Tarian Sufi ilustrasi Yudixtag - Tribun Jabar
Tarian Sufi ilustrasi Yudixtag/Tribun Jabar

TAK ingin menenggak anggur merah di minibar kamar hotel, atau memesan kopi di kafe dengan pertunjukan musik jazz, Wisnu meninggalkan lobi. Berjalan melintasi taman. Menghampiri sopir taksi. Minta diantar ke kedai kopi. Lima menit melaju, sopir taksi membawanya ke sebuah kedai kopi sederhana. Kedai itu dibuka di pelataran rumah pinggir kota. Kursi dan meja diatur rapi di pelataran yang luas berhawa dingin pinggir kota berbatasan dengan pegunungan. Beberapa orang ngobrol menghadapi cangkir kopi, teh poci, wedang jahe atau wedang uwuh. Sopir taksi itu memperkenalkannya dengan pemilik kedai, Pak Jo, lelaki pensiunan wartawan yang pernah bertugas sembilan tahun di Aceh. Dia sangat cekatan dan memikat menuang berulang-ulang kopi tarik, meracik wedang jahe gula batu, atau menyeduh wedang uwuh.

Wajah Pak Jo berewok, mata tajam di balik kacamatanya, rambut ikal sedikit botak. “Anda wartawan? Bukan? Oh, pilot. Wah, ini tamu kehormatan saya. Pesan apa? Kopi hitam? Tidak? Kopi tarik. Baik. Makanan? Ada pisang goreng, singkong goreng, tempe goreng, tahu petis. Pesan satu porsi pisang goreng? Tunggu sebentar. Di sudut, di bawah pohon jambu, masih ada kursi kosong untuk dua orang.”

Belum lama Wisnu duduk, ditinggal sopir taksi yang akan menjemputnya nanti malam, seorang gadis menghampiri, mohon diperkenankan duduk di hadapannya. Kursi kosong tinggal satu, di depan Wisnu. Bukan gadis pribumi. Wisnu segera mengenali gadis itu berasal dari Turki: postur tubuh, kulit, mata, garis hidung, lekuk bibir, dan dagunya mengisahkan asal-usulnya. Tiap kali mendarat di Bandar Udara Esenboga, utara kota Ankara, ia senantiasa bersua gadis-gadis berpostur tubuh serupa itu menuruni tangga pesawatnya.

“Boleh duduk di sini?” gadis itu memohon kepada Wisnu. Lelaki muda itu tak mungkin menolak. Ia mengangguk. Menghilangkan kesan terkesima. Sekilas ia memperhatikan desain henna setangkai bunga di kedua punggung tangan gadis Turki yang ditangkupkan di atas meja.

“Kuliah di sini? Bukan? Bekerja?”

“Saya guru di sekolah internasional yang didanai sebuah yayasan dari Turki, tak jauh dari kedai ini.”

Kopi tarik pesanan Wisnu diantar ke meja bersamaan dengan kopi hitam pesanan Alya Fainah, gadis Turki itu. Berikut seporsi pisang goreng panas. Cecapan busa lembut di permukaan gelas kopi tarik itu telah menggoda ujung lidah Wisnu.

“Kerasan tinggal di sini?”

“Tentu. Ini tahun ketiga saya berada di kota ini,” kata Alya. “Sesekali memang saya teringat Nevsehir, daerah kelahiran saya, berpanorama menawan, dengan kerajinan karpet, keramik, dan anggur.”

“O, ya? Saya pernah singgah di Nevsehir, menikmati wisata balon udara.”

“Saya sedang berpikir untuk tetap tinggal di negeri ini,” Alya berhenti sejenak, mencecap kopi pesanannya. “Kalau saja ada lelaki negeri ini yang berkenan menikahi saya, tentu saya akan senang.”

Alya berkisah tentang calon suaminya, seorang militer, yang ditangkap pemerintah Turki lantaran dituduh turut melakukan kudeta. Urunglah rencana mereka untuk menikah. Bahkan kekasihnya berpesan agar Alya tak buru-buru pulang ke Turki. Sekolah internasional tempat Alya mengajar didirikan yayasan milik tokoh yang dianggap dalang kudeta, tinggal di Pennsylvania. Alya tak mungkin pulang ke negeri leluhurnya. Tiap kali ia kangen kepada ayah dan kekasihnya, yang gemar minum kopi, ia berkunjung ke kedai ini seorang diri. Berbincang-bincang dengan orang-orang yang ditemuinya sebagai teman duduk. Sekolah internasional tempatnya mengajar tak jauh dari kedai kopi. Ia akan dijemput taksi bila selesai minum.

“Kau sedang menanti seseorang?” tanya Alya.

“Aku sedang membunuh sepi. Bosan tinggal di hotel. Sopir taksi membawaku ke kedai kopi ini.”

Alya banyak bercerita tentang kegiatannya sebagai seorang penari Mawlaw’iyya, tarian sufi yang berputar sebagai bentuk zikir. Ia pengagum Jalaludin Rumi, sering mementaskan tarian sema justru ketika jauh dari negerinya.

“Besok pagi di hotel tempatmu menginap, kami mempergelarkan tari sema, bersama dengan penari-penari pribumi.”

Wisnu menginap di hotel itu memang untuk menonton tari sema. Alya lebih dulu meninggalkan Wisnu. Taksi yang menjemputnya sudah menanti. Ia menenggak sisa kopi pada gelasnya. Berpamitan, membayar, dan berlari kecil ke arah taksinya. Gadis Turki itu sempat melambai ke arah Wisnu. Sepasang matanya bulat, jernih, dan memancarkan renungan.

Wisnu masih termangu di bawah pohon jambu, sendirian, mencecap pelan-pelan kopi tarik tanpa sisa. Ia tak ingin mengunjungi Dewi Laksmi. Besok pagi ia akan bersua calon istrinya itu, yang akan menari sufi di ruang pertunjukan hotel tempatnya menginap.

***

TARIAN sufi di ruang pertunjukan hotel menampilkan para penari perempuan Turki dan penari setempat. Wisnu menikmati tarian itu, pada pagi hari, dalam hening. Ada sembilan penari. Wisnu tak pernah bisa menerka, manakah Dewi Laksmi, calon istrinya, yang menari di antara para penari sufi, berbaju serbaputih yang mengembang serupa kelopak bunga mawar rekah, lantaran para penari itu berputar, berlawanan arah putaran jam, dengan tangan terentang sebahu, tengadah, telapak tangan terbuka. Putaran para penari sufi itu begitu tenang, hening, menghanyutkan diiringi petikan lute yang menyusup ke relung jiwa.

Alangkah berbedanya tarian sufi dengan tari perut yang pernah disaksikan Wisnu di kelab malam Kairo, diiringi darbuka, lute, fiolin, dan tambolin dengan nada yang sama. Yang menggetarkan perasaannya kali ini tubuh penari sufi yang berputar itu memberinya ketenangan, keindahan, penerimaan, dalam kesenyapan zikir, kain yang berkibas mengembang, dan sepasang mata yang terjaga. Tidak terpejam, seperti yang disangka Wisnu. Ia menjadi malu dengan diri sendiri, pernah menonton tari perut di kelab malam Kairo, diam-diam, seorang diri, dan baru pulang ke hotel menjelang dini hari dengan kegelisahan seorang lelaki muda.

Tarian sufi inilah yang membuat Wisnu mendesir-desir di dalam dadanya, menyentak-nyentak erat nadinya. Ketika tarian itu selesai, ia belum bisa bangkit dari tempat duduknya. Masih terpaku: ingin kembali menyaksikan tarian dari awal mula. Ingin dirasuki petikan lute.

***

DI ruang ganti pakaian, Dewi Laksmi masih menyungging senyum, merasakan ketenteraman dan kegairahan selesai menari sufi. Dewi Laksmi buru-buru menemui Alya, yang selama ini mengajarinya menari sufi. Alya takjub pada Dewi Laksmi yang sangat cepat menyerap gerak tari sufi, dan bisa menghayatinya seperti menenggelamkan seluruh jiwanya dalam zikir memutar berlawanan arah jarum jam.

Lelaki semacam apakah yang bisa menerima Dewi Laksmi, seorang penari yang senantiasa terus mengeksplorasi tubuhnya untuk menari?

“Semalam saya bertemu seorang jejaka menawan di kedai kopi,” kata Alya. “Rasanya aku tertarik padanya. Tentu, kalau kau bersua dengannya, juga akan jatuh hati.”

“Aku sudah punya calon suami, Alya.”

“Siapa tahu, kau akan berubah pikiran.”

“Apa kau serius akan menikah dengan lalaki pribumi?”

“Aku tak mungkin pulang ke negeriku. Aku akan ditangkap. Kekasihku juga sudah ditangkap dan dipenjara. Tolong, carikan aku seorang kekasih.”

“Bukankah semalam kau sudah menemukan lelaki itu?”

Alya merenung. Tersenyum jenaka. “Lelaki di kedai kopi itu tak mungkin kutemukan lagi. Ia seorang lelaki yang suka bepergian ke mana-mana. Ia cerita pernah mengunjungi daerah kelahiranku, Nevsehir. Rupanya, ia seorang pengembara yang suka melakukan perjalanan jauh.”

Dewi Laksmi menarik tangan Alya, untuk mempertemukan gadis itu dengan calon suaminya. Alya bergegas ingin segera bertemu lelaki itu. Tetapi begitu ia melihat pemuda itu, lututnya bergetar. Ia telah mengenal lelaki muda itu semalam, dalam pertemuan yang tak diduganya di kedai kopi. Alya tak ingin tampak canggung. Ia menahan diri dan tak ingin mengecewakan Dewi Laksmi, dengan mengatakan mereka sudah bertemu semalam.

“Oh, kau sangat beruntung memiliki calon suami dia,” kata Alya, menahan diri dari rasa takjub. Ia tak ingin kelihatan canggung di depan Wisnu, dan segera beranjak meninggalkan ruang pertunjukan hotel. Para penari sufi dan penonton sudah meninggalkan ruang pertunjukan, yang kini kian senyap.

“Kasihan Alya. Ia tak bisa pulang ke negaranya. Ia tak ingin ditangkap pemerintahnya. Ia ingin disunting pemuda pribumi.”

“Mudah-mudahan ia segera menemukan jodohnya,” ujar Wisnu, yang siang itu segera meninggalkan Dewi Laksmi. Ia mesti kembali ke bandara, kembali membawa pesawat dalam penerbangan-penerbangan jauh, negeri-negeri yang kebanyakan belum pernah dikunjungi Dewi Laksmi. Dewi Laksmi mencari Alya yang dikaguminya sebagai penari sufi paling sempurna. Alya selalu berkata, “Tarian sufi menyelamatkan jiwaku dari kegundahan.”

Dewi Laksmi tak menemukan gadis Turki itu. Mungkin Alya sudah kembali ke asrama sekolah internasional.

***

TAKSI yang ditumpangi Wisnu meninggalkan hotel. Ia mesti ke bandara, dan meminta sopir taksi untuk melintasi kedai kopi. Taksi melambat. Wisnu seperti ingin mengenang pertemuannya dengan Alya, penari sufi, duduk berhadap-hadapan mencecap kopi dan makan pisang goreng panas. Semalam gadis penari sufi itu tampak sangat murni. Dalam senyap malam, gadis itu seorang diri mengunjungi kedai, hanya untuk minum kopi seperti kegemaran ayah dan kekasihnya. Sepertinya penari sufi itu sangat dalam mengenang ayah dan kekasihnya yang jauh, yang tak mungkin ditemuinya kembali.

Kini Wisnu mulai memahami, tarian sufi dan kedai kopi itu telah menyelamatkan kegundahan jiwa Alya. Dari kaca belakang taksi yang ditumpanginya, ia melihat gadis itu menghentikan taksi yang ditumpanginya di depan kedai kopi yang kosong. Membiarkan kaca belakang terbuka.

Alya memandangi meja dan kursi kosong di bawah pohon jambu, tempat ia semalam duduk mencecap kopi bersama Wisnu, sambil berbincang-bincang. Ia lirih membisikkan sepenggal bait puisi Rumi: “Mari ke kedai minuman, sahabat tercinta/melihat kegembiraan jiwa/Ketika kekasih tak bersamaku kudapati hidup tanpa riang.”

***

 

Pandana Merdeka, Januari 201

S. Prasetyo Utomo, lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Semarang (Unnes) 1987. Menyelesaikan program pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surakarta (2010). Menempuh program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes. Bekerja sebagai dosen di Universitas PGRI Semarang. Sejak 1983 ia menulis cerpen, esai sastra, puisi, novel dan artikel di Horison, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, dll.

Advertisements