Archive for February, 2017

Perdebatan sebelum Senja
February 26, 2017


Cerpen Indah Darmastuti (Media Indonesia, 26 Februari 2017)

perdebatan-sebelum-senja-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Perdebatan sebelum Senja ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

BELUM habis setengah gelas kopi ketika polisi bermuka lonjong itu kembali memakai arloji setelah dia gosok-gosok hingga mengkilap dengan lap khusus milik polisi bermuka bulat yang duduk di sebelahnya. Postur tubuh keduanya nyaris serupa. Sama-sama muda, kulit terang, dan badan tegap. Potongan rambutnya juga sama dengan kebanyakan taruna yang baru lulus dari akademi. (more…)

Advertisements

Talida dan Api yang Menyala-nyala
February 26, 2017


Cerpen Mashdar Zainal (Suara Merdeka, 26 Februari 2017)

talida-dan-api-yang-menyala-nyala-ilustrasi-suara-merdeka

Talida dan Api yang Menyala-nyala ilustrasi Suara Merdeka

Jalan setapak ini menanjak. Penuh batu dan ranting-ranting tumbuhan liar yang meranggas. Di sini, udara menderu seperti dalam tungku. Matahari warna api memenuhi langit. Menelan warna biru. Napas kami berkejaran. Keringat kami bercucuran sepanjang jalan. Sampai-sampai, isi tubuh kami bagai bergejolak. Aku mengutuki entah siapa. (more…)

Ziarah Para Pembunuh
February 26, 2017


Cerpen Triyanto Triwikromo (Jawa Pos, 26 Februari 2017)

ziarah-para-pembunuh-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Ziarah Para Pembunuh ilustrasi Bagus Hariadi/Jawa Pos

Bukan Makam

“Aku mencari-Mu.”

“Aku tak ada.”

“Bukalah pintu-Mu.”

“Tak ada pintu untukmu.”

“Aku hendak menziarahi-Mu.”

“Aku bukan makam.” (more…)

Wa
February 26, 2017


Cerpen Ikhsan Hasbi (Republika, 26 Februari 2017)

Wa ilustrasi Rendra Purnama - Republika.jpeg

Wa ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Sepetang ini Rahmat belum juga kembali. Langit seharian seperti berkabung, awan-awan bagai gelembung yang hendak meledak dan menumpahkan air kehidupan. Seorang perempuan yang mulai renta, duduk sambil memasak keripik pisang. Ia menunggu bocah 10 tahun itu pulang dari pasar. Di bolak-baliknya pisang agar matangnya merata. Minyak mendidih seperti hari-hari yang terlewati, meletup-letup dan menguarkan asap yang hangat. (more…)

Cemani yang Tak Mau Pergi
February 26, 2017


Cerpen Angelina Enny (Kompas, 26 Februari 2017)

cemani-yang-tak-mau-pergi-ilustrasi-i-made-arya-dwita-dedok-kompas

Cemani yang Tak Mau Pergi ilustrasi I Made Arya Dwita Dedok/Kompas

Riza bingung setengah mati. Setengah hatinya ingin melepas si Itam pergi, setengah hatinya lagi berkata tidak. Galaunya melebihi saat ia menimbang akan meminang Rani atau malah meninggalkannya. Seakan mengetahui persoalan hatinya yang tak kunjung reda, si Itam berkokok kencang. Kok! Padahal, hari belumlah pagi. Seiring dengan kokokannya yang makin lama makin keras, aliran darah Riza semakin deras. Merah melumuri hatinya. Marah menyelimuti tubuhnya. Ia marah pada segala. Pada orangtuanya, pada dirinya sendiri, pada keadaan. Mengapa ayahnya mati meninggalkan utang? Mengapa pula ibunya sakit di kala ekonomi semakin sulit? Mengapa pula ia harus lahir sebagai anak pertama yang harus menanggung semua? Dua adiknya masih butuh sekolah. Ibunya perlu obat. Dan, ia butuh otak untuk memutar semuanya. (more…)

Sepupu
February 25, 2017


Cerpen Yetti A.KA (Koran Tempo, 25-26 Februari 2017)

sepupu-ilustrtasi-munzir-fadly-koran-tempo

Sepupu ilustrtasi Munzir Fadly/Koran tempo

Pada usiaku yang ke-14 tahun, sepupu yang paling kusayangi memutuskan pindah agama dan menjadi seorang pembaca kitab yang taat. Sebelumnya, di mataku, dia seorang pelari yang hebat dan aku selalu senang melihatnya mengenakan kaus kaki panjang garis-garis hitam-putih dalam berbagai perlombaan yang diikutinya dan menunggu satu hari ia melempar kaus kaki itu ke dalam keranjang khusus barang-barang yang tak berguna lagi, dan aku segera memungutnya untuk kusimpan diam-diam dalam lemariku. Ketika sepupuku memutuskan pindah agama, aku sama sekali tidak merasa kehilangan dia, tapi di rumah bibiku seolah telah terjadi sebuah kematian yang mengerikan dan mereka berkabung hingga bertahun-tahun lamanya. Mereka memutuskan tidak berhubungan lagi dengan sepupuku dan semua orang dilarang bertemu dengannya dan aku merasa beruntung sekali telah menyimpan kaus kaki bekas itu. Paling tidak, dengan memiliki kaus kaki itu, aku merasa sepupuku tidak pergi ke mana-mana. Dia masih duduk di depanku, bercerita dengan mulutnya yang cenderung kecil dan sepasang matanya yang pemarah tentang seekor lutung yang tampak merana dalam kandang di kebun binatang, dan sepupuku terus bertanya-tanya kenapa manusia sering tega kepada makhluk lain. Itu tindakan brutal, kata sepupuku. Aku tidak punya pandangan sejauh itu. Fakta bahwa bibiku sangat menyukai dan mendukung adanya kebun binatang dan sering mengajakku ke sana di akhir pekan atau musim liburan membuatku harus hati-hati dalam mengeluarkan pendapat. (more…)

Tahi Lalat
February 19, 2017


Cerpen M Shoim Anwar (Media Indonesia, 19 Februari 2017)

tahi-lalat-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tahi Lalat ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

ADA tahi lalat di dada istri Pak Lurah. Itu kabar yang tersebar di tempat kami. Keberadaannya seperti wabah. Lembut tapi pasti. Mungkin orang-orang masih sungkan untuk mengatakannya secara terbuka. Mereka menyampaikan kabar itu dengan suara pelan, mendekatkan mulut ke telinga pendengar, sementara yang lain memasang telinga lebih dekat ke mulut orang yang sedang berbicara. Mereka manggut-manggut, tersenyum sambil membuat kode gerakan menggelembung di dada dengan dua tangan, lalu menudingkan telunjuk ke dada sendiri, sebagai pertanda telah mengerti. (more…)