yang rimbun. Reranting pohon itu menjulur di atas got yang airnya hitam.

Tiba-tiba ia meyakini bahwa mereka bertiga pastilah bagian dari orang-orang yang mengamuk dan membakar rumah si peramal. Dengan gerakan yang tak pernah diduga oleh para pemabuk itu, Seto mengayunkan kakinya, menendang botol-botol dan para pemuda mabuk tersebut.

Tidak sulit bagi Seto untuk menghadapi orang-orang mabuk. Nyali mereka memang menjadi lebih besar pada saat tempurung kepala mereka dipenuhi uap alkohol, setidaknya mereka bisa lebih nekat ketimbang jika tidak sedang mabuk, tetapi batang-batang kaki mereka goyah.

Mereka bertiga bangkit dengan gerakan oleng dan menyerang Seto secara kalap dengan pukulan yang mudah dihindari. Seto bahkan tidak menghindar. Ia membentur mereka dan mengirimkan ketiganya ke got dan meninggalkan mereka begitu saja. Seto tidak pernah tahu bahwa salah seorang yang dilemparkannya ke got mati dengan kepala retak dan paru-paru penuh lumpur.

Dua hari kemudian seorang wartawan menulis peristiwa kematian itu dalam sebuah berita sambil lalu. Kematian seorang pemabuk dalam perkelahian sesama gali memang bukanlah peristiwa penting. Seto tidak membaca berita itu, namun ia mendengar bahwa kematian gali itu menyulut ketegangan di antara dua kelompok gali. Pemimpin gali yang terbunuh di got itu merasa bahwa anak buahnya dibunuh oleh kelompok lain yang tak jauh markasnya dari mereka. Kedua kelompok itu memang telah berseteru sejak lama dan di antara keduanya sering terjadi ketegangan.

Dua orang yang tidak mati mengalami luka memar masing-masing di pipi dan dada. Pipi dan dada mereka biru lebam dan di tengah-tengah bagian yang lebam-lebam itu ada dua bintik kecil. Dukun yang mengobati mereka mengatakan bahwa kedua orang itu terkena gigitan ular, racunnya menjalar masuk ke tubuh mereka melalui dua bintik kecil itu.

Mengenai patukan ular yang membekas di tubuh para pemabuk yang dipukulnya, aku menanyakan kepada Seto apakah itu disebabkan oleh pukulannya atau karena kedua orang itu betul-betul dipatuk ular. “Mungkin di selokan itu memang ada ularnya,” kataku.

Seto mengamati-amati telapak tangannya, membolak-balik telapak tangan itu, lalu ia hadapkan telapak tangannya yang besar ke arahku. Aku melihat garis ular melintang di sana. Sekilas garis itu tampak biasa saja, tak jauh beda dengan garis yang melintang di telapak tangan siapa pun, tetapi garis itu memang lebih tegas dan di salah satu ujungnya ada bulatan seperti kepala ular. Itu adalah garis ular yang dulu pernah dibaca oleh si peramal.

“Kau mau mencobanya?” tanyanya.

Kubuka kancing bajuku dan kupamerkan dadaku.

“Aku sudah menelan delapan puluh satu gotri,” kataku sambil tertawa.

“Larimu pasti sekencang sepeda,” katanya.

“Jadi benar bahwa gigitan ular itu karena pukulanmu? Karena ular di telapak tanganmu?” aku mencoba mencari ja waban yang jelas.

“Aku tidak tahu,” kata Seto. “Mungkin mereka tertusuk oleh bagian lancip pada cincin akik yang kukenakan.”

Cincin akik yang ia dapatkan dari pemilik rumah judi masih melingkar di jari kelingkingnya. Aku tak melihat bagian-bagian yang tajam pada cincin itu. Tapi mungkin saja cincin itu yang meninggalkan bekas seperti gigitan ular.

“Tapi dukun itu bilang mereka kena racun ular,” kataku. “Apakah cincin akik ini mengandung bisa?”

“Entahlah,” kata Seto. “Mungkin air selokan itu beracun.”

Seorang bocah, berusia enam tahun, berlari mendekatinya.

“Kau bermain-mainlah dulu,” katanya. “Aku sedang ada tamu.”

Anak itu menggelendot sebentar dan kemudian berlari meninggalkan kami setelah Seto mengulangi permintaannya.

“Ia tampan,” kataku.

“Ayahnya memang tampan,” kata Seto. “Tapi ia berkhianat dan kau tahu apa yang harus dilakukan kepada pengkhianat.”

Aku sudah mendengar cerita pengkhiantan itu. Sebuah peristiwa yang tak mengenakkan untuk didengar sebetulnya. Aku akan menceritakan secara ringkas saja apa yang kutahu tentang peristiwa itu.

Seto mengambil sebuah album foto, membuka-buka dan kemudian menunjukkan kepadaku seorang lelaki seusianya yang ia sebut ayah si anak kecil tadi. Mereka berfoto bertiga: Seto, si pengkhianat, dan seorang lagi. Seto berdiri di tengah dan si pengkhianat di sebelah kanannya, rambutnya sebahu, sudut bibir kanannya sedikit tertarik ke atas: cara tersenyum yang akan banyak kau jumpai pada foto orang-orang masa itu. Tubuhnya pendek. Dengan sepatu bersol tinggi, lelaki itu hanya sejajar dengan kuping Seto.

Mereka bertiga berfoto di bawah sebatang pohon johar. Langit tampak pucat di foto itu dan ranting-ranting johar menjulurkan bunga-bunga berwarna kuning. Orang-orang memang suka berfoto di bawah sebatang pohon, tetapi tidak ada yang suka berfoto bertiga.

Seto dan Broto, si pengkhianat, sebenarnya hanya ingin berfoto berdua. Mereka sedang duduk-duduk di depan rumah, bercakap-cakap sembari memandangi orang-orang yang lalu lalang di jalan. Seorang tukang timbang badan melintas di depan mereka dan tak lama kemudian muncul seorang tukang foto keliling. Seto memanggil si tukang foto. Pada saat si tukang foto sedang mengatur-atur gaya mereka, seorang lagi muncul dan segera bergabung dengan mereka. Orang yang baru muncul itu menempatkan diri di samping kiri Seto dan langsung mengambil gaya; satu tangannya berkacak pinggang dan tangan yang lain lurus begitu saja. Ia sedikit menengok ke kiri, agak mendongak, seolah-olah sedang menyaksikan kedatangan malaikat yang melayang turun dari langit.

“Banyak yang percaya bahwa kita tidak boleh berfoto bertiga,” kata Seto. “Salah seorang pasti hilang.”

“Ya, banyak yang bilang seperti itu,” kataku.

“Kau percaya?”

“Aku tidak pernah berfoto bertiga.”

Seto mendongakkan kepalanya, mengambil napas agak panjang dan memejamkan mata seperti mengingat-ingat sesuatu.

“Ia sudah lama berkawan denganku. Lalu ia meninggalkanku beberapa hari untuk berkawan dengan orang lain,” kata Seto.

Dua tahun setelah mereka berfoto bertiga, seseorang melaporkan kepada Seto bahwa ia melihat Broto sedang bercakap-cakap di tempat minum bersama tiga orang dari kelompok lain. Mereka duduk di sudut yang agak remang, tetapi si pelapor yakin bahwa yang ia lihat dari jauh itu adalah Broto.

Ketika Broto datang lagi setelah menghilang beberapa hari, Seto mengajak kawannya itu bicara berdua di kamarnya. Ia menanyakan ke mana saja Broto selama beberapa hari dan Broto menjawab bahwa ayahnya sakit dan ia harus datang untuk menengok ayahnya di Klaten. Jawaban itu membuat Seto tidak senang.

“Ayahmu sakit dan kau tidak pernah bilang padaku,” kata Seto muram. “Kau sudah kuanggap saudara. Ayahmu kuanggap orang tuaku sendiri, tapi kau tak memberi tahu aku ketika dia sakit.”

“Hanya sakit ringan,” kata Broto.

“Jadi kau merasa tidak perlu memberi tahu aku?”

“Aku tak bermaksud begitu,” kata Broto.

“Lalu apa maksudmu?”

Broto sedikit kesulitan. Lidahnya tiba-tiba terasa kaku dan otaknya mampet. Kamar tempat mereka bicara tiba-tiba terasa olehnya seperti ruang pengadilan. Ia menggeser sedikit pantatnya. Asap rokok Seto membubung ke atap. Broto menatap wajah temannya; Seto mengarahkan pandangannya ke kaca jendela.

“Kau banyak urusan,” kata Broto hati-hati. “Aku tak mau mengganggumu untuk urusan sepele.”

“Ya, memang hanya urusan sepele,” Seto mengangguk-angguk. “Kau menghilang beberapa hari dan kau bilang itu urusan sepele.”

“Aku minta maaf.”

“Untuk kesalahan yang mana? Aku mendengar kau bicara dengan mereka. Kenapa kau tak bicara padaku lebih dulu sebelum bicara dengan mereka?”

“Hanya pertemuan kebetulan, Seto.”

“Kau pergi berhari-hari dan mengatakan itu hanya kebetulan. Kenapa, Broto? Kenapa kau berbohong kepadaku? Kenapa kau bawabawa ayahmu sebagai alasan? Kenapa kau tega menyakiti hatiku?”

Aku mendengar bahwa setelah itu Broto dihukum. Kedua tempurung kakinya dihantam remuk dengan palu pada Rabu pagi sebelum matahari terbit. Algojo yang melakukan eksekusi adalah adiknya sendiri. Ketika itu adik Broto baru bergabung dengan Seto beberapa bulan dan Broto sendiri yang membawanya kepada Seto.

“Ia sok jago,” kata Broto. “Minggu lalu ia menghajar gurunya dan tiga hari kemudian dikeluarkan dari sekolah.” Beberapa bulan anak itu menjalani tahap pengujian kesetiaan. Dan ujian terakhir baginya adalah meremukkan tempurung lutut kakaknya.

“Ini tugasmu yang pertama,” kata Seto kepada si adik. “Kau sanggup?”

Si adik mengangguk.

Seto memberikan palu besar kepadanya dan eksekusi berjalan beres di pekarangan belakang. Semua anak buah Seto membentuk lingkaran mengelilingi si adik yang akan menghantamkan palu ke tempurung lutut kakaknya. Pagi itu si adik menjalankan tugasnya dengan baik. Kedua tempurung lutut Broto remuk dan tiga hari kemudian, pada hari Sabtu pagi, ia ditemukan meninggal di kamarnya. Mayatnya dikubur hari itu juga. Seto datang melayat, mengenakan pakaian dan kacamata hitam.

Keesokan harinya istri Broto menemui Seto sambil mendekap anaknya yang masih berusia satu setengah tahun. Ia berdiri di depan Seto dengan mata yang masih sembab dan pandangan yang menusuk.

“Kau membunuhnya,” kata perempuan itu.

“Ia bunuh diri,” kata Seto.

“Tapi kau yang menyebabkannya. Kalian bersama-sama sudah lama dan kau tega membunuhnya. Sahabat macam apa?”

“Aku sangat menyayanginya,” kata Seto

“Kau selalu ingin menyingkirkannya. Ia merasa kau selalu ingin menyingkirkannya.”

“Aku betul-betul menyayanginya.’’

“Dengan membunuhnya? Begitukah caramu menyayanginya?”

Seto menarik napas dalam-dalam. Udara memberat; dengus napasnya memberat. Istri Broto menangis lagi; air matanya membasahi rambut anaknya. Seto bangkit dan memeluk perempuan itu, berusaha menenangkannya.

Setelah tangisnya agak reda, perempuan itu menyerahkan bocah yang digendongnya kepada Seto, satu-satunya anak hasil perkawinannya dengan Broto. Mata perempuan itu masih sembab ketika keluar dari kamar Seto. Malam berikutnya ia ditemukan mati menggantung diri di kamarnya. ***

 

A.S. LAKSANA, cerpenis kelahiran Semarang. Bukunya, antara lain, kumpulan cerpen Bidadari yang Mengembara (KataKita, 2004) dan novel Cinta Silver (Gagas Media, 2005). Bidadari yang Mengembara terpilih sebagai buku kumpulan terbaik 2004 pilihan Majalah Tempo. Sementara itu, Cinta Silver difilmkan dengan judul yang sama.

Advertisements