Cerpen Budi Sabarudin (Republika, 14 Mei 2017)

Bulan Memanggil Ibu di Langit ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Bulan Memanggil Ibu di Langit ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Ambilkan bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang slalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan, Bu

Untuk menyinari

Tidurku yang lelap di malam gelap

 Jika rindu pada ibunya yang sudah meninggal, gadis kecil itu pasti berdiri di teras rumahnya. Mematung. Menatap langit yang hitam, lalu menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu.” Suaranya pelan. Air matanya berlinangan.

Rindu pada ibunya itu selalu datang di pusar malam, ketika malam benar-benar sepi dan terasa dingin di tubuhnya. Kerinduan itu datang sejak ibunya dikuburkan tiga tahun yang lalu.

Ia menyaksikan ibunya yang dibungkus kain kafan dimasukan ke dalam liang lahat, lalu diuruk dengan tanah. Tanah itu diinjak- injak para penggali kubur hingga padat. Gadis kecil itu menjerit- jerit, tak kuasa melihat ibunya dikubur seperti itu, hingga akhirnya ia tak sadarkan diri.

Dan di pusar malam ini, kira-kira waktu sudah masuk sepertiga malam, ketika ia tengah tidur pulas bersama neneknya, rindu pada ibunya itu datang kembali. Angin yang dingin seperti mengusap matanya dan berbisik pada telinganya, mengajaknya segera menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu.”

Lagu itu juga sering dinyanyikan ibunya dulu.

“Ibu rindu sekali padamu. Ibu ingin mendengar suaramu menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Begitu angin berbisik pada daun telinga gadis kecil itu.

Perlahan-lahan ia turun dari ranjang tidurnya, menyingkapkan selimut dengan hati-hati, meninggalkan neneknya yang tertidur lelap. Seperti biasanya, dibawanya guling dan didekap di dadanya.

Ia menyadari bertahun-tahun hidup bersama neneknya hingga mencintai neneknya seperti cinta pada ibunya sendiri. Karena itu, ketika ia bangun sebisa mungkin jangan mengganggu neneknya yang sedang tidur, jangan sampai neneknya terbangun. Siapa tahu neneknya sedang bermimpi bertemu malaikat yang baik hati yang datang dari surga.

Gadis kecil itu bersejingkat menuju teras rumah. Beberapa saat ia duduk membeku di kursi tan, matanya menatap langit, hatinya terasa kosong. Terbayang wajah ibunya yang cantik yang selalu mengenakan jilbab dan senyumnya yang selalu membuat dirinya tenang dan sejuk.

Selama hidupnya, gadis kecil itu selalu ingat pesan ibunya yang selalu disampaikannya menjelang tidur. “Bulan, jangan lupa shalat ya. Umat Nabi Muhammad SAW itu tidak boleh meninggalkan shalat lima waktu ya, dalam keadaan apa pun. Kalau sampai ditinggal itu dosa besar, sayang.”

Pesan itu disampaikan ibunya dengan tutur kata yang pelan dan lembut, hingga dirasakannya seperti anak panah yang menembus pikiran, hati, dan jantungnya. Pesan itu masih terasa sampai saat ini, sampai ia kini berusia sebelas tahun.

Ia juga ingat ketika ibunya menata kamar belakang menjadi mushala. Di mushala itu, ibu selalu membaca Alquran di atas karpet warna merah yang tebal dan wangi. Jika sedang mengaji, suara ibunya sangat merdu karena sejak kecil mondok di pesantren.

Kalau ibu sedang membaca Alquran di malam hari misalnya, gadis kecil itu berlari kecil dan menghampiri ibunya di mushala, lalu menyandarkan kepalanya ke tubuh ibunya. Sambil mengaji, diusap-usapnya pipi dan rambut gadis kecil itu oleh ibunya. Telapak tangan ibu yang halus masih terasa betul sampai saat ini.

Di mushala itu juga dijadikan perpustakaan kecil oleh ibunya. Hampir di seluruh dinding mushala penuh dengan buku-buku. Jika hari minggu, ketika ibunya tidak bekerja, gadis itu selalu diajak ibunya ke toko buku dan bazar- bazar buku.

Mereka pergi berdua saja karena ayah gadis kecil itu sudah meninggal terkena penyakit kanker ganas di otaknya. Ibunya selalu memborong buku-buku Islami dan kemudian disimpan rapi di perpustakan kecil itu. Tentu itu menjadi hiburan yang sangat menyenangkan bagi gadis kecil itu.

Di perpustakaan itu pula, ia ingat selalu membaca buku bersama dengan ibunya. Sering sekali ibunya membacakan buku-buku dongeng serta kisah-kisah dan perjuangan para nabi yang memukau. Gadis kecil itu ingat, betapa ibunya pandai sekali bercerita dan senang membaca.

“Bu, mengapa ibu banyak sekali membeli buku? Dan mengapa kita harus membaca, Bu?” Ibunya yang berwajah lembut tersenyum. Diciumnya pipi gadis itu dengan hangat.

“Di dalam buku itu ada ilmu, sayang. Allah SWT melalui Nabi Muhammad sudah mengingatkan kita agar umat Islam selalu mencari ilmu. Mencari ilmu itu salah satunya bisa dari buku-buku. Men cari ilmu juga hukumnya wajib bagi umat Islam. Makanya ibu membeli banyak buku dan menyimpannya di perpustakaan ini untukmu.”

“Jadi, ilmu itu penting ya, Bu?”

“Ya, tentu saja. Itu bisa membuatmu pandai, dan Allah akan membukakan jalan menuju surga bagi orang-orang muslim yang mencari ilmu.”

Mengingat peristiwa dan percakapan dengan ibunya dulu, air mata gadis itu mengalir deras hingga membasahi guling yang didekap di dadanya. Ia begitu sedih karena kenangan itu tak mungkin diulang, tak mungkin diraih kembali.

***

Malam sepi sekali. Tidak biasanya segerombolan burung kematian mendadak lewat di atas rumah gadis kecil itu. Entah dari mana datangnya burung-burung itu. Mereka bercuit-cuit. Ramai sekali. Namun gadis kecil itu tak peduli dengan suara burung-burung itu. Yang dirasakannya kini angin berbisik kembali ke telinganya. Ia pun berdiri. Mematung. Menatap langit. Masih mendekap guling yang basah oleh air matanya sendiri.

Dengan suaranya yang pelan dan dalam, ia menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu.”

Lagu itu sudah dinyanyikannya selama tiga tahun sejak ibunya meninggal dunia.
Sendiri. Tempatnya tidak pernah berubah, masih di teras rumah. Ia rindu ibunya yang tewas dibunuh penjahat, saat kawanan penjahat itu merampok rumahnya di malam hari. Ia sendiri selamat dari perampok itu karena sembunyi di balik pintu mushala yang dindingnya penuh dengan buku-buku, lafaz Allah, Muhammad, surah Yassin, dan 99 nama Allah SWT Yang Agung.

Dan ketika rindu ingin bertemu dengan ibunya semakin kuat, gadis kecil itu mengulang-ulang lagu itu. Tentu sambil terus memandang langit yang sudah ditaburi bintang-bintang. Di antara linangan air matanya yang deras, tiba-tiba ia melihat cahaya bulan di langit yang semakin terang. Ia nyaris tak percaya, bulan itu perlahan-lahan turun dan akhirnya mendekati dirinya.

Ia merasakan dari dalam bulan itu munculnya sosok perempuan berjilbab. Gadis kecil itu kaget dan langsung berteriak memanggil ibunya. Ibunya tidak menjawab, hanya tersenyum dan mengulurkan kedua tangannya. Tangan mereka saling bersentuhan. Gadis kecil itu merasakan tangannya terbawa oleh ibunya masuk ke dalam bulan.

Dengan perasaan bahagia, gadis kecil itu mencium wajah ibunya, mendekap tubuhnya kuat-kuat. Ia juga tak henti-hentinya takjub pada keindahan cahaya di dalam bulan. Bulan perlahan-lahan naik kembali ke langit.

***

Dalam sunyi dan udara dingin, tangan kanan Nenek meraba-raba sesuatu di sampingnya tempat tidurnya. Ia tidak menemukan apa-apa, juga tidak menemukan cucunya yang biasa tidur di sampingnya. Namun, Nenek sudah tahu, malam-malam begini, biasanya cucunya itu ada di teras rumah.

Dalam kantuk yang berat, Nenek turun dari ranjang menuju teras rumah. Dilihatnya cucunya tertidur pulas di kursi rotan sambil mendekap guling kesayangannya. Perlahan-lahan Nenek membangunkan cucunya dengan cara menepuk-nepuk pipinya. Namun, gadis kecil itu tidak bergerak, tubuhnya beku, napasnya pun sudah berhenti.

Dengan perasaan sedih dan hampa, Nenek menatap langit. Dalam keheningan, samar-samar ia mendengar ada orang menyanyikan lagu “Ambilkan Bulan, Bu”. Suaranya mirip suara gadis kecil. Suara itu datang dari bulan yang jauh di langit. (*)

 

Cipondoh, Kota Tangerang, 2017

 

Keterangan :

Lagu “Ambilkan Bulan, Bu” karya AT Mahmud

 

BUDI SABARUDIN, lahir di Desa Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat. Sejumlah cerpennya pernah dimuat di koran lokal dan nasional. Aktif di Gerakan Sastra STISNU (GSS) Tangerang.

Advertisements