Kue untuk Paman Lucio ilustrasi Farid S Madjid - Suara Merdeka
Kue untuk Paman Lucio ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Paman Lucio bekerja di Istana. Ia sudah lama bekerja di sana. Raja Rocco sangat percaya padanya. Pekerjaannya menjalankan semua perintah Raja Rocco. Meski begitu, Paman Lucio tetap rendah hati dan tidak sombong.

Setiap hari Paman Lucio sangat sibuk. Pagi hari ia sudah harus di dapur, membantu koki istana memasak menu sarapan untuk Raja. Menjelang siang, Paman Lucio harus mengantar Annie dan Vega, puteri kembar Raja Rocco ke sekolah. Setelah itu, Paman Lucio menemani Raja berkunjung ke desa-desa.

Saat berada di dapur Istana, Paman Lucio sangat senang bisa membantu koki istana memasak. Ia jadi tahu resep masakan istana yang lezat. Mengamati dan mencicipi aneka bumbu dapur. Dan tentu saja menyiapkan makanan yang sempurna untuk Raja.

Paman Lucio selalu ceria saat mengantar Annie dan Vega ke sekolah. Meski terkadang Paman Lucio terkena lemparan bantal saat membangunkan dua puteri cantik itu. Namun, Paman Lucio tetap tersenyum sambil terus membujuk Annie dan Vega agar mau ke sekolah.

Paman Lucio bahagia saat Raja mengajaknya keliling desa. Duduk di atas kereta kuda sambil melihat hamparan sawah yang luas. Melihat orang sibuk berlalu lalang sambil membawa hasil panen. Di sisi kiri dan kanan jalan, Paman Lucio melihat hewan ternak yang dijaga sang penggembala.

Paman Lucio bahagia menjadi bagian keluarga Raja Rocco.

***

Besok, Paman Lucio berulang tahun. Ia ingin merayakannya di kampung. Sudah lama ia tidak pulang ke kampung halamannya.

Pagi ini, Paman Lucio berniat mengajukan cuti pada Raja Rocco. Akan tetapi…

“Paman Lucio, bisakah kau membantuku membuat kue besok pagi? Raja menyuruhku membikin 10 kue untuk pesta. Tetapi koki Sary sedang sakit,” pinta koki Milly.

Paman Lucio berpikir sebentar. Ah, aku kan bisa pulang ke rumah siang harinya, batin Paman Lucio.

“Baiklah, koki Milly. Tetapi aku hanya bisa membantumu sebentar. Mungkin hanya dua jam.”

“Baiklah,” koki Milly terlihat kecewa.

Beberapa menit kemudian, Puteri Annie dan Puteri Vega lari tergopoh-gopoh menemui Paman Lucio di kamarnya.

“Paman Lucio, aku butuh bantuanmu. Guru di sekolahku menyuruhku mencari bunga anggrek berwarna ungu di hutan. Bisakah Paman menolongku?” pinta Puteri Annie.

“Kami bisa kena hukuman kalau bunga anggrek itu tidak terkumpul,” kata Puteri Vega.

“Tetapi, Tuan Puteri…,” Paman Lucio ingin mengatakan sesuatu.

“Besok siang Paman Lucio menemaniku mencari bunga anggrek, ya. Aku mohon, Paman. Paman Lucio tidak ingin aku dihukum, kan?” potong Puteri Annie.

“Baiklah Tuan Puteri,” ucap Paman Lucio sambil tersenyum.

“Terima kasih Paman Lucio,” Puteri Annie dan Puteri Vega menahan tawa sambil berlari meninggalkan Paman Lucio.

***

Esoknya, Paman Lucio sudah berada di dapur saat matahari belum muncul. Paman Lucio memisahkan kuning telur dari putihnya. Menimbang tepung, mencairkan mentega, cokelat, dan mencampurnya dengan gula hingga menjadi adonan kue. Keringat Paman Lucio bercucuran.

Ketika Koki Milly datang, ia terkejut melihat adonan kue telah siap.

“Terima kasih, Paman Lucio. Aku tidak menyangka kau akan menyelesaikan adonan kue sebelum aku datang.”

“Kau hanya perlu memanggangnya dan menghiasnya. Aku pergi dulu Koki Milly,” Paman Lucio melambaikan tangan pada Koki Milly.

Paman Lucio bergegas menuju halaman istana. Di sana, Puteri Annie dan Puteri Vega sudah menunggunya. Sayangnya, kereta istana sedang diperbaiki. Jadi, mereka harus ke hutan dengan berjalan kaki. Padahal Paman Lucio sangat capai. Tetapi demi Tuan Puteri, Paman Lucio tetap bersemangat sambil tersenyum. Mereka berjalan kaki menuju hutan. Baru berjalan beberapa meter, Puteri Annie sudah mengeluh. “Paman Lucio, aku lapar.”

Paman Lucio menghentikan langkahnya. Kemudian membuka tas ransel berisi makanan. “Makan dulu, Tuan Puteri.”

Mereka berhenti di bawah pohon. Paman Lucio menghela napas panjang. Ia khawatir tidak bisa pulang kampung hari ini. Pasti keluarga di kampung sudah menungguku, batin Paman Lucio.

Mereka melanjutkan perjalanan. Baru berjalan beberapa langkah, giliran Puteri Vega yang mengeluh. “Aku capai, Paman Lucio. Kita istirahat dulu.”

Puteri Vega duduk di pinggir sungai. Disusul Puteri Annie dan Paman Lucio.

Matahari semakin tinggi. Paman Lucio mengusap keringat di wajahnya. Mereka melanjutkan perjalanan. Sesekali Paman Lucio menggendong puteri kembar itu bergantian.

“Di mana letak bunga anggrek itu, Tuan Puteri?” tanya Paman Lucio.

“Maafkan kami Paman Lucio. Kami lupa. Ternyata bunga anggrek itu ada di Kampung Emilia,” jawab Puteri Annie.

“Oh, tidak masalah Tuan Puteri. Akan kuantar ke sana.”

Tiba-tiba Paman Lucio tertawa. “Kampung Emilia? Itu kampungku, Tuan Puteri.”

Tak lama kemudian, Paman Lucio bersama Puteri Annie dan Puteri Vega tiba di Kampung Emilia. Ketika tiba di halaman rumahnya, Paman Lucio kecewa karena di rumahnya tidak diadakan pesta seperti yang ia duga. Mungkin mereka lupa hari ulang tahunku, batin Paman Lucio sedih.

Paman Lucio mengetuk pintu rumahnya. Tetapi tidak ada jawaban. Perlahan-lahan Paman Lucio membuka pintu. Tiba-tiba…

“Selamat Ulang tahun, Paman Lucio,” teriak seluruh penghuni rumah. Paman Lucio terkejut. Ia semakin terharu karena Raja Rocco juga datang memberikan kejutan. Ternyata 10 kue yang ia bikin pagi tadi bersama koki Milly untuk merayakan ulang tahunnya.

Mata Paman Lucio berkaca-kaca. Ia tidak menyangka jika Puteri Annie dan Puteri Vega telah menyiapkan kejutan manis untuknya. (58)

Advertisements