Archive for November, 2016

Parang Ulu
November 13, 2016


Cerpen Adam Yudhistira (Media Indonesia, 13 November 2016)

parang-ulu-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Parang Ulu ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

RUANGAN persegi berdinding papan itu hening. Keheningan merambati foto-foto usang dan rak kayu yang dipenuhi kitab-kitab tebal berdebu. Kiai Hambali duduk berhadapan dengan seorang lelaki tambun. Lelaki tambun itu berdiri, lalu berjalan ke arah rak kayu. Ia mengambil satu kitab dan membukanya. Tiga lelaki muda berdiri tak jauh dari Kiai Hambali. Pandangan mereka mengikuti gerak tubuh lelaki tambun dengan waspada.

“Pondok ini sudah sepi, percuma saja dipertahankan,” kata lelaki tambun sambil mengembalikan kitab ke tempat semula. (more…)

Gorengan di Tepian Perempatan
November 13, 2016


Cerpen Uri Pradanasari (Suara Merdeka, 13 November 2016)

 

Semarang. Klakson kendaraan bersahutan. Setiap pengendara mobil dan motor ingin menjadi pemenang ketika melewati perempatan. Salip kanan, lewat kiri, atau tetap di tengah garis putih putus-putus menjadi pilihan. Senggol sedikit menjadi pertengkaran. Langgar peraturan, dikejar polisi, dihentikan di jalan. Sepi selepas dini hari, jam kerja datang, kemacetan tak terhindarkan.

Pekat, malam. Lampu merah siaga setiap saat, saksi bisu transisi langit gelap dan terang. Cat warna zebra cross pembatas jalan sering kali menjadi persinggahan bagi orang-orang yang mencari uang di jalanan. (more…)

Kota dalam Sarang Lebah
November 13, 2016


Cerpen Ilham Q. Moehiddin (Jawa Pos, 13 November 2016)

kota-dalam-sarang-lebah-ilustrasi-bagus-jawa-pos

Kota dalam Sarang Lebah ilustrasi Bagus/Jawa Pos

AKU dan ibu menatap pisau besar di genggaman ayah. Pisau itu kemudian bergerak membelah sebuah sarang lebah sebesar bola basket, kami terperangah menemukan sebuah kota di dalamnya.

Sebuah kota yang puluhan tahun ditinggalkan. Kota yang terbengkalai dengan gedung-gedung tua, jalan dan jembatan ringsek, dan aroma kematian. Ibu mendadak membekap mulutnya. Aku menutup hidung. Tetapi ayah memilih diam, sebelum beberapa saat kemudian ayah mengatakan sesuatu yang membuatku ingin muntah.

“Inilah makanan kita malam ini. Ibumu akan memberinya santan kelapa dan kunyit. Malam ini kita akan makan dengan perasaan bahagia.” (more…)

Ha-hi-hu-he-hooo
November 13, 2016


Cerpen Yanusa Nugroho (Kompas, 13 November 2016)

ha-hi-hu-he-hooo-ilustrasi-adi-wirawan-kompas

Ha-hi-hu-he-hooo ilustrasi Adi Wirawan/Kompas

“… dan adalah aku berasal dari perut bumi, yang kemudian dimuntahkan lewat kawah-kawah gunung, menjelma debu, pasir, dan batu-batu. Itulah sebabnya, aku menyimpan seribu satu dongeng yang bisa kau jadikan permata hidupmu…,” bisikan itulah yang dengan jelas selalu menggema di lorong telinganya, melekat erat pada sanubarinya yang bening.

Dia berjalan, seperti meneliti setiap jengkal tanah yang akan dilaluinya. Di matanya, seolah setiap butir kerikil, atau pasir, bahkan debu sekalipun adalah penting. Terkadang, dia terdiam di sebuah titik, seperti mengamati, mengajak bicara pada sesuatu yang dipandanginya, kemudian tersenyum, bahkan tertawa riang. Lalu, tangannya mulai mengorek-orek tanah, mengeluarkan sebungkah pecahan batu, membersihkannya dari sisa tanah dan menempelkannya ke telinga kanannya. (more…)

Menjelang Badai Pasir
November 12, 2016


Cerpen Jamil Massa (Koran Tempo, 12-13 November 2016)

menjelang-badai-pasir-ilustrasi-munzir-fadly-koran-tempo

Menjelang Badai Pasir ilustrasi Munzir Fadly/Koran Tempo

MELIHAT tamu asing itu makan dengan lahap, mau tak mau aku harus mengakui kebenaran kata-kata Sang Bapa: Ketenteraman hati dimulai dengan memberi makan orang lapar. Ini sungguh bukan tabiatku. Bukan kebiasaanku membiarkan orang asing masuk ke rumahku yang mungil ini, lalu menyuguhinya persediaan makanan terbaik yang aku punya.

Aku hanya mengikuti anjuran Sang Bapa untuk tidak menolak tamu. Menurut lelaki tua itu, seorang tamu seringkali akan memberikan berkah yang tidak pernah diduga-duga. Berkah yang bisa berbentuk harta benda, atau kabar gembira, atau setidaknya doa. Menjamu tamu, terutama yang sedang melakukan perjalanan jauh, juga adalah perkara yang bisa menyenangkan Tuhan. Sebuah cara untuk menunjukkan bahwa kita adalah hamba-Nya yang baik. (more…)

Ziarah Terakhir
November 6, 2016


Cerpen Aris Kurniawan (Media Indonesia, 06 November 2016)

ziarah-terakhir-ilustrasi-pata-areadi-media-indonesia

Ziarah Terakhir ilustrasi Pata Areadi/Media Indonesia

SUDAH saatnya Bardi membuka kisah rahasia antara ia dengan mendiang istrinya kepada mereka. Bardi tahu, ini tidak penting bagi mereka, tapi ia harus menceritakannya.  Sore itu seusai membersihkan kuburan mendiang istrinya, Bardi berencana mampir ke rumah anak dan menantu tirinya. Bardi berdiri dekat persilangan hendak menyeberang, tiba-tiba sepeda motor yang dikendarai tiga remaja tanggung melaju kencang ke arahnya. (more…)