Cerpen Zahra Vee (Suara Merdeka, 20 November 2016)

kematian-para-lelaki-ilustrasi-suara-merdeka
Kematian Para Lelaki ilustrasi Suara Merdeka

Lelaki tua dan buta itu terus bercakap tentang kematian. Katanya, tidak ada satu lelaki pun yang selamat dari kematian tersebut. “Ya, termasuk aku!” jawab lelaki tua itu, enteng, saat seorang lelaki lain melempar tanya penuh kekesalan. Dua hari kemudian, lelaki itu ditemukan mati di tumpukan sampah, puluhan lalat dan kecoa keluar dari sepasang lubang matanya yang bolong.

***

Pagi-pagi sekali, saat beberapa orang masih memilih mendengkur di atas ranjang, atau berpura-pura malas berangkat ke mushala yang menyerukan perintah Tuhan mereka. Dari sebuah rumah yang nyala lampunya remang-remang, seorang perempuan berteriak histeris, menangis sambil menggendong bayinya yang belum genap empat puluh hari.

Saking kaget, beberapa tetangga yang kebetulan sudah menyala, tergopoh-gopoh mencari asal suara. “Kenapa kamu menangis?” tanya salah satu dari mereka, penasaran.

Sambil terus terisak, perempuan itu menjawab, “suamiku tiba-tiba mati saat hendak kubangunkan ke mushala.”

“Apa suamimu sakit?”

“Tidak. Kami hanya habis bertengkar semalam.”

“Apa yang kalian pertengkarkan?”

“Bagaimana bisa aku menyetujui suamiku menikah lagi? Sementara bayi kami saja belum punya nama.”

Bayi yang digendong perempuan itu mendadak menangis sangat keras, meronta-ronta. Wajahnya memerah. Orang-orang berpikir, mungkin bayi itu ikut merasakan kepergian sang bapak. Meski sudah diberi ASI, bayi laki-laki itu tak mau diam. Semakin menangis. Si ibu bayi kebingungan, dipeluknya semakin erat. Dan akhirnya bayi itu mau diam, tak menangis lagi. Untuk selamanya.

Belum habis kebingungan orang-orang yang berkabung atas kematian laki-laki tetangga serta bayinya itu, dari rumah di ujung perempatan, perempuan lain berteriak meminta tolong.

Orang-orang yang sama, berlarian. Ada yang masih memakai sarung, memakai daster, atau membawa sutil di genggaman. Mencari asal suara.

“Ada apa, Nyi?”

(Nyi adalah panggilan kepada istri dari orang yang dituakan di kampung tersebut. Biasanya orang itu memiliki kelebihan yang tak dimiliki orang lain, seperti ilmu kebatinan atau orang yang dianggap lebih banyak makan garam kehidupan.)

“Aki meninggal….” Nyi bersuara, gemetar. Tak kalah gemetarnya dengan para tetangga yang melongo saat mendengar berita tersebut, seolah tak percaya.

“Tapi, semalam masih ngronda dengan saya kok, Nyi,” timpal seseorang.

“Tadi pagi masih berpapasan denganku saat Aki mau ke musalla,” tambah yang lain.

Aki, lelaki berumur tiga seperempat abad itu, memang dikenal ramah dan rajin ke musalla. Bahkan lelaki yang ketiga anaknya sudah hidup sukses di negeri jiran itu… sering membantu para tetangga lain yang kena musibah. Dia juga lelaki yang dermawan, sering sedekah ke Masjid. Dan namanya akan disebut pertama kali melalui speaker yang mampu menembus lubang-lubang semut. Setelahnya orang-orang akan menyalami penuh takzim.

“Pulang dari musalla tadi, tiba-tiba badannya sudah kaku di atas kursi. Bahkan kopi buatanku saja belum sempat diminum.”

Orang-orang terdiam. Mendadak mereka teringat akan ramalan lelaki tua dan buta beberapa hari lalu. “Jangan-jangan….?” Para lelaki mulai panik.

***

Hari ke-4, di kampung tersebut sudah ada sembilan lelaki yang mati tanpa sebab. Tiba-tiba ditemukan mati begitu saja. Saat hendak tidur, berangkat kerja, sarapan, ngasih makan hewan ternak, atau ada juga yang kesetrum listrik. Tukang gali kubur menjadi bingung. Banyak pesanan. Dan sorenya, si penggali kubur mati saat menggali kubur.

“Apa yang harus kita lakukan?” tanya satu laki-laki cemas, saat mereka, para lelaki, sepakat untuk musyawarah mencari jalan keluar dari kutukan kematian tersebut.

“Bukankah, kutukan ini dari lelaki buta itu?” Yang lain mengangguk, “bagaimana kalau kita layakkan kuburan lelaki itu? Dan secara baik-baik kita minta agar kutukan ini dicabut.”

“Tapi dia kan sudah mati. Atau bahkan sekarang mayatnya sudah penuh cacing dan ulat. Itu sama saja musrik, nyembah setan.”

“Kalau kau tidak mau, terserah! Mungkin besok pagi kau akan mati.” Dan keesokan paginya, si lelaki ini mati saat mau mandi.

Hari ke-7, setelah ada dua puluh delapan laki-laki yang mati. Kuburan laki-laki tua dan buta itu dibongkar juga. Tapi mereka terkejut setengah mati, kuburan itu kosong. Jangankan mayat, seekor ulat atau cacing saja tidak ada. Membawa tanda tanya besar di kepala, orang-orang itu pulang. Dan malamnya, dua lelaki yang menggali kuburan itu tadi siang, mati bersamaan saat meneguk sisa kopi di warung seorang janda.

Karena kematian-kematian misterius itu, para lelaki menjadi sangat ketakutan. Bisa saja, nanti atau besok giliran satu di antara mereka yang mati. Para istri-istri pun menjadi cemas jika mereka menjadi janda, dan anak-anak menjadi yatim piatu.

Rupanya, kutukan kematian tersebut juga melanda di kampung sebelah. Lalu di kampung sebelahnya lagi. Sebelahnya lagi, sampai ke kampung seberang. Jika keadaan terus seperti ini, negeri mereka akan menjadi negeri tanpa lelaki. Lalu bagaimana cara berkembang biak?

***

Hari ke-21, kutukan kematian ini menjadi sumber malapetaka yang menyedihkan. Aktivitas yang dikerjakan oleh para lelaki, khususnya, lumpuh total. Sopir angkot, tukang ojek, satpam toko-toko perbelanjaan, preman, tukang copet, sampai tukang begal yang biasanya tak segan-segan mengalungkan senjata tajam pada korban. Semua memilih untuk mencari aman menyembunyikan nyawa masing-masing. Atau setidaknya mencari tempat mati yang nyaman.

Seperti bau bangkai tikus di pojokan langit-langit kamar yang mudah menyebar melalui celah angin yang pecah, menembus lubang-lubang dingin membekukan pernapasan. Kutukan ini akhirnya sampai ke hidung para penguasa negeri.

“Kita harus bertindak!” ucap salah satu menteri di ruang sidang.

“Apa yang bisa kita lakukan, sementara penyebab kematian-kematian itu sendiri kita tidak tahu?” Menteri lain berkomentar.

“Kita harus melindungi rakyat!”

“Itu butuh dana besar.”

“Kita hutang negara tetangga!”

“Hutang kita sudah banyak!”

“Kalau begitu, biarkan saja mereka mati!”

“Bagaimana jika kita juga mati?”

“Kita lapor Presiden!”

***

Hari ke-71. Dari dusun-dusun terpencil hingga ke kota-kota besar yang dihuni gedung dan pabrik. Perempuan-perempuan menjadi janda, anak-anak menjadi yatim piatu, terminal-terminal kosong, pangkalan ojek sepi, hanya kesedihan yang serupa udara mengepung langit.

Dan satu-satunya lelaki yang masih hidup di hari itu hanya Pak Presiden. Wajahnya tampak pilu, menyaksikan negerinya kehilangan seluruh lelaki, termasuk anak dan cucunya.

Sebuah sentuhan lembut membuyarkan pikiran keruhnya. “Bapak jangan ikut mati ya!”

Pak Presiden menoleh, menggelengkan kepala. Tiba-tiba, dadanya terasa begitu sesak. (92)

 

 

Hong Kong, 2 November 2016

Zahra Vee beralamat di Dusun Pomo RT 02 / RW 16 Desa Ampel Kecamatan Wuluhan, Kabupaten Jember. Saat ini ia masih tercatat sebagai buruh migran Indonesia (BMI) di Hong Kong. Sejumlah cerpennya terangkum dalam antologi berjudul Bulan Robek.

Advertisements