Cerpen Mukti Sutarman Espe (Suara Merdeka, 27 November 2016)

juru-kunci-makam-eyang-sakri-ilustrasi-suara-merdeka
Juru Kunci Makam Eyang Sakri ilustrasi Suara Merdeka

“Bila mau, sekitar pukul 10.00 nanti, saya antar Bapak ke makam Eyang Sakri!” Kutengok jam dinding. Baru pukul 08.30. Masih ada waktu 90 menit untuk menandatangani lembar disposisi. Suasana kantor sepi. Hanya terlihat empat guru yang sedang suntuk dengan kegiatan masing-masing. Sedang satu-satunya tata usaha, Pak Slameto, kursinya kosong, Entah kemana dia. Sejak menghadap dan menawarkan diri untuk mengantarku ke makam Eyang Sakri, tak terlihat lagi sosoknya.

Lagi, kutengok jam dinding. Waktu terasa berjalan lambat. Kubuka jendela ruang kerja. Serentak angin menerobos masuk, mengantarkan hawa sejuk pegunungan. Kuhirup udara ruangan dengan seksama. Segar bukan kepalang. Kesegaran yang sungguh sulit kudapatkan di wilayah kota.

Baru semnggu ini aku menjadi guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah di SMP itu. SMP Terbuka R, terletak di sebelah barat kaki gunung M, masuk wilayah adiministrasi kabupaten K. Sebuah tempat yang berjarak kurang lebih 24 kilo meter dari pusat kota. Di situ banyak penganut Hindu-Budha. Konon kabarnya mereka adalah keturunan pemeluk agama tersebut yang dahulu lebih memilih menepi di kaki gunung daripada masuk Islam

“Bapak ditunggu Pak Slameto di makam Eyang Sakri,” kata Mas Har, pesuruh sekolah.

“Lho, katanya mau mengantar?”

“Ini saya baru saja di-SMS beliau, Pak.”

“Letak makam Eyang Sakri di mana, Mas?”

“Dari sini dekat, Pak. Nanti saya antar.”

Pukul 09.55, kami, aku dan Mas Har, sampai di makam Eyang Sakri. Ternyata letaknya tidak terlalu jauh, kurang lebih sepuluh menit jalan kaki dari kantorku. Suasana cukup ramai. Belasan peziarah terlihat sedang menunggu gilran masuk ke ruang makam.

“Maaf, Pak, tadi saya berangkat duluan. Saya mesti ambil nomor antrean,” kata Pak Slameto, menyongsong kedatanganku.

“Iya, tidak apa-apa, Pak.”

“Bapak dapat nomor antrean lima,” jelas Pak Slameto sembari menyerahkan sebentuk potongan kardus bernomor dan sebuah bungkusan daun pisang.

“Apa itu, Pak?” tanyaku. Kuarahkan pandang mata ke bungkusan yang disodorkan Pak Slameto.

Pak Slameto tersenyum.

“Ini kembang telon, Pak,”

“Mengapa harus bawa bunga segala?”

“Iya, Pak. Tata caranya memang begitu.”

Kuterima bungkusan itu dengan ragu. Tidakkah ini tergolong perbuatan syirik? Sejenak aku merenung. Tetapi segera kupupus keraguan itu dengan mengingat pesan ibu. Berpuluh tahun lalu. Manakala aku akan berangkat menjalani tugas sebagai guru di luar kota kelahiranku, ibu berpesan, di mana pun aku berada mesti pandai-pandai menempatkan diri. Di mana tanah dipijak di situ langit dijunjung. Sekejap membayang wajah ibu yang teduh.

“Saya kembali ke sekolah, Pak.” Suara Pak Slameto membuyarkan lamunanku.

“Ya, silakan.”

“Nanti, Bapak saya jemput?”

“Tidah usah.”

Sambil menunggu giliran masuk ke ruang makam, iseng aku ngobrol dengan beberapa orang di sebelahku. Mereka ternyata banyak yang datang dari luar kota. Ada yang datang dari kota S, ibu kota, provinsi. Ada juga yang datang dari kota-kota kabupaten sekitar, seperti kota D, J, P, bahkan R. Macam-macam keinginan yang mereka bawa. Tetapi rata-rata mereka menginginkan naik pangkat dan ketenangan hidup. Sedang aku? Apa yang akan kuminta di makam Eyang Sakri itu?

Giliranku pun tiba. Kumasuki ruang makam dengan langkah pelahan. Begitu memasuki ambang pintu terentak asap kemenyan menyergapku. Aku terbatuk. Kuambil sapu tangan untuk menutup hidung.

“Silakan, Pak.” Seorang lelaki menyambutku. Di bawah cahaya temaram ruangan, kuamati lelaki itu, belum begitu tua. Mungkin setahun dua lebih tua dariku. Agaknya dialah sang juru kunci. Saat itu dia duduk di sisi dalam makam. Makam yang tidak umum, lebih panjang dari makam yang biasa kulihat. Perkiraanku panjang makam sekitar 3 meter. Di tengah makam terlihat kemenyan yang masih mengepul. Lelehannya menyisakan onggokan yang membatu. Di kiri kanan lelehan kemenyan terlihat sebaran memanjang bunga tiga warna yang cukup tebal.

Belum sepenuhnya aku duduk di hadapannya, laki-laki itu sudah bertanya, “Apa yang akan Bapak minta?”

Aku terdiam. Bingung. Harus kujawab bagaimana pertanyaan itu? Aku datang ke situ bukan dengan maksud meminta sesuatu. Aku datang sekadar memenuhi anjuran dan permintaan para tetua desa.

“Eyang Sakri, cikal bakal desa ini, Nak. Jadi, saya anjurkan penjenengan ziarah ke makamnya. Bukan apa-apa. Untuk memperkenalkan diri dan meminta agar selama bekerja di daerah ini semuanya lancar dan selamat,” saran mbah Jan, sesepuh desa, saat aku berkunjung ke rumahnya, di hari ketiga aku bertugas di sekolah itu. Anjuran senada aku terima juga dari beberapa tetua yang kutemui dalam kesempatan berbeda.

“Apa yang akan Bapak minta?” tanya pak juru kunci dengan suara kurang sabar.

Aku tergagap, “Saya tidak meminta apa-apa, Mbah,” jawabku. Tegas.

Di luar dugaanku, juru kunci yang belakangan kuketahui bernama Mbah Ban itu tersenyum lebar hingga giginya yang tumbuh tidak rata tampak jelas. Mbah Ban menyulut sebatang rokok.

“Iya, tidak apa-apa, Pak. Banyak orang seperti sampaian; datang kemari sekadar datang, tidak tahu apa yang diinginkan. Bingung!” ujarnya.

“Tapi saya datang ke sini bukan karena bingung, Mbah.”

“Kalau tidak bingung, kenapa Bapak tak bisa menjawab pertanyaanku?”

Segera kujelaskan dengan singkat mengapa aku datang ke makam itu. Kusebut beberapa nama tetua dan tokoh masyarakat desa yang telah mendorongku ke situ.

Kepala Mbah Ban tampak mengangguk-angguk.

Lalu katanya, “Jadi, Bapak ini kepala sekolah baru di SMP?”

Aku tersenyum.

“Cucu saya juga sekolah di situ, Pak.”

Mbah Ban mengusap wajahnya. Semenit dua dia terdiam. Setelah mematikan rokoknya dan menanyakan siapa nama dan di mana rumahku, dengan suara pelan dia bercerita tentang makam yang ada di hadapan kami, tentang sejarah desanya.

Dia ceritakan, bahwa desa R di zaman dahulu adalah tempat pertapaan tokoh- pewayangan dan tokoh sejarah terkenal. Di desa itu terdapat makam Eyang Abiyoso, Eyang Sakri, Eyang Semar, Eyang Hanoman. Selain itu di situ terdapat juga petilasan Sunan Kalijaga dan gua yang pernah dijadikan pertapaan Bung Karno.

Di desa itu pantang besar, orang, saat punya hajad, menggelar pertunjukkan wayang. Apalagi menggelar pertunjukkan, mendengarkan cerita wayang dari kaset, dari cakram disc, dari radio juga ditabukan. Suatu ketika, masih cerita Mbah Ban, pernah ada penduduk pendatang yang saat mengkhitankan anaknya, nekad menggelar pertunjukkan wayang kulit. Apa yang terjadI? Tengah malam, saat pertunjukkan sedang berlangsung datang gulungan kabut tebal dan hujan deras disertai gelegar petir. Tidak berhenti di situ, beberapa hari sesudahnya, si empunya hajat, dalang serta sinden meninggal secara mendadak..

Sekalipun sebelumnya sudah beberapa kali mendengar cerita itu, aku menahan diri tidak bereaksi apa pun. selain diam dan mendengarkan. Akan tetapi, bila boleh jujur aku sudah tidak nyaman dan tidak konsentrasi mendengar cerita panjang Mbah Ban itu. Beberapa kali aku mengubah posisi duduk. Dan tampaknya Mbah Ban menangkap ketidaknyamananku.

“Kalau Bapak ada kepentingan lain, silakan bila mau kembali ke sekolah,” katanya enteng.

Segera aku berdiri. Sebelum pamit kuangsurkan amplop seraya menjabat tangannya. Raut wajah Mbah Ban terlihat berseri.

“Titip cucu saya, Pak,” katanya sembari menyebut nama dan kelas cucunya. Aku hanya mengangguk.

***

“Siswa kita ada yang sakit, Pak. Sudah seminggu ini tidak masuk,” kata Bu Ning, selah seorang guru, wali kelas 8, Jumat pagi, sebelum waktu kegiatan senam bersama dimulai.

“Sakit apa, Bu?”

“Kemasukkan roh halus, Pak.”

Aku tertawa, “Bu Ning tidak sedang bercanda bukan?”

“Saya serius, Pak. Saat saya home visit kemarin, kakeknya mengatakan begitu.”

“Terus kondisi anak itu bagaimana?”

“Saat saya tengok kemarin, kondisinya cukup memprihatinkan, Pak.”

“Siapa namanya, Bu?”

“Sabari, Pak. Dia cucu Mbah Ban, juru kunci makam Eyang Sakri.”

“Apakah dia sudah tidak punya orang tua kandung, Bu?”

“Ayahnya sudah meninggal, Pak. Sedang ibunya bekerja di Arab Saudi.”

Berbekal nama dan alamat, Sabtu pagi aku bersama Mas Har bergegas menuju rumah murid yang konon kemasukkan roh halus itu. Pekerjaan yang boleh jadi jarang dilakukan oleh kepala sekolah di kota; mendatangi rumah muridnya. Tapi di daerah pegunungan, di desa tempat aku bertugas kini, itu hal yang lumrah dan biasa saja.

Di depan sebuah rumah sederhana bercat hijau yang agak terpencil kami berhenti. Suasana sunyi. Mas Har membuka pintu pagar yang tdk terkunci. Dari dalam rumah terdengar sayup suara gamelan bertalu; gending sampak yang biasa mengiringi adegan perang dalam pertunjukkan wayang kulit.

Beberapa kali Mas Har mengetuk pintu dan berucap salam, tidak ada jawaban. Mas Har mencoba sedikit mendorong daun pintu, berhasil. Rupanya pintu tidak terkunci. Dan begitu daun pintu terbuka lebar, di layar televisi yang terdapat di ruang tamu, aku dan Mas har melihat dengan jelas tayangan video pertunjukkan wayang kulit. Tanpa komando aku dan Mas Har saling pandang.

Beberapa menit kami berdiri di ambang pintu, sebelum kemudian terdengar suara langkah gegas dari ruang dalam. Mbah Ban muncul dari pintu tengah. Begitu melihat kami, dengan tergopoh segera dimatikannya tombol player video compaq disc yang terletak di rak kedua sebuah almari kecil. Wajah Mbah Ban tampak memutih.

“O, Pak Guru? Mari, Pak. Silakan masuk!” Suara Mbah Ban bergetar. Dari raut wajah dan gerak-gerik tubuhnya aku tahu kalau hatinya sedang gelisah.

Aku dan Mas Har masuk ke ruang tamu. Setelah berbasa-basi secukupnya, kuutarakan maksud kedatanganku.

“Lho, tadi Sabari sudah berangkat sekolah kok, Pak.”

“Tapi di sekolah tidak ada, Mbah,” kata Mas Har.

Mbah Ban menggerutu panjang. Samar kutangkap dengar dia sedang menyerapahi cucunya. Aku dan Mas Har terdiam. Mbah Ban menghela napas. Sesaat sunyi menyingkup ruangan. Dari luar terdengar jelas suara gemericik air sungai yang ruas alir alurnya melintas beberapa meteri di samping kiri rumah juri kunci itu.

Setelah tak ada lagi hal penting yang terbicarakan, aku pamit. Mbah Ban menjabat tanganku dengan sangat erat. Saat itu kurasakan dingin sekali telapak tangannya. Sebelum aku meninggalkan rumahnya dia membisikkan sesuatu ke telingaku. Aku mengangguk.

Senin pagi, belum limat menit memasuki ruang kantor, Mas Har memasuki ruang kerjaku. Dengan suara serak dia mengabarkan bahwa Mbah Ban meninggal karena kecelakaan, sepeda motornya masuk jurang.

“Saya minta maaf, Pak. Saya ikut bersalah,” kata Mas Har sembari menunduk.

“Lho, apa hubunganmu dengan kematian Mbah Ban, Mas?”

“Saya tidak bisa menjaga pesan, Bapak! Saya sudah menceritakan apa yang kita lihat di rumah Mbah Ban kemarin kepada teman dekat.”

Tanpa kuminta, dengan suara terbata-bata Mas Har bercerita. Sabtu kemarin, sepulang dari rumah Mbah Ban, dia sampaikan apa yang dilihat di sana kepada teman dekatnya. Sekalipun sudah dipesan agar jangan menceritakan kepada siapa pun, teman dekat Mas Har itu abai. Maka kabar tentang Mbah Ban yang diam-diam suka menonton video pertunjukan wayang itu pun tanpa dapat dibendung meyebar dari mulut ke mulut.

Desa pun jadi geger. Gunjingan miring dan tatap mata sinis dengan kejam mendera Mbah Ban. Beberapa puluh pemuda bahkan mendatangi rumah kepala desa. Mereka minta agar Mbah Ban segera diusir. Sebab mereka khawatir perbuatannya itu akan mendatangkan kutuk dan bencana bagi seluruh warga desa.

“Begitulah, Pak. Belum lagi kepala desa memanggilnya, tadi pagi seorang pencari rumput menemukan Mbah Ban di sebuah jurang dalam keadaan sudah meninggal.” Suara Mas Har terdengar tertahan. Mukanya terus menunduk. Kentara sekali bila dia sedang dililit sesal yang amat sangat. Beberapa butir air mata kulihat jelas leleh dari matanya.

“Sekali lagi, saya minta maaf, Pak. Saya tidak bisa memegang pesan Bapak.” Mas Har mengusap air matanya dengan punggung tangan.

Beberapa saat aku terdiam. Pikiranku kosong. Apa yang mesti kulakukan?

“Apa mau dikata, semua sudah terjadi. Mungkin memang mesti begitulah jalan hidup Mbah Ban. Saya harap sampaian bisa mengambil pelajaran dari kejadian itu,” kataku pelahan. Susah payah kutekan perasaan kecewa dan marah yang menekan dada.

Seminggu setelah pemakaman Mbah Ban, seorang perempuan setengah baya menemuiku di sekolah. Dia mengaku saudara sepupu Mbah Ban. Meskipun kupersilakan berkali-kali, dia tetap menolak untuk duduk. Dengan tetap berdiri dia memberikan lipatan kertas yang lumayan lusuh kepadaku.

“Ini titipan dari almarhum Mbah Ban, Pak,” katanya sembari buru-buru mohon pamit.

Dengan cepat kubuka lipatan kertas itu dan kubaca isinya.

“Pak guru, saya terpaksa mengambil jalan pendek, mengakhiri hidup dengan cara terjun ke jurang. Saya tidak kuat menahan malu. Saya tidak menduga bapak tega menceritakan tayangan pertunjukkan wayang itu kepada orang lain. Saya titip Sabari, cucu saya.”

Aliran darah di sekujur tubuhku serasa mendadak berhenti. Rasa perih tak alang kepalang menyodoknyodok ulu hatiku. Aku… (92)

 

 

Kudus, 2016

Mukti Sutarman Espe, penyair dan cerpenis tinggal di Kudus. Sejumlah karya termuat di berbagai media nasional mau pun lokal, serta terangkum dalam beberapa antologi puisi.

Advertisements