Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 22 Januari 2017)

singgah-di-omerta-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia
Singgah di Omerta ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

MEJA bar kayu di sudut ruangan masih sama. Juga meja-meja tamu yang disulap dari mesin jahit klasik. Kursi bersandaran besi padat berukir, rak-rak buku, etalase yang memajang suvenir otomotif, poster vintage Land Rover dan Vespa berbagai ukuran. Tak ada jejak mafia. Padahal nama kafe ini Omerta. The code of silence. Secara harfiah berarti gerakan tutup mulut, atau boleh jadi kesetiakawanan. Semacam perekat persaudaraan. Jangan harap ada wisky, vodka, atau brandy, bahkan sekadar bir pun tak tersedia di sini. Cuma kopi dan teh dalam berpuluh varian racikan.

“Selamat datang di Omerta!”

Sapaan yang persis sama. Meluncur dari balik meja bar yang tinggi, dari lelaki semampai, beruban, brewokan, bertato, kacamata minus. Namanya Deni, pemilik kedai sekaligus peracik kopi dan teh, merangkap pelayan. Jika karyawannya berhalangan, Deni menggantikannya. Seperti sekarang, dia menyapaku sembari membersihkan meja bar itu.

Siang jelang matang. 14.30. Di Omerta waktu berjalan lebih lambat.

“Apa kabar, Bung?”

Sesaat Deni menghentikan aktivitasnya. Ia menatapku, lalu memamerkan senyum lebar. “Oi… Lama tak singgah, Kamerad!” katanya setengah berteriak. Dijabatnya tanganku. “Sehat?”

“Sehat-sehat orang tua.”

Hahaha… Maka nikmatilah hidup, Bung. Kurangi tidur, perbanyak minum kopi. Jadi, apa pilihan Anda hari ini? Kopi Betina seperti biasa? Atau sesekali mau coba Kopi Jantan?”

Deni tersenyum lebar lagi. Tapi kali ini segera surut dan buru-buru minta maaf. “Bukan maksudku mengingatkan kau padanya.”

Aku menggeleng. Mencoba tersenyum. Siapa bisa lupa?

Usia kami sebaya. Sama-sama lahir di tahun 1977. Bulan ketujuh. Aku tanggal 17, dia 10 hari berselang. Begitu banyak angka tujuh dalam hidup kami. Aku mengkultuskannya, merekayasa sedemikian rupa hingga seluruh hidupku seolah tak bisa dipisahkan dari angka itu. Dia tidak. Seingatku, dia hanya melakukannya untuk satu hal: Tuesday with Morrie, halaman 154. Tiap kali kami singgah di Omerta, dia akan mengeluarkan buku itu dari tas. Tidak untuk dibaca. Dia mencari halaman itu, lalu meletakkannya di atas meja dalam kondisi terbuka.

Advertisements