Cerpen Harris Effendi Thahar (Kompas, 04 Juni 2017)

Nyonya Durina Mawarni ilustrasi Juni Adhitya Wulandari - Kompas
Nyonya Durina Mawarni ilustrasi Juni Adhitya Wulandari/Kompas

Nyonya Mawar baru saja pergi. Kursi tempat duduknya masih panas ketika Pak Wa, suami Nyonya Durina Mawarni, memasuki ruangan dengan wajah sumringah.

“Hai, Zul. Bagaimana rencana kita? Jadi?”

“Eh, ya. Bapak. Ee, barusan ibu ke sini. Ketemu di luar?”

“Ndak, tuh. Ada apa ibu ke sini cari saya? Saya baru saja dari rumah.”

“Lho? Katanya Bapak sejak sore kemarin belum pulang.”

“Ah, lupakanlah. Saya juga heran. Sejak ibu dipensiun dari pegawai bank, ibu tampak terpukul sekali. Tidak siap. Kesepian. Saya memang pulang agak malam. Tapi, yang bukakan pintu tadi malam ‘kan dia.”

Pak Wa mengambil kursi bekas duduk istrinya tadi sambil merogoh kantong. Sepertinya mau merokok. Tapi, kelihatan mengundurkan niatnya merokok ketika sadar sedang berada di ruang ketua jurusan yang sejuk oleh pendingin udara. Pak Wa memang dosen yang suka merokok sekali pun tidak bisa digolongkan sebagai perokok berat. Sepertinya Pak Wa penasaran oleh kedatangan istrinya ke kantor jurusan.

Zul tampak bingung mau berkata apa, meski tetap memperlihatkan wajah cerah selaku ketua jurusan yang baru saja terpilih, termasuk oleh Pak Wa, senior Zul yang memilihnya. Zul masih menunggu-nunggu Pak Wa bertanya lebih lanjut tentang kedatangan istrinya. Tetapi, setelah beberapa jenak Pak Wa cuma termangu. Zul mulai mengerti bahwa Pak Wa tidak ingin membuka percakapan lebih lebar mengenai istrinya. Cukuplah menjadi rahasia pribadinya sendiri, bagai jelaga di sudut-sudut plafon rumahnya yang tak terjangkau, sesekali berayun ditiup angin yang lewat kisi-kisi jendela.

Zul menjawab pertanyaan pertama Pak Wa ketika masuk ruangan itu.

“Saya sudah wajibkan mahasiswa yang mengambil mata kuliah Kritik Sastra membeli buku novel baru. Masing-masing satu judul untuk dikritik sendiri, seperti yang Bapak usulkan. Tapi, itu baru satu kelas. Kelas yang satunya, belum.”

“Bagus!” Suara Pak Wa bersemangat, “biar mahasiswa diajak membaca novel yang banyak. Nanti mereka disuruh baca novel milik temannya secara bergantian. Minimal semester ini masing-masing sudah membaca lima novel. Sip! Ide bagus. Kelas yang satunya biar saya yang perintahkan. Nanti siang giliran saya masuk bukan?”

“Kita juga harus baca novel-novel terbaru itu ‘kan Pak?”

“Ya, sudah barang tentu. Nanti, sewaktu ujian akhir semester, semua novel dikumpul. Kita pilih yang terbaru untuk dipinjam atas nama jurusan agak satu semester untuk dibaca. Ha? Bagaimana?”

“Setuju. Cuma kita berdua dosen Kritik Sastra di Universitas ini. Masa bisa ketinggalan baca karya-karya sastra terbaru?”

***

Hampir satu jam lamanya Nyonya Mawar curhat pada Zul, berdua saja di ruang itu. Mulanya Zul kaget, Nyonya Mawar datang ke kantor jurusan kurang satu menit setelah Zul tiba. Begitu menjabat tangan Zul, langsung sesegukan. Menangis.

“Apa yang bisa saya bantu, Bu?”

Nyonya Mawar belum menjawab. Menyeka air matanya dengan tisu. Mencoba menenangkan dirinya, lalu memulai berusaha tersenyum ke arah Zul.

“Maafkan saya, mengganggu Pak Zul pagi-pagi. Saya memang tidak punya orang lain untuk mengadu, selain Pak Zul.”

“Silakan Ibu. Saya dengarkan baik-baik.”

“Bapak semalam tidak pulang.”

“Kira-kira Ibu, Bapak nginap di mana? Apa selama ini pernah?”

“Biasanya di hotel, kalau rapat sampai malam. Itu setahun sekali saja pun jarang,” Nyonya Mawar seperti mengingat-ingat.

“Ibu bertengkar?”

“Ah, tidak. Cuma lebih suka diam-diaman.”

“Atau bertengkar diam-diam? Bertengkar dalam hati, maksudnya.”

“Lagi malas ngomong sama dia saja.”

“Tentu ada sebabnya, Bu?”

Nyonya Mawar terdiam sambil mempermainkan jejari tangan kanannya seperti sedang menghitung lembaran uang. Zul juga terdiam, tampak sedang berpikir tentang sebuah kalimat yang pas untuk melayani curhat istri kolega seniornya itu. Nyonya Mawar menarik napas panjang seperti mau memulai suatu gerakan senam aerobik yang sulit.

“Dulu, kami punya pembantu di rumah. Masih gadis, cekatan, dan santun. Namanya Ipit. Hanya hari Sabtu dan Minggu Ipit datang membantu, mencuci, setrika, memasak, dan membersihkan rumah. Selebihnya rumah kosong karena kami sama-sama bekerja. Untuk makan malam kami langganan catering. Ipit bisa datang sewaktu-waktu apabila ditelepon sebelumnya, kalau diperlukan selain Sabtu dan Minggu. Sudah seperti saudara, sudah lima tahunan Ipit bekerja di rumah kami. Ipit juga punya kunci sendiri. Tiga tahun lalu, tiba-tiba Ipit pamit mau ke Malaysia menjadi TKW. Katanya, diajak sepupunya yang sudah sukses di sana. Sejak itu kami tidak punya pembantu lagi. Semua pekerjaan rumah terpaksa kami bagi berdua.”

Pak Zul belum dapat menduga-duga arah cerita Nyonya Mawar. Dia tidak berani memotong. Membiarkan Nyonya Mawar melanjutkan ceritanya.

“Kira-kira sebulan lalu, Ipit datang ke rumah di pagi hari Minggu. Menggendong seorang anak perempuan berusia sekitar dua tahunan. Ia mengaku di-PHK di Malaysia dan menikah dengan orang Malaysia, namun setelah punya anak satu, ia disia-siakan suaminya itu. Ipit minta dibelaskasihani demi anaknya, minta bekerja sebagai pembantu rumah tangga lagi.”

“Sekarang Ipit masih bekerja Sabtu Minggu di rumah Ibu?”

“Tiap hari.”

“Lalu?”

“Anak perempuannya itu…”

“Kenapa anaknya? Sakit?”

“Bukan.”

“Ibu keberatan kalau dia bekerja membawa anaknya?”

“Bukan itu.”

“Lalu? Ipit sekarang sudah tidak cekatan lagi?”

“Bukan itu soalnya,” Nyonya Mawar seperti mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. “anaknya itu, entah mengapa ya, anaknya itu, kok mirip sekali dengan Pak Wa…”

“Wah? Masa Bu?”

“Iya, Pak Zul. Mata saya belum begitu tua untuk melihat sesuatu dengan jelas dan benar.”

“Bukankah suaminya orang Malaysia? Bisa jadi suaminya itu mirip Pak Wa.”

“Membuat cerita itu kan gampang, Pak Zul. Saya jadi ingat, mengapa tiba-tiba Ipit minta pamit ke Malaysia. Sebelumnya, dia belum pernah cerita. Padahal, dia itu suka cerita apa saja dengan saya. Entah dia memang ke Malaysia atau sembunyi melahirkan anak hasil hubungan gelapnya dengan…”

“Wow, Ibu terlalu bawa perasaan. Itu cuma perasaan Ibu saja.”

“Itu satu-satunya yang masih saya miliki Pak Zul. Sebagai wanita. Perasaan!”

Keduanya terdiam. Seperti saling menyalahkan diri masing-masing. Nyonya Mawar mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Ia mengeluarkan sebuah handphone dan memain-mainkan jarinya di permukaan layarnya, lalu menyodorkannya ke Pak Zul. Pak Zul memperhatikan dengan saksama, foto seorang bocah perempuan yang sedang digendong seorang ibu muda.

“Itu dia, Ipit dan anaknya itu. Mirip Pak Wa ‘kan?”

“Ah, bukan. Mirip ibunya.”

“Coba perhatikan betul. Mirip ibunya ya jelas. Tapi, alis mata dan matanya itu? Dagunya? Mirip kan?”

“Kalau memang mirip?”

“Nah, sekarang Pak Zul sependapat dengan saya bukan? Dia memang mirip Pak Wa. Tidak pantaskah seorang istri yang sudah bergaul 30 tahun dengan suaminya curiga? Pak Zul ini bagaimana? Membela Pak Wa selaku seniornya ya? Membela korps ya?”

“Bu, saya sependapat dengan ibu. Anak itu memang mirip dengan Pak Wa. Tapi saya belum sependapat kalau itu anaknya sebelum dilakukan tes DNA. Sekarang, apa yang dapat saya bantu? Maaf, Bu. Sebentar lagi saya harus masuk kelas. Mengajar.”

Tanpa bicara lagi, Nyonya Mawar berdiri, merapikan kursi dan meninggalkan Pak Zul begitu saja. Begitu mendekati pintu, ia berbalik, “Tolong Pak Zul hubungi saya kalau-kalau perempuan itu Pak Zul lihat datang mencari Pak Wa ke kampus ini. Mulai kemarin perempuan itu sudah saya pecat!”

***

Pagi itu, sekitar pukul sepuluhan, putri Ipit yang belum tiga tahunan itu rewel. Menangis terus minta ibunya yang sedang sibuk bekerja menyetrika seabrek pakaian di lantai dua rumah itu. Nyonya Mawar mencoba membantu menenangkan Vita, putri pembantunya itu. Tapi Vita tetap menangis dan meronta.

“Barangkali dia ngantuk. Minta dikeloni ibunya,” Pak Wa berkomentar. “Atau dia lapar.”

“Tau apa situ? Kaya orang yang pernah punya anak saja.”

“Oo, jadi situ pernah punya anak ya?” sahut Pak Wa dalam hati saja. Kalimat itu tetap tinggal dalam hatinya terdalam. Sebab, jika sempat keluar dari sarung hatinya, kalimat itu tidak saja akan melukai istrinya, tapi juga dirinya.

Vita tetap saja menangis, sementara Ipit tetap melanjutkan pekerjaannya di lantai atas. Mungkin dia tidak mendengar suara tangis anaknya di bawah yang sedang dicoba membujuknya oleh Nyonya Mawar.

“Coba, aku pengin coba menggendongnya.”

Nyonya Mawar menyerahkan Vita pada Pak Wa. Vita mau digendong Pak Wa dan terdiam sambil mulai memejamkan matanya. Pak Wa mengayun-ayunkan kakinya dengan lembut seperti sedang berdansa. Vita cepat tertidur dalam gendongan Pak Wa. Lambat-lambat, penuh kasih Pak Wa membawa Vita ke kamarnya, lalu menidurkannya di ranjangnya.

“Sst, nanti dia ngompol! Taruh di lantai saja,” ujar Nyonya Mawar.

Nyonya Mawar buru-buru mencari tikar dan bantal untuk digelarnya di lantai. Setelah itu, Vita diturunkannya dari ranjang dan dibaringkan di atas tikar di lantai kamar itu. Pak Wa memperhatikan wajah Vita dari jauh. Ketika Pak Wa mulai lagi membalik koran edisi Minggu, terdengar lagi tangisan Vita dari dalam kamar. Nyonya Mawar sudah tidak di kamar, mungkin di lantai atas mendampingi Ipit.

Spontanitas Pak Wa membuatnya masuk ke kamar dan mencoba mengusap-usap kepala Vita yang sedang menangis itu. Pak Wa mendekat, mengambil posisi tidur di samping Vita sambil menepuk-nepuk pantat Vita. Vita kembali tertidur. Pak Wa tetap tiduran di samping Vita di atas tikar di lantai kamar hingga ikut tertidur.

Saat melihat suaminya tidur berdua dengan Vita, perasaan Nyonya Mawar bergejolak. Tiba-tiba, ia mengambil handphone-nya dan mengabadikan kedua makhluk yang sedang tidur itu dalam beberapa kali jepretan foto. Lama Nyonya Mawar mematut-matut foto-foto itu. Dalam kecemburuan hatinya, ada sebutir rasa iba menyelip terhadap suaminya, Pak Wa. Sepertinya Pak Wa sedang menikmati bagaimana rasaya punya anak. Atau, barangkali cucu untuk orang seusianya. Tapi, bagaimana mungkin punya cucu kalau sebelumnya tidak punya anak?

Rasa iba itu hanya sekelabat, lalu sirna oleh setumpuk rasa curiga Nyonya Mawar terhadap Pak Wa yang menurutnya begitu bernafsu untuk menguasai keinginannya merasakan memiliki seorang anak. “Jangan-jangan, Vita ini memang anak dia,” getar hatinya. “Memang mirip, kok.”

Sejak hari itu, Nyonya Mawar begitu membenci Vita. Tiap sebentar Vita dibelalakinya. Bila Vita ketakutan, Pak Wa langsung menggendongnya. Bahkan mengajaknya keluar naik mobil sambil membeli es krim. Tapi, akibatnya Nyonya Mawar makin uring-uringan.

“Barangkali dia memang anak hasil hubungan gelapmu ya?” suatu kali Nyonya Mawar memulai menabur duri di rumah itu.

“Kalau memang iya, memangnya kenapa?” jawab Pak Wa dalam hati saja. Itu tidak pernah diucapkannya.

 

Harris Effendi Thahar, lahir di Tembilahan, Riau, 4 Januari 1950. Bekerja sebagai Guru Besar Pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Negeri Padang. Sejumlah cerpennya termuat dalam sepuluh antologi tahunan cerpen pilihan Kompas. Dua buku kumpulan cerpennya, Si Padang, 2003 dan Anjing Bagus, 2005 diterbitkan Penerbit Buku Kompas.

Advertisements