Cerpen Akhil Bashiroh (Suara Merdeka, 05 Maret 2017)

Tangisan Ibu dan Tarian Hujan ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka.jpg
Tangisan Ibu dan Tarian Hujan ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka

Setiap kali hujan turun, kusambut dengan menengadahkan wajah. Kubiarkan setiap bagian dari mukaku dihujani air dari langit. Aku tersenyum setelah mukaku dibelai butiran air hujan serupa embun pagi yang menyegarkan. Ya, aku selalu menyukai hujan. Sampai suatu hari kelak aku tak lagi menyukainya.

***

Petir menyambar-nyambar adalah bagian terindah saat hujan turun. Bagiku, hujan adalah denting piano dan petir adalah debum drum.

Hari itu, hujan deras mengguyur jalanan. Petir menyambar-nyambar, memaksa anak-anak kecil yang semula menari riang gembira di bawah hujan berlarian masuk rumah, berlindung di balik daster sang ibu.

“Ibu! Ibu! Ada petir. Langit marah, Bu. Petir berkilat-kilat di langit, menyambar pohon kelapa Pak Zainal, Bu.”

“Ayo cepat mandi. Keringkan badanmu dan pakai baju hangat. Jangan keluar rumah saat hujan petir begini. Paham!?”

“Iya, Bu.”

Si kecil, yang kini menjadi anak tunggal di rumah itu, berlari dan sesegera mungkin menjalankan perintah sang ibu.

“Semoga rumah Pak Zaini tak tertimpa pohon kelapa yang tersambar petir. Semoga banjir tidak datang,” gumam si ibu dalam doa sambil menutup semua jendela agar tempias air hujan tak masuk ke dalam rumah.

***

Suara hujan masih berirama di luar, terdengar lirih dari dalam kamarku. Ada beberapa perempuan keluar rumah, menengok apakah suami mereka sudah pulang. Ada juga beberapa ibu menunggu anak mereka pulang sekolah dengan raut wajah tak pasti. Mereka memegangi payung sambil berdiri di depan rumah. Raut wajah mereka berubah-ubah.

Terlihat dari kejauhan seorang anak kecil melangkah makin dekat. Namun itu bukan anaknya, sehingga ibu itu masih terus menanti.

Hujan menjadi-jadi, makin deras, diimbangi petir yang mengeras. Air berjatuhan di segala penjuru, melimpas dari selokan-selokan depan rumah warga, meluap dari sungai-sungai kecil, menggelontor dari bukit di belakang desa. Pohon yang ambruk tersambar petir, kini terbawa arus. Rumah-rumah tergenang air setinggi lutut. Air itu berwarna cokelat bercampur sampah. Banjir!

Ibu-ibu semula sesekali mengintip dari jendela. Kini, mereka riuh, panik, dan keluar rumah. Sang ibu yang masih menunggu si anak pulang dari sekolah tetap berdiri di depan rumah yang sudah tergenang air. Dia sama sekali tak peduli. Dia tetap berdiri, berharap melihat sang anak datang dari kejauhan.

Padahal, semua orang tahu anak yang dia tunggu-tunggu sudah mati beberapa tahun lalu, terbawa banjir saat pulang sekolah. Bahkan jasadnya tak pernah ditemukan. Namun sang ibu masih menyimpan harapan besar: suatu hari si anak pulang.

“Ibu, ayo masuk. Nanti Ibu sakit.” Aku mengajak Ibu yang masih berdiri di halaman. Aku melihat raut wajahnya penuh kekecewaan. Mukanya memerah. Air matanya tercampur air hujan.

“Tidak. Aku menunggu kakakmu pulang. Kau masuk saja dulu.”

“Kakak tak akan pulang, Bu.”

Aku merangkul halus pundak Ibu dan mengajaknya masuk. “Ayo, Bu.”

Akhirnya dengan langkah perlahan, Ibu mengikutiku.

***

Sejak kecil aku selalu menyukai hujan, menunggu-nunggu hujan datang. Entah sekadar menyambut dengan menadahkan tangan atau menari-nari bersama hujan. Hujan membuatku tenang. Hujan membuat pikiranku luruh, tak lagi memberontak.

Tak jarang Ibu memarahiku karena aku bermain di bawah guyuran air hujan, bercengkerama dengan setiap tetes air. Aku tak sendirian. Sering aku mengajak teman-teman sebaya berhujan-hujan. Tentu orang tua mereka marah. Namun teman-teman tak pernah absen keluar rumah dan berlarian setiap kali turun hujan. Begitu pula kakak perempuanku.

Semua kenangan manisku tentang hujan masih tertata rapi dalam memori. Sampai suatu hari aku tak lagi menyukai hujan. Ya, hujan telah merenggut Ayah dan kakak perempuanku. Dan, itulah yang membuat ibuku gila.

Hari itu, beberapa tahun lalu, hujan deras. Aku dan kakakku tertahan di sekolah. Ibu Guru tak mengizinkan semua murid pulang. Dia meminta kami menunggu hujan reda. Beberapa anak menurut, tetapi tak sedikit yang nekat pulang, termasuk aku dan kakakku.

Kami sama-sama menyukai hujan. Jadi kapan lagi bisa hujan-hujanan jika bukan sekarang? Di rumah pasti Ibu tak mengizinkan kami keluar saat hujan, apalagi bermain di bawah hujan.

Kami bersama beberapa teman nekat pulang. Dengan riang kami berlarian dan menari-nari di bawah hujan. Tak lagi memedulikan seragam dan buku yang basah dan sepatu-sepatu yang terlepas dari kaki. Itu justru memudahkan kami berlari makin kencang dan menari makin lincah. Bahkan ketika banjir pun kami tak peduli. Kami malah bermain air yang meninggi.

Ketika melihat kakakku terseret air, aku dan teman-teman menganggap dia bergurau. Kami memang sering berpura-pura terbawa arus.

Namun makin lama dia kian tak terlihat. Ah, kakakku benar-benar terbawa banjir! Aku dan teman-teman terus-menerus berteriak dan mencari-cari. Aku berlari pulang sambil menangis.

“Ayah! Ayah!”

Ayah memeluk tubuhku yang basah kuyup.

“Mana kakakmu? Kenapa kamu pulang sendirian?”

“Kakak terbawa banjir, Yah.”

Seketika Ayah melepaskan pelukan, lalu lari terbirit-birit mencari kakakku. Ibu menangis tersedu-sedu. Namun kami, aku dan ibuku, tak punya pilihan lain. Kami tetap di rumah, menunggu. Tetangga-tetangga yang tahu kejadian itu berlarian, menyusul ayahku.

Hujan masih mengguyur, malah makin deras. Petir tak henti-henti menyambar. Satu jam, dua jam, tiga jam, hingga malam pun tiba. Banjir menyurut, sampah berserakan di halaman setiap rumah. Jalanan dan pekarangan berubah bagai sawah dadakan. Beberapa orang sibuk membersihkan rumah.

Listrik padam.

Ibu masih berdiri dan memelukku di depan rumah. Menunggu Ayah dan kakakku kembali. Namun, ya Tuhan, beberapa orang datang membawa jasad Ayah. Mereka tak menemukan kakakku.

Malam itu, hujan memadamkan hati ibuku. Ibu menangis meraung-raung sambil memeluk jasad Ayah.

Sejak malam itu aku tak lagi menyukai hujan. Aku tak lagi menyambut hujan dengan menadahkan tangan atau menengadahkan muka. Apalagi menari-nari dan bercengkerama. Tak lagi.

Aku melihat saat hujan pandangan mata Ibu kosong. Harapan Ibu tak kunjung terpenuhi. Doa-doa Ibu tak kunjung terkabul. Kata-kata penghibur dariku pun terbungkus kebohongan.

“Kakak pasti pulang, Bu. Namun nanti, kalau Ibu sudah sehat dan menghabiskan bubur ini,” ujarku.

“Benar? Kakakmu akan pulang!?” sahut Ibu kegirangan.

“Iya, Bu.”

Air mataku menetes. Ibu, maafkan aku. Maafkan aku yang terus memberikan harapan kosong agar Ibu tetap hidup. Tetap hidup bagiku. (44)

 

 

Demak, 30 Januari 2016

Akhil Bashiroh, mahasiswa Jurusan Sastra Jawa Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Semarang. Menulis puisi dan cerita pendek, tinggal di Demak.

Advertisements