Cernak Yuditeha (Suara Merdeka, 11 Juni 2017)

Duta Perdamaian ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Duta Perdamaian ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Namaku Yuan. Aku suka bercerita tentang ayah. Ayah pendiam tapi kalau marah bisa menusuk hati, perih. Ayah marah bila aku tidak mau makan atau malas mandi. Tapi banyak orang bilang ayah sabar. Aku jadi berpikir, mungkin sabar bukan tidak pernah marah. Sabar mungkin semacam ketegasan rasa tulus.

Ayah juga sering meminta maaf padaku, apalagi jika ayah tidak bisa menuruti keinginanku. Aku berpikir, maaf mungkin bukan hanya rasa sesal, tapi dapat berarti kasih. Bisa jadi maaf adalah lima puluh persennya cinta.

Sekarang aku kelas VI SD. Kata ayah belajar tidak hanya berhitung dan membaca, tapi semua hal. Ayah tak pernah tanya, aku ingin jadi apa. Tapi malam itu tanpa ditanya, aku bilang ingin menjadi sastrawan.

“Jalan hidup seringkali tak seperti yang kita mau,” kata ayah.

Ayah masih terus bicara, tapi aku mulai mengantuk lalu tertidur. Meski, aku masih sempat merasakan saat ayah membopongku ke kamar.

***

Entah kenapa hari itu aku berangkat sekolah sendiri, dan di hari ini aku mengumpulkan karanganku kisah nyata di keluarga dan itu tentang ayah. Dua pekan kemudian, Kepala Sekolah memanggilku.

“Ada kabar baik untukmu. Pertama, karanganmu dapat juara pertama tingkat Nasional dan kedua, ayahmu terpilih jadi Duta Perdamaian.” Aku terkejut.

“Dari tulisanmu yang juara itulah Tim Pemerintah Pusat memilih ayahmu,” sambung Kepala Sekolah.

“Hanya dari karanganku, Pak?” tanyaku.

“Itu wewenang tim dan yang penting kisahmu itu benar. Kamu akan ke Jakarta menerima hadiah, bersam ayahmu juga ke sana untuk penganugerahan itu. Ini suratnya dan semua telah diterangkan di situ,” jelas Kepala Sekolah.

“Apakah mereka tahu kalau ayahku tukang cukur, Pak?” tanyaku.

“Bukankah sudah kamu ceritakan di tulisanmu?” Kepala Sekolah balik bertanya.

Aku tersenyum lalu menerima surat itu dan permisi tanpa sempat mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah. Mungkin karena gembiranya jadi lupa.

Tiba di rumah, ayah sibuk mencukur pelanggan, aku tak ingin mengganggu. Kutunda memberikan surat dari Kepala Sekolah. Selesai berganti baju dan makan, aku melamun tentang surat itu, hingga tak terasa aku terlelap saat kurebahkan badanku di kasur.

***

Aku terbangun karena ada tangisan anak kecil. Kulihat jam dinding pukul 08.15. Waktu yang langsung membuatku resah dan sanksi dengan hari. Cepat kucari dua surat itu, tapi tak kutemukan. Lalu aku ke luar kamar. Samar kudengar suara ibu.

“Eee Yuan sudah bangun.”

Sapaan ibu tak kuhiraukan. Aku berlari ke kios, ayah sedang mencukur pelangganannya. Perasaanku semakin tidak menentu.

“Yuan, kau sudah bangun?” tanya Ayah ketika aku melongok.

Aku mendekati ayah, “Ini hari apa, Yah?” tanyaku kemudian.

“Minggu,” jawab Ayah singkat.

“Ini pagi atau sore, Yah?” tanyaku lagi.

“Pagi. Memangnya kenapa?” Ayah seperti heran.

“Kok tidak ke gereja?” tanyaku.

“Kita kan sudah sepakat, minggu ini ikut jadwal sore,” jawab Ayah.

“Ayah mengambil surat di kamarku?” tanyaku lagi.

“Iya, kan kamu yang bilang surat itu untuk ayah,” jawab Ayah.

“Apa iya, Yah?” tanyaku heran.

“Kemarin pas kamu pulang sekolah bilang, ada surat untuk ayah.”

“Lalu?”

“Ayah belum sempat memberi tahu isi surat itu padamu.”

Aku tak ingin menangis, tapi air mataku tak kuasa kubendung. Aku masuk dan terisak di kamar. Ibu sibuk memberesi barangku. Melihatku menangis, ibu bingung. Sebelum keluar kamar ibu membujukku mandi, tapi aku tidak mau.

“Ayah minta maaf, ayah belum mengatakan isi surat itu. Kemarin Yuan kelihatan capai dan mengantuk, bahkan kamu tak sempat berdoa.”

Ayah terus berbicara seiring air mataku juga terus keluar.

“Isi surat itu hanya mengingatkan batas pengumpulan karangan hari Senin besok. Ayah tahu, kamu sudah membuatnya. Jadi, besok jangan lupa dibawa. Oh ya hari ini kamu aneh. Dan mengapa menangis?” tanya Ayah kemudian.

Aku menggeleng lemas.

“Ya sudah, itu masih ada yang mau cukur, setelah Yuan mandi dan makan kita mengobrol lagi.”

Ayah keluar setelah menepuk bahuku, tapi seketika masuk lagi.

“Seringkali jalan hidup tidak seperti yang kita mau,” sambung Ayah sambil tersenyum.

“Kok, Ayah tahu?” tanyaku spontan.

“Ayah telah beberapa kali mengalami,” jawab Ayah dari jauh.

Kukejar Ayah lalu kupeluk. Air mataku kini sudah seperti sungai, mengalir dan terus mengalir. Tak kuat lagi haruku kusimpan sendiri dan ingin kubagi pada Ayah.

“Aku tetap bangga pada Ayah walau Ayah hanya tukang cukur,” tangisku menjadi-jadi.

“Ayah juga bangga punya kamu,” kata Ayah tersendat-sendat. Kulihat mata Ayah basah bukan seperti sungai tapi seperti danau.

“Tapi, Yah,” sahutku. Kubisikan sesuatu di telinga Ayah, “Bagiku, ayah tetap pantas jadi Duta Perdamaian.”

“Hah…” sahut Ayah yang tak lama kemudian tersenyum. (58)

Advertisements