Cerpen Bamby Cahyadi (Media Indonesia, 04 Juni 2017)

Semoga Belum Terlambat ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Semoga Belum Terlambat ilustrasi Pata AreadiMedia Indonesia

AKU mendongak pada rembulan yang bersinar makin tipis. Malam hampir berlalu, tapi pagi belum betul-betul tampak menjelang. Aku belum mengantuk. Hasan sahabatku sudah terlelap di kasur butut. Dengkurnya bagaikan pelarian dari keputusasaan seorang lelaki tak berdaya di suatu tempat yang muram. Angin kemarau membuat pohon-pohon berderit-derit, ranting-rantingnya berderak, daun-daun keringnya berguguran.

Beberapa saat kemudian angin hangat berembus di langit yang mendung. Angin itu membawa aroma bunga-bunga yang datang dari pinggiran kali yang paling jauh. Aku terkesiap melihat seorang lelaki datang dengan langkah tenang. Ia mengenakan kain ihram, masuk ke dalam rumah.

“Assalamualaikum!”

“Waa…Wa…Waalaikumuasalam,” jawabku tergeragap.

Lelaki itu sangat tampan. Wajahnya bercahaya. Sangat bersih dan indah. Keindahan yang sulit diungkapkan. Hakikat keindahan itu melihatnya dengan mata. Karena itu aku hanya percaya pada keindahan yang dapat dilihat dengan mata dan dirasakan dengan hati.

“Berpuasalah di bulan Ramadan, dirikanlah salat, bacalah kitab sucimu dan mintalah ampunan kepada Tuhan atas dosa-dosa masa lalumu,” ujar lelaki itu sembari menepuk pundakku secara halus.

Ia melanjutkan, “Semua dosa dan kesalahan yang kita perbuat adalah kelalaian kita sendiri. Namun, Tuhan itu pemaaf. Karena itu selalu ada kesempatan untuk memperbaiki dan bertobat.”

Hujan berhenti. Lelaki itu menghilang di antara dedaunan pohon mangga. “Temui aku di stasiun akhir kereta,” bisiknya. Ia pun pergi begitu saja meninggalkan aku yang masih terpukau. Aku rasa, aku tidak sedang bermimpi.

***

Wajah dan caraku berjalan kerap membuat beberapa anak kecil di lingkunganku ketakutan. Aku memiliki wajah yang terkesan seram. Hidungku pesek dan beberapa gigiku di bagian tengah sudah tanggal. Saat aku tertawa yang terlihat adalah gigi taringku, sehingga senyumku menyerupai seringai drakula. Kaki kananku lebih pendek dibanding kaki kiriku, sehingga aku berjalan pincang. Aku berjalan seperti orang yang baru saja turun dari kapal laut yang diterjang badai berminggu-minggu.