Cerpen Des Alwi (Kompas, 14 Mei 2017)

Lolong Kematian ilustrasi Bayu Wardhana - Kompas
Lolong Kematian ilustrasi Bayu Wardhana/Kompas

Tangis, mungkin lebih tepat sebagai lolongan putriku tidak berhenti kendati pun kami sudah berusaha membujuknya untuk mencarikan seekor anak ayam, pengganti ayam peliharaannya yang mati dengan leher patah. “Itu bukan patah, tapi digigit binatang dan patah,” katanya bersikeras menuduh jika tidak kucing, anjing, tikus bahkan juga musang yang sering berkeliaran di sekitar tempat tinggal kami, penyebab kematian ayam peliharaannya. Tikus dan musang, tentu saja pilihan paling aman. Menuduh kucing atau anjing persoalannya jadi lain. Karena hanya tetanga dan sekaligus kerabat kami yang memelihara kucing. Sementara anjing, itu punya pak RT. Berperkara dengan Pak RT atau Tante Han, pasti jauh lebih rumit daripada sekadar mencarikan ayam pengganti.

Anak kami menepis tikus atau musang sebagai penyebab kematian ayam kesayangannya. “Mana mungkin musang atau tikus mengejar ayam di siang hari,” ujarnya sambil terisak-isak. “Sudah jelas ayam Deniza digigit anjing atau kalau enggak kucing,” ujarnya. “Papa takut sama Pak RT dan Tante Han,” teriaknya. Coba periksa anjing Pak RT atau kucing Tante Han, pasti akan ketahuan penyebab kematian putri,” tambahnya merujuk nama ayam kesayangannya.

Istriku yang pura-pura tidak mendengar dan langsung masuk kamar. Deniza semakin terisak. Tangisnya semakin menjadi-jadi. Persoalan kematian ayam peliharaan, harusnya bukan masalah pelik, tapi karena Deniza gampang menangis dan tangisannya lebih sebagai lolongan, masalahnya jadi rumit. Setiap persoalan apalagi disertai lolongan anak kami, bisa menjadi masalah keluarga besar, karena rumah kami hanya berbatas dinding dengan Tante Han. Dengan WA grup keluarga, jarum jatuh suaranya bisa kedengaran sampai ribuan mil. Tidak heran, lima menit setelah Deniza menangis istriku langsung berkata: “Sudah diam, nanti kita belikan ayam pengganti,” ujarnya setengah berteriak. “Masalah ayam mati saja bisa ribut seluruh dunia,” tambahnya, tanpa menghiraukan wajah kami yang kebingungan dan anakku yang langsung terdiam.

Dan persoalan kematian ayam Deniza menjadi topik WA hampir seminggu lamanya. Tante Han menegaskan kucingnya tidak ada sangkut-pautnya dengan kematian ayam Deniza. “Emangnya hanya kami saja yang memelihara kucing di sekitar sini,” tulisnya. Sebagai istri almarhum Om kami, tentu saja tidak ada yang berani menanggapi WA Tante Han. Masalah kematian ayam kesayangan Deniza pun tertiup berbagai isu hangat seperti pilkada, rencana perkawinan anak Tante Mia dan juga kondisi Om Ridwan, adik almarhum ibu kami yang semakin parah sesudah terkena stroke.

Advertisements