Dongeng Hana Eka Ferayyana (Suara Merdeka, 28 Mei 2017)

Jebakan untuk Pangeran ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Jebakan untuk Pangeran ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Paman Lorenzo terkejut. Lagi-lagi, taman istana yang ia rawat dan dijaga agar tetap indah kini berantakan. Tak terbayang murkanya jika Raja Leonel tahu bahwa taman kesayangannya rusak.

“Ini pasti ulah Pangeran Julian,” gerutu Paman Lorenzo.

Pangeran Julian memang suka usil merusak taman. Tidak hanya taman, di sekolah kerajaan dan di istana juga tak luput dari keusilannya. Sudah sering ia dinasihati, tapi tak pernah digubrisnya. Paman Lorenzo mendesah. Tiba-tiba terlintas ide untuk membuat Pangeran Julian jera.

Pagi-pagi sekali Paman Lorenzo membuat jebakan berupa tanah becek berisi cacing yang di atasnya diberi rumput, tujuannya agar Pangeran Julian tidak curiga. Paman Lorenzo berharap Pangeran Julian jera merusak taman jika ia terperosok masuk ke dalam tanah tersebut dan melihat cacing yang mengerubuti tubuhnya. Ia pasti akan ketakutan dan tak berani lagi masuk ke dalam taman.

“Paman Lorenzo…,” tiba-tiba terdengar suara Pangeran Julian memanggil Paman Lorenzo.

Paman Lorenzo langsung bersembunyi di balik pohon.

“Paman…” Pangeran Julian kembali memanggil. Langkahnya riang memasuki taman.

“Sedikit lagi, sedikit lagi…,” ucap Paman Lorenzo dalam hati sambil melihat gerak langkah Pangeran Julian yang semakin mendekati tanah jebakan.

Dan, satu langkah lagi! Byurr… Pangeran Julian masuk ke dalam tanah jebakan. Tubuhnya belepotan tanah becek dan dikerebuti cacing. Paman Lorenzo menahan napas. Ia sudah bersiap-siap berlari menolong Pangeran Julian jika tiba-tiba menangis kencang karena ketakutan. Ia juga sudah menyiapkan nasihat agar kali ini Pangeran Julian tidak lagi usil merusak taman.

Namun ternyata dugaannya keliru. Belum sempat Paman Lorenzo melangkahkan kaki untuk menghampiri Pangeran Julian. Pangeran Julian tiba-tiba saja berteriak kegirangan.

“Horee… cacing!” teriak Pangeran Julian sambil melempar-lemparkan cacing ke segala arah. Paman Lorenzo melongo. Jebakan pertamanya gagal.

***

Hari berikutnya, Paman Lorenzo memasang jebakan baru. Kali ini ia memasang sarang lebah di pohon apel. Pangeran Julian suka sekali memanah. Tak terhitung lagi banyaknya buah-buahan di taman yang ia bidik dan ia tinggalkan begitu saja. Membuat buah-buahan tersebut cepat membusuk dan terjatuh sia-sia.

“Paman Lorenzo…,” Pangeran Julian menghampiri taman sambil membawa panah.

Ngungunnngggg…

Tiba-tiba terdengar suara lebah dari arah pohon apel. Pangeran Julian melangkahkan kaki ke asal suara dan melihat sarang lebah yang bergelantungan. Tanpa pikir panjang, Pangeran Julian langsung membidik sarang lebah tersebut.

Wush… Anak panah itu tepat menyentuh sasaran. Lebah-lebah pun berhamburan dan tanpa diduga bersatu mengejar Pangeran Julian. Pangeran Julian terkejut, ia lari pontang-panting dan langsung menceburkan diri ke dalam kolam yang ada di taman.

Beberapa detik lamanya Pangeran Julian tidak muncul di permukaan. Paman Lorenzo menghela napas. Ia sudah bersiap-siap masuk ke dalam kolam untuk membantu Pangeran Julian keluar dari kolam sambil menyiapkan nasihat bahwa lebah saja tidak suka jika rumahnya diganggu, begitu juga dengan Paman Lorenzo yang tidak suka jika taman yang susah payah ia rawat dan ia jaga tiba-tiba ada yang merusaknya.

Namun belum sempat Paman Lorenzo melangkah, Pangeran Julian tiba-tiba muncul dari dasar kolam lalu berenang dengan gesitnya. Sesampainya di daratan, Pangeran usil itu terkekeh-kekeh senang sambil mengepalkan tangan.

“Yess!” teriak Pangeran Julian.

Melihat itu, Paman Lorenzo tahu, jebakan keduanya pun gagal.

***

Hari ketiga, Paman Lorenzo memasang kawat berduri di sepanjang taman dan memasang pintu yang ia kunci rapat agar Pangeran Julian tidak bisa menerabas masuk ke dalam taman.

Setengah hari berlalu, Paman Lorenzo senang karena tidak ada gangguan sama sekali. Sampai akhirnya terdengar suara pintu diketuk.

Dok dok dok…

“Paman Lorenzo, ayo bermain,” terdengar suara Pangeran Julian yang mencoba masuk ke dalam taman. Paman Lorenzo diam saja. Pangeran Julian terus saja memanggil.

“Paman Lorenzo, Paman…,” Pangeran Julian lagi-lagi memanggil.

Namun tak ada sahutan dari dalam taman. Pangeran Julian terus saja memanggil. Sampai akhirnya, suara Pangeran Julian semakin lama semakin melemah, kemudian terisak.

Mendengar itu, Paman Lorenzo langsung membuka pintu taman.

“Kenapa Pangeran menangis?” tanya Paman Lorenzo.

“Karena tidak ada yang mau bermain denganku Paman,” jawab Pangeran Julian.

“Jika tidak ada yang bermain dengan Pangeran Julian, itu karena Pangeran Julian usil. Coba kalau tidak usil. Pasti banyak yang mau bermain dengan Pangeran,” ucap Paman Lorenzo.

“Nah, sekarang Pangeran boleh bermain dengan Paman, tapi Pangeran tidak boleh usil merusak taman ya?”

“Benarkah? Baik Paman, aku janji,” ucap Pangeran Julian dengan mata berbinar.

Akhirnya setelah mendengar nasihat tersebut, Pangeran Julian tidak lagi usil seperti dulu. Ia kini disayang guru dan teman-temannya di sekolah kerajaan. Para dayang dan pengawal kerajaan pun tak lagi sebal seperti dulu. Dan Raja Leonel senang melihat perubahan putra kecilnya itu. (58)

Advertisements