Hikayat Moksa ilustrasi Joko Santoso - Kedaulatan Rakyat.jpg
Hikayat Moksa ilustrasi Joko Santoso/Kedaulatan Rakyat

KOTA kami bukan kota istimewa, tapi cuma kota kecamatan—dengan pasar dan kantor camat di pinggir jalan utama—, yang mendadak menjadi kota kabupaten karena pemekaran wilayah. Lokasinya yang membuat kota kami terpilih—dan kompleks kantor kabupaten, terletak di belakang kantor camat; bahkan si kantor camat itu dirombak jadi si rumah dinas bupati, lalu alun-alun dan seterusnya, sedang kantor camat pindah ke lokasi baru yang lebih ke dalam.

Bahkan proyek pertama, jauh sebelum pusat pemerintahan kabupaten pindah, adalah pembuatan jamban bersama. Tersebab mayoritas penduduk kota kami, dahulu, merupakan penjemur pantat di pinggir kali ketika buang air besar. Sigap bersijongkok menghadap ke dinding aluran—aurat teraling—, dan membiarkan anus dan kelengkapannya menyelesaikan impuls metabolisme. Ini tersebabkan, secara planologia, hampir separuh kota kami dikelilingi saluran irigasi. Dari selatan lurus ke utara, sejajar sungai kota, melintasi rel dan jalan provinsi, lantas membelok ke barat sampai ke ujung kota dan dipecah menjadi saluran-saluran yang lebih kecil.

Itu saluran bersejarah, karena dibangun di zaman Belanda ketika perkebunn tebu diunggulkan, serta dipaksakan penjajah yang mengerti besarnya keuntungan dari sewa sawah rakyat murah, dan karenanya sejak lama warga kota dilatih sering menganggur, banyak berkumpul di sore hari, berjudi serta minum-minum arak Jawa sambil sesekali menari Tayub. Karena itu, lahan selalu ditata kering agar tebu siap dipanen.

Jadi, bila sempat, mampirlah ke irigasi. Dulu, setiap orang memamerkan pantat sebagai kekayaan lokal—si cantik, jelek, tampan, atau cacat—, serta terkadang dengan membawa payung buat melabi wajah dan bagian depan tubuh dari banyak orang yang jalan di sempadan irgasi—kalau yang muda dan cantIk bergerak ke irigasi, maka setiap lelaki jadi beriringan lewat dan di ujung, di Pos Kamling sebelah jembatan, berdiskusi tetang pantat si bersangkutan. Topik yang tak pernah habis didiskusikan.

Hal itu membuat kota kami—sebagai si wakil kabupaten—: kalah ketika penilaian lomba Adipura, dianggap kota kabupaten yang tidak punya planologi lingkungan dan kesehatan. Jadi, setelah itu, Pemda membuat gebrakan: jamban bersama, nyaris di tiap titik sejarak 100 m, di kiri dan di kanan, tergantung di sebelah mana banyaknya rumah —si seterusnya ya sawah kering setelah panen dan siap ditanami lagi tebu, hingga warga kami sering menganggur sebelum di sana didirikan rumah, dan jadi anggota warga jamban terpanjang di dunia—oleh seorang teman disebut sebagai posmo, pos mod.

Tapi itu tidak pernah dipakai, orang terbiasa menghilirkan hajat, membasuh perlengkapan hajat, dan bergegas pulang tanpa harus menyiram. Jadinya banyak sekali bangunan jamban terlantar, meski tegakan sumur pompanya dimanfaatkan buat menyedot air. Meski bukan itu yang menyebabkan si jamban dihindari. Sebab, sebenarnya—cerita ini tak pernah sampai ke pihak berwenang—jamban yang tak punya penerangan itu, meski sebagian diberi listrik dari rumah penduduk, sering suram dan sangat kelam di malam hari. Katanya—terutama di jamban di dekat belokan irigasi pada titik paling timur-laut ketika alur dari selatan berkelok ke barat—di sana pernah terjadi beberapa orang hilang. Lenyap bagai diserap. Disedot kelam.

Seorang wanita muda, bersuamikan warga kami, serta ia berasal dari Surabaya, mampir dan tak kembali lagi; kemudian seorang lelaki tua, dan terakhir seorang anak kecil. Hal itu membuat semua orang percaya bahwa jamban itu merupaan sebuah altar kurban, buat memuliakan kejayaan orang besar—tanpa orang kota kami berani menyebutkan namanya—, dan karenanya, mendadak saja orang merubuhkan jejeran jamban itu—meski tetap membiarkan tegakan pompa airnya, atau memindahkan pompa airnya lebih ke dalam kampung—, terutama yang dibangun pada tanah milik penduduk, yang ngotot berencana akan membangun rumah di tempat itu. Deproyekisasi jadinya.

Memang, selain tegakan pompa air, masih ada jamban yang dipertahankan utuh, terutama yang terletak amat benderang—meski selalu dihindari banyak orang. Tapi bisa dikatakan bahwa proyek jambanisasi itu gagal, meski secara alami kebiasaan buat posmo di saluran irigasi itu menghilang. Disebabkan industri tanaman tebu rakyat—yang menghasilkan si tokoh paling kaya di kabupaten kami, yang akan diceritakan di kisah lain—tidak lagi bisa dipaksakan pada pemilik sawah, yang disewa murah dengan mempergunakan perangkat birokrat yang gila menyukseskan program intensifikasi tebu rakyat.

Kemudian perkembangan kota memaksa banyak warga memanfaatkan saluran irigasi itu buat membuang sampah dan segala bangkai, sehingga meski tak mengental menghitam saluran itu tidak lagi nyaman dipakai melamun sambil menjemur si pantat telanjang. Karenanya semua rumah tangga mendadak merasa perlu bikin kakus pribadi. Lucu juga. Jamban dihancurkan sebab tak berpenerangan dan katanya kekelaman dan kesuramannya suka menculik orang hidup, dan kala si jamban habis dirubuhkan, diprivatisasi, orang memilih membuat jamban pribadi karena saluran irigasi jadi tempat sampah terpanjang. Memang.

Tapi, kata orang, an urban legen tentang si tangan hitam yang suka mencekik orang yang tersembunyi dalam remang dan kemudian mencekiknya sehingga segera menyublim kehilangan cairan dan butiran fisiknya itu—jadi itu lebih rakus dari si laba-laba yang paling buas—, bahkan sebenarnya si itu menelan serta menyesap korbanya seperti amuba melakukan proses aneksasi dengan mengeksternalkan eksistensi korban ke dalam dirinya itu, terus berlanjut, meski tidak sering ada cerita jamban yang kelam menculik orang.

Katanya—sehingga orang sangat menghindar berjalan di pingir saluran irigasi biasanya setelah kelam turun, terutama kalau melewati di julangan rumpun bambu, pohon waru, kluwih dan seterusnya—, mulai lagi ada orang hilang di saluran irgasi. Katanya, ia bergegas lewat, sambil merokok serta satu tangan lainnya membawa lampu senter, yang digerak-gerakan membuat bulatan sinar ada di depanya, dan sesekali berkelebat di sampingnya pada semak dan aliran irigasi—sebelum ia membelok di ujung jembatan dan terus berjalan di jalur aspal. Tapi, katanya, ia tidak sampai di rumah yang akan ditujunya dan juga tak pernah kembali. Ketika dicari di semua warung kaki lima juga tak ada. Dan setelah lima hari dicari tidak pernah ketemu atau sekadar ada orang yang bilang telah melihatnya, maka pada hari keenam, lewat Magrib, diselenggarakan satu Tahlilan tanpa pernah melakukan penguburan. Memang.

Ia disebut dicerabut kelam, meski ada orang—temannya dari teman dari keluarga salah seorang warga kota kami—yang telah melihatnya jadi kuli di Selangor—tampaknya ia melarikan diri karena tak kuat membayar utang. Seperti si istri muda dari Surabaya yang kemudian dikenali sebagai TKW malang di Hongkong, yang mengalami kecelakaan, meninggal dan pulang sebagai mayat—meski yang dua orang lagi tidak pernah ditemukan lagi. Memang—mutlak ditelan kelam. q-c

 

Caruban, April 2017

*) Beni Setia, pengarang. Email: benisetia54@yahoo.com

Advertisements