Cerpen A Muttaqin (Media Indonesia, 04 Desember 2016)

mereka-yang-tertidur-menjadi-batu-kami-yang-terjaga-menjadi-air-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia
Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SESUNGGUHNYA kita memang tak betul-betul mengerti apa yang terjadi dalam hidup ini. Seperti yang terjadi malam itu: seorang perempuan, pengantin baru, tiba-tiba menjerit ketakutan, lantaran suaminya, setelah menunaikan hajat bercinta, ia dapati telah menjadi batu.

Mulanya, pengantin itu tak percaya dengan penglihatannya. Baru saja ia berhubungan badan dengan suaminya. Selepas itu, mereka bahkan sempat omong-omong, perihal masa depan, perihal jumlah anak yang mereka inginkan, perihal rumah tangga yang akan mereka bangun bersama.

Tapi, sekejap kemudian ia menjerit. Mendengar jeritan pengantin baru yang keras itu, tetangganya pun berdatangan. Para tetangga yang kemudian tahu bahwa pengantin lelaki telah menjadi batu tampak merinding. Beberapa tetangga perempuan bahkan ikut menangis. Para perempuan itu menangis bersama sehingga tangis mereka terdengar seperti kor belaka. Ketika para perempuan itu berhasil membopong si pengantin ke kursi dan mencoba menenangkannya, terdengar teriakan tetangga jauh yang kira-kira berjarak sekitar sepuluh rumah dari situ. Tentu kita tahu dari suaranya, bahwa yang berteriak juga seorang perempuan.

Di rumah yang berjarak sekitar sepuluh rumah dari rumah pengantin baru, ternyata seorang ibu menjerit-jerit lantaran orok yang ditimang untuk ditidurkan dalam gendongannya juga menjadi batu. Ketika seorang tetangga yang datang pertama kali ke rumah itu menanyakan apa gerangan yang terjadi, sang ibu hanya menjawab dengan tangis lebih kencang. Dan ketika si suami datang dengan tergopoh-gopoh, sebelum ia tahu persis apa yang terjadi, terdengar bunyi jeritan serak seorang lelaki tua yang tinggal persis dua rumah dari rumah itu.

Anak si lelaki tua, pemuda berumur likuran segera mendatangi bapaknya yang meronta di kursi goyang. Ia bertanya, apa gerangan yang menimpa sang bapak. Dan, ketika lelaki tua itu menjawab kalau kakinya telah jadi batu, pemuda itu mengira bapaknya mulai gendeng: “Sudahlah, Pak. Sampean tidur saja.”

Menahan nyeri dan beban berat di kakinya, si bapak pun membentak: “Semprul as…” Lelaki tua itu tak sempat menyelesaikan makiannya sebab ia terjerungup ke lantai saat berupaya menarik kaki kirinya yang telah membatu.

Melihat bapaknya jatuh dengan suara seperti runtuhan gunung, pemuda itu pun berteriak memanggil ibunya. Tentu saja, tak ada ibu yang menyahut panggilannya sebab sang ibu telah bergabung ke kerumunan tetangga sebelah yang oroknya membatu. Namun, karena jeritan pemuda itu amat kerasnya, orang-orang pun berdatangan. Tentu saja, yang datang paling dahulu adalah ibu pemuda itu. Melihat anaknya menangis sambil menunjuk kaki bapaknya, ibu itu menangis pula.

Orang-orang yang kemudian berkerumun di rumah lelaki tua itu heran, mengapa terjadi yang demikian. Seorang lelaki paruh baya, yang rupanya tahu kejadian di rumah pengantin baru dan si orok yang menjadi batu, dengan napas ngos-ngosan menyimpulkan bahwa tragedi ini pasti kutukan. Beberapa lelaki lain agaknya setuju pendapat itu sebab hanya kutukan yang bisa menjelaskan perkara demikian. Namun, melihat urutan kejadian dan tuturan keluarga korban, seorang lelaki bersongkok berkata bahwa tidurlah penyebab orang menjadi batu. Kita tahu, bahwa ucapan yang demikian itu sukar dinalar. Tapi, karena lelaki bersongkok sanggup meyakinkan mayoritas orang bingung itu, mereka pun mulai percaya. Meski begitu, sebelum mereka percaya penuh sama omongan lelaki bersongkok, mereka kembali dikejutkan oleh jeritan panjang.

Jeritan panjang itu, ternyata dari mulut lelaki hitam yang rumahnya berjarak tujuh rumah dari rumah si lelaki tua. Lelaki hitam itu menjerit hebat sebab mendapati istrinya juga telah menjadi batu. Meski begitu, setelah lelaki hitam legam itu berhasil ditenangkan, barulah kami tahu kejadian sebetulnya.

Pada awalnya adalah rujak cingur. Tepatnya, istri lelaki hitam yang hamil muda itu, ngidam rujak cingur. Dan inilah alasan mengapa mereka mendekam saja di kamar. Itu dilakukan bukan lantaran lelaki hitam ini termasuk asosial, melainkan karena takut kalau istrinya terjangkit sawan. Maka ia pun mengamankan istrinya dari segala jeritan. Dan ketika jeritan tetangganya reda, tiba-tiba istrinya meminta rujak cingur. Lelaki itu pun pergi menuruti sang istri. Namun setelah ia kembali dengan rujak di tangan, istrinya telah menjadi batu.

Melihat ini, lelaki bersongkok makin yakin, penyebab orang menjadi batu adalah tidur. Setelah istri lelaki hitam itu menjadi batu, seluruh warga pun gempar. Warga lalu berkumpul di empat titik rumah. Sebagian bergerombol di rumah pengantin baru. Sebagian berkerumun di rumah orok yang telah jadi batu. Sebagian lagi berkumpul di rumah lelaki tua yang membatu kakinya. Dan sebagian lagi berkumpul di rumah lelaki hitam itu.

Lantaran dari ketiga korban telah menjadi batu sekujur badan—kecuali lelaki tua—marilah kita saksikan kerumunan di sana. Di rumah lelaki tua itu tampak telah berkumpul para tetua kampung. Dan, kepada mereka, lelaki tua mengulang ceritanya, bahwa ia tidak tidur, hanya mengantuk sekejap, namun itulah yang membuat kakinya menjadi batu.

Kini, warga semakin yakin, penyebab orang menjadi batu adalah tidur.

Mereka pun bertekad untuk senantiasa terjaga. Lalu, demi kebaikan bersama, larangan resmi dikeluarkan. Namun, hari pertama, setelah larangan untuk tidur dikeluarkan, tiga ibu menjerit serempak tatkala menjelang dini hari mendapati anak balitanya telah menjadi batu.

***

Berapa hari kita kuat untuk tidak tidur? Satu? Dua? Tiga? Seminggu? Sebulan? Setahun? Mustahil. Dengan begitu, menjadi batu bagi warga kampung itu hanya soal waktu. Dan betul. Hari ketiga, menjelang malam keempat, tidak hanya balita yang tertidur lalu menjadi batu, tapi juga dari golongan manula. Melihat ini, para pemuda nekat nguntal obat anti tidur. Sementara itu, para remaja punya cara sendiri. Mereka, para remaja dan remaji itu, melampiaskan kebiasaan mereka yang tersembunyi, yaitu mencari tempat sepi dan menyelenggarakan hubungan badan. Ini memang solusi edan. Tapi, para remaja itu punya prinsip kompak: tak mengapa tidur dan menjadi batu, asal sampai ke puncak kenikmatan.

Melihat kasus yang demikian, para orangtua tak gampang melarang atas nama moral. Satu dua orangtua memang sempat menegur: “Kita semua,” kata orang tua itu, “mungkin tak sanggup menghindar dari tidur lalu menjadi batu. Tapi menjadi batu setelah tidur dengan cara begituan, sungguh tidak…” Anehnya, sebelum genap ia mengucapkan itu, tiba-tiba ia terserang kantuk lalu ambruk dan menjadi batu.

Itu adalah peristiwa di hari ketujuh.

Memasuki hari kedelapan—kami ragu apa warga kampung itu masih mengingat hari—banyak dari mereka yang diserang kantuk mendadak. Seperti orang tua yang kami sebut di muka, sebagian warga yang dilanda kantuk, betapa sekejapnya, juga membatu sebagian organnya. Ada yang membatu sebelah tangannya. Ada yang membatu kakinya. Ada yang membatu hidungnya. Ada yang membatu jemarinya. Bahkan ada satu dua lelaki yang, maaf, membatu zakarnya saja.

Di tengah ketakutan itu, memasuki hari kesembilan, para warga yang tersisa tampak tak kuat lagi. Tubuh mereka terasa ringan dan melayang. Beberapa dari mereka muntah-muntah sebab terlalu banyak mengonsumsi kopi. Beberapa lagi kejang-kejang, mungkin mengalami kerusakan jantung akibat kelebihan obat. Kejadian itu tentu membenarkan pendapat sebagian mereka, bahwa tidur atau mati atau membatu apalah bedanya.

Hari itu, entah ini hari yang keberapa, hanya segelintir orang saja yang tersisa. Rata-rata mereka adalah usia paruh baya. Para pemuda, yang tampaknya tak kuat sebab mengandalkan obat antitidur, memutuskan mengikuti jejak para remaja. Dalam meniti jejak remaja ini, para pemuda rupanya lebih brutal. Beberapa mereka bahkan kepergok bercinta dengan janda-janda atau bini orang. Tapi perihal yang demikian baiknya tidak kita perpanjang. Yang lebih penting adalah menceritakan mereka yang tersisa, manusia paruh baya yang kini terombang-ambing dalam kondisi melayang-mengambang.

Dalam kondisi melayang-mengambang itu, seorang lelaki paruh baya yang kelopak matanya menjadi hitam-kebiruan, dengan setengah putus asa bergumam: Mereka yang tertidur menjadi batu, kami yang terjaga menjadi air. Betapa betul belaka gumam lelaki itu, bahwa mereka yang tertidur telah menjadi batu, sedang yang menjaga, dengan tubuh kian ringan berjalan sempoyongan seperti air mengikuti arus sungai menuju laut: kematian.

Memasuki malam berikutnya, yang tersisa dari mereka hanya tujuh orang saja. Dari ketujuh orang itu, dua orang mulai mengigau. Mungkin lelah, mungkin takut dan putus asa. Empat lainnya menggumamkan kalimat kelam, seperti lelaki berkelopak mata hitam-kebiruan: Mereka yang tertidur menjadi batu, kami yang terjaga menjadi air….

Mereka lalu mengucapkan kalimat itu serentak laiknya sebuah kor terakhir sambil terkantuk-kantuk dan agaknya tak takut lagi saat mendapati sebagian organ mereka pelan-pelan mulai menjelma menjadi batu.

 

 

2016

A Muttaqin lahir di Gresik 11 Maret 1983. Ia menulis puisi dan cerpen. Buku puisi terkininya Dari Tukang Kayu sampai Tarekat Lembu (2016). Ia tinggal dan bekerja pada sebuah penerbit di Surabaya.

 

Redaksi menerima kiriman naskah cerpen, ketik sebanyak 9.000 karakter, karya orisinal dan belum pernah diterbitkan di media massa lain. Kirim e-mail ke cerpenmi@mediaindonesia.com dan cerpenmi@yahoo.co.id

Advertisements