Kisah Cinta dan Anjing Betina ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Kisah Cinta dan Anjing Betina ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Ketika aku berdiri di tepi perlimaan jalan, seekor anjing betina tiba-tiba datang dari seberang gang dan menjilat tanganku. Aku terjingkat. Spontan kuhantam mulut anjing itu. Anjing itu terpelanting ke got. Ia tampak menjulur-julurkan lidahnya dan menatapku dengan pandangan sayu. Melihat tatapannya yang begitu, aku terharu, sungguh iba dan akhirnya menyerah. Kuhampiri anjing itu. Kuelus kepalanya. Kuangkat tubuhnya yang kotor dan yakinlah aku bahwa ia termasuk golongan anjing gelandangan. Sejak itu kuputuskan si anjing menjadi milikku.

Pagi pertama anjing itu menginap di rumah kontrakanku, ia langsung membawa musibah buruk. Kejadian itu bermula ketika ia menggigit anak tetangga sebelah rumah. Terang saja si bapak anak itu langsung melabrakku. Ia memaki-maki tak jelas. Lebih tepatnya, aku tak betul menangkap serbuan serapahnya, sebab terus terang, aku masih mengantuk. Kendati begitu, kalimat terakhir yang sempat tersangkut di kupingku ialah ancaman: “Jika tidak kau buang anjing itu, akan kulaporkan ke polisi.”

Aku lekas mandi untuk membilas sisa kantukku. Setelah mandi, hal pertama yang aku pikirkan adalah membeli rantai. Sebetulnya, anjing betinaku  bukan termasuk golongan anjing galak. Aku yakin, anak tetanggaku itu pasti telah melemparnya dengan batu atau mengganggu dengan kayu, sehingga anjingku yang tak tahu perihal pentingnya kesabaran itu mengamuk. Untuk itu aku berdoa, moga-moga anak tetanggaku yang sudah digigit anjing betinaku terkena penyakit ganas dan segera modar. Tapi, sebelum doaku dikabulkan oleh Tuhan Maha Pemurah, ada baiknya aku beli rantai.

Setelah rantai kubeli, hal buruk kedua yang menimpaku adalah saat pacarku datang. Ketika membuka pagar rumah itu, pacarku langsung menjerit histeris. Rupanya, anjing betinaku yang dikagetkan derit roda pagar itu spontan menggonggong. Pacarku berteriak sekuat tenaga. Anjing betinaku juga menggonggong sekuatnya. Suara pacarku yang beradu dengan gonggongan anjing betinaku sungguh mengerikan. Andaikata rumahku adalah balon, sudah tentu akan meledak. Untung gendang telingaku tidak rusak. Tanpa ampun, pacarku langsung melabrakku. Kami tidak sempat berciuman seperti biasa ketika ia menyusup ke kamarku. Sarungku ia gelandang dan aku hampir terjerungup. Pacarku lalu menyeret aku ke hadapan anjing betinaku, lalu membentak: “Buaaang!!!”

Melihat aku digelandang pacarku, anjing betinaku tampak berontak. Anjing yang telah kurantai itu menggonggong dan melonjak-lonjak ingin menerkam pacarku. Aku tenangkan anjing betinaku. Aku bujuk pacarku. Tapi keduanya tetap teguh dengan pendirian mereka. Kenapa pacarku dan anjing betinaku sama-sama keras kepala. Tidakkah lebih enak, kalau misalnya, mereka berdamai saja dan kami pergi ke pantai bersama.

Aku bujuk lagi pacarku tapi ia ngotot agar aku membuang anjing betinaku. Aku tenangkan anjingku, tapi apalah daya, si anjing tak sepenuhnya mengerti kata-kataku. Masalah bertambah gawat, ketika tetanggaku datang dan mengadukan bahwa tangan anaknya bengkak. Tetanggaku memastikan anaknya terjangkit rabies. Dalam hati aku sungguh sangat bersyukur.

Mendengar pengaduan itu, pacarku menjambak rambutku. Ia mengancam aku supaya memilih dua hal yang amat sulit: putus dengan dia atau mencampakkan anjing betinaku.

Melihat aku kian terpojok, anjingku berangsur tenang. Hanya lidahnya yang menjulur lemah seirama napasnya. Meski begitu, tetanggaku terus mengancam akan melaporkan aku ke polisi. Pacarku mengancam agar aku segera memberi jawaban. Sebelum kedua ancaman ini kutanggapi, tetangga yang lain datang membawa Pak RW beserta hansip dan Pak Modin.

Merasa semakin terpojok, aku terpaksa diam.

Mereka saling memberi saran. Tetanggaku yang anaknya digigit anjingku tetap ngotot agar aku berurusan dengan polisi. Tapi, demi kerukunan antar warga, Pak Modin menyarankan agar kami berdamai dan aku merelakan anjing betinaku dibuang. Si hansip menambahkan, suapaya dia saja yang mengamankan anjing betinaku. Pacarku setuju dengan usulan Pak Modin maupun hansip itu. Aku tahu, hansip semprul itu sebetulnya ingin membuat rica-rica anjing untuk pesta waktu ronda. Tapi, sekali lagi, aku hanya diam. Tetanggaku yang tadi datang membawa Pak Modin, Pak RW, dan hansip hanya mengangguk saja. Pak RW yang kebingungan karena aku hanya diam, tiba-tiba punya pikiran mengejutkan, “Anjingmu bisa jadi berkah kampung ini.”

“Maksud, Bapak?” sahut si hansip.

“Itu urusanku. Sekarang, kalian pulanglah dengan damai.”

Pak Modin, hansip, dan dua tetangga yang taat dengan instruksi Pak RW segera beranjak pulang. Meski begitu, si  tetangga bangsat yang anaknya digigit anjingku masih sempat menuding wajahku dan kembali memekikkan satu kata yang menjengkelkan ini: “Polisi!”

Pacarku tak mengerti apa maksud Pak RW. Ia hanya bengong melihat Pak RW mengelus-elus kepala anjing betinaku. Anjing itu menurut saja. Setelah itu, Pak RW pun pamit, menjabat tanganku, dan membisikkan beberapa kalimat ke kupingku.

Pak RW pun pergi dengan senyum misterius. Sementara pacarku segera bertanya, apa yang telah dibisikkan Pak RW. Dengan jujur kukatakan kalau bisikan Pak RW tidak jelas kudengar sebab kumisnya membuat kupingku geli. Aku berkata sungguh-sungguh, tapi pacarku tak percaya. Ia bahkan curiga aku telah bersekongkol dengan Pak RW. Alhasil, pacarku pun pergi dan mantap memutuskan hubungan kami sampai di sini.

Pacarku telah pergi dan tak akan kembali.

Ketahuilah, aku sungguh tak menyesal dengan keputusan pacarku andai saja ia tak berlaku seperti depkolektor dan menyita motorku sebagai ganti rugi. Motor itu ia bawa sebab memang separuh uangnya kupakai untuk mengontrak rumah ini.

Kini tinggal aku dan anjing betinaku.

Aku dekati anjing itu dan kuelus kepalanya. Amat lembut ia menjilati jemariku seperti ingin melipur lara. Alamak, semprul betul hati manusia yang rawan dilanda melankolia. Entah mengapa tiba-tiba selubung keharuan tebal menaungiku. Belum tuntas keharuan ini kuhikmati, Pak RW datang lagi membonceng lelaki bertopi. Lelaki itu memakai sepatu bot, membawa ransel berat, dan berkalung kamera.

“Ini anjing misterius itu, Bung,” kata Pak RW sambil mengelus anjingku.

Orang yang dipanggil bung itu jongkok dan mengamati anjing betinaku dari kepala sampai keempat ujung kakinya: “Apa yang aneh dari anjing ini, Pak?”

“Lho, Bung ingat, ketika Syeikh Siti Jenar dipancung dulu jenazahnya jadi apa?”

“Kabarnya sih jadi anjing. Tapi….”

“Nah, kenapa pakai tapi? Tinggal diatur, kan, Bung?”

“Maksud Bapak?”

“Astaga, masak Bung tak mengerti?”

“Maksud Bapak?”

Si Bung yang tampak bingung itu melirik ke arahku, tapi aku tetap bungkam sambil mengelus-elus kepala anjing betinaku.

“Sampean wartawan, kan?”

“Bukan. Saya tukang potret pengantin, Pak.”

“Semprul!!!” pekik Pak RW.

Kami serempak tertawa. Tapi, sebelum habis tawa kami, tiba-tiba anjing betinaku bangkit dan menggonggong ke arahku, ke tukang foto itu, lalu melonjak berdiri dan menggonggong keras ke wajah Pak RW.

Si tukang foto yang rupanya cukup cekatan itu memotretnya, tepat pada gonggongan yang ketiga.

 

 

A. Muttaqin lahir di Gresik dan tinggal di Surabaya. Ia mengarang puisi dan cerita pendek. Buku puisinya yang telah terbit, antara lain, Pembuangan Phoenix (2010), Tetralogi Kerucut (2014), dan Dari Tukang Kayu Sampai Tarekat Lembu (2015).

Advertisements