Cerpen Feby Indirani (Jawa Pos, 27 November 2016)

ruang-tunggu-ilustrasi-bagus-jawa-pos
Ruang Tunggu ilustrasi Bagus/Jawa Pos

ROHMAN masih ingat saat ia melihat tubuhnya terburai dan anggota tubuhnya tersebar ke berbagai penjuru. Ia merekam gambar itu dalam gerakan lambat, dan melihat segalanya dengan jelas; orang-orang yang menjerit histeris, tubuh-tubuh yang jatuh bergelimpangan, darah yang menggenang.

Ia mendapat giliran menjalankan misi suci sehari sebelum tahun baru. Ia merangsek ke dalam kerumunan festival seni jalanan di kota itu lalu meledakkan diri. Begitulah perintah yang didapatnya, dan begitulah yang ia laksanakan. Kami dengar maka kami taati, setiap anggota mengerti prinsip itu.

Setiap anggota juga paham, akan tiba giliran mereka menjadi “pengantin”. Pengantin, karena pengorbanan nyawa yang mereka lakukan akan dibalas dengan sambutan 72 bidadari surga. Bidadari-bidadari yang sopan, yang menundukkan pandangannya, yang tidak pernah disentuh oleh manusia dan tidak pula oleh jin. Bidadari yang seindah permata. Wanita-wanita muda tercantik yang terlihat bagaikan anggur merah pada gelas putih. Itulah yang akan menjadi mempelai mereka. Dan bayangan itu selalu membuatnya berseri karena gairah.

Namun, saat ini, ia hanya menemui ruang kosong yang begitu luas, sehingga tepi ruangan tampak tak begitu jelas di matanya. Dia duduk di sebuah kursi, sendiri dalam kelengangan. Dan itulah yang ia lakukan, entah sudah berapa lama. Ia tidak merasakan apa-apa, tapi sekaligus merasakan segalanya. Ia tidak menunggu, tapi juga sekaligus merasa ingin tahu. Ia bisa bebas bergerak ke mana pun yang ia inginkan, tapi juga tidak ingin beranjak ke mana-mana. Segalanya seperti sulit untuk dijelaskan. Ia merasa, ini adalah dimensi yang berbeda dengan dimensi kehidupannya di dunia, tapi ia sendiri merasa belum bisa sepenuhnya membebaskan diri dari dunia.

Jadi ia hanya menunggu, dan menunggu. Dan menunggu.

Sampai kemudian ia melihat ada titik dari kejauhan mengarah pasti menuju padanya. Titik itu semakin lama semakin jelas bentuknya, berjalan dengan ritme tetap, dan semakin besar. Semakin jelas sosoknya, yang ternyata seorang perempuan. Rambutnya lurus tergerai sebahu, ia tidak menutup kepala. Rohman ingat salah satu cerita yang pernah didengarnya di dunia, bahwa perempuan-perempuan di surga memang tidak berhijab. Tapi perempuan ini kelihatan terlalu normal, terlalu biasa. Ia cukup manis, berkacamata, mengenakan rok span, dengan kemeja berlengan panjang yang digulung sebatas siku. Ia tidak kelihatan mewah. Tidak mengenakan sutera hijau seperti gambaran-gambaran tentang bidadari.

Semakin dekat perempuan itu, semakin Rohman mengambil kesimpulan: dia bukanlah bidadari. Pasti bukan. Tiba-tiba ia dilanda kejengkelan, seperti perasaan orang yang tidak sabar menunggu, dan tidak tahu sampai kapan ia harus menunggu. Di mana bidadari-bidadariku? Aku mau bidadariku. Ingin rasanya Rohman menghentak-hentakkan kakinya, tapi ia gengsi, nanti diledek, kok seperti kanak-kanak yang dongkol karena minta mainan dan tak dipenuhi ayah bundanya.

“Selamat datang di Ruang Tunggu,” kata perempuan itu begitu berada di hadapannya.

Suaranya dalam, juga merdu. Ia duduk di kursi yang sama bentuk dan rupanya dengan kursi yang Rohman duduki, meskipun sebelumnya Rohman tidak melihat ada kursi di depannya. Apakah kursi itu dari tadi berada di sini? Pikir Rohman bingung. Ia menatap perempuan di depannya dengan penuh tanda tanya. Di dunia, ia akan cenderung memalingkan pandangan demi berhadapan dengan perempuan seperti ini. Apalagi ia tidak berhijab. Namun saat ini ia tidak merasa itu perlu. Ia hanya ingin bertanya, tapi mulutnya enggan terbuka.

Perempuan di hadapannya hanya menatap lurus, dengan ekspresi muka yang sulit diterka. Seperti tersenyum, tapi bukan. Antara sikap menantang, meledek, bangga, sedih, tapi juga kesombongan. Entahlah, Rohman hanya tidak bisa berhenti menatap perempuan itu, juga karena hanya dialah yang ada di hadapan untuk dipandang.

Kemudian mereka berdua hanya saling diam, saling berpandangan. Perempuan itu kemudian mengeluarkan rokok, menyalakan, dan mulai mengisapnya. Rohman semakin bingung. Bukankah ini seharusnya akhirat? Bagaimana mungkin ada rokok di akhirat? Dan ia paling benci asap rokok. Ia paling benci juga pada perempuan yang merokok.

Dan perempuan itu seperti tahu Rohman membencinya, malah dengan sengaja mengembus-embuskan asapnya ke wajah Rohman. Aroma kretek yang persis sama dengan di warung Marto langganannya dulu. Ini semua semakin tidak masuk akal. Rohman merasakan kemarahannnya memuncak.

“Siapa kamu? Di mana saya? Di mana bidadari-bidadari saya?” Rohman merasakan suaranya menggelegar dan bergetar.

Perempuan itu kemudian terkikik geli.

“Selamat datang di Ruang Tunggu,” ulangnya lagi, kali ini dengan intonasi yang berbeda. Lebih menggoda.

“Kejutan! Tidak ada mempelai. Tidak ada bidadari. Tidak ada sorak sorai pesta penyambutan. Hanya ada kamu, di Ruang Tunggu. Dan untuk sekarang, saya,” ujar perempuan itu tenang.

“Tidak mungkin! Saya sudah dijanjikan 72 bidadari! Mereka wanita-wanita muda cantik yang bening, yang sopan, yang menundukkan pandangannya, yang tidak pernah disentuh oleh manusia dan tidak pula oleh jin. Dan saya yang akan memerawani mereka siang dan malam tanpa henti, tanpa lelah, tanpa pernah lemas, tanpa pernah kehilangan syahwat!”

Lagi-lagi perempuan itu terkikik geli, tidak menjawab, terus saja mengembus-embuskan asap rokoknya dengan gaya yang membuat Rohman muak. Ingin rasanya ia menampar perempuan itu. Ia pantang memukul perempuan, hanya lelaki pengecut yang memukul perempuan, demikian prinsipnya sejak dulu. Tapi terhadap perempuan ini rasanya ia tidak lagi memiliki kesabaran.

“Katakan di mana bidadari-bidadariku,” ujarnyadengan nada mengancam, sambil berdirimenghadap perempuan itu. Tangannya terayun, sedikit lagi akan menghajar wajah si perempuan, meski sebetulnya ia masih ingin menahan diri.

Perempuan itu setegar benteng, matanya menatap Rohman tenang, tanpa berkedip. Ia terus saja mengisap rokok, kemudian mengembuskannya. Dan Rohman baru tersadar bahwa rokok itu tak kunjung memendek sedari tadi, ukuran dan bentuknya tetap sama, dan terus menyala.

“Tidak ada bidadari. Tidak pernah ada. Dan tidak akan ada.”

“Bagaimana mungkin?” pekik Rohman

“Mengapa tidak?” kali ini perempuan itu yang balas berteriak, sambil berdiri dan menantang wajah Rohman. “Apakah kamu kira kamu layak mendapatkan segala keindahan dan kebahagiaan setelah membunuh begitu banyak orang tak berdosa di dunia?”

“Ya, tentu!”

“Karena?”

“Karena saya menjalankan misi suci. Saya memperjuangkan kepentingan yang lebih besar dari diri mereka, dari diri saya sendiri, dari semua orang.

“Meh…” perempuan itu mencibir.

“Keadilan di muka bumi, pembalasan pada pihak yang telah menghancurkan agama dan umat!”

“Dengan mengorbankan nyawa orang-orang yang tidak berdosa?”

“Ah semua orang itu berdosa juga, kok! Toh mereka berpesta dan minum alkohol!”

Perempuan itu tertawa terbahak-bahak. Lalu dengan gerakan seperti memetik dari udara, ia mengambil sebotol minuman, menenggaknya. Rohman merampasnya dengan murka. Tapi tangan nya tidak dapat menyentuh apa-apa. Aneh, padahal hidungnya masih dapat mencium aromanya.

“Arrrrgh! Arrrgh! Arrrgh!” Rohman berteriak ke ras. Ia meremas rambutnya dengan kalut. Ini tidak mungkin terjadi. Tidak mungkin. Bagaimana mungkin? Apakah mungkin? Bagaimana jika mungkin? Ia terus berteriak-teriak, sepuasnya, sekuatnya. Ia ingin mengeluarkan segala kebingungan, kemarahan, ketidakmenentuan yang ia rasakan. Dan ia terus berteriak, entah untuk berapa lama dengan mata yang menyipit lalu terpejam. Ia hanya terus berteriak dan terus berteriak.

Entah untuk berapa lama, ia tidak tahu. Ia kemudian berhenti begitu saja. Bukan  karena lelah atau haus, tapi lebih karena jemu. Dan ketika ia membuka mata, perempuan itu masih ada di hadapannya. Menatapnya dengan raut wajah dan posisi duduk yang sama.

Rohman sangat ingin mencekiknya.

“Kau bilang tadi ini Ruang Tunggu?”

“Ya.”

“Lalu apa setelah ini?”

“Saya tidak akan memberi tahu, itu bukan tugas saya.”

“Berilah petunjuk, sedikit saja!”

“Saya sudah memberi tahu apa yang kamu perlu tahu. Tidak akan ada bidadari untukmu.”

“Lalu ada apa?”

Lagi-lagi perempuan itu tertawa. Nadanya kali ini lebih bersahabat daripada meledek. “Kalau saya cerita memangnya kamu percaya? Selama ini kan kamu percaya pada guru-gurumu itu. Nah, ternyata kamu dikibuli. Titik. Kamu Cuma dimanfaatkan saja, dibodoh-bodohi. Mereka itu belum pernah berkunjung ke mana-mana selain pikiran sesat mereka sendiri, boro-boro sampai di Ruang Tunggu seperti kamu.”

“Brengsek! Brengsek! Brengsek,” maki Rohman. Kemudian kembali menangis. Lalu berguling-guling, menendang-nendang, memukul-mukul, terus-menerus melakukannya, terus-menerus, tanpa merasa lelah. Tapi setelah entah berapa lama, akhirnya ia merasa jemu. Ia kembali duduk berhadapan dengan perempuan itu, yang masih menatapnya dengan raut muka dan posisi duduk yang sama. Batang rokoknya tidak memendek, dan asapnya terus mengembuskan aroma kretek.

“Kamu bohong, kan? Ini toh hanya Ruang Tunggu. Pasti akan ada bidadari yang menunggu saya di sana? Saya sudah mengorbankan segalanya… Segala-galanya. Menjauhi orang tua, keluarga, teman-teman, menjadi orang yang berbeda dan kehilangan mereka semua.” Air mata Rohman kembali berlinang.

“Saya kadang merasa lelah, juga merasa bersalah. Saya juga membayangkan orang-orang tidak bersalah yang terkena dampaknya hanya karena mereka kebetulan berada di sana. Dan kalaupun mereka minum alkohol, mereka tidak sepantasnya mendapat hukuman seberat itu. Saya juga sering merasa takut, tapi guru-guru selalu menguatkan saya, ada kehidupan abadi setelah dunia. Ada keindahan abadi… Ada bidadari…”

Rohman menangis sesunggukan. Menggerung-gerung.

“Bilang pada saya semua itu akan ada, katakan pada saya ada bidadari! Bukan perempuan seperti kamu yang sombong, merokok, sok tahu! Saya mau bidadari saya.” Kini Rohman merengek seperti kanak-kanak.

“Seperti apa saya sekarang, hanyalah cerminan dari sesuatu yang tidak kamu sukai,” jawab perempuan itu tenang. “Tapi seperti apa saya juga tidak akan mengubah apa pun untuk kamu, kan?”

Rohman menatap perempuan itu, dan merasa heran karena mukanya berangsur-angsur berubah menjadi seperti ibunya. Rohman membelalak, air mata terus membanjiri wajahnya. Lalu wajah perempuan itu berubah lagi menjadi guru kesayangannya ketika sekolah dasar. Kemudian perlahan berubah lagi menjadi wajah kakaknya, lalu berubah lagi menjadi wajah ibunya, kemudian wajah perempuan yang pernah hendak dilamarnya, lalu wajah yang tidak dikenalnya. Terus berubah dan berganti-ganti.

Perempuan-perempuan itu menatapnya dengan wajah sedih, sambil terus berkata, “Tidak ada bidadari, Rohman. Tidak akan ada bidadari untukmu.” Rohman lalu membentur-benturkan kepalanya. Terus-menerus. Terus-menerus. Tanpa merasa sakit. Tanpa merasa lelah. ***

 

 

FEBY INDIRANI, esais, jurnalis, peraih Anugerah Pembaca Indonesia 2010 kategori nonfiksi untuk bukunya “I Can (Not) Hear: Perjalanan Anak Tuna Rungu Menuju Dunia Mendengar”. Akun Twitter: @FebyIndirani

Advertisements