Gorengan di Tepian Perempatan


Cerpen Uri Pradanasari (Suara Merdeka, 13 November 2016)

 

Semarang. Klakson kendaraan bersahutan. Setiap pengendara mobil dan motor ingin menjadi pemenang ketika melewati perempatan. Salip kanan, lewat kiri, atau tetap di tengah garis putih putus-putus menjadi pilihan. Senggol sedikit menjadi pertengkaran. Langgar peraturan, dikejar polisi, dihentikan di jalan. Sepi selepas dini hari, jam kerja datang, kemacetan tak terhindarkan.

Pekat, malam. Lampu merah siaga setiap saat, saksi bisu transisi langit gelap dan terang. Cat warna zebra cross pembatas jalan sering kali menjadi persinggahan bagi orang-orang yang mencari uang di jalanan.

“Heh! Capek! Sudah jam segini, belum ada satu pun yang laku. Tidak seperti biasa,” ujar perempuan paruh baya itu sembari mengikat rambut yang terurai dengan karet gelang berwarna merah.

“Masih saja duduk di situ? Geserlah sedikit! Kau tak kasihan padaku? Aku tak kuat berjalan lebih jauh lagi. Sejak kemarin aku belum makan, kepalaku kliyengan!” ujar lelaki tua yang baru datang dengan alat bantu berjalan dari kayu yang terjepit di ketiak kanan. Dia kemudian duduk menggeser perempuan paruh baya.

“Iya, iya. Aku bergeser,” ujar perempuan paruh baya itu sambil bergeser ke kiri.

“Salah sendiri! Memang sampean tidak ngamen hari ini?”

“Tidak. Malas sekali rasanya! Kemarin aku kalah judi lagi. Uang ngamenku seminggu ludes. Pusing!”

“Dasar! Sudah bau tanah, masih saja suka judi! Ngamenlah hari ini! Lumayan dapat lima ribu, bisa buat beli nasi.”

“Apa kau bilang? Kau pikir kau juga tak bau tanah? Tidak! Aku malas! Aku mau duduk di sini saja, di sampingmu.”

“Ya sudah jika itu keinginan sampean. Duduklah!”

Lelaki tua itu tersenyum. Wanita paruh baya itu terdiam sambil sesekali melihat lampu lalu lintas. Lampu lalu lintas berwarna merah, isyarat ia harus berdiri lagi dan menjual karak, pisang rebus, dan tahu goreng dalam keranjang hijau lusuh.

“Karak, karak, karak. Pisang rebus, tahu, tahu. Semua dua ribuan. Lima ribu dapat tiga. Karak. Pisang rebus. Tahu. Tahu.” Itulah lagu perempuan paruh baya dari satu kendaraan ke kendaraan lain.

“Pisang rebus empat, Bu. Ini dua,” ujar seorang perempuan membuka jendela mobil sambil menunjuk karak.

“Oh, iya, Bu! Sepuluh ribu. Matur nuwun, Bu!” ujar perempuan paruh baya sembari memberikan empat buah pisang rebus dan dua bungkus karak kepada perempuan di dalam mobil.

“Sama-sama, Bu,” jawab perempuan di mobil sembari tersenyum, memberikan uang, kemudian menutup kaca mobil.

Lampu hijau. Pertanda perempuan paruh baya harus menepi. Dia kembali duduk di samping si lelaki tua.

“Par! Itu laku!”

“Iya, alhamdulillah, Mbah!”

“Kau tak mau memberikan satu pisang rebus itu untukku? Perutku sudah berbunyi, Par. Aku lapar.”

“Tidak, Mbah! Maaf. Biar sampean kapok main judi lagi!”

“Ya sudah, Par! Lebih baik aku menungguimu saja.”

Paryam, itulah nama si perempuan paruh baya. Dalam hati sebenarnya ia tak tega pada Mbah Jo. Namun, biarlah itu jadi pelajaran bagi Mbah Jo agar tidak main judi lagi.

“Par, sungguh kau tak kasihan padaku? Untuk berbagi makanan saja kau begitu pelit. Pantas daganganmu tidak laku-laku.”

“Biarlah, Mbah! Mungkin rezekiku hari ini segini.”

“Heh, Par! Kulihat-lihat kau lumayan cantik juga. Kenapa kau tak coba jual dirimu saja! Daripada bersusah payah menjual pisang, tahu, dan karak. Berapa untungnya coba? Hi-hi-hi.”

“Apa! Sampean jangan kurangajar ya, Mbah! Biarpun hidup di jalanan, pantang bagiku menjual diri! Kalau sampean tidak lebih tua, pasti sudah kutampar!”

“Ha-ha-ha. Kamu jangan sok suci! Sok jual mahal! Ha-ha-ha. Heh, Par, aku punya kenalan bandar judi kaya. Jika mau, kuantarkan kau ke sana. Bagaimana?” bujuk Mbah Jo.

“Tidak, Mbah! Tak sudi! Lebih baik aku di sini!”

Mbah Jo tertawa makin keras mendengar jawaban Paryam. Paryam makin jengkel, meninggalkan Mbah Jo begitu saja.

“O, wong tuwa edan! Ra nggenah! Dasar orang tua gila! Tidak jelas!” umpat Paryam sambil berjalan.

“Hati-hati, Par! Jika mau, kapan pun akan kuantarkan kau ke bandar itu, Par. Pertimbangkan lagi. Ha-ha-ha-ha,” teriak Mbah Jo, tertawa lepas.

Paryam terus saja berjalan, tak menggubris kata-kata Mbah Jo.

“Paryam, Paryam,” ujar Mbah Jo sambil mengelus-elus dagu dan tertawa bengis.

Hari makin malam. Mbah Jo merasa makin lapar. Tangannya gemetar dan pandangannya mengabur. Ia sandarkan punggung ke pagar pembatas tanaman di bawah sinar lampu kota. Seolah ia pasrah atas keadaannya. Pandangannya sayu. Dengan sisa tenaga ia mencari-cari sesuatu di saku baju dan kantong celana. Ia menemukan uang koin berwarna kuning lima ratus rupiah terselip di antara jahitan di saku.

“Lima ratus? Bisa buat apa? Hah! Sial nasibku hari ini.”

Dari seberang jalan terlihat seorang anak kecil dengan tangan kanan membawa plastik putih. Ia berlari ketika lampu merah menyala, menyeberangi jalan, menuju tempat Mbah Jo duduk. Anak kecil itu duduk di samping Mbah Jo. Baju bocah itu kumal, rambutnya awut-awutan, wajahnya coreng-moreng; keringat bercampur debu dan asap kendaraan. Sesekali keluar ingus dari kedua lubang hidungnya. Seperti seutas tali hendak jatuh, ketika mendekati bibir atas, ia tarik napas dalam-dalam untuk memasukkan ingus kembali. Tak ragu ia mengeluarkan lidah, kemudian ia tekuk ke atas, ia gerakkan ke kanan ke kiri, untuk membersihkan ingus yang masih menempel di bagian atas bibir, dekat rongga hidung. Setelah itu, barulah ia mengusap dengan punggung tangan kiri. “Asin,” gumamnya.

“Bawa apa, Le?”

“Gorengan, Mbah.”

“Dari mana? Mencuri ya?”

“Tidak, Mbah! Mulai hari ini aku jualan koran.”

“Baguslah,” kata Mbah Jo masih tersandar di pagar pembatas tanaman.

“Kau kenapa, Mbah?”

“Tak apa. Cuma lapar! Sejak kemarin aku belum makan. Uangku habis buat judi.”

“Ha-ha, Mbah, Mbah.”

“Kenapa tertawa?”

“Tidak. Aku teringat istrimu, dulu ketika masih hidup, Mbah. Ia rajin sekali kerja.”

Mbah Jo seketika terdiam. Ia tak mampu berucap. Terlalu pedih luka yang tertinggal semenjak sang istri meninggal. Luka yang menganga di dasar hati, yang dia rasakan sebagai dosa yang tak mampu dia tebus. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskan perlahan. Bibirnya agak bergetar.

“Kenapa, Mbah? Ingat istrimu?” tanya anak itu seraya mendekatkan pandangan ke muka Mbah Jo.

“Tidak! Cuma lapar!” ucap Mbah Jo mengalihkan perhatian.

“Ini!” ujar si bocah sambil mengambil mendoan dari plastik kemudian mengacungkan kepada Mbah Jo. “Makanlah! Mumpung hangat!”

“Tidak! Kau makan saja! Aku masih bisa menahan lapar!”

“Kalau begitu, ayo kita makan bareng-bareng!”

“Kau saja yang makan!”

“Ya, sudah.”

Anak itu makan dengan lahap. Sebuah tempe mendoan dan cabai rawit. Ia menggigit perlahan. Sesekali ia tiup mendoan itu, berharap tak terlalu panas. Tempe mendoan berbentuk persegi empat itu mengalihkan pandangan Mbah Jo. Sesekali ia mencuri pandang pada mendoan yang dimakan anak itu. Namun, di sisi lain, ia teringat sang istri.

“Dulu dia juga menjual gorengan. Selama hidup belum pernah aku membuat dia bahagia. Pernikahan 30 tahun itu. Ya. Ah, entahlah! Ia kini telah pergi, begitu juga nampan gorengannya,” gumam Mbah Jo dalam hati.

Kruek. Kruek. Kruek. Perut Mbah Jo berbunyi.

“Perutmu bunyi, Mbah?”

Mbah Jo hanya tersenyum.

“Ini, masih ada dua. Makanlah!” ujar anak itu sembari membuka plastiknya. Masih ada dua buah bakwan.

“Tidak! Kau makan saja,” jawab Mbah Jo.

“Malu?” tanya si anak.

“Tidak!”

“Benar? Lebih baik malu daripada tidak makan. Judi saja kau tidak malu.”

“Kamu jangan kurang ajar!”

“Tidak, Mbah. Makan saja ini, Mbah!”

“Tidak!”

“Ya, sudah. Aku mau pulang, Mbah. Ini kusisakan untukmu. Jika mau, ambil saja.”

Anak kecil itu meninggalkan Mbah Jo, menyisakan dua buah gorengan. Mbah Jo terdiam. Ia masih duduk bersandar ke pagar pembatas tanaman. Jalanan makin sepi. Klakson kendaraan tak lagi bersahutan. Hanya ada temaram lampu kota dan dua bintang berjajar yang setia menemani bulan sabit di langit. Mbah Jo masih terdiam. Ingin sekali dia makan gorengan itu. Namun gengsi terlalu besar dan sok kuat membuat dia enggan. Ia menelan ludah.

Angin bertiup makin kencang. Kini, kaki Mbah Jo lurus menempel ke tatanan paving block. Ia teringat sang istri. Rasa bersalah membuat dia begitu terpuruk, hingga mencari pelampiasan: berjudi! Sepuluh tahun lalu, ia ditinggal sang istri. Sebelum menjadi istrinya, perempuan itu janda tak beranak. Ia sangat mencintai Mbah Jo. Namun Mbah Jo terlalu acuh tak acuh. Dulu, ketika masih kuat, Mbah Jo giat bekerja untuk menafkahi sang istri.

Namun semenjak kecelakaan, Mbah Jo frustrasi dan malu karena kaki kanannya harus diamputasi. Sampai-sampai ia tak mau keluar rumah. Lalu, sang istri yang harus bekerja keras. Suatu hari, saat sang istri berjualan, hujan turun begitu deras. Banjir bandang. Ya, banjir menenggelamkan harapan Mbah Jo. Malam itu, Mbah Jo kehilangan sang istri yang jatuh terperosok dan terseret arus air. Tak terselamatkan.

“Bangun!” bentak dua pemuda berperut buncit, berseragam hijau lumut, dan bermuka garang. Mbah Jo seketika terbangun.

“Naik!”

“Apa-apaan ini!”

“Cepat naik!” bentak pemuda itu sambil menyeret Mbah Jo.

Klinting! Uang koin lima ratusan milik Mbah Jo jatuh ke paving block. Mbah Jo tak berdaya. Ia terduduk di mobil bak terbuka. Gorengan itu tetap tertinggal di tepian perempatan. Di bawah lampu yang temaram. Plastik pembungkus gorengan berbunyi setiap kali angin berkesiur. (92)

 

 

Catatan:

Kliyengan: pusing, serasa berputar-putar

Karak: kerak nasi yang digoreng

Matur nuwun: terima kasih

 

Uri Pradanasari, mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Jawa Universitas Negeri Semarang. Menulis puisi, geguritan, cerpen, dan cerkak.

 

There are no comments on this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: