Archive for November, 2016

Tabir Monalisa
November 27, 2016


Cerpen Panda MT Siallagan (Media Indonesia, 27 November 2016)

tabir-monalisa-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Tabir Monalisa ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SEBENARNYA ia tak pandai berbasa-basi, apalagi menyemir sepatu. Tapi demi bisa masuk ke ruangan Tuan Maranggir, ia mempelajari dua hal itu dengan semangat dan hasrat yang menggetarkan. Di pagi yang cerah itu, ia tiba lebih awal di areal pabrik.

“Selamat pagi, Tuan. Cerah sekali hari ini, seperti wajah Tuan.” Ujarnya ketika Tuan Maranggir turun dari mobil. Sapaan itu terdengar penuh percaya diri, tapi hatinya sebenarnya rontok dan ia menanggungkan rasa malu. (more…)

Advertisements

Ruang Tunggu
November 27, 2016


Cerpen Feby Indirani (Jawa Pos, 27 November 2016)

ruang-tunggu-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Ruang Tunggu ilustrasi Bagus/Jawa Pos

ROHMAN masih ingat saat ia melihat tubuhnya terburai dan anggota tubuhnya tersebar ke berbagai penjuru. Ia merekam gambar itu dalam gerakan lambat, dan melihat segalanya dengan jelas; orang-orang yang menjerit histeris, tubuh-tubuh yang jatuh bergelimpangan, darah yang menggenang.

Ia mendapat giliran menjalankan misi suci sehari sebelum tahun baru. Ia merangsek ke dalam kerumunan festival seni jalanan di kota itu lalu meledakkan diri. Begitulah perintah yang didapatnya, dan begitulah yang ia laksanakan. Kami dengar maka kami taati, setiap anggota mengerti prinsip itu. (more…)

Pohon Buku
November 20, 2016


Cerpen Yudhi Herwibowo (Media Indonesia, 20 November 2016)

pohon-buku-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Pohon Buku ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

1

LAKI-LAKI itu datang dengan penuh keyakinan. Melangkah ke dalam rumah seakan ia telah mengenal pemiliknya dengan baik. Setelah mengamati sekeliling, ia bertanya, “Kalian sudah mendengar tentang pohon yang berbuah buku?”

Papa Zamaradra pemilik rumah yang dari tadi diam karena tahu laki-laki ini bukanlah orang sembarangan—hanya menggeleng tak mengerti. (more…)

Membaca Almanak
November 20, 2016


Cerpen Damanhuri Armani (Jawa Pos, 20 November 2016)

membaca-almanak-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Membaca Almanak ilustrasi Bagus/Jawa Pos

AKU akhirnya mendapatkan alamat rumah dan nomor telepon selularnya.

Entahlah, hasrat untuk mengetahui kabarnya tiba-tiba muncul sekuat rasa ingin tahuku pada akhir cerita yang dijanjikan setiap prosa yang kubaca. Menerbitkan rasa cemas, kadang-kadang ketegangan, kerapkali bercampur harap, juga sesekali jeri. Begitu taksa.

Aku sebenarnya telah mengetahui sekelumit aktivitasnya dari para pemandu diskusi. Tapi pengetahuanku tentangnya memang tak lebih dari nama, tahun angkatan kuliah, dan organisasi kemahasiswaan tempatnya berkiprah. Cuma itu. Dan aku memang tak pernah ingin tahu lebih banyak tentangnya. Apalagi, tak ada pula yang istimewa darinya. (more…)

Parang Ulu
November 13, 2016


Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 13 November 2016)

parang-ulu-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Parang Ulu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

RUANGAN persegi berdinding papan itu hening. Keheningan merambati foto-foto usang dan rak kayu yang dipenuhi kitab-kitab tebal berdebu. Kiai Hambali duduk berhadapan dengan seorang lelaki tambun. Lelaki tambun itu berdiri, lalu berjalan ke arah rak kayu. Ia mengambil satu kitab dan membukanya. Tiga lelaki muda berdiri tak jauh dari Kiai Hambali. Pandangan mereka mengikuti gerak tubuh lelaki tambun dengan waspada.

“Pondok ini sudah sepi, percuma saja dipertahankan,” kata lelaki tambun sambil mengembalikan kitab ke tempat semula. (more…)

Gorengan di Tepian Perempatan
November 13, 2016


Cerpen Uri Pradanasari (Suara Merdeka, 13 November 2016)

 

Semarang. Klakson kendaraan bersahutan. Setiap pengendara mobil dan motor ingin menjadi pemenang ketika melewati perempatan. Salip kanan, lewat kiri, atau tetap di tengah garis putih putus-putus menjadi pilihan. Senggol sedikit menjadi pertengkaran. Langgar peraturan, dikejar polisi, dihentikan di jalan. Sepi selepas dini hari, jam kerja datang, kemacetan tak terhindarkan.

Pekat, malam. Lampu merah siaga setiap saat, saksi bisu transisi langit gelap dan terang. Cat warna zebra cross pembatas jalan sering kali menjadi persinggahan bagi orang-orang yang mencari uang di jalanan. (more…)