Cerpen Rizqi Turama (Kompas, 27 November 2017)

Profesor Bermulut Runcing ilustrasi Rega Ayundya Putri - Kompas
Profesor Bermulut Runcing ilustrasi Rega Ayundya Putri/Kompas

Setiap hari ia memoles bibir, bukan dengan lipstik, tapi dengan darah yang mengucur dari jantung orang-orang di sekitarnya. Bibirnya yang runcing itu mampu merobek jantung dengan sangat lincah. Tak hanya runcing, bibir itu juga tajam selayaknya gunting yang dipakai dokter ketika akan menyunat sekelumit kulit hingga terlepas dari tempatnya. Membuat darah menetes dan ia tadahi untuk kemudian disapukan ke bibir.

Malam hari, sepulang dari mengajar di universitas, ia selalu menyempatkan diri untuk becermin. Memeriksa kondisi bibir. Jika bayangan memantulkan warna bibir yang lebih merah ketimbang sebelum ia berangkat, senyum profesor kita akan mekar. Ia melihat senyum di cermin itu menyerupai mawar yang merekah di pagi hari cerah dengan sedikit embun tersisa dan berlatarkan kuning emas matahari yang belum silau, sempurna. Namun, jika bibirnya malam itu sama merah dengan sebelum ia berangkat mengajar, ia akan merasa menjadi orang yang merugi. Lebih parah lagi jika kadar merah di bibir itu berkurang, sesungguhnya ia adalah orang yang celaka. Tak jarang mimpi buruk mengetuk tidurnya dan bertandang ketika bibir itu tak semerah hari kemarin.

“Seorang profesor sepertiku harus selalu tampak cantik, dan wanita cantik adalah wanita yang bibirnya selalu merah,” begitulah prinsip hidup yang dipegang teguh profesor kita. Maka, jangan heran jika ia selalu membawa batu asah, itu untuk mengasah bibirnya agar semakin runcing dan tajam hingga mempermudahnya mendapatkan darah segar untuk dioleskan ke bibirnya.

***

Jauh hari sebelum profesor kita menjadi profesor dan baru saja lulus sebagai doktor, tujuh tahun lalu tepatnya, ia mendapati bahwa suaminya berselingkuh. Suaminya ingin berkelit, tapi ketika melihat doktor itu memegang telepon genggam yang isinya adalah percakapan mesrum (mesra dan mesum) dengan orang lain, sang suami membatalkan niat tersebut. Dengan geraham yang bergemelutuk, napas tersengal, dan air yang mengambang di pelupuk mata, doktor yang belum jadi profesor itu berkata, “Aku ingin bertemu dengan selingkuhanmu.”

Sang suami berusaha mencegah dan mengalihkan pembicaraan, tapi ia sadar bahwa istrinya adalah seorang yang cerdas. Apalagi telepon genggam tersebut sudah di tangan sang istri, hanya menunggu waktu kedua wanita yang ia nikmati tubuhnya tersebut akan bertatap muka.

Karena tak ada pilihan lain, sang suami pun mencari tempat yang aman untuk pertemuan keduanya. Ia juga telah menyingkirkan semua barang pecah belah atau benda-benda lain yang mungkin akan digunakan untuk saling melukai jika perkelahian terjadi. Namun, yang terjadi justru di luar dugaan sang suami.

Sama sekali tak terjadi perkelahian antarwanita. Tak ada saling jambak ataupun saling cakar. Mereka hanya saling tatap dalam waktu yang entah berapa lama. Sang suami tak sempat menghitung menit yang berlalu karena di tengkuknya ada sebuah beban yang membuatnya hanya bisa tertunduk.

Sang doktor, selama saling bertatapan dengan selingkuhan suaminya, sedikit kecewa karena tak ada yang istimewa dengan fisik saingannya itu. Hanya satu yang mencolok dari wanita yang ia laknat sepanjang sisa umurnya tersebut. Bibir. Belum pernah ia melihat bibir yang begitu merah mengilap dan mencolok.

Ia baru akan membuka mulut untuk bertanya kenapa bibir sang wanita selingkuhan bisa begitu merah saat si selingkuhan menarik sudut bibirnya, membentuk sebuah sudut yang teramat tajam. Dengan sedikit gerakan, bibir itu mengarah ke jantung sang doktor. Sedikit beruntung karena sang doktor sempat mengelak. Jantungnya selamat, tapi ketajaman bibir itu dirasakan oleh hatinya. Mengerti bahwa sang wanita selingkuhan bukanlah musuh yang bisa ia hadapi, sang doktor memutuskan untuk pergi dengan hati berdarah.

Ketika hendak melangkah pergi itulah ia sempat menoleh dan mendapatkan sang wanita selingkuhan sedang mengoles bibir dengan darah yang tercecer dari hatinya. Hari itu merupakan hari yang tak terlupakan oleh sang doktor. Ia menyimpulkan selingkuhan itu memiliki sesuatu yang tak ia miliki, bibir yang begitu merah, tajam, dan runcing. Mungkin itulah yang memikat suaminya, kecantikan yang tak ia mengerti. Sejak hari itu juga, doktor kita memutuskan akan menunjukkan bahwa dirinya tidak takluk.

“Aku akan memiliki bibir yang lebih merah daripada wanita laknat itu. Saat itu suamiku akan mengemis untuk kembali, dan aku akan mencampakkannya dengan senang hati,” begitu tekadnya.

***

Dari waktu ke waktu, sang doktor terus mengasah bibir dan mulutnya agar runcing dan tajam. Namun kemudian ia sadar bahwa itu saja tak cukup. Ia butuh jadi orang yang punya pengaruh dan bisa tampil di depan umum agar ketajaman bibir itu bisa berguna. Jika kariernya hanya berhenti pada level doktor, ia tak akan bisa memperluas “wilayah kekuasaan”. Ia harus menjadi lebih dari sekadar doktor. Di dunia akademik, hanya level profesor yang sering diundang memberi kuliah di berbagai tempat. Tak hanya di pulau tempatnya berada saja, tapi juga ke seluruh penjuru nusantara. Maka, ia pun mematok target baru: menjadi profesor.

Setelah berjuang mati-matian, jilat sana-sini, meludah, terus menjilat lagi, ditambah dengan sedikit penelitian yang ia lakukan di universitas, sedikit publikasi, jilat lagi, ludah lagi, jilat lagi, akhirnya profesor kita mendapatkan gelar profesor.

Ia senang bukan buatan. Dengan jadi profesor, ia bisa mendatangi berbagai tempat. Memberikan kuliah di sana-sini. Mendapatkan sambutan hangat di mana-mana—sebab ada banyak orang yang mau menjilati ia sampai ke getah-getah terakhir. Dan yang lebih penting adalah ia bisa bertemu orang banyak dan mempergunakan keruncingan mulutnya dengan obyek yang berganti-ganti.

Banyak jantung dikoyak dan berdarah. Bibirnya semakin runcing dan merah. Ia bahagia.

***

Satu hal yang tidak disadari oleh sang profesor adalah seiring dengan semakin tajamnya mulutnya, mulut itu juga tumbuh semakin panjang, sedikit melengkung ke bawah. Tepatnya ke arah jantungnya sendiri. Ia tak sadar karena ia hanya fokus pada warna merah yang bertengger di sana. Merahnya sudah hampir sempurna. Mungkin tinggal mendapatkan satu korban dengan kadar merah pada darah yang tepat, ia sudah akan mencapai tingkat kesempurnaan pemilik bibir merah.

Dalam sebuah seminar tingkat nasional, ia semringah karena ada salah satu dosennya dulu menjadi peserta. Darah seorang dosen senior yang telah punya banyak mahasiswa, tentu akan lebih dari cukup. Dia akan jadi pelengkap dan penyempurna bagi ketajaman mulutku. Setelah mendapatkan darahnya, aku akan mendatangi suamiku. Begitulah yang dipikirkan sang profesor.

Sambil mendongakkan kepala dan menunjuk orang yang pernah jadi dosennya itu, sang profesor berkata, “Beliau ini dulu dosen saya, tapi sekarang saya jadi promotornya di S-3. Dulu dia yang selalu jadi narasumber bagi saya, sekarang saya yang jadi pemateri dan dia hanya peserta.”

Kemudian ia mengerahkan teknik terbaik yang ia tahu untuk mengoyak jantung orang dengan menggunakan mulut. Sial bagi sang profesor sebab dosennya itu dilindungi sebuah kaca tak kasatmata. Kaca yang begitu keras dan tak bisa ditembus mulutnya. Tak sedikit pun dosen itu terluka.

Kenyataan itu membuat sang profesor justru penasaran. Di sisa seminar, ia terus menggerakkan bibirnya. Menyerang dosennya dari berbagai penjuru. Bunyi “ting-ting-ting” terdengar nyaring ketika mulutnya itu bertabrakan dengan kaca pelindung dosen. Ia mulai lelah, tapi marah.

Dengan sekuat tenaga, ia melancarkan serangan penghabisan. Berharap kaca itu akan pecah dan mulutnya mampu mengoyak jantung sang dosen. Namun, apa daya. Kaca itu bergeming. Justru mulut sang profesor yang runcing dan bengkok itu jadi semakin bengkok. Karena kekeraskepalaannya, mulut itu menikam jantungnya sendiri.

JLEB.

Sang profesor terkapar dengan darah mengucur dari jantungnya. Peserta seminar panik. Beberapa pengikut setianya menuding-nuding dosen yang terlindungi oleh kaca tak kasatmata, mengatakan bahwa dosen itu pasti telah merencanakan pembunuhan. Beberapa yang lain menyatakan bahwa sang profesor telah melakukan bunuh diri terencana. Sisanya, dan jumlahnya paling banyak, hanya diam dan tak mengerti apa yang terjadi.

Sementara itu, sang profesor megap-megap kehabisan pasokan oksigen dari jantung yang telah bolong. Mulutnya masih menancap di jantung sehingga ia tak bisa berkata apa-apa. Hanya bola matanya yang selama ini kering, perlahan dihiasi embun pagi. Di detik-detik terakhir, bayangan mantan suami dan selingkuhannya melintas. Profesor itu lalu mengembus napas terakhir, lewat hidung.

Dosennya yang sejak tadi tak bereaksi menitikkan air mata saat melihat anak didiknya mati. Kaca tak kasatmata itu menghilang. Ia mendekati mayat. Orang-orang seperti tersihir dan memberikan jalan. Perlahan dicabutnya mulut mantan mahasiswanya yang masih menancap di jantung. Lalu terpampanglah sebuah bibir yang begitu merah. Sempurna. Merah yang tak ada cacatnya.

Tapi bibir itu juga begitu tajam. Tangan sang dosen terluka. Tangisnya pecah. Orang-orang terperangah.

 

Rizqi Turama, lahir di Palembang, 4 April 1990. Buku kumpulan cerpennya berjudul Kampus Elite Berhantu. Novelnya Sniper: Operasi Bunuh Diri. Ia mengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Sriwijaya Palembang.

Advertisements