Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

HUJAN turun.

Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri mereka dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itu adalah salah satu sore terburuk di sepanjang tahun 1987. Di antara guyuran hujan dan deru angin yang semakin menggila, samar-samar, terdengar entakan kaki yang diayunkan dengan berat. Itu adalah langkah dari seorang lelaki dengan jaket tebal usang. Ia mengenakan fedora dengan tiga tambalan dan kacamata hitam. “Tak ada tempat berteduh,” ia menggumam. Dan ia terus berjalan. “Seperti juga tak ada tempat sembunyi dari maut jika memang waktunya sudah tiba,” ia kembali menggumam, kali ini sambil mengetatkan jaketnya. Di balik jaket itu, seekor semut diam dalam saku bajunya, basah tapi aman. Seekor semut yang ia pungut dari jatuhan dahan trembesi. “Tapi waktunya belum tiba bagimu.”

***

EMPAT puluh hari setelah Kiai Haji Alim Alimin wafat dalam damai pada usia sembilan puluh satu, Ali si bilal bersumpah bahwa ia melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman masjid wakaf yang ditinggalkan Kiai Haji Alim Alimin. “Tapi ia bukan manusia,” ujar Ali si bilal dengan napas tersengal. “Sungguh, demi Allah,” lanjutnya.

Mak Ijah si pemilik warung mengangsurkan gelas berisi air putih yang segera ditandaskan Ali. Ia tampak masih kesusahan mendapatkan kendali penuh atas dirinya sendiri. Hari itu Jumat. Dan tak ada satu pun penduduk di sana yang ingat menunaikan salat Jumat hari itu.

“Seperti kalian tahu, aku datang pukul setengah sebelas seperti biasanya untuk menyiapkan segala keperluan salat Jumat. Tidak ada yang aneh. Pintu depan masih terkunci. Pagar tertutup tapi tidak dikunci. Semua seperti biasa. Aku masuk seperti biasa. Aku membuka pintu depan seperti biasa. Dan aku melihat makhluk itu. Aku melihat makhluk itu.”

“Seperti apa makhluk itu?” seseorang bertanya.

“Penuh bulu. Dan besar. Dan kakinya banyak. Aku tak tahu jumlah pastinya. Tapi banyak. Dan ia sangat hitam.”

“Apa kau tidak bermimpi?”

“Aku bersumpah. Demi Allah.”

Beberapa orang kemudian memeriksa masjid itu. Mereka kembali ke warung Mak Ijah beberapa saat kemudian dan mengatakan tak melihat makhluk seperti yang diceritakan Ali si bilal. Tapi bagaimanapun, Ali si bilal adalah satu dari sedikit orang yang tak memiliki riwayat suka membual. Maka sesuatu yang tidak beres pasti sedang terjadi. Kerumunan orang semakin banyak. Mereka-mereka yang hendak ke masjid berhenti di warung Mak Ijah dan melibatkan diri dalam kerumunan. Sebagian dari mereka yang heran kenapa tidak ada azan siang itu segera mendapatkan jawaban. Namun ingatan mereka tentang kewajiban menunaikan salat Jumat benar-benar muksa. Apa yang terjadi dengan Ali si bilal, ternyata, lebih menarik dari sekadar ancaman dosa dan neraka.

***

KIAI Haji Alim Alimin tak pernah terdaftar sebagai jemaah haji. Namun tak satu pun orang yang meragukan bahwa orang suci itu setiap tahun, pada musim haji, berziarah ke Tanah Suci dan menunaikan semua rukun haji. Banyak orang—bukan satu atau dua—yang bersaksi bahwa mereka bertemu dengan Kiai Haji Alim Alimin di sana. Meski pada waktu yang bersamaan, orang-orang di sekitar tempat tinggal Kiai Haji Alim Alimin juga bersumpah bahwa sang kiai tidak pergi ke mana-mana. Itulah yang kemudian membuat orang-orang yakin bahwa Kiai Haji Alim Alimin memiliki karomah yang membuatnya bisa berada di banyak tempat dalam waktu berbarengan. “Beliau hanya perlu membatin ingin pergi ke mana, dan hanya sekedipan mata, beliau sudah berada di tempat itu.”

Begitulah kabar beredar. Dan begitulah ia mendapatkan gelar kiai haji meski ia tak menyukai orang-orang memanggilnya seperti itu.

Itu bukan cerita satu-satunya tentang kehebatan Kiai Haji Alim Alimin. Pada tahun 1984 yang dikenal dengan tahun kesuraman lantaran wabah tikus menghancurkan lahan pertanian dan menjarah isi dapur orang-orang dan pemerintah kabupaten menyerah lantaran segala upaya yang dilakukan untuk membasmi hama itu tak membuahkan hasil, Kiai Haji Alim Alimin konon berbicara dengan seekor tikus. Kemudian, bersama tikus itu, Kiai Haji Alim Alimin pergi ke sebuah gorong-gorong. Di situlah kabarnya raja tikus tinggal. Kiai Haji Alim Alimin, dengan karomahnya, mengadakan perundingan dengan si raja tikus. Dan keesokan harinya, tak ada lagi tikus yang berkeliaran.

“Beliau tidak hanya bisa berbicara dengan binatang, melainkan dengan tumbuhan dan jin, juga angin.”

“Seperti Kanjeng Nabi Sulaiman.”

“Benar-benar beliau orang suci.”

“Orang suci yang sederhana.”

***

KIAI Haji Alim Alimin hidup selibat sampai malaikat maut menjemputnya. Orang tuanya merupakan juragan tanah dan sang kiai adalah ahli waris tunggal dari kekayaan yang melimpah. Setelah orang tuanya meninggal, Kiai Haji Alim Alimin menyedekahkan kekayaannya untuk panti asuhan, anak-anak yatim di sekitar tempat tinggalnya, pembangunan jalan, perbaikan rumah warga yang kurang mampu, menyekolahkan anak-anak jalanan, dan hal-hal lain semacamnya. Rumah warisan yang ia tempati kemudian ia pugar menjadi masjid dan ia wakafkan. Di samping masjid, dibangun bilik kecil tempat Kiai Haji Alim Alimin tinggal. “Aku hanya meminjam bilik ini saja. Ini bukan milikku,” ujar Kiai Haji Alim Alimin berkali-kali.

“Beliau melakukan semua itu agar perhatiannya sepenuhnya tercurah kepada ibadah belaka,” kata orang-orang.

***

DALAM hidup, seseorang hanya perlu berjalan. Kadang berjalan dalam arti kiasan. Kadang berjalan dalam arti harafiah.

Dan begitulah. Hari itu, ketika langit mendung dan bibit angin mengabarkan badai, Kiai Haji Alim Alimin, tanpa mengerti benar apa alasannya, berjalan ke ujung gang di saat orang lain bersiap menyambut hujan dahsyat dengan menutup pintu dan meracik wedang hangat. Ia mengenakan jaket tebal usang satu-satunya yang ia miliki, fedora dengan tiga tambalan, dan kacamata hitam. Dari ujung gang, ia berbelok ke arah jalan raya. Ia menunggu sesaat sebelum badai benar-benar tiba. Dan tak lama kemudian, terdengar derak dahan trembesi besar.

Kiai Haji Alim Alimin berjalan ke arah jatuhan dahan itu. Langit semakin gelap. Ia membalik dedaunan, menyingkirkan ranting-ranting kecil, menyingkap rerimbunan. “Kemarilah, makhluk kecil.”

“Jangan sentuh aku,” makhluk itu menjawab. Suaranya tipis dan tajam. “Aku tak tahu lagi apa yang aku cari.”

“Ya, hampir semua makhluk tak tahu apa yang mereka cari.”

“Kau tak tahu rasanya menjadi makhluk hina.”

“Semua makhluk itu hina. Hanya Allah yang mulia.”

“Kau makhluk mulia. Manusia makhluk mulia. Kau tak tahu rasanya menjadi aku. Kau tak tahu.”

“Kau juga tak tahu rasanya menjadi manusia. Kemarilah.”

Makhluk itulah yang mendekam dalam saku Kiai Haji Alim Alimin di salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 itu.

***

TIDAK ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya. Orang-orang membuka pintu bilik setelah mereka tak mendapati Kiai Haji Alim Alimin keluar dari sana selama tiga hari. Bau harum menyeruak ketika pintu itu dibuka.

“Masya Allah.”

“Innalillahi.”

“Benar-benar beliau orang suci.”

Bagian di mana tak ada yang tahu bagaimana Kiai Haji Alim Alimin menghadapi malaikat mautnya tak sepenuhnya benar. Si semut, yang semenjak salah satu sore terburuk sepanjang tahun 1987 senantiasa mengikutinya, yang mendengar semua yang dikatakannya, mengetahui benar bagaimana si orang suci mengeluh tiga kali ketika nyawanya sampai di tenggorokan, lalu mengucap syahadat dengan payah, lalu terpejam selamanya, dengan sesungging senyum di bibir. Beberapa menit sebelum saat-saat menyedihkan itu, si kiai berkata kepadanya, “Sering-seringlah ke masjid ini. Tapi maaf, kau tak bisa tinggal di bilik ini. Aku hanya meminjamnya, dan karenanya, meski aku ingin, aku tak bisa mewariskannya kepadamu. Dan kau tak perlu terus-terusan menyembunyikan dirimu dalam wujud seekor semut.”

***

“ADA jin di masjid itu, ada jin. Pasti,” ucapan itu keluar setelah empat belas orang—dalam jangka waktu sebulan setelah Ali si bilal tersengal-sengal di warung Mak Ijah—mengutarakan bahwa mereka melihat sesosok makhluk aneh tengah duduk dekat pengimaman.

“Jangan-jangan itu roh Kiai Haji Alim Alimin.”

“Bisa saja.”

“Hush… jangan ngomong sembarangan… beliau orang suci.”

“Loh, bukannya di makam para wali dan para kiai juga sering penampakan seperti itu? Itu tandanya mereka masih bersama kita, menjaga kita. Itu berkah. Kita semestinya melantarkan doa-doa kita melalui beliau, biar lebih cepat dijawab.”

***

BERTAHUN-TAHUN kemudian, ketika luas masjid wakaf Kiai Haji Alim Alimin telah bertambah tiga kali dari ukuran semula dan jemaah yang datang seringkali meluber hingga trotoar jalan raya dan banyak hotel serta restoran berdiri di sekitarnya, seekor semut merayap di pinggir selokan. Ketika ia mendengar orang-orang berdoa dan meminta berkah serta dimudahkan hajatnya kepada hadratus syaikh Kiai Haji Alim Alimin, ia merasa matanya basah.

***

 

Dadang Ari Murtono lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu? (2015). Buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Advertisements