Gubernur Gobal Gabul ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia
Gubernur Gobal Gabul ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

GUBERNUR Gobal Gabul sangat popular, karena wajahnya tampan, tubuhnya gagah dan jujur. Dia punya semboyan: Jangan korupsi dan jangan dusta. Semboyan itu tertera di kaos dan topi yang dipakai banyak orang. Semboyan itu seperti mantra politik yang kemudian dipakai untuk kampanye pemilihan gubernur sehingga menyihir mayoritas rakyat untuk bersedia memilihnya.

Banyak perempuan terpesona oleh ketampanannya. Karena itu, setiap dia bertemu banyak perempuan, selalu menimbulkan kegaduhan. Banyak perempuan berteriak histeris.

“Mas Gobal Gabul, mari selfie bersama kami!”

“Mas Gobal Gabul, mari mampir di rumah kami!”

“Mas Gubernur ganteng deh!”

“Mas Gubernur gagah yee!”

Dia gembira sekali menjadi idola kaum perempuan. Karena itu, istrinya sering cemburu. Setiap kali dia menginap di luar kota, istrinya akan sering menelepon memperlihatkan rasa cemburunya. “Hati-hati, jaga diri. Jangan sampai celaka.”

Dia sangat bersyukur punya istri yang suka cemburu. Sebab, istri demikian suka bersolek, penuh perhatian dan romantis. Istrinya juga punya gairah yang besar sehingga sering mengambil inisiatif untuk bermesraan. Sepertinya gairah istrinya tak pernah padam. Untungnya, dia juga punya gairah yang besar sehingga selalu mampu mengimbanginya. Betapa hidupnya terasa selalu bahagia. Betapa wajahnya selalu tersenyum ceria.

Namun, dia mendadak murung dan berkeringat dingin sejak dirinya diisukan terlibat kasus korupsi berjemaah yang terjadi ketika dirinya masih duduk sebagai wakil rakyat. Banyak orang dan juga wartawan yang semula suka memandangnya dengan tersenyum kini berubah mencurigainya. Bahkan istrinya juga tampak mencurigainya dan ikut-ikutan murung.

Isu itu betul-betul memukulnya. Meski sejumlah tokoh penting mengaku tidak percaya bahwa dirinya terlibat kasus korupsi berjemaah, tetap saja hal itu tidak bisa menghiburnya.

Dia berpikir keras, bagaimana caranya meredam isu itu, setidaknya agar dirinya tidak semakin terpuruk. Sejak diterpa isu itu, gairahnya di depan istri selalu padam. Dirinya seperti wayang tanpa gapit, lembek.

“Kamu harus segera melakukan ikhtiar, agar kembali normal,” bisik istrinya sambil menangis, sehabis gagal membuatnya bergairah lagi.

Dia menatap langit-langit kamarnya dengan mata berkaca-kaca. Kini, dirinya tiba-tiba teringat spanduk yang pernah diusung mahasiswa dalam aksi unjuk rasa memperingati Hari tanpa Korupsi, yang berisi kalimat sindiran: Korupsi bisa mengakibatkan impotensi, gangguan jantung dan merusak keturunan.

Kini, kalimat sindiran itu betul-betul menusuk hatinya. Perih sekali rasanya. Di puncak perih hatinya, tiba-tiba dia teringat saran seorang rekannya yang pernah terlibat korupsi. “Segera menemui pemuka-pemuka agama. Mintalah mereka untuk mendoakan kita agar selalu sehat dan selamat.”

Esoknya, dia segera berangkat ke pondok pesantren besar di sebuah kota. Pimpinan pondok itu terkenal sebagai ulama karismatik. Siapa saja yang datang bersalaman dan mencium tangan sang ulama karismatik akan memperoleh berkah. Begitu keyakinan yang beredar luas.

Menjelang siang, dia tiba di pondok pesantren. Sang ulama karismatik menyambutnya dengan ramah. Dia menyalaminya dan mencium tangannya. Pada saat itulah, doa meluncur dari celah bibir sang ulama karismatik: “Semoga kita mendapat berkah, sehat dan selamat dunia akhirat.”

Hatinya lega begitu mendengar doa itu. Kata ‘amin’ diucapkannya tiga kali dengan mantap. Lalu, setelah berbincang ngalor-ngidul dengan sang ulama karismatik, dia tiba-tiba dipaksa sejumlah wartawan untuk menyampaikan pernyataan resmi terkait dengan isu dirinya terlibat kasus korupsi berjemaah.

Wajahnya mendadak terlihat muram. Bahkan di mata para wartawan, wajahnya tampak pucat pasi dan keringat bercucuran, padahal saat itu udara cukup dingin sehabis disiram hujan berjam-jam.

Dengan wajah muram, dia menyampaikan pernyataan resmi yang langsung disiarkan di media. “Saya berani bersumpah, saya tidak terlibat korupsi berjemaah. Tapi saya akan mengikuti proses persidangan karena saya mematuhi hukum yang berlaku.”

Setelah memberikan pernyataan resmi, dia sadar bahwa pasti akan ada banyak pihak yang tidak memercayainya. Bahkan, dirinya menduga, akan segera muncul aksi unjuk rasa sejumlah elemen massa yang mendesak dirinya segera ditahan dan mundur dari jabatannya.

Dugaannya terbukti. Menjelang sore, di pusat kota provinsi yang dipimpinnya, muncul aksi unjuk rasa. Mereka mendesaknya segera mundur dari jabatannya dan mendesak aparat penegak hukum segera menahannya. Berita tentang aksi itu beredar di Whatsapp dan langsung dilihatnya dengan mata basah. Dibayangkannya hari-hari selanjutnya akan semakin banyak bermunculan aksi-aksi serupa di sejumlah kota.

Cepat atau lambat, sebagai kader partai mungkin dia akan dipecat karena partainya memberlakukan kebijakan bahwa setiap kader yang diduga terlibat korupsi akan diberhentikan sampai dugaan itu terbukti tidak betul.

Dia pulang ke rumah dengan wajah muram, pucat pasi, dan tubuh loyo. Begitu masuk kamar, langsung ambruk di atas tempat tidur. Istrinya salah tingkah ketika menyambutnya. Istrinya seperti merasa jijik melihatnya. Tapi itu hanya berlangsung sebentar saja. Istrinya segera menyusulnya ke kamar dan langsung menangis sambil mengelus-elus dadanya, lalu membuka kancing bajunya. Air mata istrinya menetes deras ketika berbisik lembut: “Sabar, Mas. Kuatkan dirimu. Besok kamu harus kembali menemui ulama karismatik lain agar didoakan sehat dan selamat.”

Esoknya, pagi-pagi sekali dia berangkat menuju pondok pesantren di pesisir utara untuk menemui ulama karismatik. Istrinya menyertainya. Istrinya ingin menunjukkan kesetiaan kepada semua orang. Istrinya ingin dianggap sebagai perempuan yang tegar dan mampu mendampingi suami ketika sedang diterpa isu dahsyat.

Sejumlah wartawan tampak kagum melihat dia ditemani sang istri. Lantas mereka sepakat membuat berita bahwa istrinya adalah perempuan yang tergolong hebat, karena tidak mudah ambruk melihat suami diterpa isu dahsyat. Berita itu segera tersiar.

Banyak orang berkomentar bahwa dia beruntung punya istri yang cantik dan berjiwa tegar. Padahal, sesungguhnya, perempuan itu hatinya juga hancur sejak mendengar isu suaminya terlibat korupsi berjemaah. Perempuan itu terlihat tegar semata-mata agar suaminya tidak ambruk dan terpuruk selamanya.

***

Setiba di pondok pesantren di pesisir utara itu, ulama karismatik yang hendak ditemuinya sedang jatuh sakit dan harus segera dilarikan ke rumah sakit. Ulama itu pingsan. Dokter yang menolongnya menduga, sang ulama mengalami serangan jantung. Tapi banyak orang menduga sang ulama jatuh sakit karena tidak mau bertemu dengan pejabat.

Dia tampak lemas setelah gagal bertemu ulama karismatik itu. Istrinya tampak lesu. Dalam perjalanan pulang, dia tertidur di samping istrinya. Istrinya tampak mengantuk tapi berusaha untuk tidak tidur. Setiba di rumah, dia masih tertidur pulas. Istrinya terpaksa membangunkannya.

“Mas, ayo turun,” bisik istrinya.

Dia tersentak bangun dari tidurnya. Tapi tatapan matanya tiba-tiba terlihat hampa. Sekujur tubuhnya tiba-tiba tak bertenaga.

Melihatnya tak berdaya, istrinya tak bisa menahan tangis. Istrinya menangis meraung-raung, hingga membuatnya tersentak bangun dari mimpi buruknya.

“Ya Tuhan, mimpiku buruk sekali,” gumamnya sambil melirik istrinya yang sedang mendengkur di sampingnya.

 

2017

Maria Magdalena Bhoernomo, pengarang kelahiran Kudus, Jawa Tengah, 1962. Karya-karyanya dalam bahasa Indonesia dan Jawa dipublikasikan di sejumlah media.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

Advertisements