Archive for January, 2017

Hukuman untuk Pencipta Bahasa
January 29, 2017


Cerpen Indra Tranggono (Media Indonesia, 29 Januari 2017)

hukuman-untuk-pencipta-bahasa-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Hukuman untuk Pencipta Bahasa ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

AKU merasa tersesat di negeri aneh, seperti negeri animasi. Langit dicat warna biru, tak ada gradasi, semua memadat, datar, serupa warna lukisan dekoratif.

Biru langit menjadi latar yang manis gedung-gedung tinggi dengan warna kuning, hijau, atau merah. Jalanan yang dicat putih memanjang hingga cakrawala.

Mobil-mobil melintas. Tak ada yang tergesa. Tak ada yang bergegas. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Kelengangan terasa abadi. Yang bikin aku tercengang, tak ada satu pun orang terlihat. Aku lebih banyak menemukan makhluk yang sulit diidentifi kasi jenisnya. Tubuh mereka serupa bulatan daging lonjong dengan ekor di bagian belakang. Tak ada kepala layaknya kepala manusia. Hanya mata, mulut, dua lubang, dua kaki dan tangan. Mereka berjalan dengan cara merangkak. (more…)

Advertisements

Lelaki Subur
January 29, 2017


Cerpen Danang Cahya Firmansah (Suara Merdeka, 29 Januari 2017)

lelaki-subur-ilustrasi-suara-merdeka

Lelaki Subur ilustrasi Suara Merdeka

Saat ngopi di warung pertigaan jalan, Gober merenung, gelisah. Tangan kanannya memegangi kening, tangan kiri memegang rokok menyala. Gelas kopi di hadapannya masih penuh, belum setetes pun dia teguk. Gober memikirkan biaya untuk melanjutkan sekolah anak-anaknya. Dia memijit-mijit kening, kebingungan.

“Kenapa, Pak?” tanya Mak Ijah, pemilik warung, pada Gober.

“Bingung, Mak. Anak-anakku butuh biaya.”

“Anakmu berapa ta?”

“Enam.” (more…)

Perihal Orang-Orang China di Belijong
January 29, 2017


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 29 Januari 2017)

perihal-orang-orang-china-di-belijong-ilustrasi-bagus-hariadi-jawa-pos

Perihal Orang-Orang China di Belijong ilustrasi Bagus Hariadi – Jawa Pos

“ALANGKAH besarnya kota ini!” seloroh ayahku suatu hari, kemudian terkekeh. Aku –yang waktu itu baru duduk di bangku kelas dua entah tiga SD– juga ikut tertawa geli begitu memahami apa maksud kelakarnya. Seketika itu pula, terbayanglah olehku Taiping Jong dan Taisi Jong [1] dalam cerita-cerita Akong. Ah, samudra yang terhampar demikian luas!

Kecuali Kota Kecamatan Kelapa yang nyaris seluruh warganya orang Melayu, setiap kota di pulau kecil kami memang memiliki sebuah nama China-Hakka. Pinkong untuk Pangkalpinang, Liatkong untuk Sungailiat, Komuk untuk Koba, Sabang untuk Toboali, Buntu untuk Muntok, Nampong untuk Jebus, dan Belijong untuk Belinyu. [2] Ya, begitu pun dengan nama kampung dan jalan-jalan. Ada yang memperoleh nama Hakka-nya dulu, ada pula yang terlebih dulu diberi nama Melayu. (more…)

Derai dan Luruh
January 29, 2017


Cerpen D Nilasyah (Republika, 29 Januari 2017)

derai-dan-luruh-ilustrasi-rendra-purnama-republika

Derai dan Luruh ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Pohon bakau itu ternyata masih ada. Setelah puluhan tahun berlalu, cukup menandai ketuaannya jika ingin mendekati tak lagi kaki tercecah hanya sebatas mata kaki. Akarnya yang dulu menjalar beranak pinak terlihat di kebeningan ujung air laut, sekarang sudah terendam jauh di kedalaman laut. Selebihnya lenyap entah ke mana. Deretan gerobak penjaja makanan pinggir laut, empat tempat gundukan panjang bebatuan besar yang dulunya tersusun rapi sampai sekitar lima belas meter menuju laut lepas seakan sudah ditelan lautan. Apalagi sebuah gedung tua bekas zaman penjajahan belanda itu, mungkin sudah berada di dasar laut.

“Apakah yang sedang kau pikirkan sama dengan apa yang sedang kupikirkan Rai?”
tanya Luruh tanpa memandang Derai. (more…)

Rumah Batu Kakek Songkok
January 29, 2017


Cerpen Lina PW (Kompas, 29 Januari 2017)

rumah-batu-kakek-songkok-ilustrasi-kun-adnyana-kompas

Rumah Batu Kakek Songkok ilustrasi Kun Adnyana/Kompas

“Jadi juga pesan pasir?” tanya Sabang pada ayahnya, dengan napas tersengal.

Sabang tinggal tak jauh dari rumah Kakek Songkok, panggilan sang ayah oleh warga kampung. Ia memperhatikan sebuah pikap menurunkan pasir, lalu tergopoh-gopoh menghampiri ayahnya.

“Iye, kita bikin baru rumah kita, jadi rumah batu,” jawab Kakek dengan senyum mengembang sembari membenahi letak songkok. Karena songkok itulah ia dipanggil Kakek Songkok oleh warga kampung. Peci tak pernah lepas dari kepala Kakek. Bahkan, seluruh anaknya kerap memanggil ayah mereka dengan Kakek Songkok. (more…)

Singgah di Omerta
January 22, 2017


Cerpen T Agus Khaidir (Media Indonesia, 22 Januari 2017)

singgah-di-omerta-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Singgah di Omerta ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

MEJA bar kayu di sudut ruangan masih sama. Juga meja-meja tamu yang disulap dari mesin jahit klasik. Kursi bersandaran besi padat berukir, rak-rak buku, etalase yang memajang suvenir otomotif, poster vintage Land Rover dan Vespa berbagai ukuran. Tak ada jejak mafia. Padahal nama kafe ini Omerta. The code of silence. Secara harfiah berarti gerakan tutup mulut, atau boleh jadi kesetiakawanan. Semacam perekat persaudaraan. Jangan harap ada wisky, vodka, atau brandy, bahkan sekadar bir pun tak tersedia di sini. Cuma kopi dan teh dalam berpuluh varian racikan.

“Selamat datang di Omerta!” (more…)

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue
January 22, 2017


Cerpen Utami Panca Dewi (Suara Merdeka, 22 Januari 2017)

air-mata-yang-terperangkap-dalam-sepotong-kue-ilustrasi-suara-merdeka

Air Mata yang Terperangkap dalam Sepotong Kue ilustrasi Suara Merdeka

A Ma masih di kelenteng melakukan sembahyang untuk leluhur ketika Lilian sibuk mengelus-elus sepotong kue keranjang yang paling kecil pada tumpukan paling atas. Lilian memutuskan untuk tinggal di rumah dan tidak mengikuti langkah A Ma. Bukan saja karena ia tak mau repot menahan mulutnya dari keharusan bersin berulang-ulang setiap kali menghirup aroma dupa yang terbakar. Bukan pula karena sengaja ingin menyakiti hati A Ma. Ia ingin di rumah saja, meresapi setiap kesedihan yang terperangkap dalam kue-kue keranjang berbentuk bundar dan berwarna cokelat itu.

Ini hari terakhir sebelum Tahun Baru tiba. Dan hidangan Imlek telah disiapkan A Ma untuk menyambut kedatangan sinchia. Sepiring siu mie (mie panjang umur), teh telur, jeruk mandarin, daging ikan, ayam dan babi. Termasuk setumpuk kue keranjang tiga tingkat yang semakin ke atas semakin mengecil dan mengerucut. (more…)