Cerpen Hartoko Supriadi (Suara Merdeka, 08 Januari 2017)

kaki-yang-ketiga-ilustrasi-suara-merdeka
Kaki yang Ketiga ilustrasi Suara Merdeka

Tanah lapang di tepi desa, tempat sapi dan kambing merumput itu kini disulap menjadi arena pertandingan yang meriah. Kompetisi sepak bola antar kampung sudah beberapa hari ini berlangsung. Bila sore menjelang, tempat yang biasa sunyi sepi itu berubah menjadi riuh dan gegap gempita. Acara dipandu oleh reporter amatir lewat pengeras suara. Gayanya lincah memilin dan menjalin kata-kata. Seperti reporter dalam tayangan televisi, menarik dan enerjik. Membius penonton yang datang berduyun lalu berhimpun. Laksana gerombolan semut yang merubung gula-gula.

Penonton yang berdesakan di tepi lapangan itu sesungguhnya terbelah menjadi dua. Masing-masing mendukung dan menjagoi kesebelasan kampungnya. Tetapi mereka seperti bersepakat, ingin menyaksikan pertandingan dan permainan yang memikat. Mereka pun mengidolakan bintang lapangan yang sama. Kusuma yang dijuluki Si Geledek, putra dari kepala desa. Tendangannya terkenal keras luar biasa. Bila mendapatkan bola, si kulit bundar itu seperti lengket di kakinya.

Bila Kusuma tengah menggiring bola, perawan dan gadis-gadis menjerit-jerit histeris. Penonton memberi semangat dengan teriak dan tempik sorak. Yel yel “ayo Kusuma” pun segera membahana.

“Bola sepenuhnya dikuasai oleh Kusuma dari Tunas Muda. Beberapa pemain lawan berusaha mengurung dan merebut bola, satu, dua pemain lawan dapat dikecohnya, Kusuma terus menggocek bola dibayangi dua, tiga pemain lawan menuju kotak penaltiiii. Suro, bek tangguh dari Bintang Kejora datang menghadang, berusaha mengganjal dengan kerassss.. ahaaa, Kusuma dapat lolos, berkelit dan melewatinya sodara-sodaraaaa.. kini dia hanya berhadapan dengan penjaga gawang. Apa yang terjadiiiii?! Kusuma kontrol bola sebentar, berusaha memperdaya kiper. Si Geledek tembak langsuuuuuung ke rusuk kanan gawaaaang, dan Goooooool!! Gol gol gol!!” Suara reporter menggelegar lewat pengeras suara. Dan,hrrrr detik berikutnya tempik sorak, jerit dan teriakan penonton langsung meledak memecah angkasa.

Hampir separuh penonton menyerbu ke tengah lapangan. Berjoget dan menari-nari merayakan kegembiraan. Anak-anak berjingkrak dan bersorak-sorak. Dua orang polisi dan beberapa orang hansip datang menghalau penonton. Meminta mereka untuk tertib dan kembali ke pinggir lapangan sebab pertandingan akan segera dilanjutkan. Tetapi penonton seperti tidak peduli. Sandal, topi dan segala penutup kepala, dilempar ke udara. Gambaran suka cita dari orang-orang desa. Mereka bergembira merayakan gol Kusuma.

Barulah ketika pentungan hansip teracung-acung ke udara, penonton berangsur kembali ke tepi lapangan. Bintang Kejora tertinggal dua kosong dari Tunas Muda, kesebelasan Kusuma. Dua gol di babak pertama itu diborong oleh sang bintang lapangan. Beberapa pemain Bintang Kejora bersungut-sungut dan terlihat kesal. Wajah mereka memerah karena lelah dan menahan marah. Hati mereka dongkol karena kesebelasannya tertinggal dua gol.

Pertandingan dilanjutkan. Tetapi permainan sudah menjurus keras dan kasar. Bahkan cenderung membahayakan keselamatan pemain lawan. Anak-anak Bintang Kejora bermain seperti kesetanan. Mereka seperti tidak peduli lagi dengan kekalahan. Tujuan mereka sekarang adalah mencederai lawan.

Anak-anak Tunas Muda jatuh bangun menghadapi keberingasan pemain Bintang Kejora. Kusuma beberapa kali terjatuh diganjal pemain lawan. Dua rekannya tergeletak ditebas dengan keras. Pemain baru yang menggantikannya terlihat bermain dengan ragu-ragu. Sampai turun minum keadaan masih tetap dua kosong, kemenangan sementara bagi kesebelasan Tunas Muda.

***

Saat turun minum, dua kesebelasan bergerombol di sudut-sudut lapangan menjadi dua kubu. Berbaur dengan penonton,penjaja makanan dan para pengasong yang berseliweran kesana kemari. Bahkan beberapa ekor kambing ikut nimbrung, berkeliaran dengan bebasnya di antara anak-anak yang berlarian.

Dalam kehidupan ini,selalu saja ada orang yang berjiwa kerdil, telengas dan berhati dengki. Dia adalah Sapri, pelatih kesebelasan Bintang Kejora dari Kampung Lebak. Di waktu muda, Sapri juga seorang pemain bola yang handal. Hanya saja ia selalu kalah pamor dari pemain bola yang satu desa dengannya, Hendra.

Mereka berdua tidak saja bersaing dalam permainan sepak bola, tetapi juga dalam urusan asmara. Ketika mereka dewasa dan sama-sama mengikuti kontestasi pemilihan kepala desa, lagi-lagi Sapri harus menelan pil pahit. Ia kalah telak dari Hendra yang terpilih menjadi kepala desa. Bukan saja kehilangan banyak uang dan harta, tetapi juga mendapat malu dan tentu saja sakit hati. Ia menganggap Hendra telah berlaku curang dan sengaja mempermalukannya.

Sapri ingin membalas sakit hati pada Hendra, musuh bebuyutannya. Dan kesempatan itu akhirnya tiba. Ia ingin membuat celaka Kusuma, anak seterunya itu. Maka ia tak peduli dengan kekalahan tim asuhannya. Kepada anak-anak didiknya ia instruksikan untuk bermain keras. “Buat mereka cedera!!”

Adalah Suro, bek tangguh kesebelasan Bintang Kejora. Bertubuh tinggi, gempal dan berwajah sangar. Khusus kepada pemain yang satu ini, Sapri berbisik rahasia: “Patahkan kaki Kusuma. Ada bonus istimewa buat kamu!” Palang pintu Bintang Kejora berkulit legam itu menyeringai. Ia paham apa yang dimaksud oleh pelatihnya.

***

Langit sore di atas desa Babakan semburat jingga. Kalong dan kampret mulai keluar dari sarangnya, berterbangan memenuhi angkasa. Terbang ke arah tenggara menyongsong gelap, siap berburu mangsa. Di bawahnya, di lapangan desa, kompetisi sepak bola antar kampung masih terus berlangsung. Reporter masih berkoar-koar dengan sengitnya lewat pengeras suara. Persis seperti tukang obat di pasar menawarkan dagangannya.

“Sodara-sodaraaa di babak kedua ini, kesebelasan Tunas Muda kampung Munggang mempertontonkan permainan yang cantik dan menarik. Mengimbangi anak-anak Bintang Kejora dari kampung Lebak yang bermain lugas dan cepat.”

Di lapangan pertandingan, para pemain Bintang Kejora mulai menjalankan instruksi pelatihnya, bermain keras dan brutal. Lengking peluit wasit diimbangi jerit penonton yang memekik-mekik.

“Umpan lambung dari Solihin, diterima dengan sundulan manis oleh Eko dari Tunas Muda. Anwar Korep dari Bintang Kejora menerjang!… terjadi bodi cas antara keduanya (maksudnya body charge ) Eko jatuh dan terguling-guling sodara-sodara,” priiiiit peluit wasit menjerit. Anwar Korep dianggap melakukan pelanggaran. Gemuruh suara penonton di pinggir lapangan. Tunas Muda mendapatkan tendangan hukuman. Para pemain Bintang Kejora kian penasaran dan blingsatan.

“Bola dihadapi oleh nomor punggung dua, Purwanto ancang-ancang diaa! Tendangan lambung terarah kepada Wasissss, kontrol bola sebentar Wasis, lawan berusaha merebut bolaaa.., Wasis operkan kepada Kusuma yang berdiri bebas, dua pemain Bintang Kejora langsung mengerubut Kusuma, Kusuma berkelit dan loloooos, menggiring bola dia, menuju kotak penaltiii….!” Penonton,pendukung Tunas Muda berteriak memberi semangat. Sementara pendukung kesebelasan Bintang Kejora cemas, mengumbar serapah dan mengumpat-umpat.

Di pinggir lapangan, Sapri sang pelatih memberi aba-aba dan isyarat. Suro cepat tanggap.

“Senter bek Bintang Kejora datang menghadang, wajahnya terlihat tegang. Kusuma kontrol bola, melewati garis kotak penaltiiii. Tiba-tiba dengan deras Suro menerjang sambil menjatuhkan badan. Kakinya yang sekeras baja menebas kaki lawan.. akhhh !!” Hampir seluruh penonton berteriak memekik. Kusuma langsung terjungkal dan terkapar.

Disaksikan lembayung langit senja, Kusuma menggeletak tak berdaya. Tulang kering kaki kanannya nampak cedera parah. Atau mungkin saja patah. Penonton sesaat terpana. Hati mereka tercekat menyaksikan pemain kesayangannya terluka. Detik berikutnya, bersamaan wasit mencabut kartu merah, penonton menyerbu ke tengah lapangan seperti air bah. Mereka menuntut bela karena pemain kesayangannya mendapat celaka.

Nampaknya anak-anak Bintang Kejora juga sudah siaga. Begitu pun para pendukung fanatiknya, mereka siap berlaga. Maka perkelahian masal pun tak terelakkan. Suasana jadi berubah mencekam. Mereka seakan tak peduli dengan datangnya senja kala. Saat yang tabu dan peka melakukan segala perkara, saat peralihan waktu siang menuju pangkuan malam.

Laksana pasukan Pandawa yang bertempur melawan Kurawa dari Hastina dalam perang Bharatayudha. Lapangan sepak bola itu berubah menjadi padang Kurusetra. Bukan pertarungannya dua keturunan atau darah Bharata. Tetapi perkelahian yang brutal antara dua warga kampung dari satu desa yang sama. Mengikuti hawa nafsu dan amarah belaka. Dua orang polisi, beberapa hansip dan panitia pertandingan, tak kuasa melerai perkelahian yang sudah berubah menjadi tawuran. Suasana menjadi kalut, ribut dan amuk.

Beruntung ada seorang panitia yang masih bisa berpikir jernih. Dia segera menghubungi markas tentara dan polisi. Maka,bersamaan dengan turunnya malam, datanglah bala bantuan. Polisi dan tentara segera mengamankan keadaan. Melerai,meredakan amuk dan perkelahian.

***

Di kantor polisi, orang-orang yang dianggap provokator dan pemicu keributan ditangkap dan ditahan. Bisa saja mereka dijadikan tersangka pasal kerusuhan. Di sel tahanan sekelompok orang dari dua kubu yang berbeda itu dijadikan satu. Mereka tak ada bedanya seperti minyak dengan air. Wajah-wajah mereka yang kuyu masih menyimpan sisa kebencian. Seperti api dalam sekam.

Seorang di antaranya adalah Sapri. Tetapi lihatlah, wajah lelaki itu datar belaka tanpa ekspresi. Tak mencerminkan penyesalan, apalagi rasa bersalah. Andai saja orang mengerti. Ya, andai saja orang mengerti isi hati Sapri saat ini. Lelaki itu tengah merasakan kepuasan karena telah melampiaskan dendam dan sakit hati.

Kepada seterunya, Hendra tentu saja. Juga kepada Murni yang dulu ia anggap mengkhianati cintanya. Kusuma, anak kesayangan mereka satu-satunya telah ia buat celaka.

“Rasakan kalian sekarang, burung kesayangan kalian telah kubuat pincang!”

***

Ada sebuah rumah di kampung Munggang, desa Babakan. Paling besar dan paling tua dibandingkan rumah-rumah lainnya. Rumah kuno itu adalah tempat tinggal Eyang Wira, orang tua Hendra sang kepala desa. Sudah hampir dua bulan Kusuma tinggal di rumah Kakeknya. Eyang Wira dulu juga seorang lurah. Lelaki sepuh itu terkenal sebagai seorang penyembuh. Orang menyebutnya sebagai tabib atau dukun yang ampuh.

Di teras belakang yang luas, ada taman dan kolam ikan. Halamannya penuh dengan tanaman bunga dan buah-buahan. Terlihat Kusuma sedang tertatih-tatih sendirian. Ia sedang belajar berjalan dengan bantuan tongkat di tangan. Bukan kruk penyangga badan. Tetapi tongkat dari kayu yang khusus dibuat oleh Kakeknya.

Berkat wejangan Kakeknya, Kusuma ikhlas menerima musibah yang menimpanya sebagai risiko sebuah pertandingan. Ia tak merasa sakit hati apalagi menyimpan dendam. Sebab bila hati menyimpan dendam, dan amarah,maka penderitaan serasa bertambah-tambah. Seperti keyakinan Kakek Wira yang setia merawat dan mengobatinya: Bila Yang Maha Kuasa berkehendak, kakinya pasti sembuh dan kembali bisa bermain bola.

“Kamu hebat dan kuat, cucuku. Tulangmu masih muda, pasti akan pulih seperti sedia kala. Kamu pasti sembuh, sembuh!” (92)

 

 

Cipanas,21 Desember 2016

Hartoko Supriadi Lahir di Indramayu 21 Desember 1960. Menulis cerpen di sejumlah media massa. Tinggal dan menetap di dusun Cipanas Kedungoleng, Paguyangan, Brebes.

Advertisements