Cerpen Damanhuri Armani (Jawa Pos, 20 November 2016)

membaca-almanak-ilustrasi-bagus-jawa-pos
Membaca Almanak ilustrasi Bagus/Jawa Pos

AKU akhirnya mendapatkan alamat rumah dan nomor telepon selularnya.

Entahlah, hasrat untuk mengetahui kabarnya tiba-tiba muncul sekuat rasa ingin tahuku pada akhir cerita yang dijanjikan setiap prosa yang kubaca. Menerbitkan rasa cemas, kadang-kadang ketegangan, kerapkali bercampur harap, juga sesekali jeri. Begitu taksa.

Aku sebenarnya telah mengetahui sekelumit aktivitasnya dari para pemandu diskusi. Tapi pengetahuanku tentangnya memang tak lebih dari nama, tahun angkatan kuliah, dan organisasi kemahasiswaan tempatnya berkiprah. Cuma itu. Dan aku memang tak pernah ingin tahu lebih banyak tentangnya. Apalagi, tak ada pula yang istimewa darinya.

Bukan apa-apa. Aku kerap dihinggapi rasa kesal tiap kali mengikuti diskusi dan tak mampu mengikuti ke mana arah pembicaraannya yang terkesan dirumit-rumitkan. Dan yang membuat rasa kesalku seolah memuncak ke ubun-ubun, ia tampak senang ketika aku—juga kawan-kawanku, kukira—gagal menangkap fragmen-fragmen pemikiran yang ia utarakan.

Maka, kalaupun aku selalu mengikuti diskusi-dis kusi itu, bukan karena kehadiran dia penyebabnya. Bukan. Keinginan untuk lari dari kebosanan mengikuti perkuliahanlah alasan utamanya.

Namun, ada yang berubah pada diriku saat ia mangkir dari sebuah kegiatan yang seharusnya ia menjadi salah satu narasumber utamanya. Perubahan yang sebenarnya sudah mulai muncul sehari sebelumnya ketika tanpa sengaja aku  mendapati namanya tercetak dalam sehelai koran lama yang terselip di antara tumpukan koran dan majalah di ruang belajar adikku. “Kemungkaran Akademik dan Menara Gading yang Retak”, begitu judul tulisan yang menerakan namanya sebagai penulis.

***

Ia sakit. Begitu kabar yang sampai ke telingaku. Konon karena kurang istirahat. Terlalu banyak begadang. Karena selain sibuk kuliah dan jadi mentor beberapa kegiatan yang ditaja para mahasiswa yuniornya, ia pun kabarnya aktif di sebuah organisasi di luar kampus. Di sebuah LSM, kata kawan-kawanku.

Setumpuk aktivitas yang tampaknya sangat ia banggakan. Setidaknya seperti terbersit dari air mukanya tiap kali diskusi dibuka moderator dengan memperkenalkan dirinya sebagai narasumber.

***

Sebenarnya ada sejumput sesal ketika aku akhirnya meneleponnya, mengunjungi kediamannya bersama kawan-kawan. Karena aku tahu rumus baku yang tampaknya mengendap padat di benak hampir tiap laki-laki saat tahu ada seorang perempuan lajang sepertiku (yang, konon, juga cantik—setidaknya kata tiap lelaki usil yang kerap dengan mata buas mencuri tatap tubuhku yang jangkung semampai dan berkulit warna gading) memberikan sedikit perhatian.

Aku khawatir ia akan memberi tafsir keliru atas kepedulianku. Aku jeri ia jadi besar kepala dan bercerita yang tidak-tidak tentangku kepada kawan-kawannya.

Dugaanku tidak terlalu meleset. Beberapa hari setelah telepon pertamaku, ia jadi kerap menghubungiku. Semula sekadar bertanya ihwal kabar atau aktivitas kuliahku. Tapi selanjutnya tak hanya itu. Dan aku pun anehnya seolah tak merasa terganggu ketika ia kemudian semakin sering menghubungiku dengan mengirimkan banyak pesan pendek ke telepon genggamku.

Diam-diam aku malah menganggap apa yang kualami seakan-akan sebuah peristiwa buruk tapi menyenangkan. Diam-diam aku juga menikmati larik-larik puisi, untaian aforisma, dan segala ungkapan yang tak jarang sebenarnya klise, dalam tiap pesan pendek yang ia kirim.

Setelah itu, seperti dengan mudah bisa kau terka, jadilah aku dan dia sejoli yang kian kerap bertemu. Kian hari kian luruh kecanggungan yang awalnya sulit kuelakkan tiap kali kami saling curi tatap dan bertukang pandang. Kami pun akhirnya makin sering berbincang tentang apa saja yang kami anggap menarik untuk jadi bahan obrolan. Tuhan, cinta, kesunyian, penderitaan, juga isu-isu mutakhir ihwal sastra yang tak selamanya bisa aku pahami dengan baik. Tema-tema obrolan yang tertatih-tatih kuikuti dan sejujurnya hanya menahbiskannya jadi sang juru khotbah yang gagah dan, kadang-kadang, pongah: tak pernah bisa kusanggah dan aku menjelma layaknya salah seorang anggota jemaat yang menyimak dengan khidmat segala omongannya yang seolah mustahil bisa salah.

Dan, tak lebih dari sembilan puluh sembilan hari bersamanya, aku pun akhirnya gagal bergeming di hadapan riak-riak suara hati kecilku. Suara aneh yang seolah-olah memaksaku menganggap pertemuan dengannya seperti candu bagi pemadat, laksana uang bagi perempuan penggemar belanja dan penggila gaya hidup.

Aku memang terus bersikeras untuk tak terlalu tenggelam dan lalu larut dalam nyanyi sunyiku, solilokuiku. Apalagi, dari sejumlah percakapan yang sudah tak bisa kuhitung lagi karena begitu kerapnya, rasanya tak pernah tampak obsesinya untuk menganggapku lebih dari seorang kawan, seorang sahabat. Mitra diskusi, kata dia.

Tapi, waktu kerap mengubah segalanya. Dan aku adalah saksi sekaligus mungkin korban dari kuasa waktu itu.

Terlalu banyak peristiwa yang selalu lolos untuk tak kucatat. Terlalu kerap aku gagal mengelak dari belitan aura magis peristiwa-peristiwa itu. Aku seolah terhisap ke dalam pusarannya. Dan, segalanya kian bersimaharajalela; semuanya seolah berada di luar kendaliku. Meskipun aku tetap menyim pannya rapat-rapat dan tak pernah sudi ia mengetahuinya.

Semakin lama aku merasa semakin rapuh untuk sekadar jadi juru kendali atas diriku. Tubuhku terasa terlalu ringkih untuk sekadar jadi penyangga gemuruh isi dadaku untuk kemudian bisa jujur kepada diriku dan kepadanya. Kerapuhan yang sebenarnya tak terlalu kusesali karena sejak awal suara-suara misterius itu muncul dalam palung jiwaku dan kemudian seakan terus-menerus beranak pinak membelah diri seperti amuba di hampir tiap helaan napas lirihku. Aku begitu yakin ia pun sebenarnya menyelipkan ketakjujuran yang sama ke salah satu sudut dirinya.

***

Kini, delapan kali almanak meja telah berganti rupa dan aku masih terus bertahan menghabiskan senja seorang diri. Delapan kali markah waktu itu berganti warna setelah—entah dari mana kala itu ia memungut nyali yang sekian lama tak dimilikinya—di hari ulang tahunku yang ke-20 ia menghadiahiku novel Di Tepi Sungai Piedra Aku Duduk dan Tersedu Paulo Coelho dengan secarik sisipan kertas ungu bertuliskan kutipan kuplet-kuplet sajak “Aku Ingin” Sapardi Djoko Damono.

Ya, delapan kali kuganti kalender sementara kini aku hanya bisa melihatnya sebagai kaki langit yang terus menjauh tiap kali aku berupaya menghampirinya, berikhtiar kembali merengkuhnya dalam-dalam.

Ia mungkin sudah mulai terbiasa melalui hari-harinya tanpa selarit ingatan pun tentang kisah-kisah indah kami yang berulang kali membuat karamnya kendali diri. Telah alpa bahwa bukan hanya doa yang dulu berulang kali kami rapalkan, tapi juga dosa yang membuat kami lupa akan segala.

Kini, ia mungkin mulai bahagia menjelang tiap temaram malam hanya ditemani gigil tubuhnya sendiri dijamah hawa dingin yang merangsek masuk ke tiap sela pori-pori tubuhnya seperti pagutan dingin serupa yang kini menyelinap dari pepohonan di pematang bukit seberang rumah-tuaku yang rutin dikunjunginya sewindu lalu. Atau bukan mustahil telah ada nama lain yang selalu siap menemaninya menghalau tiap sengatan dingin yang kian meruncing saat warna malam merambat kelam.

Dia mungkin betul-betul telah melupakan semesta mimpi-mimpi yang pernah dibangunnya saat bersikeras meninggalkan kota ini. Kota yang, katanya waktu itu, tak lagi meruangkan seinci pun harapan untuk masa depan.

“Pergilah ke mana hati membawamu,” kataku waktu itu; dan ia cuma menjawabnya dengan tatapan nanar yang membuatku bisu bak arca batu. Sepenggal kalimat yang kupetik dari judul novel Susanna Tamaro yang pernah kami baca serta perbincangkan bersama dan kini ada dalam dekapan erat dadaku yang terus terasa sesak.

“Sebab diam berarti kematian; dan berhenti bekerja adalah ikhtiar diam-diam bercengkerama dengan maut,” sambutnya, menjahit dua aforisma dari penyair-filsuf Pakistan dan novelis negeri Katulistiwa yang sangat ia kagumi.

“Hanya dengan kesabaran membara kita akan menaklukkan kota agung, yang akan memberi cahaya, keadilan, dan martabat bagi segenap umat manusia,” katanya dalam sebuah SMS yang dikirimnya di sebuah tengah malam. Sebuah kutipan bait puisi Rimbaud yang belakangan, berkat novel Il Postino Antonio Skarmeta yang agak terlambat aku baca, kuketahui dicurinya dari naskah pidato Pablo Neruda saat menerima hadiah Nobel Sastra.

“Biarlah aku mengisi hari-hariku di sini. Dan kau boleh menggeledah setiap sudut kota yang kau tuju sesukamu hingga suatu saat kau sampai pada ujung waktu untuk kembali. Pulang ke rumah kita. Kembali ke rumah tempat istirah dan bersekutunya duniaku dan duniamu, surgamu dan surgaku,” kataku.

***

Ia memang benar-benar pergi. Sementara aku harus terus-menerus memanggul-manggul sebukit rasa cemas dan waswas.

Sekarang adalah purnama kesembilan puluh sembilan ketika jarak menyekat kami. Bulan ketiga, tahun kesembilan, ketika tiap percakapan kami lewat telepon dan pertemuan maya di layar gawai dan komputer terasa begitu sarat basa-basi dan kian hari kian terasa hambar. Pasi. Sepucat paras perempuan kehabisan darah saat melalui detik-detik persalinan.

Waktu memang kerap mengubah segalanya. Dan aku adalah saksi atas kuasa waktu itu.

Waktulah yang meremukkan imanku—juga imannya, barangkali—akan digjayanya harapan yang berubah menjelma jadi sekadar keping-keping kenangan yang retak. Aku, sialnya, selalu gagal mengisyaratkan anggukan kepada siapa pun yang memandang optimisme, seperti pernah dikatakan seorang tokoh dalam sebuah novel Milan Kundera, sebagai candu. Sebab kini, akulah mungkin pengisap candu itu. Perempuan malang yang terus disesah sembilu rindu; disalib rasa nyeri setiap kali bersijingkat dan berdiri tertatih untuk sekadar berikhtiar untuk tak berhenti berharap.

Waktu mungkin telah merenggutku dari dunianya. Waktukah yang juga akan merenggutnya dari duniaku?

***

Kini mungkin telah raib decak kagumnya pada keteguhan hati dan kesetiaan orang-orang dalam novel Negeri Bahagia Dominique Lapierre. Ia pun mungkin sudah tak ingat lagi untaian kisah cinta ganjil dua sejoli filsuf eksistensialis Jean Paul Sartre dengan feminis Simone de Beauvoir, jalinan cinta Martin Heidegger dengan Hannah Arendt, atau Amin al-Khuli dengan Bintu Syathi’. Sejumlah nama yang tertatah abadi di altar sejarah dan tak bosan kami sebut ketika perjalanan rasa mulai bertolak di beranda hati.

Nama-nama mereka mungkin akan segera tanggal satu per satu dari benak kami seperti tanggalnya lembar-lembar almanak yang tak pernah luput kudaras. Namaku pun mungkin telah meranggas dari dirinya seperti pohon-pohon harapan yang dulu kami tanam dan rawat bersama pun telah lebih dulu bergegas meranggas tanpa menerakan bekas.

Ya, diam-diam waktu mungkin mulai merenggutku dari dunianya; meskipun, sejujurnya, tak akan pernah ada yang mampu merenggut dirinya dari duniaku. ***

 

 

Tanjunglesung-Tanjungkarang, 2014-2016

DAMANHURI ARMANI, lahir di Pandeglang, Banten. Sehari-hari bekerja sebagai dosen linguistik di IAIN Raden Intan, Lampung.

Advertisements