Kota dalam Sarang Lebah


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 13 November 2016)

kota-dalam-sarang-lebah-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Kota dalam Sarang Lebah ilustrasi Bagus/Jawa Pos

AKU dan ibu menatap pisau besar di genggaman ayah. Pisau itu kemudian bergerak membelah sebuah sarang lebah sebesar bola basket, kami terperangah menemukan sebuah kota di dalamnya.

Sebuah kota yang puluhan tahun ditinggalkan. Kota yang terbengkalai dengan gedung-gedung tua, jalan dan jembatan ringsek, dan aroma kematian. Ibu mendadak membekap mulutnya. Aku menutup hidung. Tetapi ayah memilih diam, sebelum beberapa saat kemudian ayah mengatakan sesuatu yang membuatku ingin muntah.

“Inilah makanan kita malam ini. Ibumu akan memberinya santan kelapa dan kunyit. Malam ini kita akan makan dengan perasaan bahagia.”

Tetapi kota dalam sarang lebah itu telanjur membuatku mual. Aroma kematian telah menyebar ke seluruh penjuru kota, telah memamah belulang gedung-gedung tua di dalamnya. Kota mati yang terbungkus jalinan ranting dan rerumputan kering dan dilapisi lumpur bercampur liur lebah.

“Tadinya ini kota yang indah. Tidak ada permukiman kumuh di dalamnya. Tidak perlu ada yang digusur untuk kota seindah ini,” kata ayah seperti mengenang.

Tetapi kota ini sudah mati. Kota mati adalah kota yang tidak berguna. Kota yang telah ditinggalkan, bukan saja karena kota ini menyebarkan aroma kematian, tetapi karena kota ini tidak memberikan harapan untuk ditinggali. Mengapa ayah begitu yakin hanya santan kelapa dan kunyit yang bisa memperbaiki aromanya.

“Mengapa kota ini ditinggalkan?”

Ayah memandang pisau besar di tangannya. Kemudian mengarahkan bola matanya kepadaku. Ayah menggeleng. “Kota ini mengalami kematian yang tragis karena segelintir orang mengira telah menguasainya, menolak meringankan beban hidup warga di dalamnya. Kota selalu menjadi gambaran ambisi orang-orang yang mengelolanya, sekaligus medan pertarungan bagi jiwa-jiwa warganya.”

Aku paham betul apa yang dijelaskan ayah. Tetapi aku belum mengerti bagaimana aroma kematian pada kota di depan kami ini bisa diredam hanya dengan santan kelapa dan kunyit?

“Kisah kota ini seperti pengorbanan Prometheus.”

Ah, Prometheus. Aku ingat nama itu, juga nama Agura. Ya. Aku ingat betul ayah pernah menceritakan kisah seorang dewa muda dan seorang gadis bernama Agura. Zeus menghukum Prometheus dengan memaku tubuhnya pada sebuah batu karena dewa muda itu diam-diam memberikan api kepada manusia yang mendiami sebuah kota. Tidak ada keraguan bahwa Zeus pun menyukai suasana terang benderang dan semarak cahaya, tetapi Prometheus dianggap terlalu lancang, dianggap terlalu memanjakan rasa ibanya dengan memberikan api kepada manusia untuk menerangi kota mereka. Manusia harus membuat apinya sendiri dengan cara apa pun, dan tindakan Prometheus adalah bentuk pelanggaran pada konsensus hubungan manusia dengan dewanya.

Agura menemukan tubuh Prometheus dan melihat penderitaannya. Gadis itu diam-diam memberinya air. Gadis itu selalu datang menemui Prometheus dengan air yang ia tampung pada daun Liana yang digulung kerucut. Dewa muda itu senang dengan kehadiran Agura. Gadis itu meredakan hausnya dan mengobati kesepian melewati masa hukumannya.

Tetapi Zeus mengetahuinya. Dewa tua itu mengubah Agura menjadi mata air yang perlahan membesar sehingga membentuk aliran air di bawah batu di mana tubuh Prometheus dipakukan. Perlahan aliran air dari tubuh Agura menjadi sungai deras yang mengalir di sekitar batu Prometheus.

Kisah itu masih aku ingat, padahal ayah menceritakannya untukku 20 tahun lalu. Itu kisah romantis, sekaligus kejam yang berhubungan dengan Orliniye Skaly di pinggiran kota Sochi. Kisah tentang kota dan cinta. Kisah penyatuan cinta lelaki dan perempuan, menyatukan manusia dan kotanya, menyatukan dewa dan manusia. Menyatukan mitos Yunani dan legenda Adyghe. Tetapi di balik kisah itu, kekuasaan terbukti selalu bertindak sebagai nemesis bagi kemanusiaan. Zeus menempatkan Prometheus lebih dekat dengan gadis yang dicintainya dengan cara dan tujuan paling memuakkan, sekaligus hukuman tambahan baginya. Tubuh air Agura mengalir di bawah batu di mana tubuh Prometheus dipaku—Agura begitu dekat darinya, namun Prometheus tidak pernah bisa menyentuhnya.

“Maksud Ayah, kematian adalah karma kota ini?” Kutunjuk kota dalam sarang lebah di depan kami.

Wajah ayah tiba-tiba murung. Ibu bahkan tiba-tiba menangis. Pertanyaanku mungkin saja telah melukai perasaan mereka berdua. Kepala ayah tertunduk sembari mengetuk-ngetuk permukaan meja dengan pisau besar di tangannya. Ibu bangkit dari duduknya, mengelap air matanya dan berjalan ke arah dapur.

Ah, pertanyaanku barusan sebegitu melukai perasaan mereka berdua?

“Jangan hiraukan kami.” Nada suara ayah begitu rendah.

“Kota ini,” ayah menatap kota dalam sarang lebah di depan kami, “adalah kenangan yang sukar hilang. Kenangan yang ingin memisahkan kami dengan kemanusiaan kami. Jauh sebelum kau lahir, kami harus meninggalkan kota ini bersama ribuan orang lainnya, hanya agar kami tidak menjadi orang-orang terasing di kota kami sendiri.”

Aku terhenyak. Perasaanku bergolak hebat—lebih hebat dari perasaan yang muncul saat aku mengira pertanyaanku telah menyakiti perasaan ayah dan ibuku.

Kota dalam sarang lebah ini tetap menyebarkan aroma kematian, walau orang-orang miskin telah meninggalkannya lebih dari 30 tahun lalu. Kota yang akhirnya hanya dihuni segelintir orang yang merasa menguasainya dan tidak menyisakan seorang miskin pun untuk bisa mereka gusur, dijadikan pelayan dan mereka jadikan sasaran kemarahan mereka. Lantai rumah sakit kota ini tak pernah bersih lagi, segelintir penguasa kota ini harus melayani diri mereka sendiri. Mereka harus berlumuran tanah saat mengubur keluarga mereka sendiri. Tidak ada warga kelas tiga yang memasak untuk mereka, melayani mereka di meja makan, atau menggali tanah untuk menyiapkan liang pemakaman.

Ayah melepaskan satu per satu kenangannya seolah-olah sedang duduk di atas dolmen Volkonsky; di mana waktu berjalan ke arah sebaliknya, air mengubah arah alirannya, dan manusia terbebas dari kemarahan dan kecemasan. Wajah ayah tenang, wajah yang terbebas dari kemarahan dan kecemasan.

“Kami selesai dengan kota ini,” suara ayah datar sekali, “saat mereka membuang kami, seolah kami tidak pernah menjadi bagian kota ini. Seperti Zeus, mereka murka apabila kemudahan menghampiri hidup kami. Mereka menghukum kedermawanan.”

Aku mengerti sepenuhnya pada kenangan ayah. Tetapi bagaimana santan kelapa dan kunyit bisa meredakan kegetiran dari hati ayah dan ibuku? Aku sama sekali belum mengerti hubungan santan kelapa, kunyit, dan kota dalam sarang lebah ini. Ayah memintaku bersabar.

Mengenai kota dalam sarang lebah ini, tampak seperti tembok-tembok berwarna keabu-abuan yang memisahkan rumah dan gedung tua berbentuk hexagonal. Pohon-pohon di sudut taman-taman terlihat meranggas, hanya reranting kering tanpa dedaunan. Kantor-kantor pemerintah, pasar-pasar, sekolah-sekolah, terlantar, tampak menyedihkan seperti telah ditinggalkan dengan terburu-buru. Rumah sakit kota ini sepi seperti kuburan—dalam ingatan ayah, rumah sakit yang pernah menolak mengoperasi usus buntunya, karena ibu hanya bisa menyodorkan kartu dari penyelenggara jaminan sosial.

Balai kota yang dikelilingi pagar tinggi dan berduri itu kosong dan tetap terkunci. Di sebelahnya Kantor Arsip Daerah, yang menurut ingatan ayah, tidak lebih dari sekadar tempat berkumpul orang-orang untuk merayakan rencana-rencana proyek sembari menduduki dokumen-dokumen tender yang tersegel lak merah.

“Di mana ayah dan ibu tinggal dulu?”

Ayah menunjuk ke dalam sarang lebah. “Tepat di sudut itu.”

Tampak sebuah bangunan di sudut lapangan yang dipisahkan jalan dua arah.

“Di Kantor Jawatan Pajak?”

“Sebelum didirikan Kantor Jawatan Pajak, di lokasi itulah rumah kami. Rumah pertama kami setelah menikah. Kehidupan pernikahan kami yang bahagia—paling tidak, kami merasa begitu, sampai di tahun keenam, saat balai kota menggugat lokasi itu sebagai aset kota yang kami tempati secara sepihak. Pengadilan memenangkan gugatan balai kota dan kami harus meninggalkan rumah tanpa penggantian sesen pun.”

Kata ayah, itulah masa di mana ayah dan ibu—dan ribuan orang lainnya—pergi meninggalkan kota itu. Kota yang tidak bisa memberikan harapan hidup serta menghindarkan warganya dari kecemasan bukanlah kota impian, bukan kota yang harus diperjuangkan. Kota ini akan pelan-pelan membunuh siapa pun.

Di luar kota itu, ayah-ibuku bersama ribuan orang miskin lainnya hidup terlunta-lunta dalam pengungsian, sampai mereka menemukan lokasi baru untuk mendirikan kota baru. Kota orang-orang miskin. Kota yang dilayani dan melayani mereka semua. Mereka tidak tahu bagaimana nasib kota yang telah mereka tinggalkan.

“Tubuh ibumu begitu kurus, bahkan di saat ia sedang mengandung dirimu. Sehari sebelum kelahiranmu, ayah harus memanjati pohon trembesi untuk menurunkan sebuah sarang lebah. Para lebah pekerja juga telah meninggalkan sarang itu,” cerita ayah berlanjut.

Kecuali ranting dan rerumputan kering yang direkatkan lumpur bercampur liur lebah, tak ada madu di dalamnya. Aroma kematian juga keluar dari pori-pori sarang lebah itu. Ayah melembutkan sarang itu dengan santan kelapa agar terasa manis dan bisa dikunyah oleh ibuku. Sisa kunyit dari tas ibuku dicampurkan bersama santan kelapa.

“Kau lahir keesokan harinya. Pagi itu dingin sekali. Ibumu menghangatkanmu dalam pelukannya. Air susunya kering karena kelaparan, namun kebahagian adalah hal pertama kami sapihkan ke mulutmu.”

Aku tidak menangis. Aku tidak bisa menangisi masa lalu yang hanya hadir dalam kenangan ayah dan ibuku. Kupandangi untuk terakhir kalinya kota dalam sarang lebah ini, sebelum ibu kembali dari dapur dengan semangkuk santan kelapa hangat yang telah diaduk bersama kunyit. Santan kelapa itu berwarna kuning cerah.

Ah, rupanya manis santan kelapa-lah yang membuat ayah dan ibuku tidak melupakan apa pun. “Pahitnya kunyit bisa meredam aroma kematian kota ini,” ujar ayah seraya menunjuk kota dalam sarang lebah.

“Kita sudah selesai dengan kota ini,” ayah meremas bahuku. Ayah lalu membimbing tangan ibu menuangkan santan kelapa hangat berwarna kuning cerah itu ke dalam dua bagian kota dalam sarang lebah yang terbelah. Kami makan malam dalam kebahagiaan. ***

 

 

Molenvliet, April 2016

buat Triyanto Triwikromo

 

ILHAM Q. MOEHIDDIN, cerpenis, tinggal di Jogja. Buku terbarunya Ordinem Peremto (2016) akan segera terbit.

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: