Cerpen Sungging Raga (Media Indonesia, 12 Maret 2017)

Cirahayu ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg
Cirahayu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

APAKAH hidup sejatinya adalah lorong-lorong waktu?

Aku masih duduk dalam kereta api Malabar dari Bandung dengan tujuan akhir Malang. Baru saja berlalu sebuah stasiun kecil bernama Cirahayu. Stasiun di tepi bukit itu memiliki bentuk peron mengikuti jalur rel yang menikung. Stasiun yang sepi. Hanya ada dua petugas. Dan, kereta tidak berhenti.

“Ada kisah tragis tentang stasiun Cirahayu,” ucapmu yang semenjak awal perjalanan duduk di hadapanku.

Aku nyaris lupa bahwa sebetulnya kita sedang berbincang, meski diselingi oleh hal-hal lain seperti membuka bungkus biskuit, melihat keluar jendela, atau pamit ke toilet.

“Kisah tragis?” tanyaku. Sebenarnya bukan karena tertarik. Aku bahkan tidak ingat kau bicara tentang apa sebelumnya.

“Ya. Dulunya, stasiun itu masih bernama stasiun Trowek, sebagaimana nama desa setempat. Namun sekitar tahun 1996 terjadi sebuah kecelakaan kereta api Galuh Kahuripan, dan membuat nama stasiun itu dianggap sial, sehingga harus diganti, dan dipilihlah nama Cirahayu. Sampai sekarang ini.”

“Wah, sepertinya Anda tahu banyak tentang kereta dan stasiun.”

Kau tersenyum tapi tampak sedih.

Baca juga: Nalea – Cerpen Sungging Raga (Kompas, 18 September 2016)

“Dulu aku pernah punya kekasih seorang penggemar kereta…”

Raut wajahmu yang mendadak murung itu seperti mengisyaratkan sesuatu. Kau lantas banyak berbicara tentang kisah masa lalu, seolah-olah wanita memang diciptakan dari timbunan kenangan.

Kemudian aku mengalihkan pandangan ke kaca jendela, kau terus saja berbicara seolah kau yakin aku mendengarkannya. Padahal aku lebih tertarik pada pemandangan bukit-bukit yang entah apa namanya. Jadi kunikmati kau berbicara meski hanya kutangkap sepotong-sepotong, seperti suasana yang begitu cepat berlalu di luar jendela.

“Kekasihku pernah mengajakku pergi, dia berjanji akan…”

Baru saja kulihat sepasang anak kecil berseragam SD berdiri tepi jalan setapak pinggir rel. Yang satu melambaikan tangan ke arah kereta, yang satu diam memegang stang sepeda. Kepada siapakah mereka melambai? Kepada seluruh penumpang kereta ini? Begitu cepat kejadian itu sebab kereta kembali menikung, dan memang apa yang kulihat selalu cepat berganti, seperti hidup ini, seharusnya tak perlu berlama-lama dengan masa lalu.

Advertisements