Cerpen Ahmad Tohari (Kompas, 04 Desember 2016)

Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus ilustrasi Putu Sutawijaya - Kompas
Gulai Kam-bhing dan Ibu Rapilus ilustrasi Putu Sutawijaya/Kompas

Orang yang gencar memanggil-manggil saya dari warung tenda seberang jalan ternyata Jubedi. Ah, Jubedi, sudah agak lama saya tidak bertemu. Dia teman lama yang setengah abad lalu duduk bersama di bangku SMP. Saya menyeberang jalan sambil menyipitkan mata karena matahari di timur bikin silau. Jabat tangan Jubedi erat dan hangat. Sama dengan saya ternyata rambut Jubedi sudah memutih. Tetapi tidak seperti saya yang kerempeng, badan Jubedi cukup gemuk, perutnya sedikit maju. Tak ada keriput di wajahnya.

Jubedi kelihatan segar dan bersemangat. Pada jam sepuluh pagi ini kulit wajahnya tampak berkilat oleh keringat yang mengandung lemak. Matanya berair dan bibirnya merah. Agaknya Jubedi sedang menahan rasa pedas. Dia duduk menghadapi sepiring nasi berkuah santan dan semangkuk gulai yang isinya tinggal setengah. Mangkuk yang satu sudah kosong. Katanya, itu mangkuk gulai kedua yang dia makan. Tentu pedas karena banyak cabai mengambang di permukaan kuah.

Jubedi tersenyum ketika melihat wajah saya penuh pertanyaan. Saya memang mengerutkan kening.

“Jangan percaya mereka yang sok tahu,” kata Jubedi. “Seumur kita, makan gulai kambing dengan kuah santan, tidak apa-apa; tidak bikin tensi naik, atau kolesterol naik. Ah apa itu, jangan percaya. Buktinya saya ini, tetap sehat kan?”

Kemudian tanpa minta persetujuan, Jubedi menyuruh perempuan warung menyajikan hidangan yang sama buat saya.

“Ya, Bapak, ya, ya.” Perempuan warung bergerak cepat. “Pagi-pagi makan nasi hangat dengan lauk gulai kam-bhing masih panas, ya, ueeenak!”

Mulut perempuan itu tak henti melontarkan kata “kam-bhing”. Maksudnya, tentu “kambing”. Tapi amat nyata yang terucap berulang-ulang dari mulutnya adalah “kam-bhing”. Dan mengherankan juga, meskipun mulutnya terus bersuara, sajian yang dipesan Jubedi buat saya cepat datang. Jubedi mendorong hidangan itu lebih dekat ke hadapan saya.

“Badanmu kerempeng karena kukira kamu tidak suka makan gulai, …”

“Kam-bhing,” terjang perempuan warung dengan ketangkasan yang mengesankan.

Advertisements