Archive for February, 2017

Tahi Lalat
February 19, 2017


Cerpen M Shoim Anwar (Media Indonesia, 19 Februari 2017)

tahi-lalat-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tahi Lalat ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti. (more…)

Advertisements

Meninggalkan Semut di Masjid
February 19, 2017


Cerpen Dadang Ari Murtono (Suara Merdeka, 19 Februari 2017)

meninggalkan-semut-di-masjid-ilustrasi-farid-s-madjid-suara-merdeka

Meninggalkan Semut di Masjid ilustrasi Farid S Madjid/Suara Merdeka

Hujan turun. Butiran-butiran air sebesar biji jagung menghajar genting dan ranting, pohon dan kebun, dan memaksa orang-orang menyembunyikan diri dalam rumah masing-masing. Angin buruk berembus. Tiang listrik di ujung gang bergoyang-goyang. Tiga dahan besar pohon trembesi di pinggir jalan patah dan melintang dari tepi ke tepi yang lain. Itulah salah satu sore terburuk sepanjang 1987. (more…)

Relikui Ibu
February 19, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 19 Februari 2017)

relikui-ibu-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Relikui Ibu ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

CAHAYA berwarna kuning kunyit masih melimpahi kamar ibu, ketika kami mendapati si bungsu duduk bersimpuh meluberkan tangis. Tangan si bungsu menggenggam gulungan rambut tipis yang sebagian besar telah memutih. Rambut ibu. Sementara di hadapannya dompet kain kesayangan ibu tergeletak di lantai menumpahkan isinya: sejumlah uang receh dan remah-remah potongan kuku. Kuku ibu. (more…)

Piring Cuil
February 19, 2017


Cerpen Khoimatun Nikmah (Republika, 19 Februari 2017)

piring-cuil-ilustrasi-rendra-purnama-republika

Piring Cuil ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Pagi tadi, kamu menyisakan setengah sandwich. Kamu hanya menggigit dua kali. Padahal, setangkup roti tawar isi selai kacang itu sudah kubakar sesuai seleramu, sedikit gosong. Seolah kurang suka, kamu perlu mendorongnya dengan seteguk jus jeruk. Sebelum gigitan kedua terkunyah sempurna, kamu berdiri terburu-buru meninggalkan meja makan. (more…)

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan
February 19, 2017


Cerpen Ni Komang Ariani (Kompas, 19 Februari 2017)

laki-laki-yang-menyeberang-dan-perempuan-di-tepi-persimpangan-ilustrasi-sigit-santoso-kompas

Laki-laki yang Menyeberang dan Perempuan di Tepi Persimpangan ilustrasi Sigit Santoso/Kompas

Bagian I: Laki-laki yang Menyeberang

Setiap kali sebuah peran dimasukinya, laki-laki itu tahu, ada jiwa baru yang tumbuh. Jiwa-jiwa baru yang memesona. Jiwa-jiwa baru yang menyeretnya dalam pusaran. Semakin ia mengenal jiwa-jiwa itu, semakin ia merasa kerdil. Kecil. Sebuah arus kecil dalam luasnya samudra. Semakin banyak yang belum dikuasainya. Ia seperti perenang pemula di tengah-tengah perenang olimpiade. Diam-diam, ia merasa iri. Pada jiwa-jiwa besar yang telah dimasukinya. Ia sengaja membiarkan dirinya terserap, diombang-ambingkan pusaran, timbul tenggelam menuju dasar yang amat jauh dan dalam. Ia tak mau menjadi sepotong wajah yang menawan. (more…)

Tambang Nanah
February 18, 2017


Cerpen Hary B. Kori’un (Koran Tempo, 18-19 Februari 2017)

tambang-nanah-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Tambang Nanah ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

“LALU yang terjadi, kalian tahu? Semua rig yang mengangguk-angguk itu, yang mereka sebut pipa angguk, yang selama ini memompa minyak dari dalam perut bumi dan mengalirkannya ke pipa-pipa yang panjangnya beratus kilometer menuju penampungan di tepi laut, tiba-tiba berbau amis. Sangat tajam menusuk hidung. Semua pekerja terkejut. Mereka tak mampu menahan bau amis yang menyengat tajam itu. Bahkan lama-lama berubah menjadi bau busuk. Mereka banyak yang muntah meski telah menutup hidung dan mulut dengan sapu tangan atau dengan segala apa yang ada yang bisa digunakan untuk menutup mukanya…” (more…)