Archive for December, 2016

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda
December 25, 2016


Cerpen Yetti A.KA (Jawa Pos, 25 Desember 2016)

lelaki-yang-bercerita-kepada-marinda-ilustrasi-bagus

Lelaki yang Bercerita kepada Marinda ilustrasi Bagus/Jawa Pos

“Kau masih mendengarku?”

“Ya, aku mendengarmu.”

“Tapi kau pasti sudah mengantuk.”

“Jika aku tertidur sekali pun, jangan berhenti bercerita.”

***

Aku pernah melihat sebuah lukisan milik temanku, Marinda. Bukan objek lukisan itu—seorang perempuan berbibir terlalu tebal dan merah—yang menjadi perhatianku, melainkan tato kecil di lengannya. Aku melihatnya seperti seekor kupu-kupu, tapi temanku bilang itu sekuntum bunga yang belum mekar. Sampai terakhir bertemu, satu tahun lalu, perihal tato itu tetap kami perdebatkan dan kami tetap pada pendirian masing-masing. (more…)

Advertisements

Hidup Kita selepas Elegi
December 18, 2016


Cerpen Dewi Kharisma Michellia (Media Indonesia, 18 Desember 2016)

Hidup Kita selepas Elegi ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg

Hidup Kita selepas Elegi ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

GIGI-GIGI mereka belum sepenuhnya rontok ketika maut memanggil tepat pada pergantian tahun. Pada akhirnya, di rumah para lansia itu—aku tak sampai hati menyebutnya panti jompo—orangtua kita melihat nenek dan kakek bertahan hidup demikian lama dengan romansa yang mengejutkan. Duduk di atas kursi roda yang bersebelahan, kakek-nenek kita memejamkan mata untuk selamanya. Siapa pun tak akan paham bagaimana bisa hal itu terjadi, sepasang suami-istri meninggal pada detik yang sama secara alamiah. (more…)

Kakek dari Tong San
December 18, 2016


Cerpen Sunlie Thomas Alexander (Jawa Pos, 18 Desember 2016)

kakek-dari-tong-san-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Kakek dari Tong San ilustrasi Bagus/Jawa Pos

KERAPKALI selepas makan malam kami sekeluarga akan berkumpul di ruang toko jahit yang tak begitu luas itu. Dengan Akong duduk di belakang mejanya yang besar-panjang, tempat ia menggambar dan menggunting pola-pola pakaian (ah, meja peninggalan kakek buyutku yang usianya sudah puluhan tahun!). Sementara ayahku duduk di balik mesin jahitnya; aku dan Mama duduk di lantai samping pintu depan beralaskan selembar triplek sisa menyekat kamar Bibi Ngiat Ngo di lantai atas. Bibi keduaku itu (yang saat itu masih tinggal bersama) kadangkala ikut nimbrung jika sedang tak ada kesibukan.

Paman tertuaku Ngiu Long (begitulah ia kerap dipanggil orang) lebih suka berdiri di pojok ruangan; di belakang sebuah lemari kaca rendah yang digunakan untuk memajang pakaian-pakaian siap jual. Ia tak pernah beranjak dari sana, kendati sesekali harus membungkuk menggaruk kakinya yang diserbu oleh kawanan nyamuk. Sedangkan Man-Man—paman kecilku yang autis—tidak pernah duduk diam di satu tempat. Terkadang ia duduk di lantai semen di hadapanku, di lain waktu ia berpindah ke samping Akong dan duduk di kursi rotan di sebelah kursi tinggi ayahnya. Tak betah di sana, ia akan berpindah lagi ke dekat ayahku sebelum akhirnya diusir Papa karena mengeluarkan suara kentut nyaring. (more…)

Perempuan di Loteng Rumah
December 11, 2016


Cerpen Noor H Dee (Media Indonesia, 11 Desember 2016)

Perempuan di Loteng Rumah ilustrasi Pata Areadi - Media Indonesia.jpg

Perempuan di Loteng Rumah ilustrasi Pata Areadi – Media Indonesia

PEREMPUAN itu mencium tangan suaminya yang hendak berangkat bekerja, kemudian menutup pintu rumahnya dengan perlahan. Tak lama setelah itu ia akan muncul di loteng rumahnya, menyulut sebatang rokok, dan melamun. Aku tidak tahu ia sedang memikirkan apa, yang pasti tatapannya tampak begitu kosong. Begitulah pemandangan yang selalu kulihat setiap pagi

Saat pertama kali melihat perempuan itu merokok, aku tidak ambil pusing. Di zaman sekarang, melihat perempuan merokok bukanlah perkara yang istimewa. Jika seseorang risih menyaksikan perempuan merokok, apa boleh buat, sepertinya ia hidup di zaman yang salah. Sekarang rokok bukan cuma milik laki-laki. Lagi pula, istriku pun seorang perokok. Perokok berat malah. Sehari ia bisa menghabiskan dua bungkus. Dan, aku tidak keberatan akan hal itu. Sebab, sekali lagi, sekarang rokok bukan cuma milik laki-laki. (more…)

Dari Gigi untuk Gigi
December 11, 2016


Cerpen Muliadi G.F. (Jawa Pos, 11 Desember 2016)

dari-gigi-untuk-gigi-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Dari Gigi untuk Gigi ilustrasi Bagus/Jawa Pos

TEMPAT paling menakutkan di muka bumi versi Madeali adalah Ruang Poli Gigi. Di ruang tunggu puskesmas pada Selasa pagi, pemuda yang bekerja sebagai guru honorer itu menggenggam kartu antrean nomor 2 dengan tangan gemetar. Di matanya, pintu Ruang Poli Gigi tampak seolah-olah meleleh dan menjelma wajah besar menyeringai dengan gigi-gigi yang tajam.

Tiba-tiba…, “Alihkan perhatianmu! Alihkan!” suara ini membuatnya menoleh. (more…)

Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air
December 4, 2016


Cerpen A Muttaqin (Media Indonesia, 04 Desember 2016)

mereka-yang-tertidur-menjadi-batu-kami-yang-terjaga-menjadi-air-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Mereka yang Tertidur Menjadi Batu Kami yang Terjaga Menjadi Air ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SESUNGGUHNYA kita memang tak betul-betul mengerti apa yang terjadi dalam hidup ini. Seperti yang terjadi malam itu: seorang perempuan, pengantin baru, tiba-tiba menjerit ketakutan, lantaran suaminya, setelah menunaikan hajat bercinta, ia dapati telah menjadi batu.

Mulanya, pengantin itu tak percaya dengan penglihatannya. Baru saja ia berhubungan badan dengan suaminya. Selepas itu, mereka bahkan sempat omong-omong, perihal masa depan, perihal jumlah anak yang mereka inginkan, perihal rumah tangga yang akan mereka bangun bersama. (more…)