Cerpen Iksaka Banu (Koran Tempo, 14-15 Januari 2017)

tegak-dunia-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo
Tegak Dunia ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

Setelah mendaki beberapa anak tangga curam, tibalah ia di bangsal atas kubu itu. Rambut cokelatnya langsung berkibar diterpa angin laut yang menerobos bebas dari deretan jendela bangsal. Ia menghampiri pintu utama, dan berdiri terpaku di sana. Bau laut yang belum begitu akrab bagi hidungnya kembali menyerbu. Tetapi aroma amis bercampur pesing itu tak sanggup mengalihkan rasa takjubnya melihat pemandangan yang terhampar di depan mata: Sebuah lapangan luas berbentuk segitiga, dikelilingi tembok setinggi kira-kira dua meter. Di balik tembok itu, ia bisa memilih obyek pemandangan. Sebelah kiri, sebatang sungai lurus lebar. Sementara jauh di utara, lautan luas dengan deretan kapal layar yang tampak seperti miniatur hiasan dalam botol.

Sekujur tembok memiliki lekukan yang diisi meriam. Ia menghitung. Bila setiap kubu memiliki enam meriam, maka keseluruhan meriam di keempat kubu Benteng Batavia itu berjumlah 24 pucuk. Cukup ampuh menahan serbuan darat maupun laut. Belum lagi meriam kecil di sekeliling tembok kota.

“Keempat kubu benteng ini diberi nama batu mulia. Parel, Robyn, Diamant, dan Safier. Kita berada di atas Kubu Parel. Mari mendekat ke tepi tembok meriam itu, Nak,” sebuah suara serak membuatnya menoleh ke kanan. “Engkau akan melihat, sebenarnya kita perlu semacam menara pengawas di seberang Kali Besar sana, di belakang Gerbang Pinang, dekat Kubu Culemborg. Kelak kau bisa membantuku mendesak Kepala Syahbandar mengajukan hal itu sekali lagi kepada Gubernur Jenderal.”

Sambil mengayun kaki, Jan van de Vlek, pemuda berambut cokelat itu, mencuri tatap wajah lelaki tua bermata satu yang mengajaknya bicara, dan mulai merasakan nuansa ancaman walau dalam bentuk samar. Tetapi ia tahu, Kapten Zwarte van de Vlek, pamannya ini, bukan sembarang orang. Sejak memasuki gerbang benteng tadi banyak petinggi schutterij *) menyapanya dengan hormat. Kalau para milisia saja segan kepada pamannya, apalah arti dirinya ini. Bocah berusia 12 tahun yang selama ini menghabiskan waktu di panti asuhan. Sangat bijak kiranya memasrahkan nasib sepenuhnya kepada sang paman, walau terus terang ia merasa tak nyaman berdekatan dengan makhluk buas yang senantiasa menguarkan aroma alkohol dari mulutnya ini.

“Mengapa kita perlu menara pengawas, Paman?” tanya Jan sembari dalam hati berusaha menebak, seperti apa bola mata Kapten tanpa sungkup penutup mata itu.

“Penting sekali,” telunjuk Kapten Van de Vlek teracung ke depan. “Agar kita waspada, dan segera menutup Gerbang Pinang di atas Kali Besar itu bila dari jauh terlihat kapal asing yang ingin menerobos masuk kota. Selain itu, menara juga bisa dipakai para nakhoda menentukan garis bujur.”

Jan melongok arah yang ditunjukkan pamannya, lalu manggut-manggut.

“Engkau harus mulai belajar soal kapal dan pelayaran, Nak,” ujar Kapten Van de Vlek. “Sesuai surat wasiat ayahmu, aku harus mendidikmu menjadi pelaut. Akhir tahun ini kau harus pergi dari rumah yatim-piatu itu. Tinggal bersamaku di rumah milik almarhum orang tuamu di Malleabaer Gracht. Bila aku berlayar, kau mesti ikut. Nanti kuminta pemilik panti asuhan agar memberimu keleluasaan bertemu denganku lebih banyak lagi.”

Jan tak memberi jawaban. Sinar matanya memancarkan keraguan.

“Hei, tak suka menjadi pelaut?” Kapten Van de Vlek mendorong pundak Jan. ‘Jangan bikin malu. Ayahmu nakhoda hebat. Kakekmu juru mudi kapal Hollandia, kepercayaan Cornelis de Houtman.”

“Aku tahu. Aku pun mulai menyukai laut,” Jan menghela nafas, lalu melanjutkan bicara dengan suara lebih rendah. “Namun menurut Tuan Van Geloofig, hidup sebagai pelaut menjauhkan diri kita dari surga. Mungkin aku akan memilih magang sebagai Asisten Syahbandar saja.”

“Jauh dari surga? Tentu saja!” Kapten Van de Vlek mendadak terpingkal-pingkal.

“Kami gemar mabuk, dan selalu mampir ke rumah pelacuran di setiap pelabuhan. Tak pernah berdoa, kecuali saat kapal diserang badai. Itupun sesungguhnya bercampur sumpah serapah. Jadi, siapa tadi nama gurumu yang suci itu?”

“Marius van Geloofig,” jawab Jan. “Pendeta dan guru agama kami di panti asuhan.”

Kapten Van de Vlek berhenti tertawa. “Mana ada pendeta di sekitar sini?” semburnya. “Pendeta resmi VOC adalah Tuan Johannes Stertemius, dan ia tidak mengajar di tempatmu. Orang ini pasti hanya ziekentrooster *). Banyak lagak! Betul, kami jauh dari surga. Tetapi tanpa kami, para penjelajah samudra ini, mana mungkin Eropa bisa mengenyam kesejahteraan?”

“Justru Tuan Van Geloofig bicara soal penjelajahan samudra itu, Paman,” sahut Jan. “Di situlah letak dosa yang lebih besar dibandingkan mabuk atau main perempuan. Menurut beliau, para pelaut mengabaikan firman Tuhan. Menyebar kepalsuan. Mereka berlayar seturut garis pantai. Bukan memutar separuh dunia.”

“Beraninya ia berkata demikan!” Kapten Van de Vlek menarik botol arak dari saku jas, meneguk sedikit isinya. “Kau kira semua pelaut berbohong? Apakah kau tidak belajar ilmu bumi? Kami sungguhsungguh melintas samudra. Itu sebabnya kuminta kau menjadi pelaut. Kau akan lihat sendiri.”

“Bukan berbohong. Tetapi para pelaut tak sadar, mereka hanya menyusur pantai. Kata Tuan Van Geloofig, kalau benar lurus menyeberangi lautan luas, kapal akan ditelan ujung samudera. Jatuh ke jurang tanpa dasar. Bagaimana pula manusia bisa menjelaskan air laut bisa tetap berada di tempatnya bila permukaan bumi bundar? Bumi bundar adalah bid’ah terbesar yang dilakukan orang Kristen kepada kaumnya sendiri,” kata Jan. “Begitulah yang diajarkan di panti asuhan.”

“Yang kita butuhkan adalah astrolabe, peta, kuadran, dan kompas, Nak. Dan alat-alat itu hanya berfungsi sempurna bila bumi ini bundar. Bukan datar. Gurumu tak paham navigasi. Aku yakin ia lahir di sini. Belum pernah melintas samudera ke Eropa,” Kapten Van de Vlek menggeleng. “Yang mengerikan dari kaum puritan adalah omong kosong semacam ini. Bumi itu bundar, berputar cepat pada sumbunya, sehingga air laut tidak tumpah.”

Jan terdiam.

“Sejak orang-orang macam gurumu dekat dengan pemerintah, semua berubah memuakkan,” sambung Kapten Van de Vlek. “Tak ada lagi pakaian warna-warni. Sekarang semua serba hitam-putih. Topi hitam, kerudung putih, gaun hitam. Manusia harus hidup sederhana seturut kesederhanaan Sang Penebus, begitu kata mereka. Seluruh bagian tubuh pun tertutup rapat. Lalu mereka menebar ancaman neraka bagi pelanggarnya. Di lain waktu, berjenis larangan itu justru dijadikan alat fitnah. Dan kini mereka ingin mengatur bidang yang bukan jatah keahlian mereka? Sudah waktunya pemerintah mendatangkan lebih banyak lagi pendeta berkualitas dari Eropa.”

“Aku hanya menyampaikan yang diajarkan kepada kami, Paman,” kata Jan.

“Ya, tapi jangan ikut tolol!” dengus Kapten. “Lihat kapal di sana. Semula hanya tampak ujung layar, kini seluruh bentuk kapalnya muncul. Kau tahu artinya? Bola, Jan. Bumi seperti bola. Kapal merambat ke atas mengikuti lengkungnya. Dan air laut tidak tumpah. Mengerti, Jan?”

“Ya, Paman,” jawab Jan tanpa gairah.

Donkere luchten!” Kapten Van de Vlek memaki. “Lihat wajahmu. Kau benar-benar sudah keracunan pikiran abad kegelapan. Pulang sajalah. Minggu depan kita lihat apa yang bisa kau pelajari tentang kegiatan di syahbandar. Ada kapal dari Eropa akan masuk. Datanglah sepagi mungkin, temui aku di ruang pabean!”

Jan mengangguk, lalu menyeret kaki kembali ke bangsal. Kapten Van de Vlek mengawasi punggung kemenakannya dengan gundah. Sejak ayah anak itu memboyong istri mestizo-nya tinggal di rumah pusaka keluarga Vlek, ia segera melihat bahwa hidup berumah tangga, apalagi mengurus anak, tak ubahnya seperti neraka.

Setiap hari perempuan brengsek itu membuat abangnya dan seluruh penghuni rumah, menderita sakit kepala. Lebih sakit dibandingkan pengaruh tiga botol arak Madeira saat bangun pagi. Selain mengatur hidup suaminya, perempuan itu tak segan mencampuri urusan pribadi adik iparnya.

Maka suatu hari, pada usia 14 tahun, ia tak tahan lagi. Ia memutuskan pergi dari rumah kakaknya. Ikut Kapal Nieuwe Hoorn, bertualang dari laut ke laut. Syukurlah nasib baik berpihak kepadanya. Dari kelasi biasa, jabatannya meningkat menjadi pembantu juru mudi, lalu naik lagi menjadi juru mudi, kemudian Asisten Mualim III. Lantas pada suatu pelayaran yang sial, terjadi pertempuran hidup-mati melawan bajak laut di sekitar Laut Banda. Sebelah matanya terpapas parang. Namun kejadian itu justru membuat namanya meroket. Menjadi buah bibir di kalangan pelaut. Sebentar kemudian, ia menempati jabatan baru sebagai nakhoda, yang digelutinya selama 15 tahun hingga kini.

Sayang, di antara sukacita hidupnya, wabah pes mengganas di Batavia. Keluarga kakaknya tumpas. Meninggalkan si kecil Jan, yang segera dimasukkannya ke panti asuhan dekat Rumah Sakit Cina. Sesuai amanat Sang Kakak, setelah berusia 13 tahun ia harus mengeluarkan anak itu dari panti, dan menjadikannya seorang pelaut seperti ayahnya, atau seperti pamannya. Tetapi, lihatlah anak itu hari ini. Betapa akan sia-sia hidupnya kelak. Namun ia tak boleh menyerah. Mulai sekarang, Jan adalah bagian hidupnya. Ia bertanggung jawab atas masa depannya.

Demi masa depan kemenakan pulalah seminggu kemudian Kapten Van de Vlek, mengunjungi Tuan Adriaan Gewetensvol, Kepala Syahbandar. Sedikit menekan malu, ia merayu Tuan Gewetensvol agar menerima Jan magang sebagai petugas syahbandar.

“Keponakanku pintar,” ujar Kapten. “Kau takkan kecewa. Kebetulan ia akan ke sini siang ini. Lihatlah sendiri.”

Tuan Gewetensvol belum bisa memutuskan apa pun. Pagi itu, dua buah tongkang besar merapat di pabean. Petugas syahbandar sibuk meneliti dokumen serta muatan yang diturunkan. Sebagian lain pergi ke teluk, memeriksa galiung Eropa, tempat asal muatan itu. Ukuran kapal galiung itu terlalu besar, tak bisa merapat. Mereka membuang sauh agak jauh dari daratan.

“Mari kita lihat kiriman untuk Kerajaan Gowa yang kemarin malam diturunkan,” Tuan Gewetensvol menunjuk satu peti besar di depan kantor syahbandar. “Ada yang harus ditandatangani Gubernur Jenderal. Ada pula rencana memamerkannya di Balai Kota. Entah kapan barangbarang ini akan diberangkatkan ke Makassar.”

“Apa isinya?” tanya Kapten.

“Kau akan kagum,” Tuan Gewetensvol menyorongkan dokumen barang.

Sebentar kemudian, kedua orang itu tenggelam dalam keasyikan memeriksa muatan lain, sehingga baru agak lama Kapten Van de Vlek menyadari bahwa jauh di belakang sana berdiri dua orang pria. Salah satunya adalah keponakannya sendiri.

“Tuan Van Geloofig ingin bicara berdua saja dengan Anda, Paman,” Jan mengangkat telapak tangan, menunjuk lelaki tua di sisinya.

“Kehormatan bagi saya,” Van Geloofig menerima uluran tangan Kapten.

“Apa yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Kapten setelah mempersilakan Van Geloofig duduk di ruang tamu syahbandar. “Sebelumnya, terima kasih telah merawat keponakan saya selama 7 tahun. Semoga ia tak merepotkan Anda.”

“Jan sama sekali tidak merepotkan,” Van Geloofig melipat kedua tangannya ke atas meja. “Tetapi sejak pulang dari pertemuan dengan Anda minggu lalu, ia membuat resah panti asuhan, dan sedikit membuat saya kecewa. Ini berkaitan dengan paham yang Anda sampaikan kepadanya.”

“Silakan teruskan,” Kapten Vlek mengeluarkan pipa dari saku jas. “Saya belum menangkap maksud Tuan.”

“Baiklah, saya akan langsung saja,” Van Geloofig merogoh tas, mengeluarkan sebuah Alkitab. “Saya orang bodoh, Tuan. Takkan bisa memahami ilmu pengetahuan. Bila Anda ingin mengambil Jan hari ini, silakan bawa. Akan saya kembalikan biaya perawatan setahun ke depan yang sudah Anda bayar. Tetapi lepaskan dia dari paham yang bertentangan dengan Sabda Tuhan.”

“Sabda Tuhan?” Kapten menggaruk kepalanya.

“Tuan Kapten,” dagu Van Geloofig tiba-tiba mengeras. “Bila Anda terlalu sibuk dengan urusan duniawi dan ilmu kelautan yang begitu Anda puja bersama rekanrekan Anda, sehingga alpa mendaras Kitab Suci, izinkan pagi ini saya bacakan beberapa ayat dari Kitab Mazmur ini untuk Anda.”

Kapten Van de Vlek diam menunggu.

“Engkau yang berpakaian keagungan dan semarak!” seru Van Geloofig. Tangannya menelusuri huruf di atas halaman kitab bersampul kulit itu. “Yang telah mendasarkan bumi di atas tumpuannya, sehingga takkan goyang untuk seterusnya dan selamanya!” Van Geloofig menatap wajah Kapten. “Dengar, Kapten. Mendasarkan bumi di atas tumpuannya. Takkan goyang. Itu Sabda Tuhan. Apakah bumi berbentuk bola punya tumpuan yang takkan goyang? Dengarkan pula yang satu ini…”

“Yehova berpakaian, berikat pinggang kekuatan. Sungguh, tegak dunia, tidak bergeser dari tempatnya,” Van Geloofig menutup kitabnya. “Sekali lagi saya bertanya, Kapten. Apakah sesuatu bisa berdiri tegak di atas tumpuan berbentuk bola?”

Kapten ingin mengatakan sesuatu, tetapi Van Geloofig lebih dahulu menukas: “Tak perlu Anda bicara ilmu perbintangan. Semua buatan manusia. Pegangan saya adalah perkataan Tuhan sendiri!”

“Untuk menjawab Anda, saya bisa menunjukkan bukti lewat alat. Tetapi Anda tak ingin mendengar. Jadi, apa yang harus saya lakukan?” sesungguhnya amarah Kapten sudah di ujung tanduk, tetapi rasanya tak baik memaki seseorang yang dekat dengan Alkitab.

“Seperti kata saya tadi, silakan bawa Jan ke luar,” Van Geloofig bangkit dari kursi. “Jangan biarkan ia meracuni anak lain. Dunia sudah penuh dosa. Itu saja. Permisi.”

Kapten Van de Vlek membiarkan tamunya hilang ditelan tikungan. Lalu ia mendekati Jan yang sejak tadi berdiri terpaku di luar.

“Ikut aku!” ia menyeret tangan keponakannya. Berdua, mereka masuk ke gudang pabean. Tuan Gewetensvol memperhatikan kedatangan mereka berdua.

“Maaf Adriaan,” Kapten menatap Tuan Gewetensvol. “Dengan segala hormat, izinkan aku dan keponakanku melihat sekali lagi isi peti kemas untuk Raja Gowa itu.”

“Baru saja kututup. Tetapi, mengapa tidak? Aku juga senang melihatnya sekali lagi,” kata Tuan Gewetensvol. Ia menoleh kepada dua orang budak Melayu yang sedang sibuk memaku peti.

“Bongkar!” perintahnya.

Linggis dan palu kembali bekerja. Sebentar kemudian, tutup peti itu jatuh berdebam. Jan van de Vlek terbelalak. Seumur hidup belum pernah ia melihat benda seperti itu. Begitu besar. Begitu indah. Begitu rinci. Sebuah mahakarya.

“Ini sebuah globe! Tiruan bumi. Lengkap dengan relief benua, pulau, samudera, serta keterangan dalam bahasa Spanyol, Portugis, dan Latin. Sesuai permintaan pemesannya. Lihat bentuknya, Jan. Bola!” seru Kapten Van de Vlek.

“Menurut dokumen, benda ini hasil karya Joan Blaeu, ahli peta ternama dari Belanda. Tingkat keakuratannya sangat tinggi. Jangan kau kira garis lintang dan bujur ini digores sembarangan. Blaeu menghabiskan tujuh tahun untuk riset dan membuat benda ini. Ditambah satu seri peta dinding. Tahu berapa nilai maha karya ini? Lima ribu gulden. Setara harga satu rumah di kawasan elit Tygers Gracht.”

Jan van de Vlek tak berkedip.

“Tapi bukan itu yang ingin kubicarakan!” kata Kapten Van de Vlek. “Dengar, Jan. Selama ini kita membanggakan diri sebagai bangsa paling maju. Di luar sana, sejak 200 tahun lalu, para cendekiawan kita sudah selesai menyimpulkan bahwa bumi berbentuk bola, berputar pada porosnya, dan mengelilingi matahari setiap 365 hari. Tetapi, tahukah kau siapa yang memesan globe raksasa ini?”

Jan menggeleng.

“Pemesannya adalah Karaeng Patingalloang, Mangkubumi dari Kerajaan Gowa. Seorang pribumi!” lanjut Kapten Van de Vlek. “Usianya 18 tahun. Tetapi sudah menguasai politik dan hukum tata negara. Fasih bicara bahasa Belanda, Inggris, Spanyol, Portugis, Arab serta Latin. Lihat etsa wajahnya ini. Ia memiliki perpustakaan pribadi yang dijejali ribuan buku dari Eropa. Apa yang kau pelajari selama ini?”

“Kita sudah berjalan begini jauh, Jan. Para cendekiawan di seluruh dunia mempercayai ilmu kita. Sementara orang dari panti asuhan itu hendak kembali ke zaman kegelapan? Ia boleh setia pada keyakinannya, tetapi ia tak bisa mengancam pihak yang sudah memiliki bukti lebih kuat dan diuji banyak orang!” Kapten Van de Vlek meraih botol arak lalu melangkah ke luar ruangan, meninggalkan keponakannya di depan peti kemas.

Jan van de Vlek termenung. Perlahan ia berlutut. Tangannya menyentuh lempengan tembaga yang ada di bawah globe. Keempat sisi lempengan itu berlubang. Tampaknya disediakan untuk ulir paku.

“Sebelum dipasang pada dudukan globe, lempeng itu harus ditandatangani Gubernur Jenderal dan Kepala Dagang Hindia, Nak,” Tuan Gewetensvol yang sejak tadi mengamati Jan, merasa iba. Ditepuknya punggung Jan.

“Pamanmu pelaut hebat. Pelaut hebat tak takut mati. Mereka bertualang. Meninggalkan tempat aman, menerobos tabu. Membuktikan bahwa kadangkala dunia jauh lebih menarik dibandingkan yang dibayangkan secara kaku dari balik meja atau ruang rapat pemuka agama.”

Jan van de Vlek menunduk. Matanya mengeja tulisan yang digrafir rapi di atas plakat tembaga itu. Potongan puisi karya penyair Belanda tersohor, Joost van Vondel:

Kantor Tuan Tujuh Belas

kirim bola dunia pada Pattingaloang Agung,

yang benaknya selalu penuh rasa ingin tahu,

sehingga seluruh dunia terlalu kecil.

 

 

Jakarta, Januari 2017

 

  • Schutterij: Penjaga keamanan kota.
  • Ziekentrooster: Peran sesungguhnya adalah penghibur orang sakit. Membacakan ayat Alkitab. Belakangan, karena terbatasnya jumlah pendeta di Hindia, mereka mengambil alih peran pendeta.
  • Mestizo: Peranakan Eropa dengan bangsa lain.

 

 

Untuk artikel Sastra dan Puisi Koran Tempo Akhir Pekan bisa dikirim ke email: sastra@tempo.co.id

Advertisements