Sebelas Orang Gila di Kotaku


Cerpen Raudal Tanjung Banua (Jawa Pos, 12 Februari 2017)

sebelas-orang-gila-di-kotaku-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Sebelas Orang Gila di Kotaku ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

SEMALAM akubermimpi kedatangan seorang lelaki dengan rambut habis dicukur. Sisi rambutnya yang rapi hingga cambang di pipi tampak berkilat diminyaki, tak berbau, barangkali ia memakai minyak kemiri atau zaitun. Si lelaki tersenyum. Meski merasa cukup akrab dengan senyuman itu, sesungguhnya aku tak mengingat apa pun. Sampai ia menepuk pundakku dan berkata, “Terima kasih, Sampeyan telah mencukur dan memberi kami pakaian. Teruslah mencukur dan memberi pakaian, mudah-mudahan keburukan-keburukan Sampeyan juga terpangkas dan apa yang Sampeyan kenakan tak mudah tersingkap.”

Laki-laki itu lalu meraba ke dalam kantong kulitnya. Kantong itu tak asing bagiku. Hanya saja kantong itu sekarang tergantung di pinggangnya. Secebis kertas ia keluarkan dan ia ulurkan ke tanganku. Sebelum mengambilnya aku baca apa yang tersurat: Fawaz Bin Jazuli —namaku!

Aku menyambutnya sambil menggenggam telapak tangannya yang lunak. Begitu saja, ia lalu menghilang dan aku pun terbangun seiring suara azan.

Entah kenapa tengkuk dan dahiku penuh keringat. Padahal mimpi itu sama sekali tak menakutkan. Berbeda dengan mimpi-mimpiku yang kabur saat bangun tidur, karena itu tak pernah kupikirkan, mimpi barusan sungguh jernih. Semua membayang, terang-benderang. Meski ketika bermimpi aku belum sempat mengenali sosok yang datang, tapi saat terduduk di tepi ranjang aku tahu sosok barusan tak lain seorang gila di kotaku. Entah si gila ke berapa yang pernah kududukkan di atas batu hitam di bawah pohon mangga samping rumah.

Membawa orang gila ke rumah, mencukur dan mengganti pakaian mereka, sudah lama aku lakukan. Aku tak tahu persis sejak kapan dan entah apa yang mendorong aku demikian. Aku hanya ingat bahwa kota kecilku dipenuhi orang gila yang berkeliaran dari ujung barat ke timur dan dari timur ke barat. Sebagai kota kecil yang membentang lurus di jalan tanpa simpang, arah utama memang hanya timur dan barat. Ada satu-dua simpang, namun tak terlalu berarti karena pendek saja, ke pelabuhan atau ke arah gunung yang segera suwung begitu satu dua-rumah habis terlewati.

Karena itu, gerak kami seisi kota lebih banyak seturut jalan lurus, dan begitu pulalah orang-orang gila yang berkeliaran siang-malam. Kadang mereka singgah di pasar, pelabuhan, tempat pelelangan ikan, pompa bensin, satu-dua warung, atau tak mampir ke mana-mana, hanya tertidur di bawah pohon asam yang memang berderet di kiri-kanan jalan kotaku.

Suatu hari, saat duduk di muka rumah, aku melihat dua orang gila berpapasan di trotoar. Mula-mula mereka saling pandang, lalu satu di antara mereka menundukkan wajah, dan seorang lagi tampak mengamati keadaan. Setelah merasa aman, si gila dari arah timur mendekat kepada si gila dari barat. Saat itulah aku saksikan dengan mata kepala sendiri si gila dari barat mencium tangan si gila dari timur, lantas mereka bercakap-cakap. Aku tak tahu apa yang mereka percakapkan, namun terasa sekali saat mereka bercakap suasana mendadak lain: angin berhenti berhembus, pohon-pohon asam tegak tugur tak satu pun menggugurkan daun, burung-burung terdiam, bahkan kendaraan yang biasa ramai tak satu pun lewat seolah tertahan di suatu tempat.

Dalam situasi biasa, itu bukan sesuatu yang mesti dipikirkan. Sebab, sebagai kota dengan banyak orang gila —meski tak tercatat di jawatan kota kami— papasan sesama mereka tentu hal biasa. Bahkan lebih dari papasan bisa terjadi. Pernah mereka saling tubruk, membuat yang satu terlempar ke jalan raya lalu keserempet motor yang membawa ikan; si gila tak apa-apa hanya dua keranjang ikan tumpah di aspal. Si pedagang ikan menyumpah, tapi si gila tertawa-tawa.

Lain waktu, tiga orang gila berjalan bersama-sama dalam damai. Tapi begitu sampai di muka toko swalayan mereka sontak jadi galak. Mereka menunjuk-nunjuk toko berjejaringan besar itu, yang di kota kecilku jumlahnya sudah empat, seolah kekasih yang berdiri berpasangan di dua tempat.

Banyak lagi perangai aneh mereka yang sudah kami anggap biasa. Tapi bahwa mereka bercakap-cakap di trotoar dan membuat aku tertarik, tiada lain lantaran laku ajaib mereka bersalaman dengan takzim. Dan itu didukung suasana alam yang mendadak gaib. Lebih dari itu aku ingin mengatakan bahwa baru kali itulah sesungguhnya aku benar-benar memperhatikan mereka, orang-orang gila yang melintas di depan rumah atau sepanjang jalan kota kecilku.

Mengapa orang gila begitu banyak di kotaku? Apakah karena terletak di jalur lintas utama, atau karena berbatasan dengan kawasan hutan? Apakah mereka seperti kucing yang di buang pemiliknya di tempat sepi? Semua itu bisa jadi benar, namun mengapa hanya kota kami? Di timur, sebelum hutan, sebenarnya masih ada satu kota kecil lagi. Seharusnya kota itulah yang dipenuhi orang gila. Tapi malah tidak. Aku tak tahu kenapa, namun ketidaktahuan justru menggerakkan hatiku untuk tahu. Maka mulailah aku memperhatikan orang-orang gila yang berkeliaran, perpaduan sikap iseng dan kesungguhan. Itu cukup menyenangkan mengisi waktuku sebagai orang yang tanpa pekerjaan.

Dulu aku pernah menjadi juru timbang di tempat pelelangan ikan, meskipun ayahku tidak setuju. Mula-mula aku kira ayah tak setuju karena aku seorang santri keluaran pondok terkenal di ibu kota kabupaten, bisa saja ia malu. Kemudian kuketahui, ayah tak setuju karena itu persoalan timbang-menimbang yang risikonya besar. Di akhirat, amal menimbang termasuk yang dihisab pertama.

Tentu aku sendiri mengetahui perkara itu dan kubilang kepada ayah justru karena aku tahu maka tugas akulah untuk menimbang seadil-adilnya. Namun ternyata itu tak mudah. Aku harus mengikuti permainan umum para juru timbang di pelabuhan yang serba cepat. Belum tenang mata timbangan, ikan sudah harus diturunkan dan diganti keranjang atau karung yang lain. Akhirnya, aku membenarkan ayahku. Sebagai ustad yang cukup dihormati di kota kami, ayahku memang cermat dalam urusan fiqih. Konon, ia memutuskan pergi ke luar kampung di ujung pulau garam sana karena soal ketelitian ini juga.

Bosan dalam pusaran suara keras, keranjang yang dibanting atau ikan yang dilempar, aku beralih menjadi penjual telur keliling yang harus bertindak halus, lembut, dan hati-hati. Aku berkeliling ke kampung-kampung peternak ayam atau bebek, tapi lantas kalah saing. Orang yang punya modal besar bisa meninggalkan uangnya langsung kepada pengumpul atau peternak, dan ketika aku datang tak mendapat bagian. Pernah aku protes untuk disisakan sedikit jatah, namun mereka dengan suara ketus dan wajah yang sangar bilang itu sudah aturan main sejak lama.

“Sampeyan pemain baru, harus terima,” kata salah seorang.

“Tak punya modal, ya, jual telur ceplok sana!” sahut yang lain.

Aku tak habis pikir bagaimana orang-orang kasar seperti itu bisa berurusan dengan telur?

Setelah bangkrut aku diajak kawanku semasa di pondok untuk ikut membantunya mengajar, namun hanya delapan bulan aku bertahan. Aku lalu memutuskan istirahat dari pekerjaan “resmi”, tinggal di rumah yang kemudian menjadi tempat ngumpul banyak anak-anak muda. Aku pandai memotong rambut, namun ketika ayah memintaku membuka tempat cukur di depan rumah, aku menolak, dan memilih mencukur cuma-cuma kepala anak-anak muda yang datang. Mereka mengulurkan kepala kepadaku. Sambil memotong rambut itulah aku biasa bercerita tentang soal-soal agama sebatas yang kukuasai sekaligus mendengar keluh-kesah mereka tanpa batas. Jika sudah begitu, kepala mereka yang awalnya sekeras dacin timbangan, berubah selunak cangkang telur. Meski kuakui, makin lunak kepala seseorang kadang makin sulit diatur, tapi maqam-nya kan sudah beda: sabar—bukankah itu sebaik-baik tingkatan?

Apa pun, anak-anak muda itu senang, dan aku senang karena mereka senang. Ada yang datang mengajak kawannya dengan tubuh penuh tato, di lain waktu ada yang membawa ayam aduan. Minuman keras botolan dan tuak dalam bumbung, biasa mereka selundupkan di balik jaket. Bagaimanapun me reka tak ingin dilihat ayah-ibuku. Aku meladeni perangai mereka, mendengar keluh-kesah mereka, tentu tak hanya saat cukuran, juga saat duduk di balai-balai sambil merokok, ngopi, makan rengginan.

Alhamdulillah, pelan-pelan mulai kurasakan ada perubahan. Yang kerap membawa minuman mulai datang dengan tangan kosong, yang bicara perempuan mulai terasa dengan sikap hormat. Bahkan di luar dugaan, jago kebanggaan mereka satu per satu dibawa ke balai-balai dalam bentuk ayam panggang atau goreng, dan kami gasak ramai-ramai seolah merayakan penebusan sekaligus balas dendam.

Sejak menyaksikan pertemuan ganjil sekaligus ajaib di trotoar itu, aku lantas menyuruh anak-anak muda yang nongkrong di rumah supaya mencegat orang gila yang lewat, menyeretnya ke samping rumah, dan rambut mereka yang panjang tak terurus segera aku cukur. Yang lain menyiapkan air di kolah, handuk, sarung, pakaian. Si gila kadang meronta, histeris dan menggigit, tapi kami lanjut terus.

Ada pula yang diam pasrah seolah mayat yang tak bisa apa-apa. Kami mengganti celana dan bajunya yang sobek-sobek, selegam tanah, dengan pakaian bersih pantas pakai. Kupakaikan pula sepasang sandal jepit. Hanya aksesoris mereka yang sengaja tak kuganti sepanjang tak mengganggu gerak mereka. Misalnya, seorang yang menggayutkan segulung tali kapal di bahu, yang membuat langkahnya miring ke kanan, kami ganti dengan tali pramuka yang ringan. Sebaliknya, buntalan kecil yang selalu dibawa salah seorang aku biarkan. Kupikir tak tergantikan, selain juga ia pegang erat-erat seperti memegang rahasia hidup.

Begitulah, entah sudah berapa kepala orang gila yang kucukur (bukan menggunduli), dan tak pernah kuperhatikan lagi setelah dilepas. Namun mimpi semalam membuatku memikirkan mereka, dan untuk pertama kalinya kusadari, mengapa selalu saja ada orang gila yang kucukur dan kubersihkan? Berapa jumlah mereka sesungguhnya? Aku yakin tak akan mendapat jawaban di jawatan statistik atau kantor pemerintah kota kami. Aku juga tak ingin meminta anak-anak muda yang datang ke rumah untuk menghitungnya, biarlah kuhitung sendiri.

Setiap hari aku lalu menyusuri trotoar dan mulai menghitung diam-diam. Sekilas wajah mereka susah dibedakan karena kondisinya sama-sama payah. Tapi sebenarnya mudah, cukup lihat aksesoris unik yang melekat pada diri masing-masing. Ya buntalan, kalung, manik-manik, ikat kepala, atau segulung tali di pundak. Atau ciri fisik yang tak sepenuhnya tertutup oleh keterlantaran dan kegilaan. Gigi tongos, pipi kempong, kumis dan cambang, atau jalan yang pincang tapi cepat. Juga sikap dan pembawaan: yang senang menunjuk-nunjuk langit, yang gemar menangkap angin, yang memeluk pohon asam dengan terisak-isak, dan seterusnya.

Paling gampang tentu perbedaan jenis kelamin, namun hampir semua orang gila di kotaku adalah laki-laki. Pernah sekali-dua pe rempuan, satu terlihat cantik, ternyata waria, satu lagi hamil tua. Tapi baik yang baru datang maupun yang sudah pergi selalu bukan perempuan—kami bahkan tak tahu di mana si hamil tua itu melahirkan.

Apa pun, aku bisa lancar menghitung. Hari itu jumlah mereka kudapatkan sebelas orang. Semuanya laki-laki. Tak cukup yakin, hari berikut kucoba menghitung lagi mana tahu ada yang luput. Setelah bolak-balik menghitung jumlahnya tetap sebelas. Uniknya, mereka yang pernah kucukur tak kutemukan lagi.

Lama kemudian aku sadari bahwa setiap seorang gila selesai kucukur dan kubersihkan, ternyata akan menghilang, tak kutemukan. Tapi anehnya, ketika kuhitung jumlah keseluruhan yang tinggal tetap sebelas. Dan lebih aneh lagi bahwa salah seorang di antara si gila itu tak pernah pergi atau berganti, meskipun kepalanya sudah beberapa kali aku cukur! Itulah dia, si pembawa kantong kulit, dan dalam wujud yang berbeda mendatangiku dalam mimpi!

Aku pernah mengujinya. Aku cukur tiga orang sekaligus, lalu melepasnya. Sehari-dua hari kulihat mereka masih berkeliaran. Jadi kupikir memang tak ada yang perlu dibuat penasaran. Apa yang kuanggap menghilang mungkin hanya kebetulan. Maka mereka tak lagi kuperhatikan. Tapi selang sepekan, aku tak melihat mereka lewat. Kucoba mencarinya, nihil. Tak seorang pun di antara yang tiga itu kulihat lagi. Ah, apakah mereka para wali yang menyamar?

Sebaliknya, ketika si pembawa kantong kulit kembali kucukur dan pakaiannya kuganti—meski rambutnya masih pendek dan pakaiannya masih bersih— ia tetap terlihat di jalan. Ia tak pernah pergi. Siapa dia? Apakah dia si pemimpin? Aku tak tahu. Aku coba mengingat kembali peristiwa ajaib yang pernah kusaksikan. Apakah tangannya yang dulu dicium dengan takzim? Sayang aku tak bisa mengingatnya persis.

Rasa penasaranku jadi tak tertanggungkan. Segera kuputuskan menghitung jumlah orang gila yang tersisa. Jika hitungan terakhir sebelas, dikurangi tiga yang raib, tentu jadi delapan. Jika bertambah, jumlahnya bisa sepuluh atau sembilan, atau dua belas, tiga belas, dan seterusnya.

Tapi, demi Tuhan yang Maha Perhitungan, jumlahnya tetap sebelas!

Aku mulai dimabuk bayang, mabuk kepayang. Kucukur seorang, hilang seorang, dan datang lagi seorang. Kucukur dua atau tiga orang, digantikan lagi oleh dua-tiga orang, kecuali satu orang: si pembawa kantong kulit!

Aku mulai larut memikirkan hal-hal tak kuduga. Apakah mereka bukan orang gila? Hanya gila dalam pandangan kami yang kasat mata? Apakah mereka malaikat Tuhan yang menyamar? Atau mata-mata entah siapa, dan mengapa harus kotaku? Kotaku hanya kota kecil yang sedang tumbuh, buat apa diawasi? Memang kami punya pelabuhan antarpulau, pelelangan ikan, satu pompa bensin, pabrik gula, lima bengkel motor, empat toko swalayan, satu pasar, dua bank, dan selebihnya pondok pesantren yang tersebar di sudut atau batas kota. Satu di antaranya pondok tertua, pendirinya —dengan senyum teduh sejuk—tercatat dalam sejarah Nahdatul Ulama. Aku tentu dengar sliweran berita tentang serbuan tenaga kerja asing, atau orang-orang berambut cepak yang menyusup. Tapi aku tak yakin ada hubungannya dengan kotaku.

Sungguh pun begitu, aku tak menampik kemungkinan. Aku ingat peristiwa beberapa tahun berselang: pembantaian orang gila yang bermula dari isu ninja di sebuah kota lebih ke timur, lalu menjalar ke kota kecil kami. Tiga orang gila pernah jadi korban sia-sia, dicincang dan dibakar. Orang-orang kalap menganggap mereka jelmaan ninja yang sedang mengintai guru mengaji. Belajar pada peristiwa itu, seharusnya aku menganggap kotaku bukan kota biasa.

Maka, hari ini, sehabis bermimpi, aku ingin kembali turun ke jalan. Tengkuk dan dahiku masih basah oleh keringat, kuusap, terasa seperti minyak zaitun atau kemiri. Tapi aku tak peduli. Aku segera berangkat ke tempat pelelangan ikan, pom bensin, los pasar, kerimbunan pohon asam, tanpa menghiraukan sapaan orang-orang. Di kota kecil ini kami memang saling kenal. Tapi, sekali lagi, aku sudah tak peduli, kecuali ingin satu hal: menghitung dan menghitung lagi.

Astaga, dalam hitungan terakhir jumlah mereka hanya sepuluh!

Mana yang satu? Mana laki-laki berkantong kulit itu? Apakah mimpi semalam adalah pertemuan kami yang terakhir? Tiba-tiba aku merasakan ada yang hilang, semacam mata rantai atau siklus yang putus. Hal yang selama ini kuduga menjaga kotaku tumbuh tenteram dan damai di tengah urusan timbang-menimbang yang belum dibereskan, toko swalayan yang kelebihan atau bunga bank yang kian mekar. Orang-orang gila yang diberi makan dan tempat berteduh serta tak pernah diganggu (ah, aku malu menyebut soal dicukur!), kubayangkan jadi penyeimbang segala ketakberesan itu.

Tapi kini jumlahnya berkurang. Lalu apakah sekarang giliranku? Aku tak tahu. Aku hanya ingin terus berjalan dari timur ke barat, dari barat ke timur. Menghitung dan menghitung seperti orang berzikir, tak putus-putus, sepanjang hari, siang dan malam. Biar pun sebenarnya aku hanya mondar-mandir di trotoar sambil mendengar orang-orang berbisik, “Kasihan, ia terganggu ingatan!”

“Mungkin hanya stress. Bisnis telurnya jatuh, jodohnya menjauh.”

“Hus, Nak Fawaz itu lagi tirakat tak iya’!

“Mudah-mudahan begitu.”

“Mudah-mudahan.”

Dari bisik dan tatapan, aku tahu mereka jatuh iba. Ayah dan ibuku terlebih lagi. Mereka jatuh sakit. Adik-adikku membujukku pulang, kerabatku memaksaku ke rumah seorang kiai yang bisa menerapi kejiwaan, sebagian terang-terangan ingin membawaku ke rumah sakit jiwa. Tapi aku merasa semua itu tidak perlu. Beruntung, anak-anak muda yang biasa nongkrong bersamaku tak beraksi apa-apa ketika diminta menangkapku.

“Mas Fawaz hanya nglakoni,” kata seorang dengan mata berkaca. Sungguh pun begitu, aku sendiri merasa harus pergi. Aku justru jatuh iba melihat ayah-ibuku.

Suatu malam aku berjalan ke timur, ke arah hutan yang sepi. Di belakang, sepuluh orang mengikutiku. Aku baru menyadari ketika beberapa truk berjalan lambat padahal aku jalan di tepi. Saat berpaling ke belakang, ternyata mereka yang mengikutiku berjalan tak teratur hingga ke tengah jalan. Untuk pertama kali aku kibaskan tangan supaya memberi laluan. Namun di tanjakan tajam, sebuah truk kutemukan benar-benar berhenti, mogok. Sejumlah orang kampung sebagaimana lazimnya mengatur lalu-lintas. Mereka membuat api unggun, sambil mengulurkan topi minta sumbangan. Kusentuh bokong truk sarat muatan itu. Truk terguncang. Kukibaskan tanganku lagi, dan dua orang bergegas mendorongnya. Truk bergerak ringan ke atas bagai sekarung kapas.

Orang-orang yang mengatur lalu-lintas tercengang takjub. Satu-dua orang tak terima keajaiban di depan mata. Tentu karena rezeki kecil mereka telah lenyap. Mereka mengejarku,  tapi segera mengenaliku sebagai orang kota sebelah. Lebih dari itu kukira karena aku seorang santri dan ayahku ustad terhormat. Mereka merunduk, “Maaf, Lora…”

Aku tak menjawab. Aku lanjutkan langkah, bukan lagi menapak jalan besar. Aku berbelok ke dalam hutan. Kepada rombongan yang mengikutiku kukibaskan tangan agar berbalik. Mereka patuh, dan aku terus menembus kerapatan pohon jati, semak-belukar. Masih kudengar mereka di sekitar truk tergagap, “Cahaya, lihat, begitu terang menyilaukan!”

Aku tak lagi perhatikan suara-suara. Bahkan ketika beberapa hari kemudian serombongan anak muda mencariku ke ceruk hutan tersembunyi, aku hanya berkata, “Turunlah ke kota kita.”

Mereka patuh, tapi aku tak tahu apakah mereka turun untuk berkeliaran di jalan atau mengurung diri di rumah. Aku juga tak tahu apakah jumlah orang gila di kotaku masih tetap sebelas, berkurang atau bertambah. Mungkin giliran Sampeyan yang menghitungnya. ***

 

 

/Rumahlebah Jogjakarta,

Oktober 2016-Februari 2017

RAUDAL TANJUNG BANUA, lahir di Lansano, Pesisir Selatan, Sumatera Barat, 19 Januari 1975. Tinggal di Jogjakarta. Bukunya antara lain, Parang Tak Berulu (2005) dan Api Bawah Tanah (2013).

Advertisements

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: