Saat Hujan Turun ilustrasi Rendra Purnama - Republika
Saat Hujan Turun ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Ika mengeluh waktu melihat layar hp, hampir pukul dua belas. Kesal sudah jelas. Dari pukul sembilan pagi menunggu panggilan untuk diwawancara. Lapar adalah tambahannya. Mengeluh karena terbayang, setelah selesai wawancara tidak bisa membeli apa pun, semangkuk bakso sekalipun. Uangnya tinggal ongkos angkot dan ojek.

Pelamar tinggal dua orang di ruang tunggu. Mungkin Ika giliran dipanggil terakhir. Ah, tapi Ika sudah pasrah. Tanggung bila mengundurkan diri dan pulang. Rasanya tidak akan beda dari hasil lamaran yang kemarin yang minggu lalu yang bulan lalu. Perusahaan banyaknya mencari karyawan yang pengalaman atau yang bergelar sarjana. Mau pengalaman bagaimana, Ika baru lima bulan lalu lulus dari SMK?

Sejak lulus Ika rajin memasukkan lamaran ke setiap perusahaan yang mengumumkan mencari karyawan. Beberapa perusahaan memanggilnya, tapi setelah wawancara tidak ada yang memanggilnya lagi. Ada juga satpam yang berbisik waktu melamar ke sebuah pabrik tekstil. Bila ingin diterima sebenarnya gampang, asal ada buat pelicinnya, lima juta saja, katanya.

Ika tersenyum mendengarnya. Satpam itu tidak tahu, bagi Ika untuk ongkos dan fotokopi segala persyaratan saja tidaklah gampang. Lagipula, bila punya uang pun cara seperti itu pasti dilewatinya. Sejak kecil Umi mengajarkan untuk jujur, sabar, dan bekerja keras. Buat apa bekerja dengan jalan tidak jujur? Lelah dan putus asa tentu saja pernah.

Melamar dan wawancara sudah tidak terhitung seringnya. Suatu hari Ika bilang ke Umi: Mi, Ika kan dari kelas satu SD sudah biasa berkeliling perumahan berjualan gorengan. Bila susah mencari pekerjaan, sudah saja Ika berjualan lagi membantu Umi.

“Hus, jangan bilang begitu. Jangan putus harapan. Belum rejekinya saja bila masih belum dipanggil, kata Umi. Kamu itu lulus sekolah. Sayang bila tidak merasakan bekerja.
Kumpulkan dulu modal. Usaha itu harus punya modal. Bila sudah menyerap ilmu di perusahaan, bila sudah punya bekal, tidak masalah berhenti bekerja dan membuka usaha sendiri.

Ucapan Umi itu yang menjadikan Ika kuat menghadapi kesalnya melamar dan wawancara. Tapi, harus diakui, nasihat Umi tadi sempat kurang mujarab. Ika berpikir untuk pulang saja. Apotek Asri itu perusahaan besar untuk ukuran kota kabupaten, cabangnya ada di tiap kota. Pantas bila pelamar yang datang begitu banyak. Padahal, hanya seorang yang dicari. Tapi, sebelum pulang, hujan turun lebat. Di langit kilat berkelap-kelip, lalu petir berbunyi. Ika ingat nasihat Umi, harus sabar, jangan putus harapan. Kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Bila berdagang, Umi selalu menganjurkan untuk berkeliling sampai gang terakhir.

***

“Ika Kartika,” kata seorang ibu yang dari tadi memanggil pelamar.

Ika berdiri, lalu masuk ke ruangan wawancara. Ika mengangguk dan tersenyum kepada seorang bapak yang setelah menyuruh duduk malah menatapnya. Ika tentu saja salah tingkah. Dia menunduk. Beberapa lama bapak itu tidak juga bicara. Waktu Ika mengangkat lagi wajahnya, mengangguk dan tersenyum, si bapak membalas senyumnya.

“Masih ingat saya?” kata bapak itu kemudian.

Ika terkejut. Dia mencoba mengingat sambil menatap si bapak. Masih muda usianya, mungkin hanya terpaut tiga-empat tahun dengan Ika. Terlalu muda sebenarnya untuk seorang manajer.

“Ingat?” katanya lagi.

Ika menggeleng sambil tersenyum.

“Waktu kecil saya pernah kehujanan di perumahan Ciboled Endah, di bawah pohon kersen.”

Ingatan Ika melayang ke belasan tahun yang lalu. Hujan lebat seperti tadi. Umi meminta Ika dan Teh Ela berjualan.

“Hujan Umi,” kata Ika waktu itu.

“Terpaksa, sayang. Bila tidak keliling, modal kita ada di dagangan.”

Ika ingin protes lagi, tapi Teh Ela menuntunnya. Waktu itu Ika melihat Umi menangis meski sudah berusaha menahannya dengan mengusap air matanya yang berjatuhan. Sementara, Ade dan Emput, adik-adik Ika yang belum sekolah, memandang kedua kakaknya dari pintu. Ika dan Teh Ela berpayung berkeliling perumahan sambil berteriak. Baru dua gang yang terlewati hujan mulai mereda. Tapi, yang membeli gorengan tidak seperti hari-hari biasa. Dagangan masih menumpuk.

Waktu itu Ika sudah kelas satu SD, Teh Ela kelas empat. Setelah Abah meninggal, Umi berjualan gorengan setiap pagi dan sore. Pagi-pagi Umi yang berkeliling. Tapi, sore biasanya Ika dan Teh Ela.

Ghuuu peddaass… bala-bala… kupat… lapis…, kata Ika.

Gehuuu peddaass… bala-bala… kupat…lapis…, kata Teh Ela.

Gang kesepuluh sudah terlewat, tapi yang membeli hanya seorang dua orang. Di belokan ke gang kesebelas, mereka berhenti. Bukan, bukan karena ada pembeli. Tapi, melihat seorang anak lelaki, kira-kira seumur Teh Ela, menggigil kedinginan di bawah pohon kersen. Entah siapa, Ika dan Teh Ela tidak mengenalnya.

“Teh, mengapa anak itu?” kata Ika.

“Sepertinya kedinginan.”

“Lapar mungkin ya.”

“Mungkin juga,” kata Teh Ela sambil menghampiri anak yang berjongkok menggigil itu.

“Mau ke mana, Teh? Kita pulang saja.”

Tapi Teh Ela tidak menghiraukan.

“Mengapa berteduh di sini?” kata Teh Ela. “Rumahnya jauh?”

“Jauh. Malu ikut berteduh di rumah orang,” kata anak lelaki itu sambil tersenyum malu.

Teh Ela memasukkan gehu, bala-bala, dan kupat ke dalam pelastik.

“Ini makan, biar tidak menggigil,” kata Teh Ela memberikan plastik.

“Tidak punya uang.”

“Tidak apa, ini mah ngasih.”

Anak lelaki itu menerima plastik sambil menunduk. “Terima kasih,” katanya pelan.

Gang keduabelas hampir terlewati, tapi yang membeli tidak juga bertambah.

“Teh, kita pulang saja. Jualan waktu hujan ternyata tidak laku,” kata Ika.

“Hus, kita tidak pernah tahu rejeki itu adanya di mana. Tanggung hanya satu gang lagi.”

Ika tersenyum. Pikirnya, Teh Ela sudah seperti Umi. Harus sabar, jujur, dan jangan putus harapan. Begitu biasanya Umi menasihati. Padahal, Umi sendiri bila bersedih, ya menangis seperti tadi.

Ika terpana di gang ketigabelas, gang terakhir, ada yang memanggilnya. Seorang ibu berbincang dengan suaminya tentang oleh-oleh ke acara saudaranya waktu Ika dan Teh Ela menghampirinya. Kata suaminya, borong saja gorengan karena tidak akan ada kesempatan lagi beli yang lain di pinggir jalan. Ika dan Teh Ela bersorak waktu pulang dengan wadah yang kosong. Hujan waktu itu tinggal gerimis.

“Ingat kan sekarang?” kata si bapak lagi. Saya yang berteduh menggigil kedinginan di bawah pohon kersen itu.

“Ika mengangguk sambil tersenyum. Dia kadang mencuri pandang sambil mengingat. Wajahnya memang seperti anak yang dulu itu. Tapi, anak itu kurus, hitam dan kotor. Sementara, si bapak selain bersih, berkemeja dan berdasi, juga badannya lebih berisi.

“Dulu itu saya memang lapar. Dari pagi belum makan, main di sawah, waktu pulang hujan lebat. Tapi, tidak lama setelah peristiwa itu ibu saya pindah. Jadi saya tidak sempat mengucapkan terima kasih. Tapi saya selalu ingat. Sekarang saja saya bilang ke Ika, terima kasih….”

Ika terkejut. Dia tersenyum dan mengangguk sebenarnya sambil menunggu pertanyaan tentang pekerjaan. Tapi ternyata si bapak malah panjang membahas masa kecil, masa sekitar sebelas tahun lalu. Bertanya tentang Teh Ela yang sekarang sudah berumah tangga, mempunyai seorang anak, dan tinggal di Bandung. Titip salam dan titip terima kasih buat Teh Ela. Bertanya juga sebelah mana rumah Ika di perumahan itu.

Tapi sampai azan zhuhur berkumandang tidak satu kata pun pertanyaan tentang pekerjaan. Selanjutnya, bukan menyuruh pulang, tapi malah mengajak keluar. Si ibu yang memanggil pelamar saja memandang heran. “Ini masih saudara,” kata si bapak sambil tersenyum.

***

Makan di gubuk lesehan di rumah makan Saung Nini. Sambil menunggu pesanan, shalat dulu di mushala. Ika terpana memandang makanan yang berjajar di hadapannya.
Ayam goreng, pepes jamur, pepes belut, sayur asem, minumnya jus strowberi. Laparnya tiba-tiba begitu menggila.

“Silakan dimakan. Ini sekadar ucapan terima kasih. Akang selalu ingat peristiwa itu.
Waktu itu selain lapar, kedinginan, juga demam. Tidak sekolah tiga hari. Tapi, Akang merasa bahagia, pernah bertemu dengan Ika dan Teh Ela yang baik.”

Selanjutnya makanan yang terhidang itu diserbu.

Namanya Adri. Kang Adri, begitu dia ingin dipanggil. Baru tiga tahun katanya bekerja di Apotek Asri. Sama lulusan dari SMK. Tapi dipercaya oleh majikannya. Terkejut juga waktu diminta majikannya mengelola apotek baru. Luas sebenarnya tanah apotek itu. Tapi baru depannya saja yang dibangun. Katanya, ke depannya rencana dibuka praktik dokter. Selesai makan, Ika memberanikan diri bertanya mengenai lamarannya.

“Maaf, Kang, saya ingin tahu mengenai lamaran saya,” kata Ika malu-malu.

“Hari Senin sudah bisa memulai bekerja. Akang wawancara itu hanya mencari karyawan yang jujur, mau belajar dan bekerja keras. Khusus untuk Ika, Akang sudah percaya sejak dulu.”

Tentu saja Ika bahagia. Tapi waktu pulang naik angkot, dia termenung. Sungguh aneh hidup ini. Peristiwa dulu, peristiwa sepele sebelas tahun lalu, peristiwa masa kecil, bisa menolong gelisah dan putus asa masa dewasa. Yang terbayang hanya kata-kata Umi yang suka ditiru Teh Ela: “Bila kita baik ke orang lain, artinya bukan sekadar baik ke orang lain, tapi yang utama sebenarnya baik ke diri kita sendiri.”

Terima kasih Umi, Teh Ela, gumam Ika sambil mengusap matanya yang terasa panas.

 

 

Pelangi Pagi hobi menulis sejak SD. Namun, baru beberapa tahun belakangan ini berani mengirimkan karyanya (cerpen, puisi, cerita anak) ke media massa. Belajar dari buku- buku dan ceramah para pengarang. Di antara karyanya sudah dimuat di Indo Pos, Solo Pos, Suara Karya, Nova, Pikiran Rakyat, Banjarmasin Pos, Jembia, dan sebagainya.

 

Advertisements