Hanya Firman Tuhan ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Hanya Firman Tuhan ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

LELAKI yang aku ceritakan kepada kalian ini adalah seorang pemuja Tuhan yang taat. Amat taat. Saking taatnya, sampai-sampai ketika ibunya melakukan transaksi jual beli berlumur kebohongan pun langsung ditegurnya dengan nada keras.

“Jangan suka berbohong jika kau masih ingin kupanggil ibu. Barang buruk tetaplah buruk. Janganlah kautambahi keburukannya dengan kebohongan, yang justru juga akan mengotori mulutmu. Sungguh, Tuhan tidak menyukainya. Demikian pula aku, Ibu,” ujar lelaki ini mencegat kepulangan ibunya di rumah. “Aku rela tak lagi menjadi anak Ibu jika Ibu masih akan melakukannya lagi.”

Lelaki ini benar-benar menepati ucapannya ketika sang ibu tak mengindahkan nasihatnya. Betapapun sang ibu merasa telah dikhianati lantaran setelah si anak sudah bisa cari makan sendiri, ia seperti kacang yang lupa kulitnya. Dengan tegas lelaki ini keluar dari rumah sang ibu dan menghapus statusnya sebagai anak.

***

DALAM pengembaraan hidupnya, lelaki ini merelakan dirinya menjadi kaki dan tangan Tuhan. Sekali ia melihat kemungkaran di jalan, tangannya takkan ragu memukul dan kakinya takkan segan menendang. Ia seperti polisi langit yang diturunkan Tuhan ke Bumi. Hukum-hukum Tuhan takkan bisa ditawar barang sedikit pun darinya. Baginya hitam adalah hitam, dan putih sudah jelas putihnya.

Berjalan waktu, lelaki ini pun kemudian menjadi sosok yang ditakuti oleh para pelaku kemaksiatan. Namanya menjadi ikon pedang Tuhan. Ia juga telah memiliki sejumlah pengikut yang setiap saat siap sedia membela dan berjuang bersamanya, berani mati demi Tuhan.

Tak sedikit pun waktu yang dimiliki lelaki itu tersia-sia tanpa digunakan untuk mengabdi kepada Tuhan. Baginya, jiwa raganya adalah milik Tuhan, yang akan selalu ia gunakan untuk menegakkan perintah Tuhan, meluruskan segala yang bengkok di mata Tuhan, serta mengangkat senjata atas nama Tuhan. Kakinya hanya akan berjalan ke arah perintah Tuhan serta menendang segala yang menghalangi jalan menuju Tuhan. Mulutnya ia jadikan perantara perintah dan larangan Tuhan. Kedua matanya ia jadikan serupa pengawasan Tuhan. Juga telinga. Jika ia melihat atau mendengar segala hal yang menyimpang dari batasan-batasan yang ditetapkan Tuhan, maka ia akan siap bertindak.

Bahkan hatinya pun telah ia serahkan kepada Tuhan.

Pernikahan yang pernah tiga kali ia jalani tak pernah membuatnya benar-benar bisa mencintai seorang perempuan. Cinta sejatinya hanyalah kepada Tuhan. Setiap kali istrinya menampakkan keengganan menjalankan perintah Tuhan dan mengabaikan nasihat-nasihatnya untuk taat kepada Tuhan, ia takkan segan menghadiahinya perceraian.

Begitu pula ketika ia menasihati orang-orang yang datang kepadanya demi untuk meminta nasihat.

“Kalau istrimu hanya menjadi penghalang jalanmu menuju Tuhan, tinggalkan saja ia. Cari yang lain.”

“Juga hartamu. Buat apa kau mengumpulkan benda yang justru akan memperberat langkahmu menuju kebahagiaan abadi? Gunakan semuanya untuk memperlebar jalan menuju Tuhan! Jangan perhitungan dengan Tuhan, sebab semua itu hanya pinjaman. Tuhan akan membalas dengan yang lebih baik! Beda dengan orang-orang kafir itu. Mereka hanya akan mendapatkan bagiannya selama di dunia. Kelak, mereka hanya akan menjadi bahan bakar neraka!”

“Tapi, dalam keyakinan mereka, kita pun dianggapnya kafir, Guru. Kita juga akan menjadi bahan bakarnya neraka,” salah seorang pengikutnya menanggapi.

“Nerakanya siapa?”

“Nerakanya Tuhan mereka, Guru.”

“Ha-ha-ha. Jadi ini hanya soal Tuhannya siapa yang benar-benar Tuhan, kan?”

“Mereka juga menganggap Tuhan kita sebagai berhala, Guru,” tambah si pengikutnya tadi.

“Jadi, sekarang terserah kau! Jika kau percaya dengan mereka, ikutlah! Tapi, jika kau yakin dengan keyakinanmu sekarang, kalau perlu tampar mereka jika berbicara demikian di hadapanmu!”

Kalimat itu bersambut anggukan penuh takzim para pengikutnya.

***

LELAKI ini amat membenci orang-orang yang menyembah Tuhan yang bukan Tuhan yang ia sembah. Baginya, mereka tak lebih dari keledai dungu yang butuh dipukuli jika tak juga mengerti apa yang seharusnya dilakukan.

Misalnya saja ketika ada sekelompok orang “kafir” yang membangun tempat ibadah di tengah-tengah perkampungan para pengikut lelaki kita. Ia takkan segan menyuruh para pengikutnya untuk merobohkan bangunan itu. Betapa pun kericuhan akan terjadi.

“Karena keledai itu memang enggak punya otak. Mereka pasti berpikir kita akan terpengaruh dengan Tuhan mereka. Robohkan saja bangunan itu. Biar para keledai itu berpikir.”

“Mereka pasti akan mengadukannya kepada pemerintah, dan kita lagi-lagi akan dicap sebagai perusuh, Guru.”

“Tak apa-apa dianggap sebagai perusuh oleh manusia. Yang penting di mata Tuhan kita adalah pahlawan.”

Demikianlah keyakinan lelaki ini. Keyakinan yang sudah menyatu dalam sumsum tulang bahkan hingga meresap ke dalam mimpi. Dalam mimpi, lelaki ini justru lebih tegas dan lebih berani. Ia tiada segan menumpahkan darah ribuan nyawa manusia yang dianggapnya telah turun derajat menjadi hewan rendahan lantaran telah mempersekutukan atau bahkan memusuhi Tuhan.

Tapi belakangan, malam tak lagi menjadi waktu yang asyik bagi lelaki ini. Waktu yang biasa ia gunakan untuk bermesra-mesra dengan Tuhan telah teracuni kegelisahan yang bermuara dari sebuah mimpi.

Malam yang khusyuk saat itu. Ia baru saja menyelesaikan ibadah malam yang biasa ia lakukan demi menebalkan rasa cintanya kepada Tuhan. Rembulan termangu. Dedaun tiba-tiba membeku lantaran angin tak berani mengusik. Saat itulah tiba-tiba hadir sebuah suara yang mengaku sebagai Firman Tuhan.

“Aku tidak akan meridaimu selama engkau masih membenci orang lain….”

Sayangnya, lelaki ini terbangun ketika ia berteriak menanyakan siapa si pemilik suara dan apa maksud ucapannya itu. Pikirannya mulai terganggu. Tapi ia tak mau begitu saja memercayai mimpi itu mentah-mentah. Ia curiga mimpi itu adalah ulah Setan yang tak menyukai sepak terjangnya. Dalam sejarahnya, banyak juga orang alim yang bisa disesatkan Setan yang menyaru sebagai Tuhan. Maka lelaki ini pun teguh pada pendiriannya semula. Orang-orang “kafir” dan orang-orang yang enggan melaksanakan perintah Tuhan adalah musuh yang tak layak mendapatkan belas kasih.

Mimpi itu muncul lagi tiga hari berikutnya, dan muncul lagi setiap kelipatan tiga hari berikutnya. Terus saja muncul meski lelaki ini telah membaca doa sebelum tidur, yang kadang dirangkai dengan doa-doa yang ia anggap mujarab untuk mengusir Setan.

Ia terus saja memikirkan mimpi itu hingga akhirnya memilih pindah sejenak, tinggal di tempat sunyi—terpisah dari keramaian—untuk menjernihkan isi kepala. Barangkali saja mimpi itu akan mengendap dengan sendirinya setelah ia terpisah dari hiruk-pikuk tubuh kehidupan. Barangkali.

Tapi mimpi itu tetap mendatangi dan membisikinya dengan kalimat yang sama.

Aku sungguh tak berkenan jika engkau masih memusuhi orang-orang yang tidak memusuhimu….

“Tapi mereka tidak mengambil agama-Mu sebagai pelindung.”

“Tak adakah cara kasih sayang untuk berbicara?”suara agung itu.

Saat itulah tiba-tiba tubuh lelaki ini seperti terjerembap ke dalam sebuah lorong waktu. Di dalam lorong waktu itu, ia melihat berjuta-juta manusia yang tak seagama dengannya, tapi tetap dapat merasakan limpahan cinta kasih Tuhan; sinar matahari, hujan, udara bebas, dan terutama hamparan bumi. Dengan napas tersengal lantaran peristiwa kilat seolah benar-benar telah menyedot raganya, lelaki ini coba mencerna peristiwa barusan.

Bahkan hingga ia terbangun dari mimpi, pikiran itu tak pernah dilepaskannya.

Ia merasa ada yang salah dengan mimpi itu. Ia merasa ingin terus bercakap dengan suara yang mengaku Firman Tuhan itu. Ia ingin mendebat kalimat yang selama ini terus menguntit mimpi-mimpinya itu.

Hingga akhirnya kesempatan itu datanglah.

“Aku tak akan memperkenankan surgaku untukmu jika kau masih menyimpan kebencian dalam dada.

“Ah, kau kan hanya Firman Tuhan. Bukan kau pemilik surga,” lelaki ini akhirnya bisa membantah dengan nada nyinyir sebelum kemudian buru-buru bangun dari mimpi.

Dan ia berjanji tak akan kapok untuk selalu mendebat Setan yang mengaku-aku sebagai Firman Tuhan dalam mimpinya itu. Tak akan.

***

Advertisements