Cerpen Daruz Armedian (Kedaulatan Rakyat, 11 Juni 2017)

Tarian Ruh ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat
Tarian Ruh ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

SORE ini, dalam keadaan telentang, Parman melihat ruhnya menari-nari. Tepat di dadanyalah ruh itu berpijak, kadang menjinjit, kadang melompat. Tangan dan tubuhnya meliuk-liuk seperti karet. Begitu lentur, begitu luhur. Dada Parman serupa panggung yang luas. Sehingga ruh itu dapat menari dengan bebas.

Sebagai lelaki yang suka menyawer, memberi uang kepada sinden sambil menari, Parman ingin sekali mengikuti tarian ruh itu. Tetapi, ia merasa tangannya kaku, tubuhnya kaku, kakinya juga kaku, seperti kena kutukan menjadi batu.

“Sialan! Apa yang terjadi dengan tubuhku?” ia memaki-maki, entah ditujukan pada siapa, tak ada yang tahu. Mungkin pada dirinya sendiri.

Sedangkan ruh itu, tariannya makin menjadi-jadi. Jingkrak-jingkrak tanpa dosa. Namun tak seberapa lama kemudian, ia berhenti. Terdiam. Terbengong. Matanya memandang tubuh Parman yang kaku seperti tugu. Lalu, ada beberapa patah kata keluar dari mulutnya, seperti menyepah tebu yang manisnya sudah tak ada.

“Kenapa bisa begitu, Parman? Kenapa kau tak bisa berbuat apa-apa? Mana kemahiranmu menari bersama sinden-sinden ayu yang kau agung-agungkan itu? Mana tanganmu yang pandai meliuk-liuk itu?”

Sesungguhnya, Parman ingin sekali membalas perkataan ruhnya, dengan dicampur maki-makian, tentu saja. Atau bahkan tanpa perlu membalas perkataan, ia langsung meloncat dan menari sebagaimana biasanya, untuk membuktikan kalau dirinyalah yang pantas menari. Tetapi, ia sadar, sungguh-sungguh sadar, sambil mengumpat, bahwa dirinya tidak bisa apa-apa untuk saat ini.

“Keparat. Tubuhku hari ini lebih buruk dari sekadar bangkai.” Itu adalah perkataan Parman dalam hati. Dan tentu saja tak akan pernah keluar menjadi suara yang kemudian meluncur ke telinga ruhnya.

Masa bodoh. Akhirnya, ruh itu kembali menari, tanpa lawan, tanpa kawan. Ia sendirian, merasa bahagia, bebas dari segala. Telanjang dan tanpa apa pun yang mengekang.

“Aku bebas dari penjara!” teriaknya.

***

Padma melangkahkan kakinya yang mungil ke arah pintu rumahnya. Bocah perempuan itu baru saja pulang dari bermain. Ia masuk rumah dan tidak menemui siapa-siapa di ruang tamu. Ia memanggil-manggil bapaknya. Tetapi, tidak seperti biasa, panggilan bocah itu tak ada balasannya.

Ia mencari-cari di dapur, barangkali bapaknya tengah menyeduh kopi. Ya, semenjak istrinya pergi, bapak bocah itu sering di dapur. Memasak apa saja yang bisa dimasak. Termasuk memasak air, membuat susu untuk anaknya, membuat kopi untuk dirinya sendiri. Juga, bapak bocah itu jarang sekali ke luar rumah kalau malam tiba. Tidak seperti dulu ketika istrinya masih ada. Terutama, masih ada di sisinya.

Dan betapa kagetnya bocah itu ketika melihat bapaknya terbelalak matanya, tubuhnya seperti dirantai, tidak bisa bergerak sama sekali. Seseorang yang menginjak-injak tubuh bapaknya itu segera pergi. Meskipun ia tahu, bocah itu tidak mungkin bisa melihatnya.

“Bapaaaaak!” jerit bocah itu. Tetapi, siapa yang merespons jeritnya? Tidak ada. Rumahnya jauh dari perkampungan. Jauh dari tetangga. Mungkin, mungkin saja, cicak, kecoak, laba-laba, tikus, dan hewan lain-lainnya, sebenarnya merespons. Cuma, bahasa mereka kan tidak sama. Jadi, seolah-olah jerit itu tidak ada tanggapan sama sekali.

Bocah perempuan itu menghambur ke arah bapaknya. Tangannya mengguncang-guncangkan tubuh lelaki itu.

“Bapaaaaak!” jeritnya lagi. Kemudian ia menangis. Ah, bocah kecil tidak akan pernah tahu bahwa menangis tidak akan pernah menyelesaikan masalah.

***

Patmi masih terus menari. Tangannya meliuk-liuk mengikuti irama gamelan. Suaranya, kian malam kian melengking, seperti suara anjing yang kesepian. Para lelaki ikut menari, sambil sesekali minum tuak. Tuak yang sudah seperti air biasa. Dan memang, di kota itu, tuak adalah minuman sehari-hari.

Ini adalah malam pertamanya menjadi sinden. Tentu, hal ini ia lakukan karena sebuah dendam. Betapa suaminya menjadi lelaki yang tidak berguna semenjak tahu bahwa dada perempuan lain lebih menggoda. Terutama dada sinden yang menari, meliuk-liuk.

Sebagai sinden yang baru di Tuban, Patmi melayani siapa pun yang ikut menari. Terlebih bagi mereka yang kaya raya. Sebab, itu adalah hal paling penting bagi kehidupannya.

Kini, ketika malam mulai larut, dan mata Patmi sudah semakin ngantuk, tiba-tiba seorang lelaki berkumis tebal naik ke atas panggung yang tidak terlalu tinggi itu. Tentu saja, lelaki itu pasti ingin menyawer. Sebab, di tangannya sudah tergenggam uang yang entah berapa jumlahnya, tidak ada yang tahu.

Dan memang benar, lelaki itu menyawer. Menyelipkan beberapa uang ke dada Patmi. Patmi, yang ngantuk itu, bersyukur sekali. Sebab, uang yang diselipkan lebih banyak dari biasanya. Tetapi, lama-kelamaan ia menyadari. Ada sesuatu yang aneh, pikirnya.

Patmi merasa bahwa senyum lelaki itu mirip dengan senyum suaminya. Gaya mengedipkan matanya juga sama, terlebih ketika batuk sambil berdehem, dan terlebih lagi ketika lelaki itu meliukkan tangannya.

Di tengah-tengah alunan gamelan, Patmi merasa perlu mendekatkan mulutnya ke telinga lelaki itu untuk melemparkan sebuah pertanyaan:

“Siapa kau?”

Lelaki itu tersenyum. Tetapi lama-lama menyeringai. Giginya bertaring seperti drakula.

“Yang jelas aku bukan suamimu.” Kata lelaki itu sambil dengan cepat menggigit leher Patmi.

Patmi berteriak kesakitan. Darah mengucur. Tak lama kemudian, ruh Patmi terbang sambil berteriak “Aku bebas!”. Kemudian menari. Seperti ruh-ruh yang lain menari merayakan kebebasannya. Bebas dari belenggu jasad yang kotor dan jahat. q-e

 

Daruz Armedian, lahir di Tuban. Mahasiswa Filsafat UIN Sunan Kalijaga, alumni kampus fiksi 20.

Advertisements