Cerpen Muhammad Daffa (Radar Banjarmasin, 25 Desember 2016)

Rawa Rontek ilustrasi Radar Banjarmasinw.jpg
Rawa Rontek ilustrasi Radar Banjarmasin

Darah mengalir deras dari nganga luka di tangan Julawa. Mulanya ia merasa luka ini tidak cukup berarti buat keperkasaannya di Pasar Senen. Lagipula, orang tetap akan menganggap dirinya kebal pukul; bila sudah begini, maka bisa kita pastikan siapa Julawa sebenarnya.

Penduduk sekitaran Senen sudah tidak asing lagi dengan nama jawara-jawara kambuhan yang biasa berkeliaran di daerah itu, sebab kata mereka, Senen memang daerah rawan dan banyak pencoleng mahir dalam mengambil uang dan barang berharga. Haji Jum’at, salah seorang pedagang yang kebetulan sering berpapasan denganku ketika berangkat kerja menyongsong mimpi, sering pula menyebut nama Julawa dan beberapa gerombolan pencoleng lain. Aku sempat mencemooh ceritanya yang bilang kalau penjahat Senen bukan manusia biasa, alias manusia alam lain yang transmigrasi ke Jakarta sejak puluhan tahun lalu. Sebut saja Julawa, salah satu di antara centeng pasar yang terkenal kasar dan gemar melukai korbannya. Sudah cukup lama ia punya dendam kesumat tak berbalas dengan Haji Jum’at, yang digadang-gadang memiliki sebidang tanah maha luas; membuat kalap keshalehan palsu Julawa. Julawa tidak menagih masalah tanah, tapi yang ingin direbut paksa olehnya adalah kitab serat Damargundal milik Wak Koorman, guru Haji Jum’at di Kwitang. Wak Koorman sendiri telah lama mengunci kitab tua itu dengan bulu-bulu ayam jantan hitam pekat untuk mengurung pengaruh jahat dari dalam lembarannya. Tersebab inilah Julawa kalap; dengan kesantunan pura-pura, diyakininya suatu hari pasti bisa menjemput, membawa pulang kitab sakti berisi ilmu gaib sejibun itu. Rupanya Haji Jum’at dan Wak Koorman lebih memilih jawara lain sama hebatnya dengan Julawa, namun rendah hati dan terbilang agamanya mumpuni dibandingkan begundal pasar lainnya. Wajahnya cahaya, santun, dan tidak tampak hitam penuh debu di sana-sini. Ayah dulu sering bercerita, jika ada orang yang wajahnya hitam legam dan tak ada satu pun cahaya tanda sujud, maka ia bukan orang shaleh. Gelegak darah Julawa memanas hebat tatkala diketahuinya bahwa kitab Damargundal telah jatuh ke tangan preman yang salah. Preman yang salah menurut perkiraan begundal kambuhan sepertinya. Ia sendiri tidak begitu mengerti, kenapa harus Ganjar, yang membawa kitab ilmu-ilmu kuno itu, dan kenapa bukan dirinya notabene jawara senior di Senen? Benci pada Haji Jum’at semakin menjadi-jadi. Julawa ingat tempo hari, sewaktu Ganjar menanyakan seputar ilmu kebal di tubuh Wak Koorman setingkat jauh di atas preman-preman pasar, dan tentang cara untuk mengambil roh dari ilmu itu. Julawa hanya menganggukkan kepala tanda bahwa hal itu memang benar adanya.  Saat itu pulalah, Haji Jum’at bersama Wak Koorman datang. Sekonyong-konyong langsung memberi kitab serat Damargundal di hadapan begundal Senen kesohor ini. Julawa hanya bisa menahan amarah kecamuk hebat di dadanya membusung.

***