Cerpen Vika Wisnu (Kompas, 23 Oktober 2016)

telepon-dari-istanbul-ilustrasi-sunaryo-kompas
Telepon dari Istanbul ilustrasi Sunaryo/Kompas

Di Hagia Sophia seseorang lelaki asing menepuk bahu perempuan yang berdiri tak jauh di depannya dan bertanya, “Anda dari Indonesia?”. Si perempuan menoleh hingga rambutnya seolah melayang, mengiyakan dengan girang, ribuan kilo dari kampung halamannya di Pasuruan, ada yang mengenalinya, “Benar!” senyumnya lebar. Tapi takdir telah memilihkan akhir dari percakapan itu. Keduanya sama-sama terperanjat ketika mata mereka kemudian bersitatap. Beberapa detik tak bertuan sampai suara perempuan itu mengambil alih, “Apa kabar?”, nadanya sehalus arumanis hangat. Si lelaki tergeragap, lalu menukas lekas-lekas, “Oh, özür dilerim—saya minta maaf. Maaf. Salah orang.” Ia bahkan menolak berhenti sebentar atau sekedar menengok ulang, begitu terburu-buru. Perjumpaan memang bisa terjadi sesingkat itu.

Sebelumnya, waktu berporos pada bangunan dengan lengkung-lengkung gaya Byzantium, berpilar tinggi, mozaik-mozaik memenuhi langit-langit, indah dan rumit. Perempuan itu menengadah mencegah haru, rasa yang seringkali membuatnya seperti hendak tersedak. Di antara pendatang yang lalu lalang didekatinya salah satu, “Bolehkah aku minta tolong kau memotretku?” dilepaskannya tali kamera dari lehernya yang tertutup kerah pullover cokelat tua. “Tentu!” orang itu—pelancong juga—memastikan model dadakannya mendapat hasil terbaik. Si perempuan berpose serileks mungkin, sampai-sampai terlambat menyadari di hadapannya sebuah mihrab dengan gambar perawan suci memangku bayi. “Coba lihat dulu, sudahkah seperti yang kau mau?” sang turis ramah berusaha keras tak mengecewakan. “Wah! Bagus. Terima kasih banyak,” mereka pun saling takzim, bertukar lambaian tangan. Pada saat itu jubah Rumi melintas, berbisik lembut namun terdengar sangat jelas, “Tubuh adalah Maria; masing-masing kita mempunyai Yesus di dalamnya.”

Tubuh adalah matematika, hati adalah aljabarnya. Perempuan itu bukan hendak menyangkal, tapi ia telah hafal luar kepala, apa yang akan terjadi—bahkan untuk sedetik mendatang—tak pernah lebih dari ramalan, kepastian hanyalah untuk yang sudah. Dalam perhitungannya, sekalipun kecil, kemungkinan menemukan kembali lelaki yang tadi menepuk bahunya tetap ada, maka melangkah ia cepat-cepat. Sayang kerumunan begitu padat. Bumi menyusut dalam wujud museum, manusia bersuku-suku, berbangsa-bangsa, besar-kecil, tua-muda, sendiri-bersama, meruahi semua arah dengan sinar mata seragam, terpesona. Ke mana harus mencari? Duhai, ke mana gerangan kau pergi? Perempuan itu mengambil telepon seluler dari saku, tapi berapa nomornya? Kecanggihan pun punya sisi percuma. Ia menghitung lagi, belum ingin putus asa, barangkali situs tua bekas gereja-bekas masjid termashur ini menerima cara-cara lama, sekuno memanggil-manggil nama tanpa pengeras suara, “Andrei… Andrei!”

Sampai petang, sampai gerbang pengunjung ditutup dan penjaga meminta semua tamu pulang, tetap tak ketemu. Suara beningnya pecah menjadi kwarsa, terbang terpungut angin senja.

Advertisements