Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

perihal-orang-orang-china-di-belijong-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos
Perihal Orang-Orang China di Belijong ilustrasi Bagus Hariadi – Jawa Pos

“ALANGKAH besarnya kota ini!” seloroh ayahku suatu hari, kemudian terkekeh. Aku –yang waktu itu baru duduk di bangku kelas dua entah tiga SD– juga ikut tertawa geli begitu memahami apa maksud kelakarnya. Seketika itu pula, terbayanglah olehku Taiping Jong dan Taisi Jong [1] dalam cerita-cerita Akong. Ah, samudra yang terhampar demikian luas!

Kecuali Kota Kecamatan Kelapa yang nyaris seluruh warganya orang Melayu, setiap kota di pulau kecil kami memang memiliki sebuah nama China-Hakka. Pinkong untuk Pangkalpinang, Liatkong untuk Sungailiat, Komuk untuk Koba, Sabang untuk Toboali, Buntu untuk Muntok, Nampong untuk Jebus, dan Belijong untuk Belinyu. [2] Ya, begitu pun dengan nama kampung dan jalan-jalan. Ada yang memperoleh nama Hakka-nya dulu, ada pula yang terlebih dulu diberi nama Melayu.

Kampung Kumpai yang pernah bertahun-tahun menjadi kampung keluarga ibuku, misalnya, jauh sebelum dikenal dengan nama Melayu-nya, orang-orang China telah menamainya Sun Fat. Demikian pula nama-nama kampung seperti Mukka Theu, Bu Nai Kong, Luk Fun Theu, Jauw Se Ha… Bahkan Taikong Poi, hingga kini tetaplah lebih dikenal dengan nama Hakka.

Tak seorang pun tahu betul asal mula nama kota kami, Belinyu. Ada yang mengatakan berasal dari Melinjo, sejenis biji-bijian untuk membuat keripik yang dalam dialek Melayu Bangka kerap dieja Belinju. Yang lain menyebutnya bermula dari kata “beli” dan “nyo” yang berarti “dia”. Tak jelas, tak pernah terang.

Saat itu aku belum tahu kalau di Kalimantan Barat orang-orang Hakka juga mendirikan sebuah kota bernama San Kheu Jong [3] yang kini lebih dikenal sebagai Singkawang. Konon, kota itu dulunya hanya sebuah desa kecil di wilayah Kesultanan Sambas yang menjadi tempat persinggahan orang-orang Hakka, baik para penambang emas maupun mereka yang berprofesi sebagai pedagang, dan tempat transit pengangkutan serbuk emas hasil penambangan. Mereka menamainya Samudra Muara Gunung semata-mata lantaran letaknya yang berada di tepian Laut China Selatan dan dike lilingi oleh pegunungan dengan sungai yang bermuara langsung ke laut.

Tetapi Belijong (atau Wùl_yang apabila dieja dalam bahasa Mandarin) sungguh hanyalah sekadar penyesuaian lidah belaka atas nama Belinyu. Kendati kota kecil kami yang berada di tepian Teluk Kelabat juga hampir dikepung oleh lautan; namun tak seperti nama San Kheu Jong, ia sama sekali tidaklah punya arti yang lebih luas selain Samudra Beli.

“Ya, kota kitalah yang paling besar di Pulau Bangka, jauh lebih besar dari Pinkong dan Liatkong!” tukas Papa melanjutkan gurauannya sambil melipat-lipat kertas buku tulis dengan lincah. Tangan kurus dengan jari-jari panjang itu memang begitu terampil dalam seni origami. Bagiku, ayahku nyaris seperti tukang sulap dari Palembang yang pernah menggelar pertunjukannya di lorong pasar sembari menjual koyo tempel. Meskipun tak bisa menghidupkan bohlam lampu tanpa kabel hanya dengan sekali sentuh atau mengeringkan kembali koran basah seperti tukang sulap itu, nyaris apa pun bisa dijadikan Papa dari ker tas: burung, kodok, ikan, perahu layar, perahu sampan, kepala macan, cecak, laba-laba…

“Nah, ini sampanmu sudah siap berlayar! Tak perlu jauh-jauh, kota ini sudah cukup luas buat pelayaranmu,” ujarnya sambil mengulum senyum ketika meletakkan sampan dari kertas buku tulis itu di hadapanku. Aku menyambar sampan itu dan berlari-lari ke dapur.

Belijong! Belijong! Nama itu terus mengiang-ngiang di kepalaku. Namun rasanya aku ingin berlayar lebih jauh, dan jauh. Seperti Akong dan Apho yang berlayar dari China Daratan. Seperti sebagian orang Hakka lainnya di pulau kecil ini atau kakek-nenek mereka yang berlayar ke Nanyang sembari melantunkan tembang Ko Fan Ko [4]:

 

Yit sung ngai long hi ko fan

Yong son den to yet hoiguan

Ngai ko xiong hi yu xiong con

Hi qiu yungyi con he nan. [5]

 

Karena itu, sembari meletakkan sampan kertasku ke dalam baskom besar Mama yang kuisi penuh dengan air, aku mencoba membayangkan pelayaran-pelayaran pada masa silam itu. Kubayangkan gelombang Laut China Selatan yang cukup ganas, berdebur-debur keras memukul lambung kapal yang kutumpangi. Dapat kurasakan bagaimana kapal yang penuh sesak itu terombang-ambing di atas lautan lepas. Bau keringat yang asam bercampur dengan bau muntah dan bau pesing tercium jelas olehku, begitu tajam dan serta merta membuatku mual.

Lalu hujan turun, tercurah dengan deras dari langit gelap disertai oleh hembusan angin kencang. Lidah petir menyambar-nyambar di antara gemuruh ombak yang bergulung-gulung. Dan ada yang meratap panjang…

Ya, perahu sampan kertasku telah menjelma jadi sebuah kapal layar di lautan lepas. Ke Nanyang, ke Nanyang… Mencari berkah timah!

***

DULU, ada cerita tentang sebuah kapal layar legendaris pengangkut kuli tambang timah yang beredar di kalangan orang-orang tua di kota kecil kami dan kampung-kampung China sekitar. Cerita yang dikisahkan turun-temurun secara tak utuh itu sesekali masihlah terdengar pada masa kanak-kanakku.

Kapal itu konon dijuluki Mata Ikan, lantaran kedua sisi haluannya dihiasi dengan gambar bola mata ikan. Tetapi demikian, banyak orang lebih suka menyebutnya sebagai Penjara Terapung karena kehidupan di dalamnya yang benar-benar seperti penjara.

“Kau tahu,” kata seorang tua yang masih kerabat jauh ibuku dan mesti kusapa Khiukong, “Kehidupan di dalam kapal itu benar-benar bak penjara. Udara begitu pengap dan bau, sehingga setiap kau menarik napas, dadamu bakal sesak. Kau juga tidak bisa bergerak dengan bebas, harus berdesak-desakan sepanjang waktu. Bahkan untuk tidur pun kau tidak bisa menjulurkan kakimu.”

“Sebetulnya menurut ketentuan syahbandar, kapal semacam itu harus menyediakan kabin sekurangnya 1×2 meter persegi per orang, Suk,” kata pamanku, Fa Khiu, kakak tertua ibuku, menimpali.

“Ah! Pada zaman itu mana bisa kau harapkan orang mematuhi hukum! Yang ada, semua orang berlomba-lomba jadi penipu!” tukas Khiukong dengan wajah tampak sedikit memelas, lalu terbatuk-batuk kecil. Fa Khiu buru-buru menggapai gelas di atas meja dan menyodorkan kepadanya. Khiukong tampak meneguk air itu seperti orang kehausan, hingga sebagian berlelehan ke dagunya yang ditum buhi janggut putih dan membasahi leher kemeja kusamnya.

“Ai, tidaklah salah orang dulu mengibaratkannya seperti ‘mai cu cai’. Hay! Mereka benar-benar diangkut ke negeri asing seperti mengangkut anak babi yang hendak dijual… Dan sesampai di Nanyang mereka diperah seperti sapi!” lanjutnya setelah menyeka bibir dan dagunya dengan lengan kemeja.

Syahdan, akibat dimuati secara berlebihan, banyak di antara para kuli itu yang meninggal dalam perjalanan karena kelelahan dan sakit. Berlayar hanya mengandalkan hembusan angin, kau tahu, lama pelayaran bisa menjadi tidak menentu. Namun apabila nasib baik, jarak ini dapat ditempuh selama 28 hari.

Ah, bertahun-tahun kemudian, aku pun membaca sebuah novel autobiografis karya seorang penulis Amerika berdarah Kanton yang menggambarkan betapa sengsaranya orang-orang Kanton yang bermigrasi ke Negeri Paman Sam (Gunung Emas, kata mereka) sebagai pekerja rel kereta api di Sierra Nevada ataupun penebang kayu cendana dan buruh perkebunan tebu di Hawai. [6] Mereka–yang kebanyakan tiba secara ilegal itu; di antaranya diselundupkan lewat peti-peti kemas– mesti bekerja siang-malam menggali terowongan menembus gunung batu. Belum lagi ditipu dan diperlakukan secara tak adil oleh orang-orang kulit putih.

Ya, serupa kisah para imigran Kanton di Amerika, sebagian orang Hakka yang datang jauh-jauh ke Nanyang untuk mencari penghidupan lebih baik pun mengalami nasib yang tak kalah mengenaskan. Tetapi mereka membangun kampung-kampung dan pasar, membuat jalan-jalan dan toko-toko terus memanjang dan melebar. Karena merekalah kota-kota kami bermekaran…

***

TAK ada yang tahu pasti, kapan persisnya orang-orang Hakka mulai berimigrasi ke Bangka. Yang jelas, dalam berbagai arsip dan catatan sejarah yang masih mungkin ditelusuri, mereka sudah menjadi kuli penambang timah di pulau kecil kami jauh sebelum Banka Tin Winning Bedriff didirikan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1816 untuk mengeksplorasi timah. Yakni tatkala Kesultanan Palembang Darrusalam di bawah Sultan Mahmud Badarrudin I meneken kontrak penjualan timah dengan VOC pada tahun 1722. Awalnya, pada era Wan Akup [7], diperkirakan orang-orang Hakka yang didatangkan ke Bangka berasal dari Malaya, Thailand, dan Kamboja, khususnya mereka yang sebelumnya telah berpengalaman dalam penambangan timah.

Tetapi, seiring waktu, karena semakin banyak tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuka parit-parit tambang baru, maka mulailah didatangkan pekerja langsung dari China Daratan, baik melalui pusat perdagangan buruh di Singapura maupun langsung dari beberapa pelabuhan di kawasan China Selatan seperti Amoy, Swato, dan Hongkong. Pelayaran dari China ini biasanya dilakukan pada bulan Juni dan Oktober, yakni ketika cuaca di Laut China Selatan berada pada masa yang paling tenang di Musim Barat Daya.

Tentu, alasan utama didatangkannya kuli-kuli China ini selain karena tenaga mereka yang murah dan orang Melayu dipandang pemalas oleh Kolonial Belanda, juga lantaran mereka dianggap menguasai keahlian dan teknologi penambangan. Bagaimanapun, sampai akhir abad ke-19, dalam kurun waktu kurang lebih 50 tahun, dari 1850-1900-an, penambangan timah masih bergantung pada usaha padat karya. Sehingga meningkatkan produksi berarti penambahan kuli. Tak bisa tidak.

Secara umum, para kuli dari China ada dua jenis. Pertama, mereka yang sangat miskin, datang dengan menggadaikan dirinya pada calo pekerja atau kètóu [8] yang akan membawa mereka berlayar ke selatan. Mereka gadaikan diri dalam jangka waktu ter tentu untuk dipekerjakan di tambang-tambang timah atau pekerjaan lainnya di daerah Nanyang yang letaknya pun sebetulnya mereka tak tahu! Hal ini lantaran lokasi kerja mereka terserah pada kemauan kètóu.

Kedua, adalah mereka yang cukup punya uang dan terbuai oleh impian menemukan “tambang emas” di Nanyang. Meskipun mengikuti prosedur yang sama dengan yang pertama, namun karena membayar sendiri biaya pelayarannya, mereka tidak kehilangan kemerdekaan selama perjalanan. Kelompok ini lazimnnya terdiri atas anak-anak muda yang orang tuanya masih sanggup memberikan ongkos jalan.

Tetapi kau tahu, setiba di tempat tujuan, sama saja mereka diperlakukan!

“Hujan deras maupun panas terik mereka diharuskan tetap bekerja. Sepanjang tahun, tak ada cuti. Sekalipun pada hari-hari besar, kecuali pada saat Tahun Baru China ketika para pemilik tambang menggelar perjudian besar-besaran untuk menyedot kembali gaji mereka. Kalau tak bisa bekerja karena sakit, mereka mesti menggantinya di akhir tahun,” kuingat kata-kata getir yang keluar dari mulut Khiukong.

Terbayang pula olehku seorang lelaki tua yang dulu kerap datang ke toko jahit kami untuk menambal pakaian-pakaiannya. Ia selalu membawa sebuah tongkat, memakai kemeja dan celana ikat China yang lusuh, serta mengenakan caping daun pandan yang biasa kami sebut lepma. Akong selalu menolak bayarannya. Setahun sekali, menjelang Tahun Baru China, ia juga hampir bisa dipastikan akan datang menyicil kemeja dan celana baru dengan beberapa kali bayar. Kadang tidak sampai lunas, tetapi diikhlaskan oleh Akong.

“Ia seorang Palet Hiong [9],” kata Akong memberi tahuku suatu hari.

Jika tak salah ingat, ia muncul terakhir kali pada saat aku masuk SMP. Setelah itu tak pernah terlihat lagi.

“Mungkin sudah meninggal,” kata Mama dengan nada sedih. “Sudah tua begitu. Eh, kau tahu berapa usianya?” tanyanya sambil berpaling pada Papa. Ayahku hanya menggeleng, dan menjawab lemah, “Mungkin sudah hampir sembilan puluh.”

Ya, dialah kuli tambang kontrak dari China Daratan terakhir dan satu-satunya yang pernah kulihat di kota kecil kami. Konon, ia tinggal seorang diri di sebuah pondok kayu tak jauh dari pemakaman China dan bertanam sayur-mayur. Tak ada yang tahu apakah ia masih punya sanak-keluarga di China atau tidak, atau apakah ia pernah berkeluarga.

Terkadang ia duduk agak lama di ruko kami untuk mengobrol ala kadarnya dengan Akong. Mama biasanya suka menyuruhku mengantarkan secangkir teh untuknya dan ia akan menatapku sesaat, tersenyum dan mengangguk. Aku suka mendengar bahasa Hakka-nya yang lembut mendayu. Dengan intonasi yang sedikit lain dari bahasa Hakka Akong yang juga lembut, namun cukup kontras dengan bahasa Hakka yang digunakan sehari-hari di kota kecil kami, yang cenderung bernada tegas.

“Dengan gaji mereka yang begitu minim, jangankan menyimpan uang untuk pulang ke China, kebanyakan mereka justru terikat hutang seumur hidup,” kata Papa. Dan Akong membenarkan.

“Upah yang mereka dapatkan itu biasanya terhisap kembali oleh pemilik tambang yang sengaja menyediakan fasilitas judi, opium, dan pelacur. Sebagian besar dari mereka bahkan terpaksa berhutang kepada pemilik tambang dengan bunga 30 persen yang dipotong langsung dari gaji. Mereka baru bisa peroleh kembali kebebasan mereka kalau sudah memenuhi jumlah hari kontrak dan membayar semua hutang,” tukas kakekku menambahkan.

“Di Nanyang mencari uang itu gampang! Hanya setahun di sana, kau sudah bisa kaya raya! Pi lon [10] ah! Makan enak tiga kali sehari dengan paha ayam? Kalau daging kodok sih iya! Hahahaa!” Masih terngiang-ngiang di telingaku tawa Khiukong yang bergelak.

***

TETAPI orang China di Belinyu bukan cuma orang Hakka, melainkan juga orang Hokkian, Fuk Cha, Kanton, Tiochiu, Hainan, bahkan orang Shantung. Meskipun tidak sebanyak orang Hakka, banyak suku Hokkian juga tercatat sebagai kuli penambang timah sejak abad ke-18.

Hingga kini masih cukup banyak orang Hokkian di kota kecil kami. Namun mereka adalah anak-cucu dari kelompok yang datang belakangan untuk berniaga, yakni generasi Akong yang tiba dengan paspor dan visa resmi pada awal abad ke-20. Kami senang mendengar umpatan mereka, “Yao se ah!” yang (menurut ayahku dulu) artinya “Kau mau mati ya?”

Sedangkan keluarga Kanton satu-satunya yang kukenal hingga sekarang adalah kakak beradik tukang cukur di dekat gedung bioskop lama yang sudah lama terbengkalai. Toko cukur itu sudah berusia kurang-lebih 60 tahun dan mereka warisi dari ayah mereka yang datang dari China Daratan. Salah satu dari kakak-beradik itu kemudian menikah dengan seorang kakak sepupuku, dan kupanggil Ci Chong (kakak ipar). (*)

 

 

Krapyak, Jogjakarta, Tahun Baru China 2017

CATATAN

  1. Mandarin: 太平洋/ Taiping Yang (Samudra Pasifik) dan 大西洋/ Daxī Yang (Samudra Atlantik).
  2. Selain dari segi ejaan yang jelas berbeda, tidak semua nama Hakka kota-kota ini sama dengan namanya dalam bahasa Mandarin. Nama-nama Mandarin untuk ketujuh kota di Pulau Bangka ini adalah [1] Pangkalpinang: Bīn Gang (檳港) atau Bāngjiā Bīnlang (邦加檳榔), [2] Sungailiat: 雙溪利亞 (Shuāngxī Liya) atau 利亞港 (Liya Gang), [3] Koba: 科巴 (Kēbā) [4] Toboali: 都寶璽 (Dubaoxī) [5] Muntok: 門托克 (Mentuōke), [6] Jebus: 哲布斯 (Zhebusī), [7] Belinyu: 勿裡洋 (Wuliyang).
  3. Mandarin: 山口洋 (Shānkōu Yang).
  4. Mandarin: 過番歌 (Guo Fān Gē). Artinya “Tembang Berlayar ke Negeri Barbar”. Bagi orang China di zaman dulu, negeri-negeri di luar China Daratan adalah negeri barbar, termasuk negerinegeri di Selatan (Nanyang).
  5. Mengantar menantuku pergi berlayar ke negeri barbar, Kapal asing menanti tibanya syahbandar Guangdong, Kakakku ingin pergi ingin juga pulang, Pergi begitulah mudah pulang demikian sulit. (Karya anonim, diterjemahkan dari bahasa Hakka yang ditulis dalam huruf Hanyu)
  6. Maxine Hong Kingston, China Men (London: Picador, 1981).
  7. Bergelar Datuk Rangga Setiya Agama; putra Ce Wan Abdulhayat, seorang China Muslim dari Kanton bernama asli Lim Tau Kian yang menjadi mitra penguasa Johor. Ia dipandang sebagai pengembang pertama timah Bangka atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I sekaligus pendiri Kota Muntok.
  8. Bahasa Mandarin (客頭), secara harfiah berarti Ketua Tamu atau Ketua Buruh. Bahasa Hakka: Hakteuw.
  9. Bahasa Hakka, sebutan untuk penambang timah dari China zaman dulu.
  10. Bahasa Hakka, semakna dengan “omong kosong”.

 

 

SUNLIE THOMAS ALEXANDER, lahir di Belinyu, Pulau Bangka, 7 Juni 1977 dengan nama Thong Sunlie (Mandarin: Tang Shunli). Sempat belajar Seni Rupa di ISI Jogjakarta sebelum akhirnya menyelesaikan studi Teologi-Filsafat di UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta. Buku-bukunya yang sudah terbit: Malam Buta Yin (cerpen, Gama Media, 2009), Istri Muda Dewa Dapur (cerpen, Ladang Pustaka & Terusan Tua, 2012), dan Sisik Ular Tangga (puisi, Halindo, 2014). Sejumlah cerpen dan puisinya belum lama ini diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin dan terbit di Taiwan dengan judul Youling Chuan (2016). Saat ini ia sedang berupaya menyelesaikan novelnya Kampung Halaman di Negeri Asing. Cerita di atas merupakan bagian kedua dari himpunan ceritanya, Memoar Pulau Timah.

 

Advertisements