Cerpen Maywin Dwi-Asmara (Koran Tempo, 13-14 Mei 2017)

Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Asomatognosis ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Sebenarnya kau bukan pasien yang istimewa saat pertama kali dibawa oleh kerabatmu. Kami telah menangani banyak pasien dengan gejala yang sama denganmu. Keluargamu menjelaskan bahwa perubahan yang terjadi padamu muncul setelah pemukulan yang kau alami beberapa bulan lalu. Sebelumnya kau adalah musisi yang berbakat, kami melihat ada gejala depresi dan kepanikan yang sangat jelas. Setelah serangkaian pemeriksaan yang kami lakukan, tim dokter memvonis bahwa kau mengidap cedera interacranial ringan. Kami berusaha memulihkanmu dengan prosedur standar. Pemberian obat-obatan pemulih fungsi otak, terapi bicara, dan lain sebagainya berjalan dengan baik. Tidak butuh waktu lama untukmu menyesuaikan diri dengan jadwal dan rutinitas penyembuhan hingga dalam waktu kurang dari delapan minggu kau sudah dipindahkan ke bangsal pemulihan. Emosimu tampak stabil dan mulai dapat berinteraksi dengan baik, hingga akhirnya tak lagi terlihat gejala panik yang berlebihan. Kau mulai bermain gitar dan bernyanyi untuk para pasien lainnya. Permainan gitar dan suaramu sangat menakjubkan. Across the Universe adalah lagu yang paling sering kau mainkan. Kau mengaku bahwa lagu itu adalah lagu kesukaanmu. Tidak sulit berbicara denganmu, aku hanya perlu membahas musik dan musik-musik itu akan menuntunku mengenalmu lebih dalam. Aku merasa ada sesuatu di dalam dirimu yang belum kami ketahui.

Musik yang kau mainkan mulai berubah ke nada-nada gelap dan kau selalu berbicara perihal kematian. Kau mulai terlihat lelah dan serangan panik mulai sering lagi mengganggu, membuatmu menggigil dan tak dapat tidur pada malam hari. Melihat perubahan yang semakin memburuk, aku meminta kepala perawat untuk menanganimu dengan lebih intensif. Obrolanku denganmu, tentang musik, tentang gitar, tentang semua hal yang kau sukai membuat aku merasa memiliki kedekatan yang baik denganmu. Awalnya aku hanya datang merawatmu, mulai pagi hari hingga jam kerja usai, saat itu kau masih dapat merespons perkataanku dengan baik. Aku menyiapkan obat-obatan untukmu, mengajakmu berbicara layaknya seorang teman. Beberapa hal kecil berubah dari perilakumu, kau menjadi lebih sering diam menatap langit-langit sambil berbaring. Matamu kosong. Aku merasakan napasmu dengan punggung tanganku, intensitas embusannya tinggi dan berat, hal ini menandakan bahwa kau sedang memikirkan sesuatu. Tidak seperti pasien penderita depresi lain yang menatap kosong dengan napas beraturan, kau terlihat sibuk dengan pikiran-pikiran luas tak terbatas, semua perubahan kecil pada gerak-gerikmu itu aku masukkan dalam laporan harian. Keadaan itu terus berlanjut hingga beberapa minggu, biasanya setelah menatap kosong pada langit-langit kau mulai mengalami serangan panik dan ketakutan. Ini terjadi lebih dari 15 menit dan beberapa kali dalam sehari, namun jika tidak sedang mengalami episode kau akan dengan tidak sabar menunggu untuk dipersilakan membaca halaman demi halaman-dengan sangat teliti-majalah musik yang terus-menerus kau baca. Sementara aku membersihkan ruangan, kau akan bercerita apa saja yang ada dalam otakmu.

“Lenin, apa kau menyukai lagu yang juga aku suka?”

“Maksudmu Across the Universe? Aku rasa aku menyukainya, kau tahu aku tidak terlalu baik dalam memahami musik, aku hanya menikmatinya. Maukah kau memberi tahuku apa yang membuatmu sangat menyukainya?”

“Banyak yang berbicara tentang makna yang coba diberikan oleh John dalam lagu itu. Tapi aku lebih menyukainya sebagai sebuah lagu yang menyuarakan apa yang tak dapat kita ucapkan, kau tahu? Saat mereka merekam lagu itu, Paul depresi karena selalu disalahkan. Kadang sangat sulit memberi tahu orang lain tentang apa yang terjadi pada sesuatu yang tidak tersentuh dalam diri kita hingga tak akan ada yang bisa mengubah dunia kita. Bahkan walaupun kau pergi menyeberangi alam semesta, dirimu akan selalu menjadi dirimu yang sama, bukankah begitu, Lenin?”

“Ya, menjelaskan pada orang lain tentang dirimu adalah hal yang sangat sulit, bahkan lebih sulit dari menjinakkan harimau, kau tahu?”

“Ha-ha-ha, ya, dan harimau itu adalah dirimu sendiri. Kemudian hal itu menjadi jauh lebih sulit, bukan?”

Aku mencatat semua percakapan kita, dan pada malam harinya aku menganalisis apa yang telah kau katakan. Hal ini sangat penting dilakukan guna menetapkan tindakan yang tepat untuk membantumu melewati episode panik itu. Tapi aku hanya melihat tanda-tanda depresi yang bisa ditangani dengan obat yang telah kami berikan. Namun episode itu tetap saja terjadi bahkan semakin memburuk hari demi hari. Semakin jelas terlihat bahwa kau mulai mengalami masalah yang serius dengan emosimu. Kau kehilangan kemampuan untuk menangis, tidak merasa lapar hingga menolak untuk memasukkan makanan ke dalam tubuhmu. Kau semakin sering mengatakan hal-hal mengerikan tentang kematian yang akan kau hadapi dengan tenang. Nada bicaramu berubah datar tak berekspresi. Tapi episode panik tetap terjadi. Dengan kondisi tubuh yang lemah, serangan panik dapat menjadi hal yang buruk. Para dokter mulai menambah dosis obat-obatan untukmu, itu adalah pertama kali dokter meningkatkan dosis obat-obatan. Tapi semakin sulit memaksamu menelan semua obat itu. Kondisimu sangat tidak stabil, kau mulai mengeluhkan banyak hal tentang kesedihan yang selalu menggantung di kepalamu, tentang semua rasa sakit yang tak ingin pergi. Ketika tengah malam tiba dan suasana begitu senyap kau akan mulai memasuki dunia lain yang membuatmu sangat ketakutan. Kau akan menangis untuk semua dosa-dosa yang telah kau perbuat dan mengutuk dirimu untuk semua kesalahan itu, untuk para pasien sakit jiwa yang sering kau lihat, untuk kelelahan para dokter yang merawatmu, untuk semua kenangan yang ada di dalam kepalamu, untuk kematian semua musisi yang kau cintai, untuk penderitaan jujur di balik semua keindahan yang pernah kau lihat dan rasakan.

Kemudian gejala asomatognosis tampak jelas. Kau mengatakan padaku bahwa tak lagi merasa sebagai dirimu. Banyak hal aneh yang terjadi kemudian. Kau mulai mengatakan bahwa semua dokter di sana tidak nyata. Aku juga tidak nyata, bahkan dirimu pun hanyalah sebuah proyek imajiner yang dibuat oleh sesuatu yang tidak bertanggung jawab. Aku mulai kesulitan menanganimu. Kau menolak untuk makan dan meminum obatmu. Kau mengiba padaku, “Lenin, aku sakit karena mereka menghantuiku, jantungku telah berhenti berdetak, dan aku merasa hati dan perutku sangat sakit. Mereka mulai membusuk di dalam tubuhku, aku tak bisa lagi merasakan tubuhku dari dalam. Mengapa kau terlihat begitu jauh, Lenin? Aku sudah tak memiliki jantung.”

Episode depersonalisasi dan derealisasi yang terjadi padamu semakin memburuk. Tapi semua begitu alami. Dokter melakukan pemeriksaan kondisi limbic system dalam otakmu dan mengganti obat-obatan yang biasa kau konsumsi dengan 75 mg Amitryptiline dan 2 mg Risperidone. Di sini aku harus mengakui bahwa sesuatu yang mengganggu terjadi padaku setiap kali aku memaksamu meminum obat-obatan itu. Untuk saat itu kau mulai menyadari lingkungan sekitarmu, tapi justru kau menjadi jauh lebih menderita. Kau akan menatapku dan mulai menangis, kau mengutukku karena kebaikan hati yang kumiliki.

“Aku tak ingin kau menolongku Lenin. Apa alasannya? Apakah kau mempunyai alasan penting untuk menolongku? Selain tugas-tugas dan tanggung jawab pekerjaanmu itu? Aku tak dapat mengatakan apa pun padamu. Ini kemalangan selamanya dan akan sia-sia. Kau sungguh tak perlu melakukan semua ini.” Kemudian kau menangis dan aku merasa sangat lelah, duduk lemah di kursiku, menatapmu menangis menghadap ke langit-langit. Tangisanmu tak pernah terasa begitu menyedihkan seperti malam itu. Aku menatap langit-langit di mana kau menulis semua pikiranmu. Aku membaca hidupku, yang monoton dan bergerak seperti robot, lalu berpikir tentang sel-sel yang terus mati setiap hari dalam tubuhku. Rambut-rambut yang rontok dari kepalaku, darah yang dipompa jantungku terus-menerus, ginjal, hati, pankreas dan segalanya. Aku memahaminya, aku memahami mimpimu yang terus kau gambar pada langit-langit itu.

Pagi hari setelah aku renungkan malam yang buruk itu, aku putuskan untuk melakukan sesuatu. Aku akan membantumu melakukan apa yang kau inginkan. Membiarkanmu menikmati sensasi kehilangan, ketiadaan, dan kematianmu yang hidup. Aku tak pernah lagi memaksamu meminum obat-obatan. Kau mulai mengatakan bahwa walaupun dunia ini sudah tidak ada, itu tak akan ada artinya bagimu. Kemudian kau mengaku bahwa kau kehilangan tanganmu dan lidahmu membusuk. Tapi aku melihat ketenangan yang indah pada wajahmu. Aku melihatmu dalam keadaan “bahagia” saat itu. Aku tak pernah lagi melihatmu menderita karena ketakutan pada sesuatu yang tak pernah kau mengerti. Hanya ketenangan yang terus terpancar darimu.

Aku menulis kondisimu yang sebenarnya pada catatan harian dan berbohong bahwa aku memberikan obat-obatan itu padamu. Beberapa dokter kemudian datang terlalu sering dan melihat ketenanganmu yang indah sebagai sesuatu yang mengerikan. Mereka kembali meninjau semua catatanku dan melakukan pemeriksaan kepadamu. Saat itu aku harus meninggalkan rumah sakit untuk beberapa hari, dan tanpa sepengetahuanku para dokter meningkatkan dosis obat-obatan untukmu. Bahkan menambahnya dengan 10 mg Enalapril dan 30 mg Nifedipine. Aku sungguh tak dapat membayangkan apa yang terjadi padamu. Saat aku kembali ke rumah sakit, para polisi telah menungguku. Mereka menemukan fakta bahwa aku telah menahan obat-obatanmu dan aku terbukti memalsukan laporan tentang dirimu. Mereka mengatakan bahwa kau dipindahkan ke rumah sakit pusat karena dosis obat itu telah meracunimu. Aku hanya ingin tahu apakah kau telah memperoleh keinginanmu?

 

 

Maywin Dwi-Asmara, lahir di Mataram, Lombok, 3 Mei 1992. Tahun 2014 mendapat research fellow dari universitas di Bologna, Italia. Pada Oktober 2016 diundang Dewan Kesenian Jakarta sebagai pemateri dalam Dua Forum Teater Riset. Cerpen-cerpennya terbit di sejumlah media cetak dan online.

Advertisements