Cerpen A. Muttaqin (Koran Tempo, 01-02 April 2017)

Kisah Cinta dan Anjing Betina ilustrasi Imam Yunni - Koran Tempo
Kisah Cinta dan Anjing Betina ilustrasi Imam Yunni/Koran Tempo

Ketika aku berdiri di tepi perlimaan jalan, seekor anjing betina tiba-tiba datang dari seberang gang dan menjilat tanganku. Aku terjingkat. Spontan kuhantam mulut anjing itu. Anjing itu terpelanting ke got. Ia tampak menjulur-julurkan lidahnya dan menatapku dengan pandangan sayu. Melihat tatapannya yang begitu, aku terharu, sungguh iba dan akhirnya menyerah. Kuhampiri anjing itu. Kuelus kepalanya. Kuangkat tubuhnya yang kotor dan yakinlah aku bahwa ia termasuk golongan anjing gelandangan. Sejak itu kuputuskan si anjing menjadi milikku.

Pagi pertama anjing itu menginap di rumah kontrakanku, ia langsung membawa musibah buruk. Kejadian itu bermula ketika ia menggigit anak tetangga sebelah rumah. Terang saja si bapak anak itu langsung melabrakku. Ia memaki-maki tak jelas. Lebih tepatnya, aku tak betul menangkap serbuan serapahnya, sebab terus terang, aku masih mengantuk. Kendati begitu, kalimat terakhir yang sempat tersangkut di kupingku ialah ancaman: “Jika tidak kau buang anjing itu, akan kulaporkan ke polisi.”

Aku lekas mandi untuk membilas sisa kantukku. Setelah mandi, hal pertama yang aku pikirkan adalah membeli rantai. Sebetulnya, anjing betinaku  bukan termasuk golongan anjing galak. Aku yakin, anak tetanggaku itu pasti telah melemparnya dengan batu atau mengganggu dengan kayu, sehingga anjingku yang tak tahu perihal pentingnya kesabaran itu mengamuk. Untuk itu aku berdoa, moga-moga anak tetanggaku yang sudah digigit anjing betinaku terkena penyakit ganas dan segera modar. Tapi, sebelum doaku dikabulkan oleh Tuhan Maha Pemurah, ada baiknya aku beli rantai.

Setelah rantai kubeli, hal buruk kedua yang menimpaku adalah saat pacarku datang. Ketika membuka pagar rumah itu, pacarku langsung menjerit histeris. Rupanya, anjing betinaku yang dikagetkan derit roda pagar itu spontan menggonggong. Pacarku berteriak sekuat tenaga. Anjing betinaku juga menggonggong sekuatnya. Suara pacarku yang beradu dengan gonggongan anjing betinaku sungguh mengerikan. Andaikata rumahku adalah balon, sudah tentu akan meledak. Untung gendang telingaku tidak rusak. Tanpa ampun, pacarku langsung melabrakku. Kami tidak sempat berciuman seperti biasa ketika ia menyusup ke kamarku. Sarungku ia gelandang dan aku hampir terjerungup. Pacarku lalu menyeret aku ke hadapan anjing betinaku, lalu membentak: “Buaaang!!!”

Advertisements